Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 92 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Buhono Thahadibrata
"ABSTRAK
Program Makanan Tambahan Anak Sekolah ( PMT AS ) adalah suatu gerakan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan fisik siswa sekolah dasar baik negeri maupun swasta melalui perbaikan gizi dan kesehatan sehingga dapat mendorong minat dan kemampuan belajar anak untuk meningkatkan prestasi belajar dalam rangka menunj ang tercapainya Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.
Gerakan nasional ini mempunyai sasaran seluruh siswa sekolah dasar baik negeri maupun swasta yang berada di desa tertinggal atau di desa-desa yang ditetapkan pemerintah. Diharapkan masyarakat bisa memahami, mendukung dan berperan aktif dalam program ini sehingga di kemudian hari program ini menjadi mandiri dan berkelanjutan dan diselenggarakan oleh orang tua dan masyarakat sendiri. Program Makanan Tambahan Anak Sekolah dimulai pada tahun anggaran 1997/1998 yang pelaksanaannya dimotori oleh beberapa sektor terkait, yaitu : sektor Perencanaan Daerah, Pembangunan Masyarakat Desa, Pendidikan dan Kebudayaan, Kesehatan, Pertanian , Agama , dan Tim Penggerak PICK.
Di Kabupaten DT II Sukabumi, penyelenggaraan PMT AS ini telah ditindak lanjuti dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sukabumi Nomor 444.3183 -- PMD197 tertanggal 22 April 1997 Tentang Pembentukan Forum Koordinasi PMT AS Tingkat Kabupaten DT II Sukabumi, yang secara teknis operasional koordinasi ini dijalankan oleh Sekertariat Forum Koordinasi PMT AS Tingkat Kabupaten DT Q Sukabumi.
Penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu dengan menganalisis koordinasi dari Sekertariat Forum Koordinasi PMT AS Kabupaten DT II Sukabumi baik dari komponen input maupun prosesnya. Data diperoleh dengan wawancara mendalam terhadap para informan yang terdiri dari seiuruh personil sekertariat forum dengan validasi melalui informan Bari tim tingkat kecamatan.
Dari penelitian ini terungkap kurang effektifnya koordinasi di dalam sekertariat forum. Mengingat koordinasi dan sektor-sektor terkait dalam wadah Sekertariat Forum Koordinasi tersebut belum mencapai koordinasi yang efektif untuk memperoleh hasil guna dan daya guna yang maksimal maka disarankan agar dilakukan penyempurnaan langkah-langkah operasional oleh sekertariat forum baik dari faktor input maupun prosesnya serta pengawasan yang lebih cermat terhadap indikator-indikatornya. Demikian juga perlu ditindak lanjuti dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah daerah melalui pimpinan sektor-sektor terkait agar koordinasi yang telah terjalin bisa lebih efektif Iagi, yaitu dengan meningkatkan kontribusi masing-masing sektor, meningkatkan peran serta masyarakat sehingga pads akhirnya secara bertahap PMT AS bisa dilaksanakan secara mandiri.

ABSTRACT
Coordination analysis about implementation of Supplementary Feeding Program for Elementary Students ( PMT-AS ) by The Secretariat of Coordination Forum of Supplementary Feeding Program for Elementary Students at Sukabumi regency on 1997/1998.Supplementary Feeding Program for Elementary Students is a nation wide movement to increase a stamina of elementary students by nutrition and health improvement to achieve a students performance and supporting a successfull of 9 Years Compulsory Education Program.
Main objective of this national movement is not only a government elementary school but also a nongovernment elementary school students which are generally located at the secluded villages.This program hoped that the community will be understand, give a support and participated to make this program can be operate by themselves continously.
Suplementary Feeding Program for Elementary Students have already started on 1997/1998 in which operated by intersector activity with the coordination of local government.
In order to solve this program at Sukabumi regency has issued a Decision Letter of Sukabumi's Regent No. 444.3/83-PMD/97 about forming The Coordination Forum of Supplementary Feeding Program for Elementary Students of Sukabumi ( Forum Koordinasi PMT AS Kabupaten Sukabumi ), in which the technical operation cared by A Secretariat of The Coordination Forum.
This research try to give an expression of less effective of coordination in the forum looking at from input, process and some indicators. This study is a qualitative one, and discribe the coordination aspects of The Secretariat of Coordination Forum of Supplementary Feeding Program in Sukabumi regency. Data were collected from interviews with informans are the person of the secretariat of the forum and some from subdistrict team. They were, then analyzed by analyzing the study result and compare it with the theories of the references.
This condition resulting an adviced that forum should be perfecting an operational activity not only an input but also a process and give a special attention for controlling the indicators of a process. And the local government of Sukabumi should give some policies to give more stressing for better coordination among the forum.
"
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anneke Greta
"One way to improve the success of exclusive breastfeeding promotion is to understand the factors that directly of indirectly influence a mother's decision to initiate complementary feeding, as well as their interaction. The present study employed the use of a newly developed qualitative dietary survey-Food Choice Map method-to investigate those factors for 40 mothers with infants aged 4 - 6 months old residing in Pondok Labu sub-district of South Jakarta, Indonesia, regarding the `military' and 'civilian' communities. K -Means Cluster Analysis was used to create relatively homogenous groups based on demography and socioeconomy characteristics using variables such as mother's age, child's age and sex, study groups, ownership of house, phone, and motorcycle. Nearly all infants (97%) received complementary feeding before the age of 4 months old with "to calm child" as the most common reason why mothers initiated the feeding. Most infants were given banana as their first food as the "social circle suggested" or because it is "commonly used food." Another large percentage received instant baby food due to "its practicality." The findings suggest factors such as socioeconomy and demography-as described by the cluster characteristics-whom mothers were dependent on, feeding experience, and self-confidence influenced mother's decision in initiating complementary feeding. Furthermore, they interact with one another that their existence of affecting mothers' behavior is the result of not only one factor. It is recommended to establish breastfeeding support groups for the mothers, as well as to greaten encouragement from the social circle and medical professionals to motivate mothers and increase their self-confidence to breastfeed the infants."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T1525
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oriyansih Andrikas
"Pendidikan pada dasarnya terkait erat dengan pembangunan sumber data manusia. Hal ini dikarenakan dengan adanya pendidikan maka sebuah bangsa akan menjadi cerdas dan maju yang mencinikan tingginya kualitas sumber daya manusia Berbicara masalah pendidikan berarti berbicara pula mengenai anak-anak sebagai calon penerus bangsa dimana anak-anak merupakan objek pendidikan yang paling utama. Pada tahun 2005, anak-anak terdapat lebih dari 20 juta jiwa atau 20% dari total penduduk Indonesia. Hal tersebut merupakan kekuatan yang sangat potensial dikarenakan anak adalah modal pembangunan yang akan memelihara dan mengembangkan hasil pembangunan fisik, mental, dan sosial Indonesia. Sebagai calon penerus bangsa, anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan secara tekstual tapi juga hal-hal yang menunjang dalam proses pendidikan seperti kesehatan dan gizi yang baik. Namun demikian, sampai saat ini masalah gizi dan kesehatan menjadi sebuah masalah yang belum terselesaikan dengan baik. Masih banyak anak-anak yang menderita kekurangan gizi. Padahal gizi dan kesehatan sangat diperlukan terutama dalam tumbuh kembang seorang anak. Dengan melihat kenyataan tersebut, pemerintah sejak tahun 1996/1997 merencanakan sebuah program yang diben nama PMT-AS atau program Pemberian Makanan Tambahan Untuk Anak Sekolah. Program PMT-AS pada dasarnya ditujukan terutama untuk siswa sekolah dasar yang berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah Tujuan dari program tersebut adalah untuk meningkatkan gizi dan kesehatan yang pada akhirnya dapat mendorong pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Pada awalnya program ini hanya ditujukan untuk desa-desa yang tergolong tertinggal. Namun sejak tahun 2000, program PMT-AS mulai menjangkau wilayah miskin perkotaan diantaranya di propinsi DKI Jakarta. Dari keseluruhan sekolah yang diberikan bantuan, SDN Gandaria Utara 06 Petang menjadi satu-satunya sekolah petang di Kecamatan Kebayoran Baru yang telah mendapatkan bantuan mulai dari tahun 2000. Namun demikian, pelaksanaan program PMT-AS di SDN Gandaria Utara 06 Petang dari tahun ke tahun terus mengalami penyusutan. Padahal bila melihat hasil status gizi siswa yang diberikan bantuan, tidak terlihat peningkatan berarti dari sebelum ataupun sesudah diberikan bantuan. Karena itu, penelitian ini lebih menekankan pada proses pelaksanaan dan hambatan terutama pada tiga siswa penerima bantuan PMT-AS di SDN Gandaria Utara 06 Petang Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif ternyata menemukan bahwa makanan tambahan yang diberikan selama ini belum memberikan pengaruh dalam tiga informan tersebut. Hal ini dikarenakan makanan tambahan yang diberikan jarang sekali disantap oleh mereka. Banyak alasan yang menyebabkan mereka jarang menyantap makanan tambahan tersebut dari mulai jenuh dengan makanan yang diberikan, pribadi yang memang susah makan, faktor keluarga, dampai pada faktor teman bermain. Penelitian ini menggunakan teori Bronfenbrenner mengenai sistem ekologi sosial dimana individu menjadi inti dari sistm tersebut. Berbagai sistem melingkari individu mulai dari mikrosistem yaitu keluarga, sekolah, dan teman bermain. Mesosistem yaitu hubungan antara sekolah dan keluarga, eksosistem yaitu peraturan pemerintah mengenai PMT-AS samapi dengan makrosistem yaitu budaya masyarakat sekitar. Dalam hal ini peraturan pemerintah mengenai PMT-AS yang berada pada tataran eksosistem kurang memperhatikan mikrosistem dan mesosistem yang pada dasarnya berperan besar dalam membentuk kepribadian anak dan mempengaruhi keberjalanan program tersebut. Pemerintah hanya melihat sekolah sebagai satu-satunya faktor untuk menunjang keberjalanan program PMT-AS. Karena itu, dengan hasil penelitian yang ada maka diperlukan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Solusi pertama adalah dengan menyiapkan petugas khusus diluar struktur sckolah untuk fokus dalam menangani program PMT-AS sehingga pihak sekolah tidak merasa terganggu dengan program tersebut. Selain itu, jenis makanan tambahan yang ada sebaiknya diganti dengan pemberian susu dan vitamin. Hal ini dikarenakan selama ini, makanan tambahan yang diberikan hanya berupa makanan kudapan yang tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan status gizi. Selain itu, makanan tambahan yang diberikan pun jarang disantap dengan alasan jenuh dan lain sebagainya. Dengan adanya penggantian jenis makanan tambahan tersebut diharapkan status gizi dapat meningkat lebih baik dan hanya menjangkau mereka yang mengalami kekurangan gizi.

Education is basically closely related to the development of human data sources. This is because with education, a nation will become intelligent and advanced, which reflects the high quality of human resources. Talking about education matters also means talking about children as potential future successors of the nation where children are the most important object of education. In 2005, there were more than 20 million children or 20% of Indonesia's total population. This is a very potential force because children are development capital that will maintain and develop the results of Indonesia's physical, mental and social development. As future candidates for the nation, children not only need textual education but also things that support the educational process such as good health and nutrition. However, until now the issue of nutrition and health is a problem that has not been resolved properly. There are still many children who suffer from malnutrition. Even though nutrition and health are very necessary, especially in the growth and development of a child. By looking at this reality, the government since 1996/1997 planned a program called PMT-AS or the Supplementary Food Provision for School Children program. The PMT-AS program is basically aimed primarily at elementary school students who are at the lower middle economic level. The aim of the program is to improve nutrition and health which in turn can encourage the implementation of 9 years of compulsory basic education. Initially this program was only aimed at villages that were classified as underdeveloped. However, since 2000, the PMT-AS program has begun to reach poor urban areas, including the DKI Jakarta province. Of all the schools that received assistance, SDN Gandaria Utara 06 Petang is the only evening school in Kebayoran Baru District that has received assistance starting in 2000. However, the implementation of the PMT-AS program at SDN Gandaria Utara 06 Petang continues to decline from year to year. In fact, if you look at the results of the nutritional status of students who were given assistance, there is no significant improvement from before or after being given assistance. Therefore, this research places greater emphasis on the implementation process and obstacles, especially for the three students who received PMT-AS assistance at SDN Gandaria Utara 06 Petang. Research that used a qualitative approach and descriptive research type apparently found that the additional food provided so far had not had an impact on the three informants. This is because the additional food given is rarely eaten by them. There are many reasons why they rarely eat additional food, ranging from being bored with the food they are given, individuals who have difficulty eating, family factors, to playmate factors. This research uses Bronfenbrenner's theory regarding social ecological systems where individuals are the core of the system. Various systems surround individuals starting from microsystems, namely family, school and playmates. Mesosystem, namely the relationship between school and family, exosystem, namely government regulations regarding PMT-AS, to macrosystem, namely the culture of the surrounding community. In this case, government regulations regarding PMT-AS which are at the ecosystem level pay little attention to the microsystem and mesosystem which basically play a big role in shaping the child's personality and influencing the success of the program. The government only sees schools as the only factor to support the success of the PMT-AS program. Therefore, with the existing research results, a solution is needed to overcome this problem. The first solution is to prepare special officers outside the school structure to focus on handling the PMT-AS program so that the school does not feel disturbed by the program. Apart from that, the existing types of additional food should be replaced with milk and vitamins. This is because so far, the additional food given has only been in the form of snacks which have little effect on improving nutritional status. Apart from that, the additional food given is rarely eaten for reasons of boredom and so on. With the replacement of additional types of food, it is hoped that nutritional status can improve better and only reach those who are malnourished"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
S10565
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asmijati
"Untuk mendapatkan gizi yang baik pada bayi baru lahir, ibu harus segera menyusui bayinya karena ASI sangat berperan penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi. Oleh karena itu, bayi yang berurnur 0-4 bulan dianjurkan hanya diberi ASI tanpa pengganti ASI ataupun makanan pendamping.
Berdasarkan laporan Profil Kesehatan di Tangerang target pemberian ASI eksklusif 47% pada tahun 2000. Mengingat pentingnya pemberian ASI eksklusif dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka perlu adanya usaha yang keras melalui penyuluhan-penyuluhan pada masyarakat luas.Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Tiga Raksa Dati II Tangerang pads tahun 2000.
Adapun rancangan penelitian ini menggunakan Cross Sectional dengan populasi ibu-ibu yang melahirkan bayi hidup dalam kurun waktu bulan Maret s/d Desember 2000 yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tiga Raksa Tangerang.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara langsung, kemudian diolah secara statistik dengan teknik analisis Chi Square dan Multiple Regression Logistic. Dari analisis bivariat diketahui ada 2 variabel yang mempunyai hubungan yang bennakna dengan pemberian ASI eksklusif yaitu variabel dukungan petugas dan dukungan keluarga atau masyarakat. Variabel pengetahuan, pekerjaan pokok, sikap, kemampuan petugas, dukungan petugas, dan dukungan keluargalmasyarakat masuk dalam model karena p value < 0,25.
Analisis multivariat dengari Regresi Logistik diketahui bahwa pengetahuan dan dukungan keluargalmasyarakat merupakan variabel yang berhubungan dalam pemberian ASI eksklusif. Sedangkan pengetahuan merupakan vanabel paling berhubungan: pemberian ASI eksklusif dengan Odds Ratio terbesar yaitu 6,7941 (CI 95%1,2955--35,6309) yang berarti ibu berpengetahuan balk kemungkinan memberikan ASI eksklusif 6,7941 kali lebih besar daripada ibu dengan pengetahuan kurang."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T579
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kristina
"Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan pemberian ASI eksklusif sebesar 53,7% pada tahun 1991, 47,3% tahun 1994, dan 52,2% tahun 1997. Pemberian ASI eksklusif berdasarkan hasil analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) adalah 63,2% tahun 1995 dan 72,1% tahun 1998. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif 0 sampai 4 bulan di Indonesia berdasarkan data Kor Susenas 2001.
Rancangan penelitian adalah survei dengan menganalisis data sekunder, data Kor Susenas 2001. Susenas merupakan survei rumah tangga yang diselenggarakan setiap tahun oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Populasi penelitian adalah bayi yang berumur 0 sampai 4 bulan dan yang menjadi sampel dan penelitian ini adalah seluruh populasi, sebanyak 4.610 bayi.
Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan cara univariat, bivanat dan multivariate dengan menggunakan program SPSS 10.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0 sampai 4 bulan adalah 34,6% dan tidak eksklusif adalah 65,4%. Berdasarkan kelompok umur pemberian ASI eksklusif paling tinggi pada kelompok umur <1 bulan yaitu 43,2%. Hasil tersebut masih jauh di bawah target nasional yaitu pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000. Faktor yang berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif adalah kegiatan ibu, keluarga berencana, pendidikan suami dan pengeluaran makan keluarga dalam sebulan sedangkan variabel umur ibu, pendidikan ibu, tempat tinggal, baca/tulis huruf latin, jumlah paritas, penolong persalinan terakhir tidak berpengaruh dengan pemberian ASI eksklusif.
Tidak ada interaksi antara kegiatan ibu, keluarga berencana, pendidikan suami dan pengeluaran makan keluarga dalam bulan. Ibu yang mempunyai kegiatan utama mengurus rumah tangga berpeluang 1,552 kali memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang bekerja di luar rumah; ibu yang tidak memakai alat keluarga berencana berpeluang 1,513 kali memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang memakai alat KB; ibu yang mempunyai suami pendidikan tamat SMU-S2/S3 berpeluang 1,321 kali memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang mempunyai suami tidak sekolah-SMP; dan ibu yang pengeluaran makan keluarga dalam sebulan lebih dari 60% berpeluang 1,367 kali memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang pengeluaran makan keluarga sebulan kurang atau sama dengan 60%.

Exclusive Breastfeeding among Infants 0 To 4 Months Old and Its Influencing Factors In Indonesia (Data Analysis on Susenas 2001 Core Data)The Indonesian Demographic and Health Survey (SDKI) showed the prevalence of exclusive breastfeeding of 53.7% in 1991, 47.3% in 1994, and 52.2% in 1997. Based on data analysis on Susenas data, prevalence of exclusive breastfeeding were 63,2% in 1995 and 72.1% in 1998. The aim of this study is to investigate factors influencing exclusive breastfeeding 0-4 months in Indonesia based on Susenas 2001 core data.
Design of this study is survey that is Susenas 2001 core data. Susenas is a household survey conducted yearly by Central Bureau of Statistics (BPS). Population of this study is infant age 0 to 4 months old and the whole population, that is 4610 infants, served as sample in this study. Data analysis was conducted by univariate, bivariates, and multivariates employing SPSS 10.0 software.
The study shows that prevalence of exclusive breastfeeding among infant age 0 to 4 months old was 34.6% and 65.4% of infant was not exclusively breastfed. Based on age group, the highest prevalence was found for age group < 1 months old, that is 43.2%. This is still far from national target of 80% in 2000.
The most influencing factor for exclusive breastfeeding were mother's activity, family planning participation, husband's education, and family monthly expenditure for food, while mother's age, mother's education, location, literacy, parity, and delivery attendant were not influencing exclusive breastfeeding (p>0.05). No interaction was found between mother's activity, family planning participation, husband's education, and family monthly food expenditure. Mothers with main activity of household chore were 1.552 times higher chance to provide exclusive breastfeeding compared to those who work outside house; mothers who did not participate in family planning were 1.513 times higher chance to provide exclusive breastfeeding compared to those who participate; mothers with husband finished high school-university graduates were 1.321 times higher to provide exclusive breastfeeding compared to those with husband not going to school junior high school; and mothers with monthly food expenditure more than 60% were 1.367 times higher chance to provide exclusive breastfeeding compared to those with expenditure equal or less than 60%."
2003
T 3787
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nuryanto
"Pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih jauh yang diharapkan, padahal program pemberian ASI eksklusif telah dicanangkan sejak tahun 1990. Prevalensi pemberian ASI secara eksklusif menurut SDKI 1991 sebesar 52,5% dan SDKI 1994 47,3%. Hal tersebut menunjukkan bahwa belum tercapainya pemberian ASI ekeklusif pada bayi masih merupakan masalah bagi ibu-ibu menyusui dan perlu mendapat perhatian khusus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelangsungan pemberian ASI saja meliputi, seluruk wilayah/provinsi Indonesia terhadap ibu pernah kawin usia 15-35 tahun yang mempunyai anak usia kurang dari satu tahun, baik masih menyusui maupun sudah berhenti memberikan ASI kepada anaknya.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, dan cara pengambilan sampelnya dilakukan dengan metode multi stage random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 3543 ibu yang mempunyai anak usia kurang dari satu tahun. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa prevalensi ibu yang memberikan ASI saja sampai 4 bulan (eksklusif) sebeser 77% dan median 6,07 bulan, selain itu didapat ada 63% ibu bekerja memberikan ASI secara eksklusif. Persentase ini lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.
Hasil uji bivariat menunjukkan hubungan bermakna aatara status pekerjaan ibu, penolong persalinan, keterpaparan oleh media elektronik dan keaktifan ibu dalam kegiatan sosial dengan kelangsungan pemberian ASI saja.
Dari hasil uji analisis multivariat, terdapat tiga variabel yang berhubungan bermakna dengan kelangsungan pemberian ASI saja, yaitu status pekerjaan, keterpaparan oleh media elektronik, dan penolong persalinan. Kelompok ibu yang bekerja mempunyai risiko 1,16 kali lebih cepat untuk berhenti memberikan ASI saja daripada kelompok ibu yang tidak bekerja setelah dikontrol variabel keterpaparan oleh media elektronik dan penolong persalinan.
Mengingat masih rendahnya pemberian ASI eksklusif dan semakin meningkatnya wanita usia reproduksi yang ikut berpartisipasi dalam kelompok angkatan kerja, maka perlu adanya dukungan dari tempat kerja agar pemberian ASI eksklusif tetap terlaksana yaitu dengan melakukan pengaturan cuti, adanya kelonggaran untuk memberikan ASI di tempat kerja, tersedianya ruangan untuk menyusui dan tersedianya fasilitas untuk tempat penyimpanan ASI dalam dot/botol, serta membudayakan pemberian ASI eksklusif pada tiap-tiap tempat kerja.

The Relationship between Mothers Job and Only Breast-Feeding Continuity on Children 0-11 MonthsExclusive breast-feeding is still far expected in Indonesia, where as the breast-feeding from has been announced since 1990. The amount of exclusive breast-feeding prevalence according to SDKI 1991 was 52, 5% and SDKI 1994 was 47,3%. It means that we haven't reached the target in giving milk to the baby and it is a problem for suckling mother and needs a certain attention.
The objective of this investigation is to know the relationship between the mother's job and breast-feeding continuity throughout Indonesian provinces or areas on married woman which are 15-35 years old with their children less than one year, either still suckling or stop suckling to their children.
The investigation design which was used cross sectional, and the method of taking samples was done with method of multistage random sampling with the amount of samples are 3543 suckling mothers which have children less than one year. This investigation result concludes that the mother prevalence which gives only exclusive breast-feeding is 77% and median is 6.07 months, besides there is 63% worked mother exclusive breast-feeding. This percentage is less than unworked mother.
Bivariate test result showed there was significant relationship between the mother job status, birth helper, electronic media involvement and mother activity in social activity with the only breast-feeding continuity. From the result of multivariate analysis test showed that there were three significant variables which have relationship with the only breast-feeding continuity, namely job status, electronic media involvement, and birth helper. The worked mother group has a risk 1, 16 times faster to stop giving only breast feeding than unworked mother after being controlled involvement variable by electronic media and birth helper.
Because exclusive breast-feeding is still low and the reproductive women who are working rising, so we need support from worked place to suggest giving only breast-feeding for their children, namely by managing furlough, allowance for breast-feeding in worked place, the room for suckling available, the facility to store breast milk in nipple of bottle available, and promote exclusive breast-feeding in any worked place."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T 5075
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Dahlia
"Tingginya pemberian MP-ASI dini pada bayi turut berkontribusi akan terjadinya penyakit infeksi dan kurang gizi terutama pada bayi usia 0 - 6 bulan pertama kehidupan, juga berperan untuk memperpendek jarak kelahiran serta dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti Diabetes mellitus, Hipertensi, penyakit sirkulasi dan kanker pada usia dewasa akibat terjadinya obesitas yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini pada masa bayi.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dan faktor yang dominan hubungannya dengan pemberian makanan pendamping ASI dini pada bayi di kecamatan Pasar Rebo, kotamadya Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan metode Crossectional atau potong lintang, semua variabel diukur sekaligus dalam waktu yang sama sehingga tidak luput dari kelemahan-kelemahan yang sedapat mungkin sudah diminimalkan.
Populasi dan sampel dalam ponelitian ini adalah ibu kandung dari bayi usia 4 - 11 bulan. Sampel diambil menggunakan metode acak stratifikasi setelah lebih dahulu dibuat kerangka sampel dari dasar pencacahan individu tahunan yang baru selesai dilakukan oleh Departemen Transmigrasi dan Kependudukan di kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur. Dari 202 orang calon responder terpilih, tidak semua berhasil diwawancarai dengan alasan, usia bayi ternyata tidak memenuhi syarat, ibu sedang sakit, sedang bepergian dan pindah alamat sehingga jumlah responden yang memenuhi syarat menjadi 186 orang.
Dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa pemberian MP-ASI dini sangat tinggi yaitu mencapai 90,7 %, sehingga data menjadi homogen dan kurang kuat dipakai untuk menggali beberapa faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi. Ditemukan dua faktor yang berhubungan bermakna dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi yaitu pengetahuan ibu tentang dampak pemberian MP-ASI dini pada bayi (p= 0,0018, OR = 3,696 dan 95% CI 1,254 - 10,896) dan pemberian ASI pertama kali atau inisiasi menyusui merupakan faktor yang dominan pengaruhnya (p 0,004, OR = 5,414, 95% CI 1,706 - 17,183). Pada analisis univariat ditemukan pemberian contoh makanan bayi gratis pada ibu bersalin yang cukup besar (43%) dan diperoleh informasi bahwa 95% responden menerimanya dari bidan. Sebanyak 74,2% bayi sudah diberi makanan pralaktal. Sekitar 88% diberikan oleh bidan dan hanya 3,6% yang diberikan oleh keluarga dekat. Sebanyak 74,7% bayi usia < 4 bulan sudah diberi minuman selain ASI dan 36,6% diantaranya melanjutkan pemberian minuman selain ASI (susu formula) yang dimulai dari tempat persalinan.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tentang dampak pemberian MP-ASI dini pada bayi masih sangat rendah dan peran petugas kesehatan terutama bidan cukup besar dalam pemberian MP-ASI dini pada bayi.
Disarankan agar materi penyuluhan tentang dampak pemberian MP-ASI dini pada bayi dan manajemen laktasi semakin ditingkatkan dan menganjurkan petugas kesehatan selalu memberikan edukasi kepada ibu hamil, bersalin, menyusui dan keluarganya. Departemen Kesehatan agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap produsen susu formula maupun petugas kesehatan yang secara terang-terangan sudah berani melanggar kode etik pemasaran makanan pengganti air susu ibu. Perlu dilakukan penelitian dengan metode yang lain untuk menggali faktor penyebab tingginya angka pemberian MP-ASI dini dan tingginya peran bidan dalam memberikan contoh susu formula dan makanan pralaktal pada bayi.

The high rate of early breast milk supplementary feeding for infants has contributed to infection and malnutrition mainly for infants at the age of 0 to 6 months and it contributing to shortening birth interval and degenerative diseases for adult such as diabetes mellitus, hypertension, circulatory diseases and cancer which caused by obesity related to early breast milk supplementary feeding for infants.
This research aims at collecting information of relating factors and dominant factor related to early breast milk supplementary feeding for infants in Pasar Rebo, a sub district area of East Jakarta Municipality. This research using crossectional method, where all variables are measured in the same time and some weaknesses might be found which have been tried to minimize.
The population and sample of this research are mothers who have infant 4 to 11 months of age. Sample are taken using random stratification which are obtained from annual survey of The Department of Transmigration and Population in Pasar Rebo, East Jakarta There are only 186 respondents able to register, out of 202 determined respondents since some of them are those who have infants not at the required age, sickness, change of address (moved).
This research shows that there are 90,7% of early infants supplementary feeding which led to homogeny data and less enough to use in finding factors related to early infant breast milk supplementary feeding. Nevertheless, there are 2 imperative factors found related to early breast milk supplementary feeding for infants; firstly, the first time of breast feeding factor (p = 0.004, OR = 5.414, 95% CI 1.706 - 17.183). Secondly, the lack of respondents knowledge of the impact of early breast milk supplementary feeding for infants (p = 0.018, OR = 3.696 and 95% CI = 1.254 -1.0.896).
Some of research variables have no strong relation to early breast milk supplementary feeding for infants. However, there are considerable number (43%) found in univariat analysis such as unpaid infant foods for promotion for respondents who delivered birth and there are 95% of respondents received from the midwives. 88% of prelacteal feeding given by the midwives, and there are only 3.6% given by their family.
Approximately 74.7% of infants less than 4 months of age are given other fluid and 36.6% of them are given other milk since the first time in the hospital. According to this research, it is conclude that given early breast milk supplementary feeding for infants caused by the delayed initiation of breast feeding, the lack of respondents knowledge of impact of early breast milk supplementary feeding for infants and the midwives, have dominant role in given early infants supplementary food.
It is suggested, therefore, that counseling material of the impact of early breast milk supplementary feeding for infants should be increased and medical officers should be intentionally educate pregnant women, those who deliver birth and breast feeding as well as their family. The Department of Health should also be intentionally controlling milk producers and medical officers who darely abuse the ethic code of complementary foods marketing.
There should be more research to find out factors led to the high rate of early breast milk supplementary feeding for infants and the role of midwives in giving milk sample and prelacteal food for infants.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2002
T 8920
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nanny Harmani
"Masalah gizi yang tidak seimbang merupakan salah satu penentu utama kualitas sumber daya manusia. Gangguan gizi kurang pada bayi dan anak balita akan membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan fisik maupun mental, selain itu juga penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit infeksi. Untuk mendapatkan gizi yang baik pada bayi yang baru lahir, maka ibu harus sesegera mungkin menyusui bayinya, karena Air Susu Ibu (ASI) memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan dan mempertahankan kelangsungan hidup bayi. Oleh sebab itu bayi umur di bawah 4 bulan dianjurkan hanya diberi ASI tanpa Pengganti ASI ( PASI ) ataupun makanan pendamping yang hanya diberikan pada bayi umur 4 bulan ke atas (Depkes RI,1992). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran faktor faktor yang berhubungan dengan pola menyusui di wilayah pemukiman kumuh Kelurahan Pisangan Baru Jakarta Timur.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode statistik analitik dan rancangan cross sectional. Denis penelitian ini termasuk jenis penelitian survey dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data, populasi dan sampel adalah ibu-ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 4 - G bulan yang melahirkan di 3 Klinik Bersalin Kelurahan Pisangan Baru, dan jumlah sampel yang dilakukan secara total sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57,3 % responden mempunyai pola - menyusui yang balk, namun masih ada 42,7 % responden yang pola menyusui bayinya kurang baik. Hubungan antar dua variabel dengan menggunakan uji Kai Kuadrat menunjukkan hasil yang bermakna bila p < 4,05 yaitu pada variabel umur, pengetahuan dan sikap terhadap pola menyusui. Sedangkan variabel yang tidak bermakna adalah variabel tingkat pendidikan, status pekerjaan dan status ekonomi terhadap pola menyusui dengan p > 0,05. Dari hasil hubungan multi variabel dengan uji Regresi Logistik menunjukkan bahwa variabel sikap yang paling berpengaruh terhadap pola menyusui.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan beberapa hal berikut; perlu lebih ditingkatkan penyuluhan dengan metode konseling dan demonstrasi bagi ibu hamil, menyusui dan keluarga tentang pola menyusui yang baik, waktu pemberian pengganti ASI dan makanan pendamping ASI. Bagi penentu Bidang Kesehatan perlu adanya pengawasan pelaksanaan program ASI eksklusif, promosi ASI eksklusif dan rawat gabung serta tidak melakukan promosi susu formula di Klinik Bersalin dan Rumah Sakit. Bagi Peneliti lain, perlu adanya penelitian selanjutnya tentang pola menyusui di wilayah kumuh perkotaan dengan melihat variabel paritas, lingkungan keluarga dan teman, tempat tinggal, sosial budaya, norma, keyakinan dan suku.

Factors Related With Breastfeeding Pattern In Slum Area Of Pisangan Baru District In East Jakarta, 1999The malnutrition is most problem in human resources quality. Malnutrition in babies and children causes negative effects for their physical and mental growth beside decrease their body defense and could infect by infection disease easily. To make a good nutrition, mother should be breastfeeding her baby immediately postnatal, because ASI is important thing to make baby healthy and protection his lives. Babies with age less than 4 months old suggest to give breastfeeding only without any supplementary foods (Depkes RI,1992). The research to get a description about factors related with breastfeeding pattern in slum area of Pisangan Baru District in East Jakarta.
The research used quantitative approach in analytical and statistical method and cross sectional design.This is a kind of survey research with questionnaire as a tool to collect data and population with breastfeeding mother which having 4 - 6 months old baby and born in 3 Birth Clinic Pisangan Baru disrict. Sample was choice by total sampling method.
The result of research indicate about- 57,3 % respondent have a good breastfeeding pattern, but about 42,7 % respondent indicate have a bad breastfeeding pattern. Correlation between two variables indicate significant result if p < 0,05 for attitude, knowledge and age variables in breastfeeding pattern. Otherwise for level education, occupation status and economic status indicate not significant result for p > 0,05 in breastfeeding pattern. The result of multivariate analysis used Logistic Regression showed attitude variable is very interaction with breastfeeding pattern.
This study recommended that in order to increase monitoring ASI exclusive program, campaign with counseling and demonstration to pregnant and breastfeeding woman and their families with a good breastfeeding pattern, and on time to give PASI or supplementary foods. For decision maker in Heatlh Departemen to increase controlling and promotion ASI exclusive program, care united and not promotion milk instant in hospital. For researches can to be continued this study with parity, family and friend environment, address, culture, value and tribe variables.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yudarini
"ABSTRAK
Saat ini ada kecenderungan penurunan penggunaan ASI pada sebagian masyarakat terutama di kota-kota besar. Meningkatnya kesempatan kerja bagi wanita dapat diasumsikan akan terjadi penurunan penyusuan atau pemberian ASI dikalangan wanita yang bekerja. Data BPS menunjukkan jumlah wanita yang memasuki lapangan kerja meningkat dari 32.6% pada tahun 1980 menjadi 39.2% pada tahun 1990. Penelitian YLKI (1989) yang dilakukan di Jakarta dan Bekasi menunjukkan bahwa sebagian besar (89.40%) ibu mengetahui bahwa ASI lebih baik daripada susu kaleng, walaupun demikian yang memberikan hanya ASI sekitar 51.51%; salah satu alasan tidak memberikan ASI adalah karena bekerja (21 %).
Tujuan penelitian adalah diperolehnya gambaran ibu batita yang bekerja tentang ASI eksklusif.
Populasi dan sampel penelitian adalah ibu batita yang bekerja dengan sampel 90 orang yang dipilih secara acak. Pengumpulan data dilakukan dengan survei. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan paket program statistik Epilnfo versi 5.01 B.
Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan tentang ASI dan ASI eksklusif cukup baik ditunjang dengan pendidikan dan kondisi sosio ekonomi yang cukup baik. Walaupun demikian kebanyakan responden (87.4%) tidak memberikan ASI secara eksklusif, bahkan ada yang tidak setuju pemberian ASI secara eksklusif ini. Pemberian ASI eksklusif ini menjadi masalah karena memang tidak ada sarana (95.5%) untuk proses kelangsungan penyusuan dan mengingat lamanya perjalanan ke tempat kerja kemungkinan dapat mempengaruhi pelaksanaan pemberian ASI ini."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia , 1994
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Nia Afriana
"Prevalensi pemberian ASI eksklusif di Indonesia cenderung menurun dari tahun ke tahun. Data SDKI tahun 1986 terdapat 86%, tahun 1991 menjadi 53,8% tahun 1997 tinggal 52% dan tahun 2002 hanya 39,5%. Keadaan ini sangat memprihatinkan dan semakin kompleks karena angkatan kerja wanita yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Keadaan ini tidak dapat dihindari karena kesempatan dibidang pendidikan yang diperoleh kaum wanita semakin terbuka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola menyusui di kalangan ibu-ibu yang bekerja di Instansi Pemerintah di DKI Jakarta tahun 2004 yang mempunyai anak umur 4 bulan s/d 2 tahun dan faktor-faktor apa yang berhubungan.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, pengumpulan data dilakukan dari data primer di 7 departemen terpilih melalui random sampling. Yaitu Departemen Agama, Departemen Luar Negeri, Departemen Perhubungan, Departemen Kehakiman dan HAM, Departemen Pertanian, Departemen Sosial dan Departemen Kehutanan. Dengan jumlah sampel 218 responden, dilaksanakan pada bulan Juni 2004. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur meliputi variabel umur, pendidikan, pengetahuan, sikap, dukungan atasan, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan, sarana di tempat kerja, keterpaparan informasi, keterpaparan terhadap susu formula dan peraturan di tempat kerja. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan Chi Square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik.
Hasil penelitian ini menyimpulkan proporsi ibu yang memberikan ASI eksklusif pada ibu bekerja hanya 28 %. Presentase ini sangat jauh dari angka target nasional yaitu 80%. Hasil uji bivariat menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan secara bermakna dengan pola menyusui pada ibu bekerja adalah pendidikan, pengetahuan, sikap. dukungan keluarga, dan keterpaparan terhadap informasi tentang ASI.
Dari hasil uji analisis multivariat terdapat tiga variabel yang berhubungan bermakna dengan pola menyusui pada ibu bekerja yaitu pengetahuan (OR = 2,478), keterpaparan terhadap informasi tentang ASI (OR = 3,737) dan dukungan keluarga (OR= 2,986). Dari ketiga variabel tersebut dapat disimpulkan variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan pola menyusui pada ibu bekerja adalah faktor keterpaparan terhadap informasi mengenai ASI.
Mengingat sangat rendahnya proporsi menyusui eksklusif di kalangan ibu bekerja disarankan agar perlu adanya dukungan dari tempat kerja agar pemberian ASI eksklusif dapat terlaksana di kalangan ibu bekerja misalnya peraturan TPA harus dirubah, yang tadinya hanya menerima bayi usia 8 bulan ke atas sekarang dipertimbangkan untuk dapat menerima bayi usia 3 bulan ke atas. Selain hal tersebut perlu dikaji ulang sistem cuti yang berlaku saat ini, peran petugas kesehatan dalam memberikan informasi mengenai ASI eksklusif agar ditingkatkan, perlu dukungan dan tindakan yang nyata dari pemerintah khusus Departemen Kesehatan mengenai kebijakan tentang promosi susu formula dan susu lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2004
T12819
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>