Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Jilid pertama dari seri tiga jilid naskah yang berisi beberapa gambar bendera (60 gambar), antara lain: Reslan, Konengsetandarteh, Lutsensinal, London, Birma, Karrakas, dan lain-lain."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
LL.55-B 32.04
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Jilid pertama dari seri tiga jilid naskah yang berisi beberapa gambar bendera (48 gambar), antara lain: Amerika, Taiti, Maroko, Nederlan, Terki, Tinis, Switserlan, Transepal Repiblik, Yapan, Itali, dan lain-lain."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
LL.56-B 32.05
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Jilid pertama dari seri tiga jilid naskah yang berisi beberapa gambar bendera (60 gambar), antara lain: Sili, Taiti, Natiyonal, Roterdam, Lotsensinal, Marokke, Admiral, Tripolis dan lain-lain."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
LL.57-B 32.06
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
Talitha Marie Imomirara
"Adanya kemajuan dari segi teknologi di dunia pelayaran mendorong kebutuhan akan suatu instrumen hukum yang mengatur registrasi kapal sebab. Bagi negara bendera terdapat terdapat hak bagi negara untuk menetapkan syarat pemberian benderanya. Dari hak tersebut, lahirlah rezim-rezim pendaftaran kapal. Salah satu dari pendaftaran tersebut adalah pendaftaran terbuka. Pada pendaftaran terbuka dikenal praktik flag of convenience di mana suatu kapal dapat dimiliki oleh pihak asing secara semu. Karena kepemilikan ini, terdapat permasalahan dalam implementasi kontrol efektif oleh negara bendera dalam hal teknis, administratif, dan sosial sebagaimana dimuat di dalam UNCLOS. Selain itu, pada kapal berbendera flag of convenience, terdapat kekaburan pertanggungjawaban dalam hal terjadi kecelakan di laut. Penelitian ini ditulis dengan menggunakan metode yuridis normatif dan tipologi yang bersifat deskriptif analitis. Melalui penelitian ini, penulis menemukan bahwa masih terdapat permasalahan implementasi kewajiban hukum internasional ke dalam hukum nasional Panama dan Liberia sebagai negara-negara yang mempraktikkan flag of convenience, berbeda dengan Indonesia yang cenderung lengkap dalam mengadopsi ketentuan hukum internasional ke dalam hukum nasionalnya. Ditemukan pula dalam kasus-kasus kecelakaan kapal di mana pertanggungjawaban yang seharusnya dibebankan kepada pemilik kapal menjadi sulit ditentukan karena kepemilikan kapal berbendera flag of convenience. Saran dari penulis adalah perlunya peningkatan kontrol efektif oleh negara bendera yang memiliki kapal-kapal berbendera FoC melalui instrumen hukum nasional dan penghidupan kembali konsep genuine link antara kapal dengan pemilik kapal sebagaimana dirumuskan di dalam UNCLOS.
......The technological advancement in the shipping world encourages the need for a legal instrument that regulates ship registration because. For flag states, there is a right for the state to determine the conditions for granting its flag. From this right, ship registration regimes were born. One of these registrations is open registration. Open registration is known as the practice of flag of convenience in which a ship can be quasi-owned by a foreign party. Because of this ownership, there are problems in implementing effective controls by the flag state in technical, administrative and social matters as contained in UNCLOS. In addition, on ships with the flag of convenience, there is a vagueness of responsibility in the event of an accident at sea. This research was written using normative juridical and typological methods that are descriptive analytical. Through this study, the authors find that there are still problems implementing international legal obligations into the national law of Panama and Liberia as countries that practice the flag of convenience, in contrast to Indonesia which tends to be complete in adopting international legal provisions into its national law. It was also found in cases of ship accidents where the responsibility that should be borne by the ship owner becomes difficult to determine because the ownership of the ship has a flag of convenience. Suggestions from the author are the need to increase effective control by flag states that own ships with the FoC flag through national legal instruments and revitalize the concept of genuine link between ships and ship owners as formulated in UNCLOS."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Muhammad Yamin
Jakarta: Balai Pustaka, 2017
992 MUH e
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Rayi Medina Agustimas
"ABSTRAK
Lambang Kerajaan Belanda terbentuk bersamaan dengan bersatunya Belanda Utara dan Selatan menjadi satu kesatuan yaitu Kerajaan Belanda dengan Raja Willem I sebagai raja pertamanya. Simbol Singa Nassau dipilih dan diadopsi dari lambang Keluarga Orange-Nassau. Lambang Agung Kerajaan Belanda pernah mengalami sedikit perubahaan dari versi tahun 1815-1907. Penelitian ini membahas tentang proses pembentukan Lambang Agung Kerajaan Belanda. Tujuannya adalah untuk memaparkan pemaknaan simbol Lambang Agung Kerajaan Belanda dengan konteks sejarah Belanda. Penelitian ini menggunakan ancangan sejarah yang menginterpretasi makna berupa simbol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan terjadinya beberapa kali perubahan atas lambang negara, simbol singa tetap digunakan dan menjadi simbol inti dalam Lambang Agung Kerajaan Belanda. Tiga singa rampant emas heraldik yaitu dua singa penjaga dan singa utama secara keseluruhan membentuk kepala singa yang mengenakan coronet dan pada bagian bawah terdapat pita yang berisi motto kerajaan ldquo;Je Maintiendrai rdquo; sebagai mulut singa.

ABSTRACT
The coat of arms of the Kingdom of the Netherlands was formed simultaneously with the unification of North and South Holland into a unity of the Kingdom of the Netherlands with King Willem I as its first king. The Nassau lion symbol was chosen and adopted from the Orange-Nassau Family emblem. The coat of arms of the Kingdom of the Netherlands has experienced slight changes from the 1815-1907 version. This research discusses about the process of forming the coat of arms of the Kingdom of the Netherlands The aim is to explain the history of the symbol of the coat of arms of the Kingdom of the Netherlands with the context of Dutch history. This research uses historical approach that interprets the meaning of symbols. The results of this research shows that with the occurrence of several changes to the coat of arms, the lion symbol remains used and become the core symbol in the in the the coat of arms of the Kingdom of the Netherlands. Three heraldic gold rampant lion that is two guard lions and the main lion as a whole formed a lion head wearing coronets and at the bottom there is a ribbon containing the royal motto Je Maintiendrai as the mouth of the lion."
2018
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sukarno
"Buku ini berisi amanat Presiden Sukarno pada upacara penganugerahan bintang-bintang kepada para gerilyawan pembebasan Irian Barat di depan Istana Merdeka pada tanggal 19 Februari 1963 ..."
Djakarta: Departemen Penerangan RI, 1963
K 320.959 SUK m
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Wartini Soegeng
Bandung: Eresco, 1988
387.598 WAR p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Wartini Soegeng
Bandung: Refika Aditama, 2003
387.598 WAR k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>