Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bambang Yoga Kartika
"Ada 4 unsur utama sebagai bentuk medan Pulau Jawa, yaitu Wilayah Lipatan
Tersier Selatan dengan dataran-dataran rendah yang tercakup diantaranya.
Wilayah Pegunungan Tengah yang sebenarnya adalah sebuah depresi, tetapi
karena tutupan bahan vulkanik wilayah ml menjadi tinggi. Wilayah Lipatan Utara
dengan beberapa bentuk diantaranya. Wilayah Dataran Aluvial yang terdapat di
pesisir Utara Jawa.
Adapun pembagian fisiografi di Jawa Tengah yaitu terdiri dari empat zona fisiografi
yaltu Zona Pesisir Utara Jawa Tengah, Zona Serayu Utara, Zona Pegunungan
Serayu Selatan dan Zona Pesisir Selatan Jawa Tengah.
Menurut Bemmelen (1949), Gunung Sundoro - Sumbing sendini terletak pada bagian
diantara Zona Serayu Utara dan Zona Pegunungan Serayu Selatan, yaltu
merupakan daerah depresi yang disebut dengan Zona Serayu. Gunung Sundoro -
Sumbing merupakan gunung api muda yang memisahkan Zona Serayu Utara
dengan Zona Pegunungan Serayu Selatan dan merupakan awal dari suatu seri dan
dataran antar pegunungan di Jawa Timur.
Masaah yang ditelaah dalam penelitian mi adalah Unit-unit geomorfologi apa saja
yang terdapat pada Gunung Sundoro - Sumbing.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisa peta topografi yang
dibantu dengan peta geologi yang kemudian menghasiikan peta unit geomorfologi,
serta metode deskripsi untuk menerangkan unit geomorfologi.
Hasil akhir dari penelitian mi berupa ningkasan sebagai benikut : Di wilayah
penetitian terdapat 3 unit geomorfologi. Unit Gunung Api terdini dari Gunung Api
Sundoro, Gunung Api Sumbing, Gunung Api Gianti, Gunung Api Bencong, Gunung
Api Prahu, Gunung Api Sroja, Depresi Serayu, Lembah Begaluh,. Kubah Lava
Sumbing, Kaldera Sumbing, Cone Sundoro, Dataran Antar Pegunungan Sundoro -
Sumbing, dan Maar. Unit Struktural terdini dari Lembah Hulu Sungai Serayu,
Perbukitan Lipatan Serayu Selatan, Lembah Purworejo, Dome Progo Barat dan
Perbukitan Lipatan Krikil. Unit Fluvial terdini dari Depresi Progo"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adinda Cempaka
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S762
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Pingkan, Jessica
"Kecamatan Ciemas merupakan daerah yang dikenal karena memiliki kekayaan geologi dengan terdapatnya batuan yang memiliki umur batuan tertua dan terluas di Pulau Jawa. Proses-proses geologi yang berlangsung memunculkan berbagai objek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis keunikan geomorfologi sebagai potensi daya tarik wisata alam di Kecamatan Ciemas. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan metode ideografik, korelasi kualitatif dan pembobotan terhadap variabel daya tarik wisata, aksesibilitas, dan fasilitas wisata pada unit analisis bantukan asal. Hasil yang diperoleh, yaitu bentukan asal struktural memiliki potensi tinggi dengan karateristik ketinggian 100-500 mdpl dan lereng yang curam.

Ciemas sub-district is an area known for its geological wealth, which lies the oldest and widest age of rocks on The Java Island. Geological processes that occurs in this area, led to many natural attractions worth visiting. The purpose of this study was to determine and analyze the unique of geomorphology as potential natural attractions in Ciemas Sub-District. The analysis was done descriptively by using ideographic approach method, qualitative correlation and weighted variables tourist attraction, accessibility, and tourist facilities on the analysis unit formed by origin. The result is formation of structural origin which have a high potential with a height of 100-500 meters above sea level characteristics and steep slopes.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S59665
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rijali Isnain Haripa
"Kars Gunung Sewu adalah kawasan kars tropis dengan ciri ciri morfologi yang unik yaitu memiliki sinkhole atau dolina. Sinkhole atau dolina ini biasanya terbentuk akibat adanya amblesan. Kecamatan Ponjong, Rongkop dan Semanu yang berada di Kabupaten Gunung Kidul merupakan daerah yang termasuk kawasan kars Gunung Sewu yang memiliki frekuensi bencana amblesan tanah yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik tanah sekitar amblesan di Kecamatan Ponjong, Rongkop dan Semanu dengan cara mengetahui bagaimana kondisi sifat fisik tanah pada amblesan yang terjadi di Kecamatan Ponjong dan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul dalam skala unit geomorfologi. Metode penelitian ini adalah dengan melakukan pemetaan titik amblesan, investigasi geoteknik seperti ketebalan tanah, dan drainase dan uji laboratorium untuk mengetahui sifat fisik tanah seperti index properties, permeabilitas, dan bulk density. Unit analisis yang digunakan adalah analisis unit geomorfologi. Amblesan yang ada di Kecamatan Ponjong, Rongkop dan Semanu berjumlah 41 titik dengan pembagian jenis amblesan lama dan amblesan baru. Ada enam unit geomorfologi di Kec. Ponjong, Rongkop dan Semanu, yaitu Dataran Aluvial Kars, Lembah Kering, Lereng Tengah Gunung Api Ringan, Plato Kars, Polje dan Zona Kars Konikal. Amblesan yang paling banyak terjadi pada unit geomorfologi Zona Kars Konikal. Amblesan memiliki hubungan dengan unit geomorfologi karena amblesan berasosiasi dengan pembentukan unit geomorfologi kars. Karakteristik fisik tanah sekitar amblesan di Kecamatan Ponjong, Rongkop dan Semanu menunjukan tanah yang lempung berlanau halus dengan tingkat plastisitas yang tinggi dan permeabilitas yang rendah. Selain itu memiliki ketebalan tanah yang dalam hingga dangkal dengan drainase yang baik hingga terhambat. Sifat tanah tersebut menyebabkan adanya potensi pergerakan tanah seperti amblesan, terutama ketika ada daya dorong seperti air pada saat banjir.

Kars Sewu Kars Area is a Tropical Kars Area with unique features such as sinkhole or dolina. Sinkhole or dolina is usually formed due to subsidence. Ponjong, Rongkop and Semanu Subdistricts in Gunung Kidul Regency are areas inside the Gunung Sewu Kars Area which has high frequency of land subsidence. This study aims to identify the characteristics of soil around the subsidence in Ponjong, Rongkop and Semanu Subdistricts by knowing how its physical properties on a geomorphological unit scale. The methodology on this research is by conducting the subsidence's point mapping, geotechnical investigations such as soil thickness and drainage, laboratory tests to determine the physical properties of the soil such as index properties, permeability, and bulk density. The unit of analysis used is geomorphological unit analysis. The amount of subsidence in the Ponjong, Rongkop and Semanu sub-districts are 41 points which consists of old types subsidence and new types subsidence. There are six geomorphological units in the district Ponjong, Rongkop and Semanu, namely the Alluvial Plain of Kars, Dry Valley, Middle Slopes Volcanoes, Plato Kars, Polje and Conical Kars Zone. The most sinkhole is exist on Conical Kars Zone. There is an enough correlation between sinkhole and geomorphological units. The physical characteristics of the soil around subsidence in Ponjong, Rongkop and Semanu Subdistricts show that the soil is loamy smooth clay with high plasticity and low permeability. Besides that, it has deep to shallow soil thickness with good to bad drainage. The nature of thus soil causes a potential for ground movement such as subsidence, especially when there is thrust like water during a flood."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Monique Eugenia Dinar Rawung
"Belum adanya data pendukung geologi teknik di daerah Gunung Endut membuat pengembangan proyek panas bumi di daerah tersebut terhambat, hal ini karena informasi karakteristik geologi teknik daerah Gunung Endut memiliki peran penting dalam pembangunan fasilitas-fasilitas PLTPB dari tahap eksplorasi hingga produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik geologi teknik daerah penelitian, kondisi geomorfologi daerah penelitian, serta kesesuaian lahannya untuk pembangunan wellpad eksplorasi panas bumi. Metode yang dilakukan melibatkan pemetaan lapangan, uji lapangan untuk mengetahui kekuatan batuan menggunakan schmidt’s hammer, serta uji lab untuk mengetahui batas-batas Atterberg dan mengetahui parameter-parameter kuat geser tanah, serta menggunakan GIS. Berdasarkan hasil uji lapangan dan lab, ditemukan 7 satuan geologi teknik pada daerah penelitian yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik geoteknya, yaitu Batugamping Lapuk Sedang (BGLS), Endapan Koluvium (EK), Andesit Lapuk Rendah (ALR), Andesit Lapuk Sedang (ALS), Batupasir Lapuk Tinggi (BPLT), Tanah Pasir Gradasi Baik Mengandung Lanau Plastisitas Rendah (SW- SML), dan Tanah Pasir Gradasi Baik Mengandung Lanau Plastisitas Tinggi (SW- SMH). Berdasarkan kriteria pembangunan wellpad eksplorasi, daerah penelitian memiliki 5 lahan yang sesuai untuk menjadi lokasi pembangunan wellpad.

The absence of geotechnical data at Mount Endut area has hampered the development of geothermal projects within the area as geotechnical information plays an important role in the construction of PLTPB facilities from the exploration to production stages. The purpose of this research is to examine the geotechnical characteristics and geomorphological conditions of the research area, and to analyze the land suitability of the research area to build a geothermal wellpad. Research methods that are used include field mapping, field test to know the rock strength using Schmidt’s hammer test, and laboratory test to find the Atterberg limits and shear strength parameters of soil. Based on its geotechnical properties tests, 7 geotechnical units are determined: Moderately Weathered Limestone (MWL), Colluvium Deposits (CD), Slightly Weathered Andesite (SWA), Moderately Weathered Andesite (MWA), Highly Weathered Sandstone (HWS), Well Graded Sand With Low Plasticity Silt (SW-SML), and Well Graded Sand With High Plasticity Silt (SW-SMH). Based upon the wellpad criterion, there are 5 potential areas in the research area to build geothermal wellpad."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Badhar Gibran
"Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kondisi geomorfologi, geokimia batuan, dan distribusi endapan nikel laterit di Daerah X, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Wilayah ini secara geologi berada dalam Mandala Halmahera Timur yang tersusun atas kompleks ofiolit dan batuan ultrabasa seperti harzburgit, lherzolit, dan dunite yang berperan sebagai batuan induk pembentuk laterit. Metode yang digunakan meliputi analisis geomorfologi berbasis data topografi dan klasifikasi bentuk lahan geomorphon, analisis geokimia batuan dasar menggunakan data X-Ray Fluorescence (XRF), serta pemetaan distribusi kadar dan ketebalan endapan laterit melalui interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk lahan seperti ridge, spur, dan shoulder pada kemiringan 2°–15° serta elevasi antara 700–900 meter cenderung memiliki ketebalan laterit yang lebih besar dan kadar nikel yang lebih tinggi, menjadikannya zona prospektif utama. Zona saprolit memiliki kadar Ni tertinggi, mencapai lebih dari 2,5%, dengan komposisi geokimia yang mengindikasikan tipe laterit Hydrous Magnesium Silicate (HMS). Hubungan negatif antara kemiringan lereng dan ketebalan limonit mengindikasikan peran penting topografi terhadap intensitas pelapukan dan pelindian unsur. Selain itu, analisis geokimia batuan menunjukkan bahwa harzburgit merupakan litologi dominan dengan sebaran kadar Ni yang luas, sedangkan kadar tertinggi tercatat pada litologi dunite dan lherzolit meskipun dengan jumlah data yang terbatas. Temuan ini memperkuat peran faktor geomorfologi dan komposisi kimia batuan dalam pengendalian pembentukan serta sebaran endapan nikel laterit, dan dapat dijadikan acuan dalam eksplorasi tahap awal di wilayah studi.

This study aims to examine the relationship between geomorphological conditions, bedrock geochemistry, and the distribution of lateritic nickel deposits in Area X, Central Halmahera Regency, North Maluku Province. Geologically, the study area lies within the Eastern Halmahera Belt, characterized by ophiolitic complexes and ultramafic rocks such as harzburgite, lherzolite, and dunite, which serve as the primary protoliths for lateritization. The research methodology includes geomorphological analysis based on topographic data and geomorphon-based landform classification, geochemical analysis of bedrock using X-Ray Fluorescence (XRF), and spatial distribution modeling of nickel grade and laterite thickness using the Inverse Distance Weighting (IDW) interpolation method. The results indicate that landforms such as ridges, spurs, and shoulders with slope gradients between 2°–15° and elevations ranging from 700 to 900 meters above sea level tend to exhibit thicker lateritic profiles and higher nickel concentrations, marking them as highly prospective zones. The saprolite zone shows the highest nickel content, exceeding 2.5%, with geochemical characteristics indicative of the Hydrous Magnesium Silicate (HMS) laterite type. A negative correlation between slope angle and limonite thickness suggests that topography significantly influences leaching intensity and elemental accumulation. Furthermore, bedrock geochemical analysis reveals harzburgite as the dominant lithology with a wide range of Ni content, while the highest Ni grades are found in samples identified as dunite and lherzolite, although data for these rock types are limited. These findings highlight the crucial roles of geomorphology and geochemical composition in controlling the formation and spatial distribution of lateritic nickel deposits, offering valuable insights for early-stage mineral exploration in the study area."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jami Hariyo Sudarmo
"Rangkaian lima gempa bumi dangkal dengan magnitudo di atas 6 yang terjadi di lokasi-lokasi yang berdekatan dalam rentang waktu kurang dari satu bulan (29 Juli 2018-19 Agustus 2018) membuat panik warga Lombok dan membuat banyak perhatian tertuju kepada Pulau Lombok. Dengan banyaknya gempa bumi yang terjadi di Indonesia, diperlukan mitigasi bencana yang sangat baik agar kerugian jiwa dan harta bisa diminimalisasi semaksimal mungkin. Vs30 dapat dijadikan klasifikasi situs agar perencanaan pembangunan dapat disesuaikan dengan risiko getaran gempa pada setiap lokasi. Karena pengukuran Vs30 di Indonesia masih minim, diperlukan estimasi nilai Vs30 berdasarkan kondisi di Indonesia yang tergolong kompleks. Pada penelitian ini dilakukan perkiraan nilai Vs30 berdasarkan topografi, geologi, dan geomorfologi lembar Mataram di Pulau Lombok. Pertama dilihat korelasi antara nilai Vs30 hasil pengukuran dengan ketinggian, kemiringan, satuan geologi, umur geologi, dan kategori geomorfologi. Kemudian dilakukan estimasi nilai Vs30 berdasarkan ketinggian, kemiringan, satuan geologi, umur geologi, dan kategori geomorfologi dan dibandingkan nilainya dengan hasil pengukuran. Setelah itu dilakukan juga korelasi dan pemodelan menggunakan beberapa resolusi ketinggian dan kemiringan yang berbeda untuk melihat resolusi mana yang kemungkinan paling sesuai untuk kondisi di Lombok. Dari beberapa pemodelan, diperoleh bahwa kemungkinan model yang paling sesuai dengan kondisi di Lombok yaitu estimasi Vs30 menggunakan 30 titik pengukuran Vs30 berdasarkan kombinasi variabel bebas ketinggian dan satuan geologi pada resolusi 9 arcsec yang memiliki nilai median residu model sebesar -0,008 dan standar deviasi residu model sebesar 0,162.

Five successive earthquakes with magnitude above 6 taking place in relatively close locations in less than one month (29 July 2018 – 19 August 2018) caused panic among the people of Lombok and directed attentions towards the island of Lombok. With the countless occurrence of earthquakes in Indonesia, it is required to have a very good disaster mitigation to minimize the loss of life and property as much as we can. Vs30 can be used for site classification, so the development can be planned in accordance with the earthquake risk in each location. Because of the still sparse Vs30 measurements in Indonesia, it is needed to have an estimation of the Vs30 value based on the quite complex condition in Indonesia. In this research, the estimation of Vs30 value is done based on topography, geology and geomorphology of Mataram sheet in the Island of Lombok. First, the correlation of Vs30 measurements value with elevation, slope, geological unit, geological age, and geomorphological category is investigated. Then, the estimation of Vs30 value is calculated based on elevation, slope, geological unit, geological age, and geomorphological category. After that, the Vs30 estimation value compared with the Vs30 measurement value. The correlation and modeling were also carried out using several different elevation and slope resolutions to see which resolution might be the most suitable for conditions in Lombok. From several models, it is found that the most suitable model for the conditions in Lombok might be the Vs30 estimation that uses 30 Vs30 measurements based on the combination of the independent variables of the elevation and geological unit on 9 arcsec resolution that have a median value of the model residual of -0.008 and a standard deviation of the model residual log of 0.162."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sunarto
"Geomorphology of coastal zones in Jepara, Indonesia."
Bulaksumur, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2014
333.917 SUN g
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Muh. Aris Marfai
"On floods and its control in Semarang, Indonesia."
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press , 2014
333.917 MUH b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library