Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 56 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sumarsih
"ABSTRAK
Rumah sakit berkembang melalui pasien yang puas di mana pasien tidak hanya akan kembali untuk membeli pelayanan tetapi juga dapat menjadi marketer yang dapat
membawa keluarga atau teman-teman lainnya. Minat konsumen untuk membeli atau memakai jasa dari pemberi jasa yang sama sangat dipengaruhi oleh pengalaman kepuasanya terhadap pelayanan yang telah diperoleh sebelumnya. Kepuasan pasien
merupakan nilai subyektif terhadap mutu pelayanan yang diberikan dan diterima oleh pasien, meskipun nilai subjektif ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pendidikan, keadaan emosional dan lingkungan pasien, kepuasaan pasien tetap akan didasari oleh kebenaran dan kenyataan objektif yang dialami oleh pasien pada saat
menerima pelayanan rumah sakit. Pelayanan rawat jalan sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan citra rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk melihat variabel
karakteristik dan kepuasan pasien yang paling dominan berhubungan dengan minat kunjungan ulang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan data primer,
pendekatan cross sectional, populasi adalah pasien rawat jalan, sampel dihitung
berdasar beda dua proporsi didapatkan 150 sampel pengambilan sampel dengan tekhnik Quota sampling. Di analisis komputer menggunakan regresi multivariat. Hasil tidak ada hubungan antara karakteritik pasien dengan minat kunjungan ulang nilai P value >0,05 :
jenis kelamin (p value=0,169), usia (p value= 0,539) pendidikan (p value=0,622),
pekerjaan (p value=0,319), pengalaman berkunjung sebelumnya (p value=0,352), ada hubungan antara kepuasan pasien dengan minat kunjungan ulang (p value=0,0001).
Variabel yang paling dominan berhubungan dengan minat kunjungan ulang adalah
kepuasan pasien dengan p value=0,0001, OR= 16,626. Artinya pasien yang memiliki
kepuasan baik akan mempunyai peluang sebesar 16,626 lebih tinggi melakukan kunjungan ulang dibandingkan pasien yang memiliki kepuasan kurang baik, setelah di kontrol oleh variabel jenis kelamin, variabel umur dan variabel pekerjaan.
"
2019
T52794
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ina Nurul Rahmahwati
"Latar Belakang: Kesiapan pulang pasien pascabedah sendi panggul merupakan sebuah proses transisi yang dipersepsikan oleh pasien dimana proses ini dimulai dari sebelum pasien pulang sampai dengan periode setelah pasien pulang ke rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan pulang pasien pascabedah sendi panggul. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan 'cross sectional'. Sampel terdiri dari 90 pasien pascabedah sendi panggul di dua RS yang berada di Jakarta dan Surakarta yang dipilih dengan teknik 'consecutive sampling'.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata kesiapan pulang pasien pacapembedahan panggul adalah 148,38 ± 31,72. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kesiapan pulang pasien pascabedah sendi panggul adalah edukasi pulang (I=0,318). Kesimpulannya adalah jenis kelamin, status sosial ekonomi, perawatan terencana, pertama kali dirawat, pernah dirawat dengan diagnosis yang sama, lama rawat, kualitas edukasi pulang, dan koordinasi perawatan secara sama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap 44,1% kesiapan pulang pasien pascabedah sendi panggul (p=0,0001).

Background: Discharge readiness of patients post hip surgery is a transition process that is perceived by patients where the process starts from before the patient discharge to the period after the patient discharge. This study aims to identify the factors that influence the discharge readiness of patients post hip surgery. This study used a descriptive correlational design with a cross sectional approach. The sample consisted of 90 patients post hip surgery at Jakarta hospitals and Surakarta  was chosen by consecutive sampling technique.
Results: The results of this study showed that the average discharge readiness of patients post hip surgery was 148.38 ± 31.72. The results of multivariate analysis showed that the most influencing factor for patient readiness post hip surgery was discharge teaching (I = 0.318). The conclusions were gender, socioeconomic status, planned care, first hospitalization, previous hospitalization with same diagnosis, length of stay, quality of discharge teaching, and care coordination equally had a significant influence on 44.1% discharge readiness of patients post hip surgery (p = 0,0001).
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
T53278
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mardiati Nadjib
"Dalam kebijakan alokasi sumber daya kesehatan khususnya penyediaan pelayanan rawat jalan, kriteria penilaian keberhasilan adalah efisiensi, kualitas dan pemerataan. Pemerataan di bidang kesehatan telah menjadi aspek penting yang menjadi perhatian organisasi kesehatan dunia seperti Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia, namun aplikasinya belum berjalan dengan baik. Salah satu kendala yang dihadapi adalah cara mengukur pemerataan tersebut.
Pemerataan mengandung unsur keadilan (fairness), sehingga perhatian alokasi subsidi seharusnya diberikan menurut pertimbangan kebutuhan (need) dan kemampuan masyarakat. Mereka yang sakit dan miskin membutuhkan bantuan pemerintah agar dapat mencapai status kesehatan sama baiknya dengan mereka yang tidak miskin. Pemerataan yang berdasarkan unsur keadilan (equity) bukanlah pemerataan sumber daya yang berdasarkan asas ?sama rata' (equality), tetapi kondisi sama rata menurut standar kebutuhan (need). Kesetaraan (equality) merupakan bagian darn pemerataan yang adil (equity) tersebut.
Sebagai upaya untuk mencapai pemerataan akses (equity of access) maka alokasi sumber daya harus mengacu pada 3 kriteria: need, geografi dan sosioekonomi. Kebijakan alokasi sumber daya kesehatan di Indonesia cukup antisipatif terhadap kebutuhan masyarakat. Status kesehatan masyarakat telah meningkat pesat sampai dengan tahun 1997 yang lalu, dimana besaran Angka Kematian Bayi menurun dari 71 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 43 per 1000 per kelahiran hidup pada tahun 1997. Demikian pula dengan indikator outcome lainnya. Penyediaan fasilitas meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995 jumlah puskesmas tercatat sebanyak 7105 buah, sementara puskesmas pembantu berjumlah 20.672 buah, puskesmas keliling 6514 buah.
Meskipun demikian, ternyata hal tersebut belum menjamin sepenuhnya bahwa seluruh masyarakat di berbagai wilayah telah memiliki akses yang merata (equitable access). Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: bagaimana gambaran pemerataan akses pelayanan rawat jalan di Indonesia dan apa determinannya? Penelitian ini bertujuan agar diperolehnya informasi mengenai pemerataan akses pelayanan rawat jalan di berbagai wilayah di Indonesia serta determinannya.
Hipotesis ditegakkan untuk membuktikan masih terdapatnya ketidakmerataan secara vertikal (vertical inequity) dan ketidakmerataan horisontal (horizontal inequity). Hipotesis pertama yang diajukan adalah probabilitas untuk akses ke pelayanan rawat jalan berbeda diantara kelompok sosioekonomi dan wilayah. Hipotesis kedua adalah akses pelayanan rawat jalan yang diukur dari penggunaan pelayanan menurut need di berbagai wilayah Indonesia belum merata, terdapat disparitas antarwilayah, yang berhubungan dengan faktor pengguna pelayanan, faktor ketersediaan pelayanan, faktor sosioekonomi, serta potensi wilayah.
Penelitian ini merupakan suatu studi cross sectional yang diharapkan dapat menghasilkan gambaran pemerataan pelayanan kesehatan_ Data yang digunakan adalah data sekunder dan suatu survei nasional rumah tangga di 13 propinsi, yaitu studi IFLS (Indonesia Family Life Survey) atau SAKERTI 1993 (Survai Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia) yang dilaksanakan pada tahun 1993?1994.
Dari jumlah populasi dewasa (14406 individu), setelah melalui proses pembersihan data diperoleh sampel penelitian 9616 individu yang mempunyai need (sepuluh macam gejala penyakit dalam empat minggu terakhir), dan 1627 atau 16,92% di antaranya adalah responden yang menggunakan pelayanan kesehatan rawat jalan. Untuk penyesuaian probabilitas sampel terhadap populasi propinsi, dilakukan pembobotan yang didasarkan atas penyesuaian dalam ekstrapolasi data yang berasal dari sampel cluster (normalized weighted).
Nilai rata-rata met need yang tinggi adalah pada mereka yang sosioekonominya tinggi/tidak miskin atau mereka yang tinggal di Jawa-Bali. Sebaliknya, nilai unmet need yang tinggi adalah pada mereka yang miskin dan tinggal di luar Jawa-Bali, baik didaerah urban maupun rural.
DKI Jakarta memiliki infrastruktur paling maju dan tingkat sosioekonomi masyarakat yang relatif tinggi. Pilihan pelayanan di DKI Jakarta terbanyak adalah pilihan swasta (69,2%) dengan rata-rata waktu menunggu yang tinggi. Hal ini menunjukkan tingginya demand masyarakat akan pelayanan modern, khususnya swasta.
Di propinsi Nusa Tenggara Barat, angka kunjungan sebenarnya relatif tinggi dibandingkan nilai rata-rata, namun pilihan fasilitas utama adalah fasilitas milik pemerintah dan tradisional. Selain itu Nusa Tenggara Barat juga mewakili daerah kemampuan dan kemauan membayar masyarakat untuk kesehatannya rendah, disamping potensi daerahnya juga relatif rendah.
Kalimantan Selatan meskipun memiliki angka rasio use/need yang tinggi, akses belum dapat dikatakan baik, mengingat masih banyak masyarakat menggunakan pelayanan tradisional (45,8%).
Hasil penelitian membuktikan bahwa semakin tinggi sosioekonomi individu, semakin rendah unmet need. Mereka yang tinggal di daerah urban dan memiliki jaminan asuransi kesehatan juga memiliki akses yang lebih baik. Dan seluruh responden yang menyatakan memanfaatkan pelayanan kesehatan milik pemerintah, 67% berasal dari daerah rural. Pada kelompok yang menyatakan tidak mengunjungi pelayanan kesehatan swasta selama empat minggu terakhir, 69,1% berasal dari daerah rural. Dari seluruh responden yang menyatakan pernah mencari pengobatan tradisional selama empat minggu terakhir, 76% berasal dari daerah rural.
Akses pelayanan rawat jalan di 13 propinsi dengan analisis kurva Lorenz menunjukkan gambaran ketidakmerataan horisontal (horizontal inequity) dimana rasio use/need yang tinggi dimiliki oleh kurang dari 20% penduduk terkaya.
Analisis multivariat pada total populasi dewasa sakit ditujukan untuk mendapatkan gambaran perbandingan antara unmet need (tidak akses) dan met need (akses). Analisis logistik regresi memberikan hasil bahwa individu yang tinggal di beberapa propinsi memiliki probabilitas untuk akses lebih tinggi. Namun, bila dilihat akses pada tiap jenis pelayanan, tampak adanya perbedaan. Variabel prediktor yang berhubungan dengan akses ke pelayanan milik Pemerintah adalah need, sosioekonomi, jenis kelamin, jaminan asuransi kesehatan dan status perkawinan. Variabel wilayah (urban-rural dan Jawa Bali-luar Jawa Bali) secara statistik tidak bermakna, berarti fasilitas milik Pemerintah cukup dimanfaatkan secara merata menurut wilayah. Untuk fasilitas swasta, probabilitas untuk akses tertinggi dimiliki oleh propinsi Bali, DKI Jakarta, dan Jawa timur.
Dibandingkan dengan individu yang tinggal di propinsi Sulawesi Selatan, mereka yang tinggal di propinsi Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Sumatra Barat terbukti memiliki probabilitas untuk memanfaatkan pelayanan tradisional 5 kali atau lebih. Jadi, pelayanan tradisional di beberapa propinsi masih memiliki daya ungkit tinggi terhadap pemerataan akses pelayanan kesehatan. Pada kelompok tidak miskin, mereka yang memiliki need tinggi memiliki probabilitas untuk akses 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki need rendah. Tetapi, pada kelompok miskin, mereka yang meiliki need tinggi memiliki probabilitas untuk akses 1,8 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki need rendah (p
Analisis regresi ganda pada tingkat individu sebelum distandardisasikan, pada kelompok need rendah variabel prediktor yang terbukti secara statistik bermakna adalah pilihan pelayanan, wilayah, waktu perjalanan dan kemauan membayar (R kuadrat= 0,191). Pada kelompok need tinggi, variabel prediktor yang secara statistik berhubungan bermakna dengan rasio use/need adalah umur, pilihan pelayanan, jenis kelamin, kemauan membayar, waktu perjalanan, dan waktu menunggu (R kuadrat~,223). Dengan menggunakan variabel terikat rasio use/need yang distandardisasikan dengan umur, variabel bebas yang terbukti bermakna adalah pilihan pelayanan, kemauan membayar, waktu perjalanan, dan waktu menunggu. Pada kedua subkelompok need, wilayah tidak berhubungan dengan akses (R kuadrat=0,120 dan 0,190), atau dengan kata lain terjadi pemerataan.
Analisis pada data kabupaten membuktikan bahwa variabel wilayah dan kemauan membayar mempengaruhi met need (akses) pada kelompok need rendah (R kuadrat--0,285), namun pada kelompok need tinggi variabel wilayah tidak bermakna secara statistik (R kuadrat=0,134) dengan nilai p<0,01. Analisis pada data kabupaten juga dilakukan dengan menggunakan variabel pengganti yang tersedia di BPS, yaitu PDRB perkapita, persentase penduduk miskin (yang terbukti bermakna secara statistik), dan persentase desa tertinggal (IDT). Hasil uji model membuktikan bahwa variabel yang bermakna secara statistik hanya persentase penduduk miskin pada kelompok need rendah (R kuadrat =0.207). Hal ini membuktikan bahwa status kesehatan belum merupakan salah satu kriteria alokasi sumber daya ekonomi secara makro, sehingga terdapat inequity.
Pengembangan model pemerataan akses pelayanan rawat jalan dalam penelitian ini didasarkan atas berbagai konsep mengenai akses. Konsep utama sebagai acuan adalah model Andersen (1968), Aday et al. (1980), Money (1987), Le Grand (1972), Wagstaff et al, (1989), Penchansky (1977), dan WHO (1995). Hongvivatana (1984) menilai akses sebagai suatu proses berkesinambungan (continuum process) mulai dari ketersediaan pelayanan hingga efektivitas pelayanan melalui pengukuran cakupan/hasil pemanfaatan pelayanan. Pengukuran pemerataan pelayanan hanya berdasarkan pencapaian cakupan yang dibandingkan dengan target populasi yang ditetapkan dari atas belum mencerminkan kenyataan yang sebenarnya pada tingkat pengguna (tingkat yang paling bawah dari proses pemanfaatan pelayanan yang disediakan).
Konsep pemerataan juga merupakan suatu proses berkelanjutan (continuum process). Pemerataan status kesehatan (diukur dengan meratanya angka mortalitas, morbiditas, dan akhirnya tercapainya `sehat untuk semua wellbeing dan kualitas hidup akan dapat dicapai bila pemerataan ketersediaan pelayanan, pemerataan akses, pemerataan kualitas pelayanan, dan pemerataan kemampuan dan kemauan membayar masyarakat telah tercapai.
Pemerataan secara mutlak atau absolut, baik pemerataan horisontal maupun vertikal, adalah tujuan akhir (ultimate goal) yang sulit dicapai. Hal ini disebabkan karena, pertama, banyaknya faktor yang mempengaruhi status kesehatan, dan kedua, kebijakan yang dikembangkan cenderung menekankan peran penyedia pelayanan saja. Negara-negara maju pun mempunyai masalah dengan ketidak merataan status kesehatan Mi. Meneliti pemerataan (equity) berarti meneliti ketidakmerataan (inequity), menilai ada tidaknya disparitas antarwilayah dan antarkelompok dalam masyarakat. Hal yang dapat dilakukan adalah mengurangi disparitas dengan mendorong masyarakat untuk memutuskan sendiri dalarn mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Saran pertama yang diajukan adalah pemetaan pemerataan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Perbandingan status kesehatan dan akses antar wilayah diusulkan untuk dilakukan secara rutin untuk memantau pemerataan hasil pembangunan.Penggunaan data set Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan SUSENAS diusulkan untuk dimanfaatkan secara rutin dalam menilai pemerataan akses. Penelitian lanjutan yang disarankan juga mencakup penilaian pemerataan bukan kuratif saja, tetapi juga preventif promotif dan pelayanan rawat inap.
Saran kedua adalah penelitian lanjutan dengan menyertakan variabel karakteristik dan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk pemetaan pemerataan, variabel ini diusulkan untuk diukur dalam studi nasional seperti SUSENAS dan SKRT. Saran ketiga adalah peningkatan kemampuan untuk melaksanakan penelitian operasional dan survei cepat dalam mengidentifikasi need di wilayah masing-masing.
Saran keempat, agar dapat menjamin subsidi dapat dimanfaatkan oleh mereka yang miskin, diperlukan kemampuan para perencana kesehatan di daerah untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah kantung kemiskinan (geographic targeting) serta analisis tingkat kemampuan masyarakat dan jumlah penduduk miskin di wilayah tertentu (individual targeting).
Saran kelima adalah realokasi sumber daya kesehatan yang adil. Di daerah-daerah dengan tingkat sosioekonomi relatif baik, subsidi pemerintah perlu direalokasi bagi daerah-daerah yang lebih membutuhkan dengan tingkat sosioekonomi rendah. Sektor swasta dapat meningkatkan perannya di daerah yang mampu. Sementara itu, pelayanan tradisional yang menjadi pilihan masyarakat di beberapa propinsi perlu ditingkatkan pembinaan dan pengawasan kualitas pelayanan medisnya. Demikian pula dengan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai swamedikasi.
Saran keenam, hambatan akses yang berasal dari faktor infrastruktur dapat diatasi apabila ada kerjasama lintas sektoral yang terpadu antara sektor kesehatan dengan sektor lainnya. Peningkatan status kesehatan merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat, sehingga upaya peningkatan status kesehatan masyarakat harus merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan demikian pula sebaliknya, dalam upaya alokasi dalam sektor kesehatan sendiri, perlu memperhatikan faktor-faktor need, geografi dan sosioekonomi.
Saran ketujuh, pemerataan (equity) akan dapat dicapai melalui kerjasama yang baik antara pihak penyedia pelayanan dengan masyarakat. Kesenjangan antara perceived need dan normative need dapat dikurangi dengan peningkatan pendidikan formal masyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat yang intensif.
Usulan peningkatan keterlibatan masyarakat dalam upaya peningkatan pemerataan juga diberikan dalam aspek kontrol sosial oleh masyarakat dalam pembangunan kesehatan (good governance). Misalnya, dengan membentuk suatu mekanisme koordinasi kesehatan di tingkat daerah yang terdiri dari unsur-unsur masyarakat dan penyedia pelayanan (institusi pelayanan dan penentu kebijakan). Hal ini sejalan dengan usul WHO untuk mendorong masyarakat untuk memutuskan sendiri dalam upaya meningkatkan pemerataan kesehatan. Saran lain adalah melibatkan masyarakat dalam pemantauan pengobatan tradisional dan pembiayaan pelayanan kesehatan/ kerja sama dana praupaya.
Saran kedelapan adalah bahwa upaya pemberian subsidi melalui sisi demand seperti yang telah dimulai melalui pemberian kartu sehat perlu diteruskan dengan perbaikan pada mekanisme distribusinya. Pemikiran lain adalah dengan memberikan subsidi melalui premi dana praupaya."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1999
D248
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rika Oktarina Rony
"Dari kondisi yang ada pada Bagian Rawat Jalan Rumah Sakit Pelabuhan Palembang diketahui bahwa pemanfaatan kapasitas terpakai hanya 33% dari kapasitas terpasang. Ini menyebabkan jumlah pendapatan rumah sakit dari bagian ini tidak optimal. Untuk itu perlu dipikirkan suatu upaya untuk mengatasi masih rendahnya kunjungan pada Bagian Rawat Jalan Rumah Sakit Pelabuhan Palembang tersebut.
Penelitian ini bertujuan unluk mengetahui strategi meningkatkan kunjungan Rawat .ialan RS Pelabuhan Palembang, berikut factor ekstemal dan internal yang mempengaruhi.
Metodotogi yang digunakan datam penelitian ini adalah metode telaah kasus, dengan pendekatan deskriptif analitik. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Febniari 2003. Metoda pengumpulan data diperoleh melalui data primer lewat wawancara indepth interviewdan melakukan diskusi kelompok. Serta data sekunder melalui penelusuran data rekam medis rumah sakit dan data dari Badan Pusat Statistika kota Palembang.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peluang utama Bagian Rawat Jalan Rumah Sakit Pelabuhan Palembang adalah mengembangkan pasar dan produk yang ada. Dengan ancaman yang ditakutkan adalah larinya pasien, dokter spesialis dan perusahaan pelanggan ke rumah sakit lain.
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan, bahwa rendahnya kunjungan dikarenakan fungsi internal marketing rumah sakit belum berjalan optimal, jumlah dokter di poli spesialis tidak merata, kecepatan layanan di masing-masing poli tidak sama, waktu tunggu yang lama serta sarana bagian rawat jalan yang kurang memadai. Oleh karena itu disarankan kepada pihak rupiah sakit untuk melakukan peningkatan profesionalisme SDM bagian pemasaran, mengkaji ulang kembali beberapa poli spesialis yang masih dapat ditingkatkan kunjungan pasiennya, mcningkatkan kecepatan layanan, memperpendek waktu tunggu dan memperbaiki sarana pelayanan bagian rawat jalan.
Daftar Pustaka : 24 (1979-2001)

From the existing conditions of the outpatient clinic of Pelabuhan Palembang, it is apparent that it is operating at only 33% of its full capacity. This causes the output of the outpatient clinic to be less than optimal. Therefore, it is necessary to consider a strategy for increasing the low number of visits to the outpatient clinic of Pelabuhan Hospital, Palembang.
The purpose of this research is to know how increasing the number of visits to the outpatient clinic of Pelabuhan Hospital. Palembang, as well as Ending external and internal influential factors.
This research was carried out with case study methods at January-February 2003.
The primary data was obtained through indepth interviews and group discussionswith hospital administrators. Secondary data was obtained through examining hospital records and data from the Center for Health Statistics in Palembang.
From this research, it appears that the main opportunity for increasing the number of visits to the outpatient clinic of Pelabuhan Hospital, Palembang is by giving priority to develop the market and product. One existing problem is that patients seek treatment from other specialists and other treatment centers.
In Conclusion, the low number of patients seeking treatment at the outpatient clinic, is caused by there is not enough promotion and information from the hospital, limited number of specialists, service time, waiting time and facilities still poor. It is advisable that the hospital increase to improve the quality of the marketing human resources, reevaluate the some of the specialists that can be increase in the number of patient visits, and improve the following:
- Service time.
- Waiting time.
- Facilities of the outpatient clinic.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12661
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Reni Gustine Suparman
"Instalasi rawat jalan sebagai primadona pelayanan rumah sakit di masa depan, dapat memberikan kontribusi yang bermakna terhadap pelayanan penunjang dengan pendapatan yang cukup besar. Tinggi rendahnya kunjungan merupakan hasil interaksi antara pemberi (provider) dan penerima pelayanan (users), serta kepuasan konsumen merupakan faktor penentu bagi penggunaan jasa berulang. Selama ini ada kecenderungan jumlah kunjungan rawat jalan di Rumah Sakit Umum Gunung Jati menurun, berdasarkan informasi tahun 2000 sampai dengan 2002. Tetapi belum ada evaluasi terhadap penurunan tersebut. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kunjungan berulang pada lima poliklinik rawat jalan yaitu poliklinik penyakit dalam, penyakit anak, penyakit mata, bedah umum dam bedah orthopedi. Dipilihnya lima poliklinik tersebut berdasarkan hasil evaluasi dalam tiga tahun terakhir yang menunjukan jumlah kunjungan terbanyak dengan kecenderungam kunjungan menurun dan rasio kunjungan baru berbanding kunjungan lama yang meningkat.
Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kunjungan berulang rawat jalan (independent variable) dengan berbagai faktor yang diteliti (dependent variable), balk faktor internal, faktor eksternal maupun faktor pendukung.
Pengumpulan data primer dilakukan dilima polildinik tersebut dengan nomor kunjungan ganjil setelah responden mendapatkan pelayanan. Analisis data secara statistik menggunakan analisis univariate dan analisis bivariale dengan uji Chi-Square serta analisis regresi.
Hasil penelitian dari analisis univariate menunjukan bahwa frekuensi kunjungan benalang rawat jalan paling tinggi terdapat pada variabel persepsi sakit (86,3%) dan status kawin (84,3%). Dari analisis hivariale menunjukan bahwa adanya hubungan antara kunjungan berulang rawat jalan dengan tujuh variabel yang diteliti. Secara statistik, diketahui adanya hubungan antara kunjungan berulang rawat jalan dengan status perkawinan, pekerjaan, pendapatan, penyandang dana, asal wilayah (jarak) dan waktu perjalanan serta need yaitu persepsi sakit. Secara statistik terbukti tidak ada hubungan antara kunjungan berulang rawat jalan dengan umur, jenis kelamin, pendidikan, jumlah anak ditanggung, faktor internal dan persepsi terhadap mutu pelayanan, waktu menunggu serta kemungkinan untuk datang lagi setelah melihat dan merasakan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit.
Karakteristik pasien rawat jalan pada penelitian ini terbanyak berumur antara 15-55 tahun, jenis kelamin perempuan dengan status kawin, pendidikan lanjutan atau SMA keatas, pekerjaan pegawai negeri serta rata-rata jumlah anak ditanggung dua anak.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kunjungan berulang rawat jalan di RSUD Gunung Jati sangat dipengaruhi oleh kemampuan membayar atau sosioekonomi yang ditunjukan dengan variabel status perkawinan, pekerjaan, pendapatan, penyandang dana, jarak dan waktu perjalanan. persepsi sakit merupakan kebutuhan yang mendorong responden untuk berkunjung ke rumah sakit. Faktor internal terbukti secara statistik tidak berhubungan dengan kunjungan berulang rawat jalan di RSUD Gunung Jati. Hal ini disebabkan karena pelayanan yang diberikan sama untuk setiap pengunjung dan telah sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Dalam upaya. meningkatkan kunjungan rawat jalan disarankan untuk meningkatkan kemitraan dengan pihak ketiga, penetapan tarif baru yang kompetitif dan penelitian lebih lanjut untuk waktu menunggu.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2003
T13015
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Emmy Harniyati
"ABSTRAK
Pesatnya perkembangan perumahsalatan akibat bergesernya nilai dan norma yang ada di masyarakat menuntut pelayanan yang bermutu dari rumah sakit. Rumah sakit diharapkan mampu menjawab semua tantangan yang ada sesuai keinginan dan tuntutan dari masyarakat sendiri dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayanan kesehatan.Unit rawat jalan merupakan basis terdepan dan sebagai ujung tombak pelayanan sehingga merupakan "image" pertama yang dinilai oleh pengguna jasa rumah sakit. Oleh karenanya dalam rangka upaya meningkatkan mutu pelayanan pihak manejerial rumah sakit memerlukan suatu pendekatan yang berorientasi kepada pihak pengguna jasa melalui persepsi mereka.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran karakteristik pengguna jasa dan memperoleh gambaran persepsi mereka melalui pengukuran skala kepuasan serta akan mencari faktor-faktor mana yang berhubungan dengan kepuasan ataupun ketidak puasan mereka.
Tehnik analisa yang dipakai selain secara deskriptif untuk memperoleh gambaran karakteristik pengguna jasa juga digunakan analisa Bivariat dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan kepuasan pengguna jasa dengan faktor-faktor yang melatar belakanginya.
Hasil penelitian diperoleh gambaran karakteristik pengguna jasa dan dari analisa hubungan menunjukkan hampir semua faktor yang diduga mempengaruhi persepsi pengguna jasa terbukti mempunyai hubungan kecuali faktor persepsi Biaya. Selain itu diperoleh gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak puasan mereka yang mempunyai jumlah yang terbesar pada faktor Perilaku disusul faktor Waktu dan Lingkungan. Apabila dijabarkan adalah sebagai berikut:
Untuk faktor Perilaku terutama terhadap Perilaku Perawat, faktor Waktu terutama adalah lamanya menuuggu Obat di Apotik dan menugggu pemeriksaan sedangkan untuk faktor Lingkungan terutama adalah masalah kebersihan Toilet.
Untuk itu beberapa Saran yang dapat disumbangkan untuk kepentingan RSAB Harapan Kita adalah perlunya pembinaan terhadap petugas yang berfungsi sebagai " The major Caring Profession "dalam melayani penggtma jasa melalui Komite Medik dan melibatkan mereka dalam kegiatan fungsi marketing rumah sakit. Disamping itu disarankan pula beberapa saran lain yang menyangkut usaha perbaikazi,tindakan korektif dan tindakan inovatif.

ABSTRACT
Perceptions of Users on The Appearance of Outpatients Unit of "Harapan Kita" Maternity and Children's Hospital in 1995The fast growth of hospital business as the result in the shift of values and norms within the community demands quality service from the hospital. A hospital is expected to be able to meet all existing challenges in accordance with the wishes and demands of the community itself in carrying out its function as a health service. The outpatients unit constitutes the fore-most base and the spearhead of service so that it constitutes the first "image" that will be evaluated by hospital service users. Therefore, in the effort to improve the quality of service, the hospital management needs to have an approach which is oriented to service users through their perceptions.
The purpose of this research is to find out the characteristics of users and to have their perceptions by measuring their scales of satisfaction and to find out which factors are connected with the satisfaction or none satisfaction of the users.
The techniques of analysis used besides the descriptive one in order to get the characteristics of the users, also the Bivariat analysis with the Chi Square test to see the connection between the users satisfaction and the background factors.
The results of the study indicate that from the characteristics of service users and the analysis of connection, we can see that almost all factors suspected to influence th"users4 perceptions do have a connection except for the perception on costs. Besides this, The factors which cause dissatisfaction on their part the largest in number are Behaviour followed by Time and Environment. Broken down they are like this: For the Behavioural factor particularly of the Nurses, for the time factor, the length of time one has to wait to get medicine at the Dispensary and waiting to be examined, for the Environment factor, the foremost the cleanliness of the Toilets.
For this reason, we recommend in the interest of "Harapan Kita" Maternity and Children Hospital (RSAB) to develop the personnel whose function is that of "Major Caring Profession" in serving the users through a Medical Committee and involving them in the marketing function of the hospital.
Besides this, it is also recommended actions regarding improvements, corrective actions and innovative actions.
"
Depok: Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhayati
"ABSTRACT
Globalization and liberalization in business as well government's new policy causes an open opportunity to domestic and foreign investors to build hospitals, especially in Bekasi. Of course, there is a new competitive area faces to hospital management of Mekar Sari Hospital. It constantly empower Mekar Sari Hospital tobe more attractive in marketing efforts of keeping number of patients in general, outpatients in particular. To do so, Mekar Sari Hospital must obtain actual information taken from exiting data.
Its present data has never been processed to another purpose, but for report to the director, the foundation management and Health Department office. The thesis here is written intentionally to show data possessed by Mekar Sari Hopital.
Data acquired was from computer/medical records. Such a data display outpatient characteristic, the most frequent disease both at the hospital and public of Bekasi area and business phenomenon outside Mekar Sari Hospital. All of them greatly affect the hospital performance.
Knowing strength and weakness inside, opportunity and threat outside as well as the reasons of patients number declination, the hospital expects to perceive type of strategy to operate.
Research of this thesis is descriptive and qualitative in character using outpatient secondary data of Mekar Sari Hospital in 1994, 1995 to Juni 1996. The data was grouped into responsible parties to pay, arrival procedures of patients, new and old patietns, age of patients in year, check-up patients number, sex, patients number treated in every policlinic and residence of patient base on district.
The data exhibits a decrement in number, especially in 1996 arround 12-14%. Beside, we know that the patients paying medical fee their own budget were greater than by company cost including insurance. Patients arriving by their own expectation were greater than refered patients. New patients were almost equal by their own expectation were greater than refered oatients. New patients were almost equal to the old ones. Check up patients were very low in number. Patients of 14-45 year old were the greatest ones. Male patients almost equal the female ones. Patients coming from specialist policlinics were still low. Patient from Bekasi Timur District were the largest patients due to the district is the location of Mekar Sari Hospital. The data give also a figure that infection was the most frequent disease treated there.
According to the data we conclude that strategy of increasing number of patient including outpatient is the important thing to operate soon, for example by promoting hospital service to the public and other medical institutions. This policy demands marketing department recruit special and qualified personnel, create excellent medical service and survey public needs/expectations.
Having the present strength, capability of resolving hospital weakness, use of opportunity and escape from threat Mekar Sari Hospital may increase its number of patients.

ABSTRAK
Adanya era globalisasi dan liberalisasi serta kebijakan baru pemerintah yang memberikan peluang bagi pemodal asing dan dalam negeri untuk mendirikan rumah sakit, sehingga rumah sakit baru pun bermunculan di mana-mana termasuk di wilayah Bekasi. Tentunya hal ini akan mempunyai dampak ke RS Mekar Sari karena pesaing akan bertambah banyak dan akhirnya cepat atau lambat akan mempengaruhi jumlah pasien di RS Mekar Sari termasuk pasien rawat jalan. Untuk mengetahui hal tersebut, tentunya pihak rumah sakit harus mendapatkan informasi apa sebenarnya yang terjadi, yang tentunya akan didapat dari data yang ada. Berhubung data yang ada di rumah sakit selama ini belum pernah diolah kecuali untuk laporan ke direktur, yayasan dan Departemen kesehatan, maka di dalam tesis ini akan diolah data yang ada di rumah sakit. Data diambil dari komputer / catatan Medik, untuk melihat bagaimana kecenderungan karakteristik pasien rawat jalan, penyakit apa yang terbanyak di rumah sakit maupun di masyarakat umum wilayah Bekasi, keadaan atau situasi apa yang terjadi di luar RS Mekar sari. Semuanya ini akan mempengaruhi kinerja rumah sakit.
Dengan diketahuinya kekuatan dan kelemahan rumah sakit, diharapkan akan diketahui strategi apa yang akan dijalankan oleh pihak rumah sakit jika jumlah pasien menurun.
Dengan keunggulan yang ada, mengatasi kelemahan-kelemahan, memanfaatkan peluang dan mengantisipasi ancaman, diharapkan pasien RS Mekar Sari akan meningkat.
Penelitian ini bersifat analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dimana data sekunder yang diambil yaitu data pasien rawat jalan RS Mekar Sari tahun 1994, 1995 s/d Juni 1996. Data dikumpulkan dan dikelompokkan berdasarkan pihak yang membayar, cara datang pasien ke rumah sakit, pasien lama dan baru, umur pasien dalam tahun, jumlah pasien check up, jenis kelamin, jumlah pasien di masing-masing poliklinik dan alamat pasien berdasarkan kecamatan.
Dari hasil yang didapat jumlah pasien rawat jalan cenderung menurun terutama mulai tahun 1994 sampai dengan Juni 1996, sekitar 12-14%. Selain itu didapatkan jumlah pasien umum yang bayar sendiri lebih banyak daripada pasien perusahaan termasuk asuransi, pasien yang datang sendiri lebih banyak jumlahnya daripada pasien rujukan, pasien lama tidak jauh berbeda dengan pasien baru, pasien check up jumlahnya rendah sekali, pasien dengan golongan umur 15-45 tahun merupakan pasien yang terbanyak, jumlah pasien laki-laki hampir sama dengan pasien perempuan, pasien dari poliklinik spesialis masih sangat kurang, pasien dari kecamatan Bekasi Timur merupakan pasien yang terbanyak jumlahnya sedangkan kecamatan ini adalah daerah tempat rumah sakit berada. Dari data juga terlihat bahwa penyakit infeksi masih merupakan penyakit yang tertinggi jumlahnya.
Dari hal-hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa strategi untuk meningkatkan jumlah pasien termasuk pasien rawat jalan sudah merupakan hal yang perlu dipikirkan, misalnya dengan cara promosi balk ke masyarakat maupun ke tempat pelayanan kesehatan lainnya. Hal ini perlu ditunjang dengan dibentuknya bagian pemasaran dengan tenaga yang khusus dan handal, dapat juga dengan membuat pelayanan kesehatan unggulan, atau mengadakan survei untuk mengetahui kebutuhan/keinginan masyarakat.
Daftar Pustaka 24 ( 1983 - 1996 )
"
Depok: Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Edwin Rusli
"Kebutuhan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia, paling tidak dipengaruhi oleh 3 (tiga) perubahan besar, yang merupakan tantangan dan peluang. Perubahan itu adalah sumber daya yang terbatas, adanya kebijakan desentralisasi (decentralization policy) dan berkembangnya kesadaran akan pentingnya mutu (quality awareness) dalam pelayanan kesehatan. (Depkes RI, 2003). Lima penentu kualitas jasa yang dapat dijadikan dasar menilai tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan yang diterimanya meliputi: tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. (Parasuraman, Zeithaml dan Berry (dalam Jauhari, 2004)
Puskesmas Bukit Kemuning Kecamatan Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara, adalah Puskesmas dengan pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Dan laporan tahunan Puskesmas Bukit Kemuning sejak ditetapkannya sebagai Puskesmas unit swadana didapatkan kunjungan rawat jalan khusus pasien umum mulai tahun 2002 mengalami penurunan. Untuk melihat efisiensi dan efektifitas pelayanan Puskesmas Bukit Kemuning, maka perlu dilakukan analisis hubungan antara tingkat kepuasan dengan keinginan pasien kembali memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Bukit Kemuning.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan kuantitat'l, menggunakan rancangan cross sectional, dilaksanakan pada bulan 7uni-]uli 2006. Tujuan penelitian ini melihat gambaran hubungan antara kepuasan pasien pada 5 (lima) dimensi mutu pelayanan dan karakteristik pasien dengan keinginan pasien untuk kembali memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Bukit Kemuning. Responden berjumlah 127 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, lalu dilakukan pengolahan dan analisis univariat, bivariat, multivariate dan important and performance analysis.
Hasil penelitian menunjukkan, dari lima dimensi mutu layanan, sebagian besar pasien tidak puas pada dimensi tangible, assurance dan emphaty, pada dimensi reliability dan responsibility proporsi pasien yang puas lebih besar dari pada yang tidak puas. Hal ini tidak berbanding lurus dengan besarnya proporsi pasien yang ingin kembali memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Bukit Kemuning (68,5%). Kepuasan pada dimensi tangible, reliability, Responsiveness dan Assurance merupakan variabel yang dominan mempengaruhi keinginan pasien kembali memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Bukit Kemuning. Secara statistik terdapat hubungan antara cara bayar, Tangible, Reliability, Responsiveness dan Assurance dengan keinginan responden kembali memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Bukit Kemuning. Pada important and performance analysis diperoleh kesenjangan terbesar antara tingkat harapan dengan pengalaman responden pada aspek Assurance. Aspek-aspek yang seharusnya menjadi prioritas untuk meningkatkan mutu layanan di Puskesmas Bukit Kemuning adalah Kelengkapan, kesiapan, kebersihan alat-¬alat yang dipakai (non media), Prosedur pelayanan yang tidak berbelit-belit, kecepatan petugas pendaftaran dalam memberikan pelayanan, Keramahan dan kesopanan dokter/perawat/bidan dalam memberikan pelayanan, Jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan terhadap pelayanan, Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memandang status sosial dan lain-lain, Dokter/perawat/bidan memberikan dukungan dengan sabar pada saat memberikan pelayanan kesehatan.
Beberapa hal yang penting yang perlu dilakukan oleh pimpinan Puskesmas Bukit Kemuning untuk meningkatkan mutu layanan adalah: lebih meningkatkan kinerja petugas pemberi pelayanan di unit rawat jalan, mengevaluasi kembali prosedur pelayanan yang selama ini dipakai agar pasien merasa tidak berbelit-belit dalam menerima pelayanan, agar pelayanan kepada pelanggan dapat memenuhi harapan sebaiknya program jaga mutu pada internal Puskesmas ditingkatkan, agar pengguna jasa pelayanan Puskesmas merasa nyaman dalam menerima tindakan yang diberikan sebaiknya pelayanan diberikan sesuai dengan standar operasional.

Nowadays, the need on improving and increasing the quality of health services in Indonesia is urgently needed. At least, it is influence by three main changes, which can work as threaten and opportunity. These changes are namely: a limited on resources, the decentralization policy, and the development of the important of the quality awareness on health services (Depkes RI, 2003). There are five dimensions of quality services that can determine the level of client's satisfaction on the service that they have received, which are: tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy (Pasuraman, Zeithaml and Berry, cited by Jauhari, 2004)
Puskesmas Bukit Kemuning of Sub-district of Bukit Kemuning at the District of Lampung Utara, is a Puskesmas with services both for outpatient and inpatient. Refer to the Annual Report of Puskesmas Bukit Kemuning, since the Puskesmas has stated as a Self-funded Puskesmas Unit, it is found that begin in 2002 there are a declining on the number of general patient especially on outpatient services. Therefore, to look at how the efficiency and the efficacy on the services of Puskesmas Bukit Kemuning, it is needed to carry out the correlation analysis on the level of satisfaction and patient's willingness to return and re-utilizing the outpatient services at Bukit Kemuning Puskesmas.
The study is an observational study with a qualitative approach, and carried out with a cross-sectional design from June to July 2006. The aim of the study is to look at the picture of correlation between patient's satisfactions on five dimensions of quality services and patient's characteristics, with patient's willingness to return and re-utilizing the outpatient services at Bukit Kemuning Puskesmas. There are 127 respondents, the data collected by interviewing, and analyzed by a univariate, bivariate, multivariate, and also an important and performance analysis.
The study found that from five dimensions of quality services, mostly patients are not satisfied on the aspect of tangible, assurance, and empathy. But, on the dimension of reliability and resp,; nsiven ii__ proportion of sctis icd patients is higher than iiiose who are not satisfied. The situation is not linearly related with the proportion of patients who are willing to return and re-utilize the outpatient services (68.5%). Satisfaction on the aspects of tangible, reliability, responsiveness, and. Assurance are variables that dominantly influence the willingness of the patient to return and re-utilize the outpatient services. Statistically, there are significant correlations between mode of payment, tangible, reliability, responsiveness and assurance, with the willingness of the patient to return and re-utilize the outpatient services. Refer to the important and performance analysis, the widest disparity is found between level of expectation and respondent's experience on the aspect of assurance. Some aspects that should be prioritized in order to increase the quality of services at Puskesmas Bukit Kemuning are namely: completeness, readiness, sanitation on non-medical utensils, simple procedures on services (mean that the procedures is not too complicated and takes time), promptness of registration personnel in giving services, hospitality and politeness of the doctors/midwives/nurses while delivering services, assurance on services safeness and reliability towards services, suppose the services are delivered to all patients regardless their social status or else, suppose the doctors/nurses/ midwives are giving full support and full of serene at the time they are on duty to deliver health services.
Suggestion on things that should be considered by the head of Puskesmas Bukit Kemuning, are: to increase the performance of any personnel that giving services at the unit of outpatient, to evaluate the procedures of services at the outpatient unit as its too complicated, in order to fulfill the expectation of the clients, it is needed to increase the quality assurance program for the internal affair of the Puskesmas, and in order to reach the Puskesmas client's comfort while receiving treatment of services, its suppose that services are given in the base of operational standard."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T 19069
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sekar Ayu Muthi Manahan
"Proses pelayanan pasien rawat jalan di poliklinik spesialis RS Hermina Daan Mogot masih belum optimal, ditunjukan dengan beberapa penyelenggaraan yang belum sesuai dengan peraturan, serta waktu tunggu pasien poli spesialis belum sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan hasil analisis proses pelayanan pasien rawat jalan di poliklinik spesialis dengan metode lean six sigma. Jenis penelitian ini adalah operational research, dengan desain penelitian kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian digambarkan dengan value stream mapping yang memperlihatkan lead time proses pelayanan pasien rawat jalan sebesar 149,66 menit dengan value added 17,87 menit (11,94%) dan non value added 141,54 menit (88,06%). Proses paling lama (bottleneck) yaitu kegiatan menunggu dipanggil masuk ke ruang poli. Waste paling besar yaitu waste waiting sebesar 91,84 menit atau 69,69% dari total waste yang ditemukan. Berdasarkan analisis fishbone diagram diketahui bahwa akar penyebab masalah yang paling banyak berasal dari kategori man. Berdasarkan analisis tersebut diberikan usulan berupa pembuatan standarisasi kerja, perhitungan pola ketenagaan, memaksimalkan ketepatan datang dokter, dan pemberian reward.

The process of outpatient service at specialist polyclinic RS Hermina Daan Mogot is not optimal enough, indicated by the process is not in accordance with existing regulations, and the waiting time of specialist polyclinic patients is not in accordance with the prescribed standards. The aim of this research is to get an analysis result of outpatient service at specialist polyclinics with lean six sigma method. This type of research is operational research, with quantitative and qualitative research design. The results of this research are described with the value stream mapping that showed lead time of outpatient service process for 149,66 minutes, with value added 17,87 minutes (11,94%) and non value added 141,54 minutes (88,06%). The longest process occurs on waiting to be called into the polyclinic room. The biggest waste is waiting for amount 91,84 minutes or 69,69% of the total waste. Based on fishbone diagram analysis, it is known that the root causes of the problem are mostly from the man category. Based on the analysis, an improvement proposal will be given in the form of work standardization, calculation of workforce patterns, maximize the accuracy of coming doctors and giving rewards."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Puspitorini
"Rawat jalan adalah pintu gerbang rumah sakit yang merupakan cermin rumah sakit secara keseluruhan dan mempunyai arti strategis. Rawat jalan menjadi faktor penentu daya saing rumah sakit dan berfungsi sebagai profit center serta menampakkan citra rumah sakit. Permintaan rawat jalan pada sebuah rumah sakit dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan, baik faktor dari pengguna maupun dari faktor penyedia jasa pelayanan yang merupakan satu kesatuan dalam menghasilkan suatu produk pelayanan di rumah sakit. Produk pelayanan suatu rumah sakit sangat erat kaitannya dengan orang orang yang menghasilkan produk layanan seperti : dokter, perawat serta tenaga administrasi. Oleh karena itu, kinerja yang baik dari pemberi pelayanan kesehatan akan meningkatkan kepuasan bagi penguna layanan kesehatan. Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto memiliki pelayanan khusus untuk masyarakat umum bernama Paviliun Kartika. Pada evaluasi di tahun 2011 ditemukan pemanfaatan / utilisasi poliklinik sore Paviliun Kartika tidak maksimal. Perlu diketahui faktor internal dari sisi dokter, dari sisi manajemen Paviliun Kartika serta dari sisi kebijakan RSPAD, yang berhubungan dengan utilisasi poliklinik sore Paviliun Kartika. Motivasi dalam diri seseorang berupa daya dorong untuk berbuat sesuatu dan tujuan yang ingin dicapai dengan berbuat sesuatu tersebut. Motivasi juga dipengaruhi perasaan aman dalam bekerja, gaji yang sesuai, lingkungan kerja yang menyenangkan, kepemimpinan dan penghargaan. Oleh karena itu sebagai salah satu sumber penghasilan terbesar rumah sakit, unit rawat jalan harus dikelola dengan profesional, kinerja dan motivasi ditingkatkan sehingga dapat memberikan kontribusi yang maksimal dan mampu memberikan kepuasan bagi pengguna layanan kesehatan.

Outpatient hospital is the gate which is the overall hospital mirrors and has a strategic significance. Outpatient be the determining factor of competitiveness and the hospital serves as a profit center as well as revealing the image of the hospital. Demand outpatient at a hospital affected by internal and external factors. Many factors that influence the utilization of health care facilities, both factors of users and service providers of the factors which are an integral part in producing a product of service in hospitals. Products service of a hospital is closely associated with the people who produce services such as doctors, nurses and administrative staff. Therefore, the good performance of the health service will increase user satisfaction for health care services. Gatot Soebroto Central Army Hospital have specialized services to the general public named Pavilion of Kartika. In the evaluation in 2011 found the use / utilization clinic Pavilion of Kartika in the afternoon was not optimal. Keep in mind the internal factors of the physician, of the management of the Pavilion of Kartika and RSPAD policy, relating to utilization clinic of Pavilion Kartika in the afternoon. Motivation in the form of a thrust oneself to do something and the objectives to be achieved by doing these things. Motivation is also influenced by a sense of security in the work, an appropriate salary, pleasant working environment, leadership and respect. Therefore, as one of the biggest sources of income hospitals, outpatient unit should be managed by a professional, improved performance and motivation so as to give maximum contribution and able to provide satisfaction for users of health services.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>