Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nia Tri Wijayanti
"Pada industri konstruksi, permasalahan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang penting. Jenis, sifat, kondisi dan lokasi pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi yang sering cenderung berbahaya mengakibatkan tingkat kecelakaan kerja yang terjadi pada pekerjanya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan industri lainnya. Di Amerika, 85% kecelakaan kerja yang terjadi diakibatkan kerena kecerobohan manusia, (unsafe acts) dan 15% karena kondisi lingkungan kerja yang tidak aman (unsafe cinditions) (Clough and Sears, 1994). Kejadian kecelakaan kerja, tidak hanya akibat dari satu penyebab melainkan akibat kombinasi berbagai faktor. Karena dengan terjadinya kecelakaan kerja akan berakibat menurunnya produktivitas tenaga kerja yang dampaknya negatif bagi perusahaan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu penanganan terhadap risiko kecelakaan, salah satunya adalah dengan menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kecelakaan yang terjadi di proyek konstruksi serta factor penyebabnya dan penerapan safety management pada perusahaan kontruksi dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan AHP dan pendekatan risiko.
Berdasarkan analisa yang telah dilaksanakan, maka dapat diketahui bahwa risiko kecelakaan kerja yang terjadi pada proyek konstruksi adalah kejatuhan/tertimpa benda dari ketinggian dan faktor risiko penyebab terjadinya kecelakaan kerja yang dominan disebabkan oleh faktor manusia, yaitu karena kurang disiplinnya tenaga kerja dalam mematuhi ketentuan mengenai k3, salah satunya perihal penggunaan APD. Penerapan safety management yang paling berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja adalah pada saat pelaksanaan dan pengawasan K3. Dengan melakukan penerapan Manajemen K3 secara konsisten akan membuat suatu industri konstruksi akan semakin produktif dan mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat.

In contruction industry, safety problems are very important things. Characteristic, condition and location of activity in contruction project with inclined danger have potensial to accident happens more occur than another industry. At America, 85% accident accur becuse unsafe acts and 15% because of unsafe cinditions (Clough and Sears, 1994). The accident occur, not only because one risk safety factor but because the combination some risk safety factor. If the accident happen it can be decreace of labour productivity and have the negative impact for the contruction company.
That?s why we need some kind of solution about this accident risk, one of those is health & safety managemen system in working environment. This thesis is made to know different kind of accident that happen in construction project and its root cause and also for applying safety managemen in construction industry in order to improve productivity. Here we use AHP and risk approach as research methodes.
According to the research, then we can know that most accident risk that could happen in construction project is fall things down from height and the most cause is human error, which is undicipliner in health and safety management, and one of them is in using of APD. Safety management can be very usefull for job productivity. Doing the health and safety management consistently will improve productivity in construction industry."
2008
R.01.08.67 Wij p
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mas Waris
"Pengidentifikasian bahaya secaira kualitatif merupakan salah satu tahapan dalam meiakukan analisa keselamatan pada sebuah industri proses kimia. Hazop merupakan metode sisternatik terbaik -Lmtuk melakukan identifikasi potensi bahaya dan penyimpangan open-msi dalam suatu sistem serta menentukan cara (relcornendasi tindakan) agar kemungkinan terjadinya kejadian tersebut dapat dicegah atau dilcurangi.
Dalam penelitian ini, penulis berusaha untuk mengiclentitikasi potensi bahaya dan penyimpangan Operasi dari satu instalasi Warm Separator di PT.XYZ. Metode yang digunakan adalah optl-Iazop dengan bersumber dari PFD, P&fD, Serta infoimasi para narasumber yang terdiri dari omng-orang yang berlcompeten (SGf8ly engineer, projec! design engineer, process engineer, production engineer, corrosion engineer).
Hasil penelitian ini berupa identifikasi bahaya dan penyimpangan operasi beserta tindakan korektif yang mesti diiakukan untuk meningkatkan kineija dan keselamatan pada instalasi Warm Separator tersebut Temuan tersebut dikelompokkan 5 kategori, yaitu tindakan wajib untuk keselamatan sebanyak 8 item, kategori tindakan yang dianjurkan sebanyak ll item, kategori tindakan untuk mengkaji ulang proses sebanyak I8 item, kategori kesalahan gambar atau dokumen sebzmyak I item serta kategori temuan yang tidak memerlukan tindak Ianjut sebanyak 4 item.

Qualitative hazard identyication is a part of steps in safety analysis at a chemical process industries. HAZOP is the best systematic tool to carry out hazard identification and operabiiity deviations within the system, together with specijj/ing the means by which either the probability of their occurrence can be prevented or reduced.
In this research, writer identify potential hazards and operability deviations in a P71 XI/Z’s Warm Separator. The method used is opt HAZOP, by using information _#om PFD, P&lDs, and the experts information base by the competent people in that plant (ie a safety engineer, project design engineer, process engineer. production engineer, corrosion engineer).
The result of this research are hazards identification and operability deviations together with recommended action for increased performance and safety in the instalation system (warm separator). The findings is clasw in five classes, that is compulsory action for safety are 8 items, recommend class that supposed are ll items, review or resubmitled class are I8 items, class for document or drawing error is l item, and class that is no comment or hllow up are 4 items.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
S50141
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusuf Zalaya
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pemenuhan
terhadap implementasi prosedur tentang bekerja di ketinggian PT. Balfour
Beatty Sakti Indonesia (WTC2 Project) tahun 2012. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan desain penelitian
potong lintang atau cross sectional yang dilakukan untuk mengetahui
tingkat implementasi prosedur bekerja di ketinggian dan mengidentifikasi
prosedur yang tidak terimplementasi bagi pekerja di ketinggian. Penelitian
menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 106 orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner, wawancara
terstruktur dengan informan, lembar observasi dan menggunakan telaah
dokumen yang ada. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan SPSS
untuk kuantitatif dengan menormalisasikan dengan rumus De Boer dan
mstriks, table untuk data kualitatif serta dipresentasikan dengan traffic light
system.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prosedur
bekerja di ketinggian dalam variable tanggung jawab 60% dan variable
prosedur kerja 47% sehingga tingkat implementasi prosedur bekerja di
ketinggian sebesar 53,5% dalam kategori Merah dan data kecelakaan tahun
2012 dalam kategori Kuning. Tingkat implementasi prosedur bekerja di
ketinggian di tabel tingkat implementasi dan tingkat kecelakaan termasuk
dalam level 5 ( berbahaya ).
Dapat disimpulkan bahwa prosedur bekerja di ketinggian tidak
terimplementasi dengan baik yaitu level 5 (berbahaya) di PT.BBS
Indonesia. PT. BBS Indonesia perlu mengevaluasi dan meningkatkan
pengawasan terhadap program yang prosedur bekerja di ketinggian. Melalui
kegiatan evaluasi terhadap kepala departemen, melakukan perencanaan,
pendataan dan pelaporan pelatihan untuk manajemen, pengawas dan
pekerja, perencanaan dan pelaporan inspeksi peralatan dan area kerja.

ABSTRACT
This study aims to evaluate the level of compliance with the
implementation of working at heights procedures for PT. Balfour Beatty
Sakti Indonesia (WTC2 Project) in 2012. This study uses quantitative and
qualitative approaches to the design of a cross-sectional studies conducted to
determine the level of implementation of working at heights procedures and
identify procedures that are not implemented for workers at height. The
research uses total sampling with a sample of as many as 106 people. The
data was collected by questionnaires, structured interviews with informants,
observation sheets and use the existing document review. Processing the
data in this study using SPSS for quantitative formula with normalizing with
De Boer and matriks, table for qualitative data and was presented with a
traffic light system.
From the study results showed that the implementation of work at
height procedures 60% in a variable responsibility and 47% in variable
working procedures. So that the level implementation of working at height
procedures is 53.5% in the red category and Accident data in 2012 is in the
Yellow category. Level of implementation of working at procedures in the
level implementation working at height procedures table and the accident
rate is in level 5 (dangerous).
Can be concluded that the works at a height procedure in PT.BBS
Indonesia is not properly implemented because in level 5 (dangerous). PT.
BBS Indonesia needs to evaluate and improve the monitoring program and
standard of working at height according procedures. Through the evaluation
of department heads, planning, data collection and reporting of training to
management, supervisors and workers, planning and reporting of inspection
equipment and work area."
2012
T30751
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ekrem Tarik Supardi
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
S26446
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Syamsurizal
"Tujuan inti keselamatan dan kesehatan kenja (K3) adalah mencegah terjadinya kecelakaan termasuk penyakit akibat kerja, Sejak diberlakukannya Undang undang No. I tahun 1970 tentang keselamatan kerja, masih banyak kalangan industri yang belum menjiwai penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. Contoh kasus pada perusahaan perkebunan kelapa sawit milik PT. X yang berlokasi di Sumatera Barat dimana kasus terjadinya kecelakaan kerja cukup tinggi seperti tercatat pada tahun 2007 terjadinya 241 kasus kecelakaan kexja. Dengan latar belakang ini penulis ingin melihat bagaimana gambaran persepsi risiko di PT. X adakah peran lama bekerja dan pelatihan terhadap persepsi risiko di perusahaan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi terhadap pekerjaan dan prosedur kerja cukup baik di kalangan pekerja, sedang persepsi terhadap APD cenderung buruk. Hal ini cukup beralasan karena angka terjadinya kecelakaan kerja yang tinggi dan mereka merasa telah bekerja sesuai dengan prosedur kerja. Mereka menggangap bahwa APD kurang mampu melindungi mereka dari terjadinya kecelakaan kerja bahwa APD dapat mengganggu proses kexja yang mereka jalankan karena adanya rasa tidak nyaman. Dari hasil uji statistic ternyata. hanya lama kerja yang berhubungan signifikan terhadap persepsi pekerjaan (p-value= 0.001) dan persepsi terhadap prosedur kerja (p-va1ue= 0.036), sedangkan terhadap persepsi pemakaian APD tidak signifikan berhubungan )p-value= 0.746). untuk pelatihan tidak ada yang berhubungan signifikan terhadap persepsi risiko kecelakaan responden.

Main target of work health and safety (K3) is preventing accident including the disease of work effect. Since the existence of law No. I, 1970 conceming job health, many industries did not get implementation of work health and safety yet. For example, case of palm oil plantation at PT. X which located in West Sumatera where case of work accident was higher; there were 241 cases of work accident in 2007. Because of this background, the writer wants to find the description of risk perception at PT. X ls there role of work and training period affected to risk perception in the company. Research result indicated that perception of work risk and work procedures were good enough among the workers, but perception of APD was bad. This thing is enough for the reason of highest level of accident and they feel worked based on procedure. They assumed that APD can’t avoid them from the accident of working even APD can disturb their work process because of feeling not comfort. From statistical test result indicated only work period which had relation of risk perception signiicantly (p-value 0.00l) and perception of work procedure (p-value* 0.036), while perception of APD usage did not have effect significantly (p-value=0.746). Training didn't have effect of risk perception.
"
Depot: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2008
T33867
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Bagyo Cahyono
"Behavior Based Safety (BBS) adalah salah satu proaktif proses/program yang digunakan secara luas di industri untuk upaya peningkatkan keselamatan kerja dan lingkungan melalui peningkatan perilaku aman dan mengurangi perilaku berisiko pada tempat kerja. Program ini dimulai dengan pembentukan tim pelaksana, pembuatan lembar observasi, dan pelatihan observasi bagi pekerja sebagai aspek input. Kemudian untuk aspek proses meliputi jalannya kegiatan observasi, keaktifan tim pelaksana, hasil observasi dan bimbingan (coaching). Aspek output yakni kepatuhan dalam observasi, tingkat partisipasi, persentase (%) perilaku aman, Total Recordable Incident (TRI) rate, dan review berkelanjutan (sustainability review).
Tesis ini bertujuan untuk mendapatkan hasil evaluasi atas implementasi Behavior Based Safety (BBS) program dilihat dari aspek input ? proses ? output pada pekerja PT.Chevron Indonesia Company Kalimantan Timur tahun 2014.
Dari hasil penelitian didapatkan, Aspek input berjalan baik sesuai dengan panduan, bahkan pemahaman akan pelatihan mendapatkan hasil sangat baik. Aspek proses, terdapat 30% anggota tim pengarah yang pasif, 10% hasil observasi tidak memenuhi kriteria observasi yang berkualitas, ada peningkatan jumlah bimbingan 66%. Aspek output; partisipasi yang hampir 100% karena observasi diwajibkan oleh manajemen, peningkatan perilaku aman 0.3% - 0.4% dari tahun sebelumnya, TRI rate menunjukan trending penurunan overall 40% sejak penerapan program di Kalimantan dan hasil review berkelanjutan yang mendapat hasil kenaikan kelulusan untuk kriteria tim pelaksana, lembar observasi, training, komunikasi, serta analisa data sedangkan yang tidak lulus adalah kriteria dukungan manajemen, tindak lanjut komentar yang membutuhkan tindak lanjut dan penghargaan kepada observer dan tim pelaksana.
Program BBS yang sudah dijalankan lebih 6 tahun ini menunjukan tanda-tanda penuaan atau membosankan diperlukan dukungan manajemen untuk memperkuat peran BBS dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

Behavior Based Safety (BBS) is one of proactive process/program that is used widely in industry as efforts to increase workplace safety and the environment through the increasing of safe behavior and reducing risk behaviors in the workplace. The program started with the establishment of implementation team, develop observation sheets, and observation training for workers as input aspect. Then aspects of the process included activities of observation, effectiveness of the implementation team, result of observation and coaching. The output aspect are compliance to submit observation, the participation rate, the percentage (%) safe behavior, Total Recordable Incident (TRI) rate and sustainability review.
Aims of this thesis is to obtain an evaluation of the implementation of Behavior Based Safety (BBS) program reviewed from the aspect input - process - output on workers PT.Chevron East Kalimantan Indonesia Company in 2014.
Results of this research, in all aspect input items were well done accordance with the reference, understanding the training get very good. Aspects of the process, there was 30% passive steering team members, 10% of the observations not meet the criteria of quality observation, increasing of 66% coaching activities. Aspects output; the participation of nearly 100% since observations is mandatory, increasing in safe behavior 0.3% - 0.4% from the previous year, the TRI rate shows decline trending of 40% overall since the implementation of the program in Kalimantan and the results of sustainability review that gets the results of the increase in pass to the criteria of the implementation team, observation sheets, training, communication, and data analysis while not pass criteria are management support, follow-up comments that require follow-up steering team and regocnize appreciation to the observer and the implementation team.
BBS programs that have been run over 6 years is showing signs of aging or boring which is management support needed to strengthen the role of BBS in achieving the desired objectives.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2015
T44163
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Colling, David A., 1935-
Englewood Cliff: Prentice-Hall, 1990
658.382 COL i
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Anak Agung Gede Rai
"ABSTRAK
Keselamatan di apron Bandar udara menjadi semakin penting, disebabkan oleh semakin meningkatnya volume aktifitas penerbangan. Manajemen keselamatan di apron Bandar udara menjadi lebih kompleks karena melibatkan berbagai perusahaan, banyak kendaraan, manusia dan aktifitas lainnya. Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) yang diperkenalkan oleh ICAO sejak 2006, sampai saat ini
penerapannya belum terwujud dan tidak terintegrasi di apron. Penelitian ini bertujuan untuk membangun SMK yang terintegrasi di apron Bandar udara sehingga keselamatan penerbangan dapat ditingkatkan.
Tahapan metode penelitian ini adalah studi literatur, identifikasi awal, investigasi mendalam, analisis, dan kesimpulan dan saran.
Hasil dari penelitian ini adalah rekomendasi teknis terhadap penerapan SMK pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di apron Bandar udara, rekomendasi organisasi keselamatan, dan pemodelan SMK yang terintegrasi di apron Bandar udara.

ABSTRACT
Safety on apron of an airport has been increasingly important, because of the increase of aviation activity. Safety management on apron of an airport is more complex because of its involving many companies, people, vehicles and other activities. Safety Management System (SMS) was introduced by ICAO in 2006, but until today the implementation is not completed and not integrated on apron. This research objective is to build an integrated SMS on apron of an airport to increase aviation safety.
There are five stages in this research method, that are literature study, initial identification, in-depth investigation, analysis, and conclusions.
The result of this research are technical recommendation for SMS implementation in each company that operating in apron, recommendation for safety organization, and a model of integrated SMS in apron."
2011
T30033
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Wulansari
"Perlindungan terhadap aset informasi sangat diperlukan dalam menjaga keamanan informasi karena dalam proses penyimpanan serta penggunaannya, ancaman (threats) yang dapat mempengaruhi confidentiality, integrity, dan availability dari informasi dapat menyerang aset informasi tersebut. Salah satu industri yang membutuhkan perlindungan terhadap aset informasinya adalah B2B e-commerce yang bergerak di bidang finansial karena organisasi B2B lebih banyak mengolah aset informasi confidential dari pihak ketiga dibandingkan industri lain sehingga memerlukan perlindungan lebih terhadap aset informasinya Dalam melindungi aset informasi tersebut, tentunya perusahaan harus mengetahui terlebih dahulu risiko-risiko yang mungkin terjadi serta menilai risiko mana yang paling mempengaruhi proses bisnis sehingga perlu dilakukan langkah mitigasinya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko terhadap aset informasi kritikal yang dimiliki oleh perusahaan B2B e-commerce kecil dan menengah yang bergerak di bidang finansial, yaitu NgaturDuit.com, dari aspek technical, physical, dan people, dengan menggunakan framework Octave Allegro. Octave Allegro merupakan framework yang fokus pada penilaian risiko terhadap aset informasi kritikal dan relatif mudah digunakan karena tidak membutuhkan banyak resource untuk melakukannya sehingga cocok untuk diimplementasikan pada perusahaan kecil dan menengah seperti NgaturDuit.com. NgaturDuit.com dipilih sebagai tempat studi kasus karena perusahaan belum pernah melakukan penilaian risiko sebelumnya. Hasil penelitian yang dilakukan dengan metode pengumpulan data wawancara dan analisis dokumen ini, menunjukkan bahwa NgaturDuit.com harus lebih memfokuskan penerapan kontrol keamanan pada technical containers.

Protection of information assets is indispensable in information security because in the process of storing and using information, threats that can affect the confidentiality, integrity, and availability of the information may attack those information assets. One of the industry that needs protection on their information assets is financial B2B e-commerce, because B2B organizations work with more confidential information of their third parties compared to other kinds of industry, so they need more protection on their information assets. In protecting those information assets, firstly the company has to know the risks which may happen and assess which of those risks have the most significant impact to their business process and need to be mitigated. This research aims to conduct a risk assessment towards critical information assets which are owned by small and medium financial B2B e-commerce, NgaturDuit.com, from technical, physical, and people aspects, by using Octave Allegro framework. Octave Allegro is one of the risk assessment framework which focuses the assessment on critical information assets and relatively easy to use because the company does not need many resources to use it, so it is suitable to be implemented in small and medium companies like NgaturDuit.com. NgaturDuit.com is chosen as a case study object because it has not conducted any risk assessment before. The result of this research, which uses interviews and document analysis as its data collecting methods, shows that NgaturDuit.com needs to focus more on their technical containers related to its security control implementation."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pratama Soekma Putra
"Penelitian ini membahas mengenai analisis pada komitmen anajemen dalam penerapan Contractor Safety Manageament System (CSMS) di PT. X tahun 2013. Pelaksanaan tahapan CSMS di PT.X pada tahun 2013 dari seluruh divisi yang ada hanya 44.7%. Hal ini mengindikasikan belum optimalnya perwujudan komitmen manajemen dalam penerapan CSMS. Hasil penelitian para ahli terdahulu menunjukkan bahwa kuatnya komitmen dari manajemen merupakan komponen yang sangat penting dalam menerapkan CSMS di dalam perusahaan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melakukan peninjauan pada komitmen manajemen yang meliputi komponen identifikasi, keterlibatan dan loyalitas.
Hasil penelitian menyarankan untuk meningkatkan penerapan Contractor Safety Management System (CSMS) yang terintegrasi diseluruh divisi disertai sosialisasi CSMS ke End-user, membuat training matrix dan training need Analysis mengenai pelatihan CSMS, mempercepat proses karyawan yang vacant, mengadakan pelatihan CSMS, membuat job description, meninjau ulang kebijakan dan Program K3LL, membuat kesepakatan persetujuan komitmen yang ditanda-tangani General Manager beserta jajaran manajemenm membuat komite CSMS, melakukan rapat regular membahas CSMS, menunjau ulang dan memaksimalkan penggunaan anggaran serta memberikan apresiasi kepada pekerja yang melaksanakan CSMS."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T41500
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>