Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Salman Alfarisi
"Serat sintetis yang banyak digunakan saat ini, memiliki potensi yang berbahaya bagi lingkungan, harga yang relatif mahal, dan sumber bahan baku yang tidak terbarukan. Salah satu solusi yang bisa digunakan adalah penggunaan serat alami yang terbarukan dan ramah bagi lingkungan. Serat alami selulosa kombucha SCOBY yang merupakan produk sampingan dari proses fermentasi teh kombucha dapat digunakan sebagai salah satu potensi pengganti serat sintetis. Dalam penelitian ini, telah dibandingkan 6 metode pemurnian yang sederhana dan bisa dikembangkan untuk skala industri untuk memurnikan membran matrix selulosa yang mengandung baktari, sel ragi, dan polifenol sebagai pengotor. Metode pemurnian yang menggunakan NaOH 1M selama 12 jam dan dilanjukan perendaman ke dalam air panas (80oC) selama 1 jam adalah metode paling efektif dan menghasilkan kekuatan tarik paling tinggi, 40,06 Mpa. Sampel yang telah dimurnikan kemudian dianalisis menggunakan FT-IR, TGA, Uji Tarik, dan SEM pada temperatur ruang.

Synthetic fibers that are widely used today can potentially be harmful to the environment, relatively expensive, and are non-renewable sources of raw materials. One solution that can be used is using natural fibers that are renewable and friendly to the environment. For example, SCOBY's kombucha cellulose fiber, a by-product of the kombucha tea fermentation process, can be a potential substitute for synthetic fibers. In this research, we compared six simple and industrial-scalable purification methods to purify cellulose matrix membranes containing bacteria, yeast cells, and polyphenols as impurities. The purification method using 1M NaOH for 12 hours and then immersion in hot water (80oC) for 1 hour is the most effective and produces the highest tensile strength, 40.06 Mpa. The purified samples were then analyzed using FT-IR, TGA, tensile tests, and SEM at room temperature."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anisa Nurhidayah
"Obesitas merupakan masalah kesehatan yang ditandai dengan nilai Indeks Massa Tubuh ≥ 30. Obesitas dapat memicu penyakit lain seperti Diaebetes Mellitus dan penyakit Kardiovaskular. Pada penelitian sebelumnya, ekstrak Caesalpinia sappan L. atau dikenal di Indonesia sebagai kayu Secang, terbukti dapat mengurangi akumulasi lemak secara in vitro. Sementara, kombucha dipercaya dapat meningkatkan sistem imun. Pada penelitian ini, dilakukan eksperimen secara in vivo pada kombucha C.sappan. Penelitian ini menggunakan tikus putih betina Sprague-Dawley yang dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kontrol sham dan kontrol negatif (CMC-Na 0,5% 2 mL/200 grBB), kontrol positif (Tamoksifen 0,4 mg/200gr BB), ekstrak Secang (20 mg/200grBB), kombucha (1 mL/200grBB), serta 3 kelompok variasi dosis kombucha Secang dengan D1 (1 mL/200 gr BB), D2 (3 mL/200 grBB/), dan D3 (3 mL/200 grBB/3 kali sehari), dengan pemberian secara oral. Semua tikus dilakukan ovariektomi, kecuali kelompok sham dilakukan pembedahan tanpa pengambilan ovarium. Tikus dipelihara 4 minggu pasca operasi, lalu diberi perlakuan selama 28 hari. Parameter yang diukur adalah berat badan, food intake, akumulasi lemak viseral, dan ukuran sel adiposit. Berdasarkan penelitian, kombucha Secang dosis 3 (3 mL/200grBB/3 kali sehari) menurunkan berat badan, nafsu makan, mengurangi akumulasi lemak viseral dan ukuran sel adiposit.

Obesity is a health problem characterized by a Body Mass Index value ≥ 30. Obesity can trigger other diseases such as diabetes mellitus and cardiovascular disease. In previous studies, Caesalpinia sappan L. extract was shown to reduce fat accumulation in vitro. Meanwhile, kombucha is believed to boost the immune system. In this study, in vivo experiments were conducted on kombucha from C. sappan extract. This study used female Sprague-Dawley white rats which were divided into 8 groups, namely sham and negative control (CMC-Na 0.5% 2 mL/200grBW), positive control (Tamoxifen 0.4 mg/200grBW), C.sappan extract (20 mg/200grBW), kombucha (1 mL/200grBW), as well as 3 groups of dose variations of C.sappan kombucha with D1 (1 mL/200 gr BB), D2 (3 mL/200grBW), and D3 (3 mL/200grBW/3 times a day), with oral administration. All rats were ovariectomized, except for the sham group. After 4 weeks ovariectomy, rats were treated for 28 days. Parameters measured were body weight, food intake, visceral fat accumulation, and adipocyte cell size. Based on the study, C. sappan kombucha dose 3 (3 mL/2grBW/3 times a day) decreased body weight, food intake, reduced visceral fat accumulation and adipocyte cell size."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stanley Aditya Kurniawan
"Latar Belakang: Penyakit periodontal adalah masalah kesehatan global yang terkait dengan infeksi bakteri, termasuk Porphyromonas gingivalis (P. gingivalis). Teh kombucha memiliki potensi sebagai agen antibakteri, sementara Lactobacillus reuteri (L. reuteri) dikenal memiliki efek probiotik yang bermanfaat bagi kesehatan oral. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri dari berbagai jenis teh kombucha (teh hitam,teh hijau, dan teh oolong) dengan L. reuteri terhadap P. gingivalis. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi in vitro. Sampel terdiri dari P. gingivalis yang diuji terhadap teh kombucha dan L. reuteri. Pengukuran dilakukan dengan uji zona hambat, uji densitas optik biofilm, dan uji kuantitas bakteri. Hasil Penelitian: Kombucha teh hitam menunjukkan zona hambat tertinggi dibandingkan dengan teh hijau dan teh oolong, meskipun tidak melebihi kontrol positif L. reuteri. Uji densitas optik biofilm menunjukkan bahwa biofilm meningkat seiring waktu inkubasi pada kelompok teh kombucha. Kuantitas P. gingivalis menurun lebih signifikan pada kombucha teh oolong dibandingkan teh hitam dan teh hijau. Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengaruh aktivitas antibakteri kombucha (teh hitam, teh hijau, dan teh oolong) dibandingkan dengan probiotik L. reuteri terhadap bakteri P. gingivalis.

Background: Periodontal disease is a global health issue associated with bacterial infections, including Porphyromonas gingivalis (P. gingivalis). Kombucha tea has the potential as an antibacterial agent, while Lactobacillus reuteri (L. reuteri) is known for its probiotic effects beneficial to oral health. Objective: This study aims to compare the antibacterial activity of different types of kombucha tea (black tea, green tea, and oolong tea) with L. reuteri against P. gingivalis. Methods: This research is an in vitro study. Samples consisted of P. gingivalis, which were tested against kombucha tea and L. reuteri. Measurements were performed using inhibition zone testing, optical density biofilm testing, and bacterial quantification testing. Results: Black tea kombucha showed the highest inhibition zone compared to green and oolong tea, although it did not exceed the positive control (L. reuteri). The optical density biofilm test indicated that biofilm formation increased over the incubation period in the kombucha tea group. The quantity of P. gingivalis decreased more significantly with oolong tea kombucha compared to black and green tea kombucha. Conclusion: There is a difference in the antibacterial activity of kombucha tea (black, green, and oolong) compared to the probiotic L. reuteri against P. gingivalis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2025
SP-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library