"Design-build construction projects offer efficiency in time, cost, and coordination; however, the design phase in this model often experiences significant delays. Previous studies indicate that the main causes of these delays include miscommunication, repeated design revisions, and weak collaboration among stakeholders. This study aims to analyze how the Scrum methodology, an agile framework commonly used in the software industry, can be adapted to address delays in the design phase of design-build construction projects in Indonesia. The research was conducted in five stages using questionnaires distributed to project practitioners and construction experts. First, the design activities with the most significant impact on delays were identified. Next, Scrum features, including roles, artifacts, and events, were mapped to these critical activities. Barriers to implementation and their proposed solutions were also examined. Finally, expert validation was conducted to assess the feasibility of applying Scrum in the national construction context. The findings reveal that six activities within the design development stage significantly contribute to delays: Concept and Planning; Final Design Report Preparation; Building Mass Planning; Structural Analysis Calculations; Facade and Architectural Concept Planning; and Design Report Preparation. A key barrier to Scrum implementation is the requirement for design team members to attend regular meetings at the same time and location. The proposed solution is the use of digital tools such as Kanban boards and virtual meetings, allowing all team members to participate anytime and anywhere. Scrum features, particularly artifacts, events, and role assignments, have proven effective in supporting and resolving delays in the design phase, especially when all stakeholders actively engage in the critical design activities, improved transparency, cross-disciplinary collaboration, and design workflow efficiency.
Proyek konstruksi dengan model design-build menawarkan efisiensi waktu, biaya, dan koordinasi, namun tahap desain dalam model ini masih sering mengalami keterlambatan yang signifikan. Berdasarkan studi literatur penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penyebab utama keterlambatan tersebut adalah miskomunikasi, revisi desain berulang, dan lemahnya kolaborasi antar pihak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan metode Scrum, sebagai kerangka kerja agile yang umumnya digunakan dalam industri perangkat lunak, dapat diadaptasi untuk menyelesaikan keterlambatan pada tahap desain proyek konstruksi design-build di Indonesia. Penelitian dilakukan dalam lima tahap menggunakan metode kuesioner kepada pelaku proyek dan pakar konstruksi. Pertama, diidentifikasi aktivitas desain yang paling berdampak terhadap keterlambatan. Selanjutnya, fitur-fitur Scrum dipetakan terhadap aktivitas tersebut, termasuk peran, artefak, dan kegiatan Scrum. Hambatan implementasi serta usulan solusinya juga dikaji. Terakhir, dilakukan validasi pakar untuk menilai kelayakan penerapan Scrum dalam konteks proyek konstruksi nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 (enam) aktivitas pada rumpun pekerjaan design development yang memiliki dampak signifikan terhadap keterlambatan pada tahap desain proyek konstruksi design-build, antara lain: Konsep dan Rencana; Penyusunan Laporan Akhir Perencanaan; perencanaan Massa Bangunan; Perhitungan Analisis Struktur bangunan; perencanaan Fasad dan Konsep Bangunan; Penyusunan Laporan Perencanaan. Hambatan utama dalam penerapan Scrum adalah bahwa proses bisnis Scrum yang mengharuskan ketersediaan tim desain untuk melakukan pertemuan reguler di tempat yang sama dan waktu yang sama setiap periode waktu yang sudah ditentukan, dan bahwa solusinya merupakan penggunaan teknologi informasi seperti kanban board, pertemuan daring untuk memudahkan setiap tim menghadiri setiap kegiatan dimanapun dan kapanpun, Fitur Scrum seperti Artefak Scrum; Kegiatan Scrum dan Pembagian Peran Scrum terbukti dapat mendukung dan menyelesaikan masalah keterlambatan pada tahap desain proyek konstruksi design-build dengan keterlibatan aktif setiap stakeholder yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang berdampak signifikan terhadap keterlambatan pada tahap desain, transparansi, kolaborasi lintas disiplin, serta efisiensi alur kerja desain. "