Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Minarni
"Penelitian bertujuan mengetahui determinan yang berhubungan dengan kepesertaan pria dalam KB di Kota Pagar Alam Propinsi Su.matera Selatan tahun 2009.Penelitian dengan rancangan cross sectional pada 300 orang pria pasangan usia subur dengan istri berumur kurang dari 50 tahun, diambil secara cluster 3 tahap. Data dikumpulkan melalui wawaneara dengan kuesioner. Hasil penelitian mendapatkan persetujuan istri, keterpaparan dengan petugas KB kesehatan dalam 6 bulan terakhir dan dukungsu tokoh masyarakat yang mempunyui hubungan dengan kepesertaan pria dalam KB setelah dlkontrol pendidikan, pengetahuan, sikap, keterjangkauan sarena pelayanan, serta jumlah anak, dan persetujuan istri mempakan fuktor yang paling dominan. Disarankan kepada Badan KBPP Kota Pagar Alam untuk melalrukan advokesi kepada pihak ekskutif dan legislatif untuk penentuan kebijakan dan pendanaan, melakekan keijasama lintas sektor untuk mendapat dukungan sosial dari tokeh masyarakat dan agama serta meningkatkan jumlah dan kualitas petugas lapangan KB untuk pemberdayaan masyarakat serta meningkatan metade promosi melalui media dangan kemasan yang memtrik dan bervariasi.

The objective of this research was to find out the determinant of male contraceptive participation at Pagar Alam, South Surnatera province in 2009. This research used cross sectional design to observed 300 fertile married couples whose wife age was less than 50 years old. The respondents were selected by cluster in 3 phases. Data was collected by interview using questionnaire. This research found that wife's approval was the most dominant factor of male contraceptive participation, besides exposure of family planning official during the last 6 monts and informal leader after adjusted by education, knowledge, attitude to ward family planning; accessibility of family planning service and the number of children. It was suggested to Badan KBPP Pagar Alam to advocate the local government and legislators in term of policy and funds, cooperation between KBPP an inter sectors in order to giving social support to increase quantity and quality of field family planning to empowerment the community and to improve promotion through mass using the various interesting packages."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
T32369
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dita Rany Anggraeni
"Latar belakang: Pengembangan kontrasepsi hormonal pada pria didasarkan pada pengetahuan behwa spermatogenesis sangat tergantung pada sekresi dari hormon gonadotropin. Pemberian depot medroksiprogesteron asetat (DMPA) yang dikombinasikan dengan testosteron prospeknya baik untuk dikembangkan menjadi bahan kontarasepsi pria karena dapat menekan gonadotropin, sehingga menghambat spermatogenesis. Di alam terdapat berbagai macam tanaman obat yang mengandung androgen, salah satunya adalah cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.). Secara tradisional buah cabe jawa digunaka untuk obat lemah syahwat dan telah terbukti dapet meningkatkan kadar hormon testosteron darah serta meningkatkan frekuensi koitus pria hipogonad.
Tujuan:Mengetahui pengarah kombinasl DMPA dan ekstrnk cabe jawa terbadap berat testis, diameter tubulus seminiferus, populasi sel-sel spermatogenik dan populasi sell Leydig tikus galur Sprague-Dawley.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengksp (RAJ..), equal size sample yaitu terdiri dari 6 kelompok yang menggunakan tikus jantan galur Sprague Dawley sebagai model. Kelompok perlakuan terdiri atas kelompok kontrol perlakuan (KP=tikus disuntik DMPA dan diberi plasebo), perlakuan I (Pl=tikus disuntik DMPA dan ekstrak cabe jawa dosis 6,94 mg), perlakuan II (P!I=tikns disuntik DMPA dan eksrak cabe jawa dosis 1,88 mg), perlakuan ill (Pill=tikus disuntik DMPA dan eksrak cabe jawa dosis 2,82 mg), perlakuan N (tikus disuntik DMPA dan ekstrnk cabe jawa dosis 3,76 mg) dan kelompok kontrol (K). Penyuntikan DMPA dilakukan pada minggu ke-0 dan minggu ke-12 perlakuan, sedangknn pencekokan ekstrnk cahe jawa dilakukan setiap hari dimu!ai dari minggu ke7 sampai minggn ke-18 perlakuan.

Background: The developing of hormonal male contraception based on the knowledge that spermatogenesis is depends to the secretion of gonadotrophin hormone. Administration of depot medroxyprogesterone acetate (DMPA) combined with testosterone has a good prospect II> become hormonal male contaception because they can supress gonadotrophin so that can inhibit spermatogenesis. In the nature there are many kinds of herbal medicine containa of androgene, one of them is javanesse long pepper (Piper retrofractum Vahl). Traditionally, the fruit is used to cure impotency and has been prove can increase blood testosterone levels and frequency of coitus in hypogoned man.
Aim: The aim of this study was to find out the effects of combination of depot medroxyprogesterone acetate {DMPA) and javanesse long pepper toward testis weight, seminiferous tubules dknneter, population of spermatogenic cells, nad Leydig cell of rat.
Method: This research was using complete random design, eqnal size sample consist of six groups using male rat strain prague-Dawley as a model. Treatment groups consist of treatment control (KP=rat administered with DMPA and placebo), treatment I (PI=rat administered with DMPA and javanesse long pepper extract dose (),94 mg), treatment II (PII=mt edministered with DMPA and javanesse long pepper extract dose 1,88 mg), treatment Ill (Pill=mt administered with DMPA aod javanesse long pepper extract dose 2,82 mg), aod treatment IV (PIV=mt administered with DMPA and javanesse long pepper exlnlct dose 3,76 mg), and also control group. Injection of DMPA was conducted in week-0 and week-12, meanwhile administered of Javanese long pepper was conducted everyday startatweek-7 until week-18."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T32424
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Erlian Rista Aditya
"Prevalensi HIV pada LSL terus meningkat dari tahun ke tahun, 8% pada 2007 menjadi 17% pada 2011. Tingginya prevalensi HIV pada populasi ini disebabkan oleh pratek perilaku seks aman berupa penggunaan kondom secara konsisten yang masih rendah, 32% pada 2007 dan 24% pada 2011.
Tujuan penelitian: Diperolehnya informasi yang mendalam tentang faktor-faktor pendukung dan penghambat perilaku penggunaan kondom secara konsisten pada pekerja seks laki-laki panti pijat serta situasi dan pola penggunaan kondomnya.
Desain penelitian: Kualitatif menggunakan rapid assessment procedures. Sebanyak 30 informan dipilih melalui "stratified" purposive sampling dari 15 panti pijat laki-laki, diwawancarai secara mendalam menggunakan structured open-ended question, ditranskrip dan matriks dibuat untuk memilah data sesuai tema-tema yang muncul. Observasi situasi di panti pijat dan analisis dokumen dilakukan untuk melengkapi wawancara mendalam. Analisis-interpretasi data dilakukan berdasarkan 5 level Socio Ecological Model.
Hasil: Sebagian besar faktor-faktor pada level individual (pengetahuan, motivasi dan kesiapan menggunakan kondom, niat, keputusan menggunakan kondom, keterampilan, dan selfefficacy) dalam situasi yang memadai dan menjadi faktor pendukung penggunaan kondom secara konsisten. Namun pengaruh faktor-faktor ini tidak langsung dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor interpersonal terutama klien, atasan/manajer panti pijat, teman dan pasangan tetap serta oleh faktor-faktor situasi organisasi panti pijat seperti aturan organisasi, mekanisme rantai suplai distribusi dan promosi kondom, struktur dan budaya organisasi. Faktor-faktor pada level komunitas tidak mendukung tetapi juga tidak menghambat secara langsung karena jejaring, kapasitas, kepemimpinan, partisipasi dan sumber daya komunitas masih embrional dan belum kuat. Faktor-faktor pada level kebijakan publik mendukung perilaku penggunaan kondom informan karena memungkinkan ketersediaan dan distribusi kondom serta program HIV berjalan di panti pijat. Namun karena adanya kontradiksi antara beberapa kebijakan publik, pengaruhnya menjadi terbatas. Ditemukan juga ada 3 pola umum penggunaan kondom pada informan yang merupakan model sederhana dari stage of change model, health believe model, precaution adoption process model dan social cognitive theory.
Kesimpulan/rekomendasi: semua informan telah menggunakan kondom tetapi hanya sebagian kecil informan, sekitar 30%, yang penggunaan kondomnya konsisten. Faktor pada level interpersonal dan organisasional adalah faktor yang paling mempengaruhi penggunaan kondom informan dibandingkan faktor-faktor pada level individual, komunitas dan kebijakan publik. Disarankan agar intervensi pencegahan HIV menyasar lebih dalam faktor-faktor pada kedua level tersebut.

Background: HIV prevalence among MSM increase time to time, 8% in 2007 to 17% in 2011. High HIV prevalence among this population caused by low unsafe sex practices in form of consistent condom use, 32% in 2007 and 24% in 2011.
Study purpose: to acquired insight of consistent condom use suporting and inhibiting factors among massage parlor-based male sex workers as well as situation and patterns of condom use behavior.
Study design: qualitative approach using rapid assessment procedure method. Thirty informans were select through "stratified" purposive sampling from 15 massage parlors, interviewed using structured open-ended questions, trancripted and matrix developed for data sorting to captured any emerged themes. Documents and secondary data analysis and observation carried out to suplement indepth interview. Data analysis and interpretation done based on 5 levesl of Socio Ecological Model.
Results: Most of factors at individual level (knowledge, motivation and readiness to use condom, behavioral intention, deicion about acting, condom use skill, self-efficacy) were adequate and as supporting factors for consistent condom use practices. However influences of these factors was indirect and greathly influenced by interpersonal factors particularly by clients, massage parlor managers, peers and steady partners as well as by organizational factors such as massage parlor work regulation, condom supply chain management and promotion, organizational culture and structure. Factors at community level were neither support nor inhibit directly to consitent condom use practices. These are mainly caused by inadequate and embryonic stage of community networking, capacity, leadership, participation, and resources. Factors at public policy level support informant?s consistent condom use practices since these factors enabled condom availability and distribution and presence of HIV prevention program inside the massage parlors as well. However due to contradiction among those existing public policy, the influences were narrow. This study found 3 general patterns of informant?s condom use practices which are served as simple model of social cognitive theory, stages of change model, health believe model and precaution adoption process model.
Conslusion/recommendation: All informants had used condom but only few of them, about 30%, had used it consistently. Factors at interpersonal and organizational level were the most influencing factors for consistent condom use practices among informants compared to factors at individual, community and public policy level. It is recommended to have deeper and more intensive intervention at those two levels.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
T32564
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library