Search Result  ::  Save as CSV :: Back

Search Result

Found 2 Document(s) match with the query
cover
Rakhmad Rofiansyah Badrul Alam
"Kejibeling (Strobilanthes crispus) merupakan salah satu tanaman herbal yang telah lama digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti batu ginjal, batu empedu, diabetes, kolesterol, tumor, dan lain-lain. Salah satu kandungan pada daun kejibeling adalah asam fenolat. Pemodelan untuk ekstraksi asam fenolat dilakukan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi selama proses ekstraksi. Model yang digunakan adalah model inti menyusut. Model memiliki 3 tahapan proses yaitu difusi internal, difusi eksternal dan reaksi. Simulasi matematis dilakukan pada ekstraksi asam fenolat dari daun kejibeling yang dilandaskan pada data eksperimen. Variasi yang digunakan untuk simulasi ini adalah variasi suhu yaitu 40, 50 dan 60oC serta variasi konsentrasi enzim yaitu 3%, 5% dan 7%. Dari pemodelan yang dilakukan telah didapatkan nilai konsentrasi asam fenolat awal (Cc), faktor pra-eksponensial (kd00), energi aktivasi (Ea) dan koefisien difusi liquid (Dl). Nilai parameter yang dihasilkan adalah nilai Cc sebesar 0,5 kmol/m3, nilai kd00 untuk suhu 40oC konsentrasi enzim 3%, 5%, 7% masing-masing sebesar 8,92E+03,  1,65E+04, 2.5E+04 m/d. Untuk suhu 50oC konsentrasi 3%, 5%, 7% masing-masing sebesar 4,25E+04, 7,65E+04, 1,2E+05 m/d dan untuk suhu 60oC konsentrasi enzim 3%, 5%,7% masing-masing sebesar 1,9E+06, 2,3E+06, 7,8E+06 m/d. Nilai energi aktivasi (Ea) sebesar 1,25E+07  J/kmol dan nilai Dl sebesar 8,3E-06 m2/d.

Kejibeling (Strobilanthes crispus) is a herbal plant that has long been used to treat various types of diseases such as kidney stones, gallstones, diabetes, cholesterol, tumors, and others. One of the ingredients in kejibeling leaves is phenolic acid. Modeling for phenolic acid extraction was carried out to describe the phenomena that occur during the extraction process. The model used is the shrink core model. The model has 3 stages of the process, namely internal diffusion, external diffusion and reaction. Mathematical simulations were carried out on the extraction of phenolic acid from kejibeling leaves based on experimental data. The variations used for this simulation are temperature variations, namely 40, 50 and 60oC and variations in enzyme concentration, namely 3%, 5% and 7%. From the modeling carried out, the initial phenolic acid concentration (Cc), pre-exponential factor (kd00), activation energy (Ea) and liquid diffusion coefficient (Dl) were obtained. The resulting parameter values are Cc values of 0,5 kmol/m3, kd00 values for 40oC enzyme concentrations of 3%, 5%, 7% respectively 8,92E+03, 1,65E+04, 2,5E+04 m/s. For a temperature of 50oC a concentration of 3%, 5%, 7% was 4,25E+04, 7,65E+04, 1,2 x 105 m/s and for a temperature of 60oC an enzyme concentration of 3%, 5%, 7% was 1,9E+06, 2,3E+06, 7,8E+06 m/s. The activation energy value (Ea) is 1,25E+07 J/kmol and the Dl value is 8,36E-07 m2/s."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Elistiani Eksadita
"Propolis adalah produk yang diperoleh dari resin yang dikumpulkan lebah dan diketahui memiliki aktivitas antibakteri, anti inflamasi, antivirus, antioksidan, antiprotozoal, antitumor, anestesi, antikanker, antiseptik, antimutagenik dan antihepatotoksik. Produk propolis yang banyak beredar umumnya didapatkan dari proses ekstraksi dengan pelarut etanol. Pelarut etanol dapat mengekstraksi senyawa fenol dan flavonoid propolis serta melarutkan lilin propolis dengan baik, namun memiliki kelemahan diantaranya meninggalkan rasa yang kuat, terbatas dalam aplikasi di industri kosmetik dan farmasi, serta adanya intoleransi alkohol bagi sebagian konsumen. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini dicari alternatif pelarut propolis dari VCO dan NADES. NADES yang digunakan dalam penelitian ini adalah CCPG (kolin klorida-propilen glikol), CCGW (kolin klorida-gliserol-air) dan CAPD (asam sitrat-propilen glikol). Bahan baku propolis berasal dari lebah tetragonula sapiens Sulawesi Selatan. Ekstraksi dilakukan dengan homogenisasi dengan kecepatan 355 rpm selama 8 jam pada suhu ruang. Perbandingan sampel dan pelarut yang digunakan dalam ekstraksi adalah 1:5. Ekstrak propolis kemudian diuji kandungan fenol total nya dengan metode kolorimetri Folin-Ciocalteu dan diuji aktivitas antioksidannya dengan pereaksi DPPH. Hasil dari penelitian ini kandungan fenolik total ekstrak propolis dengan pelarut etanol, VCO, CCPG, CCGW dan CAPD berturut-turut adalah 352,52±5,12; 193,11±60,98; 693,03±91,09; 136,17±27,9 dan 278,51±0,45 mgGAE/g. Sementara itu, aktivitas antioksidan yang dinyatakan dengan nilai IC50 untuk ekstrak propolis dengan pelarut etanol, VCO, CCPG, CCGW dan CAPD berturut-turut adalah 364, 550, 4.625, 9.956 dan 11.029 mg/mL. Dari penelitian ini, diketahui pelarut terbaik untuk ekstraksi propolis adalah etanol karena esktrak memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dan pelarut NADES berbasis CCPG cukup prospektif untuk digunakan dalam ekstraksi Propolis Indonesia.

Propolis is a product obtained from resins collected by bees and is known to have antibacterial, anti-inflammatory, antiviral, antioxidant, antiprotozoal, antitumor, anesthetic, anticancer, antiseptic, antimutagenic and antihepatotoxic activities. Most of the propolis products in market are obtained from the extraction process with ethanol as a solvent. Ethanol solvent can extract phenolic and flavonoid compounds and also dissolve propolis wax well. However, ethanol solvents have disadvantages such as leaving a strong taste, limited application in the cosmetic and pharmaceutical industries, and alcohol intolerance for some consumers. Therefore, in this study an alternative propolis solvent from VCO and NADES was sought. The samples of propolis used were from tetragonula sapiens bees from South Sulawesi. Extraction was carried out by maceration at room temperature with stirring at 150 rpm for 8 hours. The ratio of the sample and the solvent used in the extraction is 1: 5. The propolis extract was then tested for its total phenolic content using Folin-Ciocalteu calorimetric method and tested for its antioxidant activity with DPPH reagent. NADES used in this study were CCPG (choline chloride-propylene glycol), CCGW (choline chloride-glycerol-water) and CAPD (citric acid-propylene glycol). The raw material for propolis comes from the South Sulawesi bee Tetragonula sapiens. Extraction was carried out by homogenization at 355 rpm for 8 hours at room temperature. The ratio of the sample and solvent used in the extraction is 1:5. The propolis extract was then tested for its total phenol content using the Folin-Ciocalteu colorimetric method and for its antioxidant activity with DPPH reagent. The results of this study is the total phenolic content of propolis extract with ethanol, VCO, CCPG, CCGW and CAPD solvents were 352.52±5.12; 193.11±60.98; 693.03±91.09; 136.17±27.9 and 278,51±0.45 mgGAE/g, respectively. Meanwhile, the antioxidant activity expressed by IC50 values for propolis extract with ethanol, VCO, CCPG, CCGW and CAPD solvents were 364, 550, 4,625, 9,956 and 11,029 mg/mL, respectively. From this study, it is known that the best solvent for propolis extraction is ethanol because the extract has the highest antioxidant activity and CCPG NADES solvent is quite prospective to be used in Indonesian Propolis extraction."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library