Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 152 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Reny Mulyani
"Latar Belakang: Suhu panas dapat memicu seseorang lebih rentan terkena batu di saluran kemih. Batu saluran kemih dapat timbul karena konsentrasi urine yang pekat sehingga memicu terjadinya pengendapan kristal. Prevalensi penyakit batu diperkirakan sebesar 13% pada laki-laki dewasa dan 7% pada perempuan dewasa. Laki-laki lebih berisiko 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. Beberapa studi menyatakan faktor sehubungan dengan pekerjaan, pekerjaan di lapangan atau banyak terkena panas seperti juru masak, binatu, atau bagian mesin, dapat meningkatkan risiko batu saluran kemih.
Tujuan: Mengetahui hubungan suhu panas di lingkungan kerja terhadap terbentuknya batu saluran kemih pada pekerja.
Metode: Penelusuran dilakukan melalui Pubmed dan Google scholar. Dari Pubmed didapatkan 18 artikel dan melalui google shcolar didapatkan 37 artikel. Setelah dilakukan penyaringan sesuai kriteria inklusi dan ekslusi, didapatkan 6 artikel dengan jenis studi penelitian cohort, cross sectional dan case control. Selanjutnya dari ke enam artikel hasil penyaringan, hanya 1 yang relevan dan paling sesuai mendekati PICO dan menjawab pertanyaan klinis, yaitu penelitian Atan L, dkk, berjudul “High kidney stone risk in men working in steel industry at hot temperatures”.
Hasil: Dari segi validitas, studi ini cukup valid. Studi berupa cross sectional dengan pengukuran tingkat panas yang dilakukan secara kualitatif. Pada studi ini tidak ada follow up, tetapi data complete dan long enough. Penilaian importance studi ini digambarkan dengan nilai Odds ratio adalah 9.97, yang artinya pekerja terpajan suhu tinggi memiliki risiko terjadinya batu saluran kemih hingga sembilan kali lipat lebih besar daripada pekerja lain yang tidak terpajan panas, dengan tingkat kepercayaan 95 % CI= 7.38 - 13.47 , dan p < 0.0001, yang artinya bermakna. Number needed to harm (NNH) pada penelitian ini adalah 14, artinya cukup berbahaya, karena menggambarkan bahwa setiap 14 pekerja yang terpajan panas, akan menambah 1 kasus terkena batu saluran kemih.
Kesimpulan: Pada pasien ini, suhu panas di lingkungan kerja akan meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih pada pekerja, namun masih kurang bukti untuk menjawab pertanyaan klinis karena hanya satu studi yang diperoleh dan dianggap relevan. Desain cross-sectional bukanlah desain terbaik untuk membuktikan suatu hubungan sebab akibat. Untuk etiologic yang terbaik adalah cohort.

Background: Heat exposure can trigger a person more susceptible to urolithiasis. Urolithiasis can arise due to the concentrated urine concentration thus causing precipitation of crystals. The prevalence of stone disease is estimated at 13% in men and 7% in adult women. Generally men are more at risk 3-4 higher than women. Relation to the job, people who work in the field or much exposed to heat such as cooks, laundry, steel plant workers, glass plant workers, drivers, smelter, welder or machinist and lifestyle little motion can increase the risk of urolithiasis.
Aim: To determine the relationship between heat exposure and urolithiasis in workers.
Method: Search conducted through Pubmed and Google scholar. Through Pubmed obtained 18 articles and through google shcolar obtained 37 articles. After filtering the corresponding inclusion and exclusion criteria, then obtained 6 articles of cohort study, cross-sectional and case-control. But of the six articles of the screening results, only 1 of the most relevant and appropriate to approach and answer the PICO clinical question, namely research Atan L, et al, entitled "High kidney stone risk in men working in steel industry at Hot Temperatures".
Result: In terms of validity, this study is quite valid. A cross sectional study with measurements of the rate of heat conducted qualitatively. In this study there was no follow-up, but the data complete and long enough. Importance valuation studies is illustrated by the value of odds ratio is 9.97, which means that workers exposed to high temperatures have the risk of urolithiasis up to nine times greater than other workers who are not exposed to heat, with a confidence level of 95% CI = 7:38 to 13:47, and p <0.0001, which means significantly. Number needed to harm (NNH) in this study were 14, it means quite dangerous, because it illustrates that every 14 workers exposed to heat, will add one case of urolithiasis.
Conclusion: In this patient, the heat exposure in the working environment will increase the risk of urolithiasis formation in workers, but still lack the evidence to answer the clinical question because only one study obtained and considered relevant. Cross-sectional design is not the best design to prove a causal relationship. For etiologic the best is cohort.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Irena Ujianti
"Nama : Irena UjiantiProgram Studi : Program Magister Ilmu BiomedikJudul Tesis :Dampak Restriksi Vitamin B12 Terhadap Kadar Homosistein, Resistensi Insulin Dan Gambaran NAFLDPembimbing : dr. Imelda Rosalyn Sianipar, M.Biomed, Ph.D dan Dr. dr. Dewi Irawati Soeria Santoso, MS Latar Belakang: Perlemakan hati merupakan penyakit hati kronik terbesar di dunia. Kondisi yang mendasari terjadinya perlemakan hati dimulai dari kondisi resistensi insulin. Salah satu patogenesis terjadinya resistensi insulin adalah gangguan pada pensinyalan insulin oleh zat toksik tertentu yang akan berinteraksi dengan protein yang menyusun jalur pensinyalan insulin. Peningkatan homosistein dikaitkan dengan resistensi insulin. Homosistein akan meningkat sejalan dengan terganggunya jalur metilasi dari siklus metionin. Pemberian diet restriksi vitamin B12 akan memicu terjadinya resistensi insulin lewat jalur stres oksidatif yang ditimbulkan oleh homosistein.Bahan dan Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental terhadap 24 tikus Sprague Dawley jantan Rattus norvegicus, 300-350 gram, usia 35-40 minggu , terbagi ke dalam 4 kelompok yaitu kontrol K , Kelompok perlakuan 4 minggu P-1 , Kelompok Perlakuan 8 minggu P-2 dan kelompok perlakuan 12 minggu P-3 . Pada Kelompok kontrol, diberikan diet standar AIN-93M sedangkan kelompok perlakuan diberikan pakan modifikasi restriksi vitamin B12 AIN-93 sesuai usia perlakuan.Hasil: Kelompok perlakuan 8 minggu paling baik dalam menggambarkan kondisi perlemakan hati dibandingkan kelompok kontrol dan perlakuan 4 minggu, sedangkan kelompok perlakuan 12 minggu telah mempresentasikan kondisi NASH Non Alcoholic Steatohepatitis . Hasil ini sejalan dengan kondisi peningkatan homosistein plasma pada kelompok kontrol dan masing-masing usia perlakuan.Kesimpulan: Peningkatan homosistein akibat diet restriksi vitamin B12 mengakibatkan kondisi steatosis dan steatohepatitits pada hati, sebagai akibat dari kondisi resistensi insulin dan kerusakan sebagian dari sel beta pankreas. Kata kunci: Homosistein, Restriksi vitamin B12, NAFLD, Resistensi Insulin
ABSTRACT Name Irena UjiantiStudy Program Master Program of Biomedical SciencesThesis Title Impact of Vitamin B12 Restriction on Homocysteine Levels, Insulin Resistance and NAFLDCounselor dr. Imelda Rosalyn Sianipar, M.Biomed, Ph.D. dr. Dewi Irawati Soeria Santoso, MS Background The fatty liver is the biggest chronic liver disease in the world. The underlying condition of fatty liver starts from the condition of insulin resistance. One of the pathomechanisms of insulin resistance is the disturbance in insulin signaling by certain toxic substances that will interact with one of the proteins that make up the insulin signaling pathway. Increased homosisteine is associated with insulin resistance. Homosisteine will increase in line with the disruption of the methionin metionin pathway. Dietary vitamin B12 deficiency will trigger insulin resistance through the path of oxidative stress generated by homocysteine.Materials and Methods This study used an experimental method of 24 male Sprague Dawley rats Rattus norvegicus, 300 400 gram, age 7 8 months , divided into 4 groups kontrol K , 4 weeks treatment group P 1 , 8 weeks treatment group P 2 and 12 week treatment group P 3 . In the kontrol group, a standard AIN 93 diet was administered while the feeding group was administered vitamin A deficiency deficiency AIN 93M according to treatment age.Results The best 8 weeks treatment group described the conditions of fatty liver compared to the 4 week kontrol and treatment group, while the 12 week treatment group presented the NASH condition. These results are consistent with the elevated plasma homocysteine conditions in the kontrol group and each treatment age.Conclusion Increased homocysteine due to dietary vitamin B12 deficiency is able to induce the condition of steatosis and steatohepatitits in the liver, as a result of the condition of insulin resistance and beta cell pancrease damage as the underlying patomechanism. Keywords Homocysteine, vitamin B12 Deficiency, NAFLD, Insulin Resistance "
2018
T55512
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
London : BMJ Publishing, 1994
616.861 ABC
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
New York: Churchill Livingstone, 1990
615.1 PRI
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Agung Wibisono R.P.
"Pengaruh radiasi paparan medan magnet perangkat GSM terhadap mahluk hidup sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Berbagai penelitian yang telah dilakukan semakin menambah kuat dugaan bahwa pengaruh tersebut memiliki dampak yang negatif terhadap kesehatan.
Pada penelitian ini dilakukan uji coba untuk melihat pengaruh radiasi paparan medan magnet perangkat GSM terhadap mahluk hidup melalui pengujian hipotesa pada proses penetasan telur ayam kampung sebagai obyek percobaan.
Penelitian dilakukan dengan membandingkan hasil akhir dari penetasan dalam kondisi normal dengan penetasan yang dilakukan di bawah pengaruh radiasi paparan medan magnet perangkat GSM. Pemilihan perangkat GSM berdasarkan persentase pemakaiannya di masyarakat dan nilai Specific Absorption Rates (SAR).
Penetasan di bawah pengaruh paparan medan magnet dilakukan dengan menetaskan telur ayam kampung pada jarak antara 1-1,5 cm dari perangkat GSM yang sedang melakukan panggilan keluar selama 2 menit waktu pembicaraan berlangsung. Peradiasian dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Proses penetasan ini diulang dengan menggunakan perangkat GSM yang berbeda-beda mewakili besar nilai SAR-nya masing-masing sebanyak 3 kali percobaan dengan sampel sebanyak 100 butir telur untuk setiap percobaan.
Dari hasil penelitian terbukti bahwa perangkat-perangkat GSM tersebut masih menghasilkan paparan medan magnet yang mempengaruhi perkembangan mahluk hidup, dimana dengan menilik cacat fisik yang terjadi, paparan medan magnet tersebut menimbulkan akibat yang negatif yaitu terjadinya perubahan susunan protein membran sel yang menyebabkan ketidaknormalan dalam pembentukan organ-organ tulang.

The Side Effect Experiment of Magnetic Fields of GSM Equipment Shelf Radiation to The Hatchery of Free Range Chicken EggsToday people still arguing about the side effect of magnetic field of GSM equipment to living creatures. Many researches that have been conducted have strengthened the assumption that the influences have negative cause to our health.On this research an experiment execute to see the radiation effect to the changing of membrane protein layer through some hypothesis tests on the hatchery process of free-range chicken egg as the object.
The research conduct by comparing the final results of hatchery in normal condition and hatchery under the side effect radiation of GSM equipment. The selection of GSM equipment bases on public using percentage and the SAR value. The hatchery under magnetic fields influences were conduct by hatching the free-range chicken eggs in 1 - 1.5 cm range from the GSM equipment while it was performed outgoing calls for two minutes. The radiation performed as many as three times a day: morning, noon, and at evening. These process repeated by using different GSM equipment represent their SAR value and every type used for three times experiment and having 100 eggs to radiate at each experiment.
From this research proved that the GSM equipment still produces magnetic fields which influence the growing of living creatures. By observed carefully the physical defect that happened, the negative side effect of the magnetic field still occur which is changing the cell membrane protein layer that caused abnormality in building bones structure."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
T9956
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hadi Hartamto
"ABSTRAK
Tahun 1990 WHO telah menfokuskan efek negatif dari asap rokok pada risiko yang timbul terhadap kesehatan wanita. Sehubungan dengan efek asap rokok terhadap kesehatan wanita terutama pada aspek reproduksi, telah dilakukan penelitian eksperimental pada tikus.
Tujuan dari penelitian tersebut untuk mengetahui efek asap rokok kretek pada lama siklus estrus dan anak yang dilahirkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan tikus betina dewasa strain LMfl sebanyak 24 ekor dengan berat badan 120 - 135 gram, berumur 3 - 4 bulan yang dipelihara dalam lingkungan yang baik dan diberi makanan standard untuk tikus. Semua tikus percobaan dibagi secara acak dalam 6 kelompok dan masing--masing kelompok terdiri atas 4 ekor tikus. Perlakuan yang diberikan sebagai berikut : 3 tikus dari tiap kelompok dipajan asap rokok kretek (1 rokok untuk 1 tikus), sisanya sebagai kontrol yang tidak dipajan asap rokok. Tikus-tikus perlakuan dimasukkan dalam kandang khusus (50 x 50 x 40 cm). Semua dinding kandang ditutup tripleks dan ada 2 lubang fentilasi. Tiga rokok kretek untuk pemajanan berada di dalam laci di bawah kandang. Tikus-tikus kontrol juga dimasukkan dalam kandang yang bentuknya lama hanya tak dipajan asap rokok kretek.
Perlakuan dilakukan tiap hari selama 35,. 70, dan 105 hari (atau 7, 14, dan 21 siklus estrus). Setelah satu hari perlakuan selesai, semua tikus dikawinkan dengan tikus jantan dewasa. Lama siklus estrus, jumlah anak, dan jumlah embrio yang diabsorbsi dalam uterus (anomali embrio) dicatat. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam untuk mengetahui perbedaan lama siklus estrus, dan uji Kruskal- untuk mengevaluasi perbedaan jumlah anak yang dihasilkan.
Hasil perhitungan menunjukkan tak adanya pengaruh asap rokok kretek terhadap lamanya siklus estrus pada pemajanan 35, 70, dan 105 hari. Hasil yang sama juga didapatkan pada jumlah anak yang dihasilkan Penemuan yang penting dalam penelitian ini adalah besarnya persentase tikus yang tak bunting (50%) pada pemajanan 105 hari, dan lebih banyaknya embrio yang diabsorbsi pada kelampok perlakuan. Dari fakta pertama kami mempunyai dugaan bahwa pengaruh negatif asap rokok kretek akan lebih nyata bila pemajanan asap rokok lebih lama. Dari fakta kedua menimbulkan dugaan bahwa asap rokok kretek mempunyai pengaruh yang buruk terhadap embrio.
Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan pemajanan asap rokok yang lebih lama untuk mengetahui pengaruh asap rokok kretek terhadap fertilitas tikus percobaan. Di samping itu perlu juga dilakukan penelitian dengan pemajanan asap rokok kretek pada tikus yang sedang bunting untuk mengetahui pengaruh asap rokok kretek terhadap anaknya.

ABSTRACT
In 1990 WHO focused the negative effects of cigarette smoke on the: high risk on human female health. Studies in connection with the effects of cigarette smoke on human female health, especially on re-production aspects has been done experimentally in rats.
The purpose of the present study was to investigate the effect of cigarette kretek smoke on the length of estrous cycle and the offspring of rats. To achieve these goals, a research has been Carried out by using female rats (LfR strain), 120 - 135 grams body weight and 3 - 4 months old were kept in a controlled environment and fed a standard rat diet. All female rats were deviled randomly into 6.grouns of 4 rats each and treated as follows.
The first 3 female rats of each group were exposed to cigarette kretek smoke (one cigarette kretek for one rat). The remaining one female rat served as treated control. The rats belonging to the experimental groups were put into a special cage (50 x 50 x 4Ocm). All sides of the cage were covered with athin piece of wood and only had 2 ventilation, Afterwards, the smoke of 3 cigarette kretek Were placed under the cage. The treated control rate were also put into other cage with identical applied to them, but were not exposed to the smoke.
Treated rats and control were analysis the estrous cycles from the vaginal smears that were taken daily.
The treatment was given every day for 35, 70, and 105 days (7, 14, and 21 estrous cycles) respectively. After a series treatment, all rats were mated to an adult male rats. The length of estrous cycles, the number of offspring, and the,number of absorpted embryos in the uterus (anomalies embryos) were noted. The data were analyzed by 2 statistical tests. Analysis of variance was used to test the significant differences of the length of estrous cycles, whereas Kruskal-Wallis test was used to evaluate differences in number of offspring;.
The result showed no effect of kretek smoke on the length of estrous cycles at three dose levels of kretek smoke. The same results were also found in the number of offspring. The interesting finding in the present work is an increasing number, female rats which not be-came pregnant (5D) by 10; days of treatment. And increasing the number of absorpted embryos in treated groups. We suggested that the harmful effects of kretek smoke will be more obvious by the extension smoke exposure, and may be there were harmfull effects of kretek smoke to embryo.
Based on the present results, further studies with longer exposure were needed in order to known the effects of kretek smoke on fecundity Also further studies with pregnant rats exposed to kretek smoke done in order to know the effect on its offspring.
"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Sugit Nugraha
"Latar Belakang
Kebisingan dalam suatu industri merupakan masalah dalam lingkungan kerja yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran ( auditory ) dan di luar pendengaran ( non auditory ). Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa kebisingan bisa meningkatkan risiko hipertensi.
Metode
Disain studi komparatif cross sectional dengan membandingkan dua kelompok yaitu kelompok pajanan bising (> 85 dB ) dan non bising ( < 85 dB ) di plant 3-4 Fri", Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2004.
Hasil
Dengan jumlah sampel masing-masing 100, didapatkan sebanyak 13% menderita hipertensi pada pekerja non bising, sedang pada pekerja yang terpajan bising 30% (lebih dua kali lipat daripada yang non bising). Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah adalah kebisingan (OR 2,2 Cl 1,4 - 5,9), indek masa tubuh (OR 2 CI 1,2 - 9,1) dan faktor pemakaian APD (OR 3,6 CI 1,4 - 9,5). Faktor usia, masa kerja, kebisaan hidup ( merokok, minum alkohol dan olahraga ) tidak terbukti berhubungan dengan tekanan darah.
Kesimpulan
Kebisingan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi. Pengetahuan tidak berhubungan dengan perilaku pemakaian APD. Pekerja yang tidak memakai APD mempunyai risiko 3,6 kali terkena hipertensi daripada yang memakai APD_Pemakaian APD dianjurkan mulai pada intensitas suara 65 dB dan pemeriksaan tekanan darah para. pekerja yang terpajan bising dilakukan 6 bulan sekali.

Background
The noise in industrial are the problem of work-environment that cause the hearing loss (auditory) and non auditory problem. Many research showed that the noise increased risk of hypertension.
Method
The research design was a compararative cross sectional study of group with high exposure of noise ( > 85 dB ) and group with low exposure of noise ( < 85 dB) in 34t plant of PT"I".
Result
The number of sample are 100, prevalence of hypertension was 13 % on worker at low exposure of noise, but prevalence of hyppertension was 30% on worker at high exposure (twice more than low exposure of noise). Statistical test showed a significant relationship between hypertension and high exposure of noise (OR 2,2 CI 1,4 - 5,9), body mass index (OR 2,0 CI 1,2 - 9,1), used ear protection (OR 3,6 CI 1,4 - 9,5). There was not a significant relationship between hipertension and age, work period, habit (alkoholism, smoking and sport).
Conclusion
High exposure of noise in environment is a risk factor of hipertension. Knowledge and using ear protection has no relationship in this study. Worker not using ear protection will have a 3.6 risk to hypertension. Recommendation to use ear protection at sound pressure level 65 dB and blood pressure examination each 6 month is needed for worker who are high exposure of noise.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T 13649
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pierpaoli, Walter
New York: Simon & Schuster, 1995
R 612.492 PIE m
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Omar Khalifa
"Penelitian ini meneliti tentang efek mendengarkan musik terhadap performa kognitif yang menuntut atensi. Sebanyak 69 partisipan (19 laki-laki dan 50 perempuan, dengan umur berkisar 18-34 tahun, dan latar belakang pendidikan sedang atau telah menyelesaikan program sarjana) dibagi ke dalam dua kelompok eksperimen (KE). Kedua kelompok eksperimen sama-sama diminta mengerjakan tugas kognitif yang menuntut atensi sambil mendengarkan musik. Data diambil secara individual dengan setiap partisipan KE 1 mendengar musik yang pernah mereka dengar sebelumnya. KE 1 kemudian dibandingkan dengan KE 2 yang mendengar musik yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Hasilnya, analisis t-test menunjukkan adanya perbedaan performa yang signifikan (p < 0,05) antara kedua kelompok. Dengan KE 1 memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi daripada KE 2.

This research studies the effect of music listening on cognitive performance that requires attention. By using an experimental design, 69 participants (19 male and 50 female, with age ranged between 18-34 years old) were assigned into two experiment groups (EG). Both EG were assigned to perform a cognitive task that requires attention while listening to a piece of music. The data was taken individually with each participant in EG 1 listened to a piece of music that he/she had heard before. As a comparison, EG 2 listened to a piece of music that he/she had never heard before. The performance of the two groups was compared by using a t-test analysis. The result shows a significant difference (p < 0.05) between the two groups with EG 1 having a higher mean then EG 2."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>