Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Megawati Diana Wulan
"Polipaduan poli(asam laktat) (PLA) dan polikaprolakton (PCL) dapat dibuat mikrosfer sebagai penyalut agen farmasetika untuk tujuan pelepasan terkendali. Kemampuan suatu mikrosfer untuk melepaskan agen farmasetika bergantung pada kemampuannya untuk terdegradasi. Keseragaman ukuran partikel mikrosfer, serta komposisi polipaduan akan mempengaruhi degradasi mikrosfer polipaduan. Dilakukan uji degradasi terhadap mikrosfer polipaduan secara in vitro dengan menginkubasi mikrosfer pada suhu 37˚C di dalam buffer fosfat pH 7,4 selama 8 minggu. Karakterisasi dilakukan terhadap penentuan persen kehilangan berat, pengamatan bentuk dan morfologi dengan mikroskop optik dan SEM. Persen kehilangan berat semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu inkubasi. Mikrosfer pada inkubasi minggu ke-1 diperoleh rentang persen kehilangan berat sebesar 8,8 ? 12,5 %, sedangkan pada minggu ke-8 diperoleh rentang persen kehilangan berat sebesar 20,6 ? 25,7%. Semakin besar komposisi PLA dalam polipaduan, persen kehilangan berat mikrosfer cenderung meningkat pada beberapa komposisi.

Polyblend of poly (lactic acid) (PLA) and polycaprolactone (PCL) microspheres could be prepared as a pharmaceutical coating agent for controlled release purposes. The ability of microspheres to release the pharmaceutical agent depends on its ability to degraded. Homogenity of particle size of microspheres and polyblend composition will affect the degradation of polyblend microspheres. In vitro degradation of polyblend microspheres was done by incubating microspheres at 37˚C in phosphate buffer pH 7,4 for 8 weeks. Characterization to determine the percent loss of weight, shape and morphology observation with optical microscope and SEM. Percent weight loss increased along with the length of incubation time. Microspheres at 1st week incubation has a percent weight loss th range from 8,8 to 12,5%, while at 8week has a percent weight loss range from 20,6 to 25,7%. The greater the composition of the PLA in polyblend, percent weight loss tends to increase in some compositions."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S22
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agie Ramadhan
"Alat fiksasi, sebagai alat bantu radioterapi dan berbahan dasar polimer, merupakan salah satu alat yang masih di-import ke Indonesia dari negara lain. Seiring dengan bertambah banyaknya penderita kanker yang memerlukan radioterapi maka kebutuhan akan alat ini juga semakin bertambah. Dalam penelitian ini dilakukan serangkaian pengujian untuk mengetahui jenis material dari polimer pembentuk alat fiksasi. Pengujian yang dilakukan meliputi Pengukuran densitas, FTIR, DSC, SEM, XRD dan VST. Hasil penelitian berdasarkan pengujian sifat fisik dan kimia dari bahan polimer alat fiksasi, dapat diketahui bahwa polimer polycaprolactone (PCL) merupakan bahan dasar alat fiksasi. Bahan fiksasi tersebut memiliki titik leleh pada 54,94 oC, densitasnya adalah sebesar 1,12 gram/cm3, dan memiliki titik lunak pada suhu 43,6 oC. Dengan mengetahui jenis bahan polimer, sifat fisik, dan sifat kimia bahan fiksasi, diharapkan Indonesia dapat memulai memproduksi alat fiksasi sehingga ketergantungan bahan import untuk keperluan radioterapi dapat dikurangi.

Fixation device, as radiotherapy tools and polymer-based is one tool which imported. With the increasing number of cancer patients who require radiotherapy therefore the need for this tool is also increasing. In this study conducted a series of tests to determine the type of material from polymer of fixation device. The test was conducted on measurement of density, FTIR, DSC, SEM, XRD and VST. The result based on testing of physical and chemical properties of polymer material fixation devices, it can be determined that the polymer polycaprolactone (PCL) is the basic ingredient fixation device. The fixation device has a melting point at 54.94 oC, the density is 1.12 gram/cm3 and has a softening point at a temperature 43.6 oC. By knowing the type of polymeric materials, physical properties, and chemical properties from material fixation, Indonesia to be expected to start producing fixation device so that the dependence of materials imported for radiotherapy can be reduced."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S54913
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alif Fauzan Asyrafi
"Nifedipin merupakan obat yang sudah umum digunakan dalam pengobatan hipertensi dan angina. Obat ini memiliki waktu paruh hanya 2-4 jam dan bioavibilitasnya yang rendah, sehingga perlu diberikan dengan dosis yang bertahap agar efektif. Dosis semacam ini merupakan dosis yang tidak menyenangkan bagi pasien dan besar potensi pelanggaran dosis. Maka dari itu, perlu dilakukan suatu pendekatan sistem penghantaran obat dengan pelepasan kontinyu. Salah satu pendekatan ini yaitu penggunaan polipaduan biodegradable poli(D-asam laktat) dan polikaprolakton dalam mikroenkapsulasi obat Nifedipin. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan mikrokapsul dengan metode penguapan pelarut dan penggunaan Span 80 sebagai surfaktan dan didapatkan hasil enkapsulasi paling baik berada pada komposisi PCL:PDLA 8:2 (%w/w) dengan besar enkapsulasi 84,33±1,58% dan Profil pelepasan obat terbaik pada komposisi 7:2 (%w/w) dengan Nifedipin yang lepas sebesar 10,743 mg (44,029%).

Nifedipine is a drug that is commonly used in the treatment of hypertension and angina. This drug has a half-life of only 2-4 hours and has a low bioavibility, so it needs to be given in a gradual dose to be effective. This dosage is an unpleasant dose for the patient and a large potential for dose violations. Therefore, it is necessary to do a drug delivery system approach with continuous release. One of these approaches is the use of polyblend biodegradable poly (D-lactic acid) and polycaprolactone in the microencapsulation of the drug Nifedipine. In this experiment, the making of microcapsules using solvent evaporation method and the use of Span 80 as surfactant and obtained the best encapsulation results in the composition of PCL: PDLA 8: 2 (% w/w) with percentage of encapsulation 84,33 ± 1,58% and Profile the best drug release in the composition of 7: 2 (% w/w) with release of nifedipine by 10.743 mg (44.029%)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hayatul Husna
"Pemanfaatan mikrosfer sebagai agen penghantar obat telah banyak dikembangkan. Polipaduan PLLA dan PCL digunakan sebagai bahan dasar pembuatan mikrosfer untuk meningkatkan kemampuan permeabilitas dan laju degradasi dari mikrosfer. Pada penelitian ini mikrosfer polipaduan dibuat dengan memvariasikan konsentrasi surfaktan, kecepatan pengadukan dispersi, dan waktu pengadukan dispersi untuk melihat pengaruhnya terhadap bentuk fisik mikrosfer, persen padatan mikrosfer yang diperoleh, serta ukuran dan keseragaman dari mikrosfer. Mikrosfer yang diperoleh dikarakterisasi dengan FT IR, PSA, dan Mikroskop Stereo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi surfaktan yang digunakan menghasilkan ukuran mikrosfer yang semakin kecil. Pada variasi kecepatan pengadukan, jika kecepatan pengadukan ditingkatkan diperoleh ukuran mikrosfer yang semakin kecil, namun setelah melewati kondisi optimum kecepatan yang terlampau tinggi mengakibatkan ukuran kembali besar karena meningkatkan kemungkinan mikrosfer yang belum padat untuk bertemu dan menyatu kembali Untuk variasi waktu pengadukan dispersi diperoleh waktu pengadukan paling baik yaitu 1 jam karena menghasilkan mikrosfer dengan ukuran terkecil dan keseragaman yang baik.

The use of microspheres as drug delivery agents has been widely developed. Polyblend is used as the base material for making microspheres to increase permeability and degradation rates of the microspheres. In this study, the polyblend microspheres were made by varying the surfactant concentration, the dispersion stirring speed, and the time of dispersion stirring to see the effect on the physical shape of the microspheres, the percentage of solid microspheres obtained, the size and uniformity of the microspheres. The microspheres obtained were characterized by FT IR, PSA, and Stereo Microscope.
The results show that the smaller the concentration of surfactants used will result in smaller sizes of microspheres. At variations in stirring speed, if the stirring speed is increased, the smaller the size of the microspheres will be. But after passing the optimum speed, the size of the microspheres will be enlarged again because it increases the possibility of the microspheres that have not been solid to reunite. For variations in the time of dispersion, the best stirring time is obtained 1 hour because it produces microspheres with small size and good uniformity.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library