Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 124 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"The objective of this research was to examine the optimum condition of enzymatic hydrolysis of shark protein by visceratic enzyme and trypsin ...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Kadar C-reactive protein (CRP) dalam plasma di laporkan meningkat pada individu obes."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Protein of seaweed . Seeaweds are consumed by people,especially who lived in the coastal areas....."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Antibacterial activity of temu kunci (Kaempferia pandurata ) essential coli against escherchia coli K1.1 cell analyzed . Activity of antibacterial essential oil was analyzed oil was analyzed through i it's ability to leak the escherichia coli K.1.1 wall and altering it...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Mayang Sari
"Protein adalah salah satu unsur dalam makanan yang terdiri dari asamasam amino yang mengandung unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan belerang. Identifikasi protein selama ini dilakukan dengan menggunakan metode spektroskopi konvensional misalnya spektroskopi UV-Vis dan metode Kjeldhal. Kedua metode ini membutuhkan persiapan sampel yang lama dan rumit, serta biaya yang mahal. Hal ini karena harus dilakukan pemisahan protein dari makromolekul yang lain yang tidak diinginkan dalam analisa. Spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared) merupakan salah satu metode baku untuk mendeteksi struktur molekul senyawa melalui identifikasi gugus fungsi penyusun senyawa. Identifikasi protein dilakukan dengan menganalisa serapan gugus fungsi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi protein dengan FTIR, dan mengenali puncak dari protein.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ke-empat sampel (keju hewani, keju nabati, susu dan mentega) protein dapat dikenali dengan tiga peak yaitu amida III (1240-1265 cm-1) , amida IV (633-721 cm-1), dan amida VI (551-586 cm-1). Peak untuk amida III mewakili gugus CN stretching dan NH bending, amida IV mewakili gugus OCN bending dan amida VI mewakili gugus out-of plane NH bending. kadar protein relatif per karbonil untuk susu, keju hewani, keju nabati, dan mentega adalah 0,67, 1,37, 2,17, dan 1,70 dengan kadar protein 9,47 %, 19,08 %, 30,67 %, dan 24,03 %.

Protein is one of the elements in food which consists of amino acids that contain carbon, hydrogen, oxygen, nitrogen, and sulfur. Identification of the protein had been done using conventional spectroscopic methods such as UV-Vis spectroscopy and Kjeldhal methods. Preparation of the sample for both methods were long enough, complicated, and expensive. This was because had to do separation of proteins from other macromolecules that are not desirable in the analysis. FTIR Spectroscopy (Fourier Transform Infra Red) is one of the standard methods for detecting the molecular structure of compound through the identification of functional groups that make up the compound. Identification is done by analyzing the absorption of the functional protein by Fourier Transform Infrared (FTIR). The aims of the research are to identify protein by FTIR, and describe their peaks.
The results of the research show that of four samples (cheese, vegetable cheese, milk, and butter), proteins can be identified by three peaks, that are amide III (1240-1265 cm-1), amide IV (633-721 cm-1), and amide VI (551-586 cm-1). Peak of the amide III represents the CN stretching and NH bending, amide group IV represents the OCN bending, and amide VI represents out-of plane NH bending. Protein relative levels per carbonyl for milk, cheese, vegetable cheese, and butter are 0.67, 1.37, 2.17, and 1.70 with a protein content of 9.47%, 19.08%, 30.67% , and 24.03%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S42221
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Matthews, Jacqueline M., editor
"This volume has a strong focus on homo-oligomerization, which is surprisingly common. However, protein function is so often linked to both homo- and hetero-oligomerization and many heterologous interactions likely evolved from homologous interaction, so this volume also covers many aspects of hetero-oligomerization."
New York: Springer, 2012
e20401725
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Benita Kurniawan
"Latar Belakang: Human Platelet Lysates (HPL) yang berasal dari platelet yang melewati masa simpan belum diketahui efeknya pada kultur HUVEC.
Tujuan: Mengevaluasi pengaruh waktu penyimpanan platelet pada HPL terhadap profil protein HUVEC.
Metode: HUVEC dikultur dengan FBS, HPL fresh, dan HPL extended diuji dengan SDS-PAGE.
Hasil: Intensitas band HPL fresh dan extended cenderung lebih tinggi. Ketebalan band HPL fresh dan extended lebih tinggi dibandingkan FBS pada band 4, dan lebih rendah pada band 3. Kisaran berat molekul protein HPL fresh dan extended tidak berbeda dibandingkan FBS.
Simpulan: Profil protein HUVEC menggunakan HPL fresh dan extended identik dengan FBS.

Background: The effect of Human Platelet Lysates (HPL) derived, from platelets that have passed normal shelf life was unknown on HUVEC.
Objective: To determine shelf-life effect on HPL as FBS alternative on HUVEC protein profile. Method: HUVEC were cultured with FBS, fresh, extended HPL, and analyzed with SDS-PAGE. Results: Band intensity of fresh HPL tended to be higher. Band thickness of HPL higher than FBS in band 4th row band, and lower in 3rd row band. No difference were observed in protein molecular weight range between HPL fresh, extended, FBS. Conclusion: HUVEC protein profile cultured with fresh, extended HPL is identical with FBS.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diana Lyrawati
"ABSTRAK
Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Adenine Nucleotide Translocator (ANT) adalah protein integral membran-dalam mitokondria yang berperan dalam pertukaran ATP dan ADP antara kawasan ekstra dan intramitokondria. ANT2, salah satu isoform yang disandi pada kromosom X, berperan pada penyediaan ATP glikolisis untuk jaiur metabolisme mitokondria dan replikasi DNA mitokondria. Variasi sekuens DNA pada suatu gen dapat mempengaruhi ekspresi dan fungsi protein yang disandi oleh gen yang bersangkutan, oleh karena itu mungkin berasosiasi dengan keadaan patologis tertentu. Dalam penelitian untuk program magister ini dilakukan studi untuk mempelajari adanya varian polimorfik ANT2. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab beberapa pertanyaan, antara lain: (1) apakah terdapat variasi pada sekuens gen ANT2 manusia (2) kalau terdapat variasi, apakah variasi sekuens tersebut cukup bermakna untuk mengubah konformasi protein ANT2 (3) apakah varian sekuens yang ditemukan pada gen ANT2 merupakan polimorfisme yang umum ditemukan pada populasi individu normal (4) apakah ada perbedaan distribusi dari berbagai varian ANT2 pada bermacam populasi dunia (5) apakah variasi sekuens ANT2 berhubungan dengan manifestasi mutasi pada DNA mitokondria.
Hasil dan Kesimpulan : (1) Hasil analisis sekuens daerah penyandi (ekson 1, 2, 3 dan 4) pada 4 individu dan sekuens yang telah dipublikasi menunjukkan adanya variasi ANT2 pada ekson 2 (332G>T) dan 3 (699C>T). Sementara itu analisis pada daerah yang tidak menyandi asam amino menunjukkan pada ekson 1 terdapat insersi GC pada nukleotida ke-20 dan substitusi, insersi, dan delesi pada ekson 4 (1021C>T,1022, 1075, 1123 berupa delesi A, C, C, dan pada 1127 berupa insersi T) yang tidak menyandi asam amino. (2) Dari studi prediksi struktur protein salah satu polimorfisme yaitu G332T mengakibatkan perbedaan asam amino yang bermakna (RI 1 1L) dan mengubah pola hidrofobisitas protein tersebut. (3) Untuk mengetahui apakah varian R11IL merupakan suatu polimorfisme, telah dikembangkan metode PCR-RFLP menggunakan enzim Hhal yang dapat mendeteksi varian R111L secara cepat dan sekaligus banyak. (4) Dengan menggunakan metode tersebut diketahui bahwa kedua varian ANT2 (11IR dan 111L) ditemukan pada populasi normal Kaukasia, Cina dan Indonesia (Java), akan tetapi dengan distribusi yang berbeda masing-masing 59%:41%, 61%:39% dan 78%:22%. Dari data tersebut nampaknya mutasi yang menimbulkan polimorfisme ini terjadi sebelum migrasi populasi ke berbagai belahan dunia. Perbedaan distribusi yang nyata pada salah satu etnik mungkin disebabkan oleh adanya genetic drift. (5) PCR-RFLP juga dilakukan pada beberapa anggota suatu keluarga dengan Leber's Hereditary Optic Neuropalhy dari Jambi yang disebabkan oleh mutasi pada mtDNA (11778G>A; R340H pada subunit ND4 dari kompleks I rantai respirasi).
Manifestasi klinik yang berbeda pada berbagai anggota keluarga yang membawa mutasi mtDNA ini mungkin disebabkan oleh adanya faktor pengubah ekspresi di DNA inti (nuclear modifier), kemungkinan pada kromosom X. Salah satu kandidat nuclear modifier adalah ANT2, akan tetapi dari studi ini nampaknya varian R111L tidak mempengaruhi manifestasi klinik mutasi homoplasmi I 1778G>A."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
R. Miftah Suryadipraja
"Menentukan rerata kadar Protein C-Reaktif sensitivitas tinggi (hs-CRP) pada penyakit jantung koroner, hubungan antara kadar hs-CRP dengan luas lesi koroner dan fungsi sistolik jantung. Telah dilakukan penelitian observasional dengan disain potong lintang terhadap 106 pasien penyakit jantung koroner yang meliputi 90 angina pektoris stabil, 11 angina pektoris tidak stabil dan 5 infark miokard akut. Dilakukan pemeriksaan kadar kuantitatif hs-CRP, angiografi koroner untuk menentukan luas lesi koroner dan ejection fraction. Rerata kadar hs-CRP pada luas lesi koroner SVD 5,5 ± 7,6 mg/L, DVD 6,6 ± 21,7 mg/L dan TVD 5,5 ± 8,0 mg/L dengan p=0,056. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kadar hs-CRP dengan luas lesi koroner. Fungsi sistolik jantung mempunyai korelasi negatif dengan kadar hs-CRP (p=0,015, r = -0,235). Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar hs-CRP tidak dapat menggambarkan luas lesi koroner, kadar hs-CRP mempunyai korelasi negatif dengan fungsi sistolik jantung. (Med J Indones 2003; 12: 201-6)

To determine the mean value of high sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP), association between plasma level of hs-CRP with extent of disease and systolic function. A cross sectional study had been conducted to 106 coronary artery disease patients (90 stable angina pectoris, 11 unstable angina pectoris and 5 acute myocardial infarction). Plasma quantitative level of hs-CRP with cor angiography to determine extent of disease and ejection fraction were measured. The mean of hs-CRP levels in patients with SVD were 5,5 ± 7,6 mg/L, DVD were 6,6 ± 21,7 mg/L and TVD were 5,5 ± 8,0 mg/L and p=0,056, respectively. There were no significant association between hs- CRP levels with extent of disease. Systolic function had negative correlation with levels of hs-CRP (p=0,015, r=-0,235). This study showed that plasma level of hs-CRP cannot reflect the extent of disease, and it had negative correlation with systolic function. (Med J Indones 2003; 12: 201-6)"
2003
MJIN-12-4-OctDec2003-201
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>