Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 104 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dwi Siswi Hariyani
"Laporan ini dilatarbelakangi isu spasial perkotaan yang berhubungan dengan pengaruh keberadaan kampus terhadap ruang umum di sekitarnya. Kajian spasial dilakukan pada akses-akses masuk kawasan kampus yang berupa penggal jalan. Keberadaan kawasan kampus yang direncanakan terhadap perkembangan kawasan sekitamya, memunculkan proposisi yang berkaitan dengan pembentukan ruang urban di sekitar kawasan kampus. Perkembangan ruang-ruang umum pada penggal jalan di sekitar kawasan kampus diperkirakan terjadi karena tidak ada perencanaan sebelumnya. Dengan mengajukan rumusan permasalahan, metode penelitian yang diterapkan secara umum adalah kualitatif. Dari proses analisis, didapat hasil bahwa keberadaan Kampus UGM berpengaruh terbentuknya ruang urban oleh deretan bangunan yang mengapit akses-aksesnya, tetapi tidak menciptakan karakter enclosure. Rasio ruang yang terbentuk oleh lebar bangunan terhadap tinggi bangunan adalah 1,6:1 hingga 2,5:1. Selain itu karena tidak ada kansep pengembangan kawasan yang jelas terhadap kawasan di sekitar kampus UGM, maka proses pengembangan dan perubahan yang terjadi di ruang-ruang urban menghasilkan ruang urban dengan kualitas ruang yang rendah. Ruang urban yang terbentuk di sekitar kampus UGM memiliki grain halus/kecil. Hal ini dipengaruhi oleh lokasinya yang dekat dengan kawasan kampus sehingga pengguna ruang urban didominasi oleh mahasiswa yang memiliki keterbatasan pendapatan. Dengan demikian gugus bangunan yang terbentuk bukan bangunan besar yang mewadahi bisnis skala besar. Skala yang terbentuk masih memiliki skala yang manusiawi. Hal ini dibuktikan oleh lebar jarak antar bangunan dan tinggi bangunan yang rata-rata memiliki rasio 1,9:1 atau 23 m:12m. Pola ini ditemukan pada penggal jalan yang menjadi akses utama dan akses internal. Namun, ketika pengguna tidak didominasi lagi oleh mahasiswa dan bercampur dengan masyarakat umum, gugus bangunan menjadi bervariasi, besar dan kecil. Hal ini disebabkan karena masyarakat penggunanya memiliki tingkat ekonomi yang bervariasi. Dengan demikian, gugus bangunan yang mewadahi kegiatan komersial mengikuti variasi tersebut. Skala yang terbentuk pada beberapa tempat dengan gugus bangunan yang besar sudah bukan skala manusiawi lagi. Hal ini dibuktikan oleh lebar jarak antar bangunan dan tinggi bangunan yang bisa mencapai lebih dari 1:2. Pala ini ditemukan pads penggal jalan yang menjadi akses umum.

The study background is raised from urban spatial issues, that relates to a campus influence on urban space. The study is about urban space on streets, a street as an access to campus. Propotition of study is the result of urban spaces surround campus is caused by no planning that anticipates development process. Generally, problems solved by qualitative research methode. The findings is UGM campus shapes urban spaces, that surrounds it. Urban spaces is shaped by buildings, which lay between street. The layout of buildings does not create enclosure character, because urban space ratio result is 1,6:1 to 2,5:1. Urban space ratio is distance between buildings related to height of building. There is no concept for development area surround UGM campus, it makes urban space quality result is poor. Urban spaces surround UGM campus, have a fine grain. It is caused by its location near to campus and urban user. The urban user is dominated by students, who has limited income. Thus, urban grain is shaped by small bisnis scale and urban space results human scale. On this case, it is proved by urban space ratio, that result is 1,9:1 or 23 m:12m. This pattern is located on main access and internal access. But, when urban space is used by students and public, urban grain result more varied, big to small. It is caused by variation of income level. Thus, urban grain result is varying. On this case, urban space does not result human scale. It is proved by space scale, that result is more than 1:2. This pattern is located on public access.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T16928
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Wulan Febrianto
"Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia tetapi kebutuhan akan rumah tinggal tidak sebanding dengan kemampuan masyarakat untuk mendapatkan rumah layak huni sehingga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan peningkatan kawasan kumuh khususnya di kota-kota besar. Untuk memeratakan pemenuhan kebutuhan pokok akan perumahan yang layak dengan harga terjangkau oleh daya beli masyarakat sekaligus meremajakan permukiman, pemerintah mendorong pembangunan rumah susun-rumah susun murah.
Pemindahan penghuni, dari rumah horizontal yang lebih individu ke rumah susun tentu diikuti permasalahan baru sehingga penghuni harus melakukan penanggulangan (coping) terhadap kondisi baru tersebut. Dalam disiplin ilmu Psikologi Lingkungan dikenal dua jenis coping, yaitu adaptasi (penyesuaian diri terhadap lingkungan) dan adjustment (penyesuaian keadaan lingkungan terhadap kondisi individu). Adjusment perlu dilakukan oleh penghuni terhadap keterbatasan ruang hunian karena melalui adaptasi saja tidak mungkin dapat menyelaraskan keterbatasan dimensi satuan rumah susun (unit) dengan kebutuhan ideal penghuninya, berupa tuntutan privacy, ruang pribadi dan teritorialitas. Tetapi ternyata adjustment yang dilakukan penghuni, membuat lingkungan menjadi tidak teratur dan kumuh kembali. Karena dilakukan dengan mengambil ruang publik, yang mengakibatkan rusak dan hilangnya ruang-ruang hijau permukiman dan ruang publik lainnya sehingga tidak dapat diakses oleh publik. Karena itu perlu diketahui karakteristik penghuni dan karakteristik hunian yang ada hubungannya dengan adjustment penghuni terhadap ruang publik. Karakteristik penghuni yang dimaksud adalah jumlah penghuni, usia penghuni. struktur keluarga, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengeluaran keluarga. Sedangkan yang dimaksud dengan karakteristik hunian adaiah tipe unit, posisi lantai dan posisi unit pada bangunan. Selain itu juga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola adjustment terhadap ruang publik yang berlangsung.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data, dan metode kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi untuk melengkapi data-data tersebut. Desain penelitian adalah deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel Stratified Random Sampling. Populasi penelitian adaiah penghuni yang bukan penyewa sehingga jumlah sampel seluruhnya adalah 70 responden atau 20% dari populasi, dan disebarkan pada seluruh blok yang ada di RSKK (8 blok).
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, didapat hasil penelitian berupa karakteristik penghuni yang ada hubungannya dengan adjustment penghuni terhadap ruang publik adalah jumlah penghuni dan struktur keluarga. Sedangkan karakteristik hunian, seluruh sub variabelnya ada hubungan dengan adjustment terhadap ruang publik, yaitu tipe unit, posisi lantai dan posisi unit pada bangunan. Jadi adjustment terhadap ruang publik lebih didorong oleh kesempatan dan potensi tata letak hunian terhadap blok RSKK.
Penelitian ini juga menghasilkan gambaran pola adjustment yang ada terentang antara bentuk melakukan adjustment terhadap ruang publik dan mampu beradaptasi (maladjustment -- well adaptive), tidak melakukan adjustment tetapi mampu beradaptasi (well adjustment - well adaptive), dan melakukan adjustment terhadap ruang publik tetapi tidak beradaptasi (maladjustment-maladaptive).
Jika adjustment tidak diredam dapat mendorong terjadinya konflik sosial berupa perebutan lahan dan terjadinya kekumuhan kembali di wilayah tersebut karena itu perlu diatur mengenai jumlah anggota keluarga dan struktur keluarga yang disesuaikan dengan luas unit, penegakan peraturan mengenai pemanfaatan ruang publik untuk kepentingan bersama jika perlu meremajakan kembali RSKK. Usulan bagi pihak yang terkait dengan rumah susun adalah, sebaiknya unit rumah susun tidak diperjualbelikan melainkan disewakan, sosialisasi kepada para calon penghuni mengenai seluk beluk kehidupan di rumah susun. Usulan dalam mendesain rumah susun selanjutnya adalah, sirkulasi vertikal (tangga) sebaiknya diletakkan di ujung bangunan, hal ini untuk mencegah pengambilan ruang publik di area tersebut, dan lantai dasar digunakan seluruhnya untuk kepentingan umum.
Sebagai bahan diskusi, perlu adanya penelitian lanjutan mengenai persepsi penghuni terhadap ruang publik yang dikaitkan dengan kondisi hunian mereka sebelum tinggal di rumah susun. Hal ini untuk mempelajari lebih dalam lagi hal-hal yang mendorong mereka mengambil ruang publik. Sehingga diperoleh gambaran yang lebih akurat tentang pengalaman ruang penghuni sebelum menghuni rumah susun.

Housing is the very basic need of people's living necessity; although such need does not necessarily on the same wavelength with their purchasing power, and because of this reason, there has been diminishing quality on public space an ever-increasing worrying growth of slums on almost every corner of the city. To provide and accommodate this particular need of affordable housing and to rejuvenate public residences, the government has set in motion the concept of vertical housing.
The allocation of tenants from a more individual horizontal housing will probably generate new problems as well, which requires new tenants to perform coping to new living conditions. Environmental Psychology recognize 2 categories of coping, which is adapting (individual to environment); and adjustment (modification of environment to individual condition). Adjustment is required to be acted upon by the tenants towards their living space, since adapting alone will not be suffice to harmonize the space limitation in the architectural design of the Vertical Housing Unit to match their ideal living space (such as privacy and territory). The physical alterations done by the tenants prove to have significant consequence to the disorganizing of the environment mentioned above. This occurred due to the adapting and adjusting process usually claims the public space. Therefore, this has cause the loss and diminishing of green area and makes some public space inaccessible.
Therefore, the characters of tenant and housing play major role in the tenants' adjustment on public space. Tenant's characters comprises: the number of family member, age, family structure, genders, education level, expenses. In contrast, housing characters are: unit type, floor position and unit position in the building. The research is conducted to explore the pattern of ongoing adjustment on public space.
The method used in this research is: the quantitative and qualitative method, and also descriptive research design. Data collection is acquired from the utilization of 70 questionnaires, interviews and observation. In which the data obtained is processed using the SPSS 14 analysis program for windows.
Base on analysis results and discussions, the research provide evidence that the number of family members and family structure are the tenant's characters which have direct correlation to tenant's adjustment on public space. While the housing character with all its sub variables that provide direct correlation to the adjustment on public space are: unit type, floor position and unit position in the building. Accordingly, adjustment on public space is driven by the opportunity on the housing design potentials on RSKK block.
This research also provide a clear picture on adjustment pattern that stretched into form of maladjustment - well adaptive, well adjustment - well adaptive, and maladjustment maladaptive. If these adjustments are not restrained, it will generate social conflict such as space dispute and the forming of slums on the area. Therefore, reorganization on the number of family members and family structure is required, which will adjust to the unit size and regulation enforcement on the utilization of public space based on common interest, and also to rejuvenate RSKK. The application of this idea is: to rent the unit instead of selling it. Impose the living rules and customs to new tenants. Next is the proposed ideas on design are: vertical circulation (stairs) are better to be positioned on every corner of the building, hopefully this will help prevent public space invasion on the area, and that ground floor are to be put to better use for public affairs.
For discussion matters, it is necessary to have further research on tenant's perception on public space relevantly to their pre-living conditions. This way, we will be able to delve deep on the things that encourage them to invade public spaces. Therefore, we will have clearer understanding and more accurate picture on the tenant's space experience before living in RSKK.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2006
T18139
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Husin
"Untuk menunjang keberlangsungan kehidupan di kota metropolitan, Pemerintah Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta telah melaksanakan pembangunan di berbagai sektor. Mengingat kondisi dan kawasan yang dimiliki DKI Jakarta maka pembangunan yang dilaksanakan sangatlah kompleks.
Pesatnya pertumbuhan penduduk selain menyebabkan kebutuhan akan ruang sangat tinggi juga menjadikan pembangunan fisik kota tidak terstruktur secara baik sehingga pemanfaatan lahan sebagai sumber daya alam yang terbatas menjadi tidak efisien.
Hal ini juga terjadi pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota Jakarta, tercermin dari banyaknya RTH yang berubah fungsi .menjadi kawasan bentuk lain. RTH mempunyai fungsi yang penting baik bagi lingkungan alam maupun lingkungan buatan dan lingkungan sosial. Pertimbangan dalam penataan dan pengelolaan RTH di kota-kota besar sering kali mempunyai konflik yang tinggi antara upaya pemanfaatan dan kelestarian lingkungannya sehingga diperlukan penataan ruang yang jelas dan terpadu. Dalam pengelolaan RTH sering terjadi tumpang tindih atau konflik antara wewenang dan kepentingan. Konflik wewenang meliputi: perencanaan, pembangunan, pelaksanaan, dan pemeliharaan.

To support the life sustainability in metropolitan city, regional government (pemda) of DKI Jakarta has conducted the development in various sectors. Considering the condition and the area of DKI Jakarta, the development of this region is very complex.
The rapid population growth, besides causing the need of spaces increasing also resulting development of the city is spahaly. So, the land-use as a limited nature resource becomes inefficient.
This is also happened in public space/open space area in Jakarta, which reflected from its functional change which becomes the other form area. The open space area has important functions, for natural environment, urban green space man made environment or cultural environment. Consideration in settlement and management of open space area in big cities frequently has high conflict from the effort of the utility and continuity of the environment. So it is need to have the right and integrated of space management. in management of open space area often happened conflict or overlap between authority and conflict of interest which is caused by the weak of coordination between related institution. Conflict of authority cover: planning, development, and conservancy.
"
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2005
T15247
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Achmad
"Perkembangan kota dan kemajuan teknologi telah mengembangkan penggunaan alat angkut yang bersifat kolektif. Sebuah kota metropolitan mensyaratkan ketersediaan sistem transportasi umum yang baik. Sistem ini harus pula didukung infrastruktur yang terencana baik moda transportasi maupun sarana pendukungnya, termasuk terminal dan halte. Terminal harus dapat menjalankan fungsinya dengan efektif dan memudahkan semua kalangan pengguna secara umum. Dalam hal ini, Tanda Informasi sebagai kebutuhan elementer di terminal terkadang terlupakan fungsinya. Bagaimana sebuah bahasa visual dan atau gambar tertulis yang sistematis dapat menavigasi, memandu, memudahkan, mengamankan dan melindungi manusia yang berlalu lalang dengan berbagai tujuan yang berbeda daiarn sebuah ruang publik.
Terminal bus Blok M sebagai terminal yang paling representatif di DKI, saat ini memang masih berfungsi sebagai terminal, pertemuan bus dengan penumpang naik-turun penumpang. Tetapi aspek pelayanan terhadap kemudahan informasi, kenyamanan, dan keselamatan para penumpangnya sudah terkubur bersama mati fungsinya sistem tanda informasi yang ada. Kesemrawutan pun terjadi dan masih terus berlangsung.
Penelitian ini bermaksud mengurai permasalahan dan hubungan kesemrawutan dengan keberfungsian tanda informasi yang ada. Dilakukan secara kualitatif melalui observasi dan survei lapangan, kajian teori hingga pengamatan ke beberapa kota di negara lain dengan harapan akan ditemukan titik-titik permasalahan yang dapat diuraikan dan dibenahi nantinya.
Dari hasil pengamatan dan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terminal BIokM sebagai terminal transit masih dapat berfungsi semata sebagai alat distribusi penumpang. Tetapi sistem tanda Informasi yang mendukungnya, walaupun masih cukup disadari keberadaanya, sudah tidak berfungsi sesuai tujuannya. Ribuan pengguna terminal yang berinteraksi tanpa panduan dan kejelasan informasi merupakan pangkal kesemrawutan yang terjadi.
Penulis berasumsi bahwa pembenahan tanda informasi akan berperan penting .dalam memperbaiki kualitas terminal, tetapi dengan menyadari sepenuhnya terhadap sayap persoalan secara makro. DiperIukan penelitian lanjutan yang menyoroti masalah besar lain yang saling berkaitan di terminal BlokM, diantaranya : masalah efisiensi arsitektural ruang publik, masalah manajemen dan swastanisasi terminal, masalah kualitas alat transportasi yang melalui terminal, masalah sosial (kaki lima) di terminal, masalah prilaku dan disiplin masyarakat dan masalah aturan dan hukum yang dapat diberlakukan dalam mendukung kelancaran transportasi perkotaan.

The progression of the city and the advancement of technology has created the need and use for collective transportation. A metropolitan city's regulation neccesities are for a good system of transportation. This system has to be able to support the well planned infrastructure of transportation and all the supporting aids that go along with it; this includes its terminals and stations. A terminal's usage is targeted to be accessible and easy for all persons in the general public. In correlation to this point, the sign guide's function as the elementary need of a terminal is often forgotten. Focusing on this point however, a visual language and or picture written systematically is able to navigate, guide, facillitate easily, protect and safe-guard an individual that is busy going about their daily lives with different purposes within a public space.
The bus terminal, BlokM Terminal, as the most represented terminal in DKI at the present moment still functions as a terminal, a bus station with commuters entering and departing. But the service aspect towards the accessibility of information, comfort, and the safety of its commuters have become buried along with the dead dysfunctions of the information signs system that is existing today. Much chaos still occurs and still continues to continue.
This research is focused towards tackling the problems and relationships of the chaos that occurs within the functioning of information signs that exists today. This is done qualitatively through observation and field surveys, theoretical reviews until exchange studies; with the hope that the main points of the problems are able to arise to the surface and be explained and fixed at a latter time.
From observation results and research that was completed, it is possible to conclude that the Blok M terminal as a transit terminal is still able to function as a transport distribution tool for the commuters. But the information signage that is supposed to support the terminal although still in the awareness of the public, is not currently functioning as it is purposed to be. Thousands of commuters interact without any clear guide or information clarity which is the center or reason behind the chaos that occurs in public transit terminals.
The writer assumes that with fixing the information signs, its role is significant to improving the quality of the terminal. Realizing the macro affects of the problem at hand, further research is needed to assess the other major problems which accompany and interrelate with the Blok M terminal. Such problems are : architectural efficiency of a public space, management problems (terminal privatization), quality aspects of the transport that enters and departs from the terminal, social problems (side-road) at the terminal, problems of social behavior and conduct, public discipline, and the regulations and laws that are applicable in supporting the ease of metropolitan transportation.
"
2005
T20562
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Milka Vincentiya
"Skripsi ini mengenai hubungan antara aktor, dalam konteks ini antara stranger dengan stranger, dan aktor dengan lingkungan sekitarnya.  Dengan adanya perubahan makna dari stranger yang awalnya stranger adalah, orang yang tidak termasuk dalam lingkungan tempat seseorang tinggal, menjadi orang lain yang memiliki kesamaan umum dengan seseorang tersebut. Karena, sekarang kita berada pada tahap appearance dari spectacle, yang mana kita akan menilai sesuatu berdasarkan apa yang kita lihat atau tampak, skripsi ini menggunakan teori coding appearance, yang mana aktor akan beraktivitas berdasarkan tiga hal, yaitu: lokasi (location), appearance, dan sikap (behavior). Para aktor ini akan bersikap dan membawa properti menyesuaikan dengan ruang publik (lokasi), sebaliknya ruang publik juga dapat memengaruhi aktor dalam bersikap dan properti yang dibawa. Lalu, interaksi yang terjadi antar-stranger dalam ruang publik ini dapat terlihat dari keberadaan shield of privacy yang tidak bisa dilihat secara fisik namun, dapat diukur secara keruangan.

This study focusing in the relationship between actor, in this context stranger with stranger, and actor with the surrounding. Stranger then was categorized by those who did not live in someons living territory, and now stranger categorized as the people who have the same commonness with someone. With the state of appearance in spectacle, where we judge based on what we see (what appear in front of us), this study mainly use the theory about coding appearance, where actor will act based on three things: location, appearance, and behavior. They behave (behavior) and bring property (appearance) as what supposed in that public space (location), also the public space may affect the behavior and appearance of the actor. In the same location, interaction between stranger could be seen in the existence of shield of privacy, that is not physical but it is there with a measurement in space."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Maya Widyasrini
"Skripsi ini membahas bagaimana terbentuknya aktivitas ruang terbuka publik atau 'ruang peristiwa' pada koridor distro dan gerai makan di Jalan Tebet Utara Dalam, serta dampaknya terhadap aktivitas pengunjung di jalan tersebut. Skripsi ini merupakan studi kasus dengan pengamatan langsung pada Jalan Tebet Utara Dalam yang terbagi atas lima area pengamatan, dengan rentang waktu pengamatan antara jam 16.00 hingga jam 22.00.
Hasil pembahasan menyarankan perlu adanya ruang terencana dalam pembentukan ruang peristiwa yang baik, sehingga mampu mewadahi aktivitas di dalamnya serta tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan di sekitarnya; pemilihan lokasi untuk ruang peristiwa sebaiknya terjadi pada ruang yang belum digunakan dan berpotensi; serta perlu adanya sarana dan prasarana yang memadai berupa peraturan yang jelas bagi para pihak yang terlibat dengan terbentuknya ruang peristiwa.

The focus of this study is to analyze the formation of activities in public open space mentioned as 'happening space' within distribution outlet and food station corridor of Tebet Utara Dalam street, and the effect of the formation towards visitor activities in that place. This is a study of case that is done by doing an observation at Tebet Utara Dalam street which is divided into five areas with the stretches of time between 4 to 10 p.m..
The researcher suggests that a planned space is needed to form a good happening space so that it could provide a place for the activities and doesn't give bad effect to the environment; the selection of location for happening space should be in unused space and potential; and also it needs sufficient infrastructure, such as clear regulation for all persons who get in charge for the hapenning space formation.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1149
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sagita Devi
"Gejala suburbanisasi atau urban sprawl menjadikan kawasan perkotaan meluas secara acak dan tidak terkendali ke kawasan di sekitar kota. Hal ini menyebabkan kawasan terbangun menjadi lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan penduduk sehingga jarak pergerakan yang harus ditempuh penduduk kota menjadi lebih panjang. Hal ini menyebabkan meningkatnya ketergantungan penduduk yang tinggal di pinggiran kota terhadap kendaraan pribadi yang akhirnya menyebabkan masalah lain seperti kemacetan lalu lintas, peningkatan konsumsi energi, hilangnya waktu karena terlalu lama berada di perjalanan bagi penduduk komuter, semakin sedikitnya lahan untuk berjalan kaki dan bersepeda, serta pencemaran udara yang menurunkan kualitas ruang kota.
Sebagai jalan keluar, diperlukan peningkatan terhadap fasilitas transportasi umum yang ada sehingga penduduk dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi umum. Untuk mempermudah penduduk mencapai lokasi yang mereka tuju, terciptalah modamoda transportasi yang menjadi titik pertemuan beberapa angkutan umum yang ada. Selain itu, konsep penataan kota dengan sistem TOD (Transit Oriented Development) juga dikembangan dengan mengutamakan perbaikan di sekitar titik transit sehingga menjadi ruang publik yang nyaman.
Area transit yang menjadi ruang publik kota menjadi sebuah tempat berkegiatan bagi penduduk kota dari berbagai latar belakang. Permasalahan yang terjadi adalah seringkali terjadi privatisasi terhadap bagian dari ruang transit yang seharusnya menjadi ruang publik. Selain itu seringkali terdapat disorder seperti penyalahgunaan fungsi ruang dan penempatan sesuatu yang tidak pada tempatnya sehingga membuat ruang transit menjadi tidak teratur dan tidak nyaman bagi para penggunanya.

Suburbanisation or urban sprawl makes urban areas expanded randomly and uncontrolled into the region around the city. It causes the built area becomes greater than the population growth rate, so the distance of movement of city dwellers becomes longer. This led to the increasing dependence on private vehicles for the people who are living in the suburbs, that eventually lead to another problems such as traffic congestion, increased energy consumption, loss of time due to spending long hours in travel for commuter population, the least land for walkers and cyclists, as well as air pollution that degrade the quality of urban space.
As a way out, we need some improvements to the existing public transport facilities so that people switch to using public transportation and reduce their dependence on private vehicles. To facilitate the population reaching their destination, there are some modes of transportation which become a meeting point of several public transportations. In addition, the concept of urban settlement system with TOD (transit Oriented Development) is also developed by giving priority to transit improvements that it becomes a comfortable public space.
Transit area as a public space in the city becomes a place to do some activities for the city residents from different backgrounds. But, in public space, there are many people who place their private space in public space, and make that space as disorder space. In addition, there are also some disorder such as the transition function of space and the placement of something that is not in its place and make a transit area become irregular and inconvenient for its users.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S901
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kosa Lawazardi
"Skripsi ini membahas mengenai bagaimana terciptanya ruang akibat aktifitas para pesepeda. Aktifitas ini berujung kepada penambahan fungsi pada ruang publik sehingga menjadi ramai dan diminati pengunjung. Studi kasus berada di Bundaran Hotel Indonesia pada saat diadakan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day). Pembahasan mencakup mengenai makna ruang, produksi ruang, dan hubungan yang terjadi antar manusia dan ruang. Waktu merupakan salah satu unsur utama dalam analisa pada studi kasus. Penemuan dari penulisan ini adalah bahwa ruang-ruang yang tercipta pada acara CFD antara lain adalah ruang untuk melakukan usaha, ruang untuk berkumpul dengan komunitas, dan ruang untuk rekreasi.

This study is about how the production of space due the activities of the cyclists. This activities led to the addition some functions into the public space that attracts many people. The study case used is at the Bundaran HI on the Car Free Day event. The investigation includes the term of space itself, the production of space, and the connection between the place and the people. Time is one of the main point to be analyzed in the study case. The findings from this study are that the spaces created at the CFD include the space to do business, the space to gather with the community, and space for recreation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42716
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Miktha Farid Alkadri
"Skripsi ini membahas pemanfaatan ruang dikolong jembatan dan jalan layang bila dimanfaatkan sebagai ruang publik dengan mengambil studi kasus ruang kolong jembatan layang Tanjung Barat. Pembahasan mencakup mengenai ruang publik, ruang-ruang tidak terpakai atau lost space, perilaku manusia berkaitan dengan penguasaan ruang atau defensible space serta elemen-elemen arsitektur pembentuk ruang, termasuk pembentuk ruang publik.
Kesimpulannya adalah bahwa ruang kolong jembatan layang atau fly over, khususnya studi kasus fly over Tanjung Barat sebagai ruang sisa memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik. Penggunaan warna, lighting, material, dan instalasi seni menjadi sebuah gagasan yang berarti dalam hal intervensi menuju ruang publik. Pemnafaatan lahan sisa dengan intervensi yang tepat akan memberikan wajah baru bagi sebuah kota dan membentuk ruang publik yang terintegrasi dengan lingkungannya.

This study investigates the utilization of space located under flyover and elevated roads of public space. The case used is the space under the Tanjung Barat flyover. The investigation includes the nature of public space, the underutilized space or lost space, human behavior related to space or defensible space, and the architectural elements that make the space, especially related to public space.
The conclusion of this study is that underutilized space under flyovers, including those located under the Tanjung Barat flyover potentially can be utilized as public space. The use of color, lighting, building materials, and art installation can be included in the architectural intervention create good public space.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S1479
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>