Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Luluk Azkarini
"Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan tutupan lahan pada suatu daerah akan semakin besar. Pada tahun 2017, presentase lahan yang sudah terbangun di DTA UI pada bagian luar kamus UI Depok mencapai 95 dan pada bagian dalam kampus UI mencapai 20 yang selalu bertambah setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan volume limpasan permukaan. LID adalah salah satu metode untuk mengelola limpasan hujan untuk kawasan skala mikro. Bangunan LID dirancang untuk mengelola hujan dengan spektrum ringan sampai sedang. Salah satu alat yang dapat mensimulasikan peletakan bangunan LID adalah BMP Siting tool. Penelitian terdahulu sudah menghasilkan suatu usulan terapan berbagai bangunan LID-BMP di DTA UI Depok dengan menggunakan bantuan BMP Siting Tools.
Pada penelitian ini bertujuan untuk membandingkan volume limpasan permukaan tanpa dan dengan adanya bangunan LID pada DTA UI Depok serta menghitung efektifitas bangunan LID untuk berbagai spektrum hujan. Dengan menghitung nilai CN yang terjadi akibat adanya perubahan tata guna lahan setelah penerapan bangunan berkonsep LID di DTA Kampus UI Depok maka akan mempengaruhi besar volume limpasan di DTA tersebut.
Bangunan berkonsep LID yang digunakan adalah bioretention, porous pavement, infiltration trench, infiltration basin, vegetated filterstrip, sand filter nonsurface, sand filter surface, rain barrel dan grassed swales. Sand filter merupakan bangunan termudah dan terbanyak yang dapat dibangun di DTA UI menurut BMP Siting Tools. Efektifitas penurunan volume limpasan setelah peletakkan bangunan LID-BMP terhadap kondisi eksisting bervariasi dari 3-30 dengan efektifitas terbesar menggunakan teknologi sand filter surface/nonsurface.

High population growth rate will increased the impervious land cover in a certain area will be greater. In 2016, the percentage of impervious area in DTA UI Depok has reached 95 on the outside Campus UI and on the inside reaches 20 which is always increasing every year. This condition causes the surface runoff volume will increase. LID is a new paradigm for stormwater management in micro scale areas. LID infrastructure is designed to manage stormwater for light to moderate rainfall spectrum. Previous research has produced an applied proposal of various LID BMP infrastructure in UI catchment area, Depok, by using BMP Siting Tools.
This study aims to compare the volume of surface runoff without and with the LID infrastructures on UI catchment area, Depok, and to calculate the effectiveness of LID infrastructure for various spectrum of rainfall. By calculating the CN value that occurs due to the change of land use after the implementation of LID concept building in DTA UI Depok Campus it will affect the volume of runoff at the DTA.
The LID infrastructures used are bioretention, porous pavement, infiltration trench, infiltration basin, vegetated filterstrip, nonsurface sand filter, sand filter surface, rain barrel, green roof and grassed swales. By applying said infrastructures, the reduction of peak flow on various rain spectrums various from 3 30 with the greatest effectiveness using sand filter surface nonsurface technology.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
T. Najlaa Taqiyyah Syahirani
"Kondisi Jakarta sebagai kota delta dan berdiri di dataran yang terbuat dari endapan aluvial serta dialiri oleh 13 sungai dari berbagai penjuru kota membuat Jakarta sering dilanda oleh bencana alam yang terkait dengan elemen air, salah satunya adalah banjir runoff, yang disebabkan oleh kapasitas air sungai yang tidak dapat menampung tambahan volume air sehingga air meluap dan luapan air sungai pun tidak dapat diserap kembali oleh permukaan lahan sehingga menggenang ke wilayah yang rentan oleh banjir dan mengganggu aktivitas penduduk. Dengan kondisi tersebut, dibutuhkan resiliensi wilayah terhadap bencana banjir runoff, yang dapat dicapai dengan cara pembangunan infrastruktur yang dibangun secara holistik terhadap elemen air kota, yang berupa infrastruktur yang mengakomodasi penampungan sementara air hujan yang jatuh. Dengan mempelajari contoh-contoh yang berasal dari dua lokasi dengan konteks yang cukup mirip, ditemukan bahwa dalam membangun sebuah infrastruktur air dalam skala neighborhood, diperlukan pengertian dalam konteks dan aktivitas sehingga aspek sosial-ekologis dari area tersebut dapat saling berkaitan dan membantu area mencapai resiliensi, khususnya resiliensi terhadap banjir runoff yang terjadi di area neighborhood.

ABSTRACT
Jakarta`s condition as a delta city and standing on a land made of alluvial deposits and flowing by 13 rivers from various parts of the city makes Jakarta often hit by natural disasters related to water elements, one of which is runoff flooding, which is caused by river water capacity that is not can accommodate additional volume of water. The additional volume of water then overflows and cannot be reabsorbed by the land’s surface and puddles into areas that are vulnerable to flooding and disrupts the activities of the population. Under these conditions, regional resilience to runoff floods is needed, which can be achieved by developing holistic infrastructure for the city water element, in the form of infrastructure that accommodates temporary storage of falling rainwater. By studying examples from two locations with fairly similar contexts, it was found that in building a water infrastructure on a neighborhood scale, understanding in context and activities are needed so that the socio-ecological aspects of the area can be interconnected and help the area achieve resilience, especially resilience to runoff floods that occur in the neighborhood area.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ressa Kusuma
"ABSTRACT
Water Sensitive Urban Design WSUD systems have the potential prevent the hydrologic disturbance and water quality concern associate with storm water runoff due to land change from urban development. WSUD have been strongly recommended to be used and new developments in every city in Australia are regulated. However, Indonesia still developing the rule but not deeply studied the idea and concept of WSUD. The objective of this research is to comparing available system in sustainable city of case study to the concept that is used in Australia. The main idea of why it is applied in Australia is due to most of the land use are impervious area which is increase in runoff peak and develop industrialize region.

ABSTRAK
Water Sensitive Urban Design WSUD system memiliki potensi mencegah gangguan dan menambah kualitas air dari limpasan air hujan akibat perubahan lahan dari pembangunan perkotaan. WSUD telah disarankan untuk digunakan dalam perkembangan baru di Australia. Indonesia masih mengembangkan aturan tetapi tidak mendalam mempelajari ide dan konsep WSUD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan sistem yang tersedia di kota yang berkelanjutan dari studi kasus dengan konsep yang digunakan di Australia. Ide utama mengapa konsep WSUD diterapkan di Australia adalah karena industrialisasi sebagian besar penggunaan lahan hijau berubah dan mengakibatkan puncak limpasan besar.
"
2017
S68959
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Paskasius Andrew Nandya Pradanantyo Soeradji
"Urbanisasi Jakarta telah mengurangi fungsi hidrologi, memicu banjir musiman dengan peningkatan area terbangun 51%, ruang hijau berkurang menjadi 5%, serta perubahan iklim yang mengintensifkan suhu (27-30°C) dan curah hujan 12%, sementara drainase konvensional yang hanya mampu menangani 50-70mm/hari gagal saat kejadian ekstrem menyebabkan banjir ketika curah hujan melebihi 92mm/hari. Penulisan ini mengkaji sistem swale sebagai Nature-Based Solutions untuk pengelolaan air hujan perkotaan dalam konteks Jakarta. Tulisan ini menerapkan prinsip National Association of City Transportation Officials (NACTO) Urban Street Stormwater Guide yang berfokus pada perlindungan sumber daya alam, desain resiliensi, dan optimasi kinerja, serta teori Active, Beautiful, Clean Waters Singapura yang menekankan integrasi ruang biru-hijau-komunitas. Penelitian mengkaji karakteristik ini melalui tinjauan literatur dan analisis komparatif tiga studi kasus: implementasi bioswale di Palmerah Timur, desain standard swale di Pulau Tengah, dan aplikasi wet swale di Tebet Ecopark. Hasil menunjukkan swale mencapai reduksi limpasan 1-88% dengan kemampuan penyisihan polutan signifikan. Komponen rekayasa mencakup media tanah, check dams, underdrains, dan vegetasi lokal untuk mengoptimalkan kinerja dalam kondisi permeabilitas rendah Jakarta, namun memerlukan integrasi holistik dengan nature-based solutions lainnya untuk memaksimalkan potensi NBS secara keseluruhan.

Jakarta's urbanization has degraded hydrological functions, triggering seasonal flooding with built-up areas increasing 51%, green spaces reduced to 5%, climate change intensifying through rising temperatures (27-30°C) and 12% increased precipitation, while conventional drainage handling only 50-70mm/day fails during extreme events causing floods when rainfall exceeds 92mm/day. This study examines swale systems as Nature-Based Solutions for urban stormwater management in Jakarta's context. The research applies National Association of City Transportation Officials (NACTO) Urban Street Stormwater Guide principles focusing on natural resource protection, resilience design, and performance optimization, alongside Singapore's Active, Beautiful, Clean Waters theory emphasizing integrated blue-green-community spaces. This study examines these characteristics through literature review and comparative analysis of three case studies: bioswale implementation in Palmerah Timur, standard swale design in Pulau Tengah, and wet swale application in Tebet Ecopark, evaluating swale design performance across different urban implementation scales. Results demonstrate swales achieve 1-88% runoff reduction with significant pollutant removal capabilities. Engineered components including soil media, checkdams, underdrains, and indigenous vegetation optimize performance within Jakarta's low-permeability conditions. However, swales cannot be implemented as standalone systems but require holistic integration with other nature-based solutions to channel or retain runoff before entering conventional urban drainage, maximizing overall nature based solution (NBS) potential. Within smaller urban contexts such as residential areas, swale design adaptability presents particular architectural significance through their flexible construction methodology and implementation approach, enabling community-level sustainable stormwater management while fostering local engagement in urban environmental solutions."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kaufman, Martin M.
Boca Raton : CRC Press, 2011
363.728 4 KAU u
Buku Teks  Universitas Indonesia Library