Search Result  ::  Save as CSV :: Back

Search Result

Found 3 Document(s) match with the query
cover
Yungki Aldrin
"Fenomena denda damai merupakan hal yang sering terjadi dalam situasi berlalu lintas. Hal ini tentu saja akan menyebabkan buruknya Citra Polisi Ialu lintas di mata masyarakat, meskipun kedua belah pihak diuntungkan. Skema yang terbentuk dari pengalaman denda damai pada seseorang, tentunya akan berbeda dengan yang tidak pernah melakukannya. Dengan adanya asumsi ini, peneliti berusaha mamanfaatkan salah satu teori kognitif sosial untuk memahami dan menjelaskan tingkah laku denda damai ini khususnya yang dikaitkan dengan skema yang terbentuk pada individu.
Metoda penentuan sample pada penelitian ini dilakukan secara 'purposive sampIing', dangan teknik pengambilan sample 'accidental sampling'. Subyek dalam penelitian ini terbagi menjadi mahasiswa yang pernah melakukan denda damai dan yang tidak pernah melakukannya. Alat pengumpul data berupa ?Sentence Completion Test?.
Beberapa hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah, pertama, tidak ada perbedaan skema mengenai Polisi lalu lintas antara mahasiswa yang pernah melakukan denda damai dengan yang tidak pernah. Kedua, mahasiswa yang pernah melakukan denda damai memiliki skema yang cenderung positif mengenai Polisi lalu lintas. Dan ketiga, mahasiswa yang tidak pernah melakukan denda damai juga memiliki skema yang cenderung positif terhadap Polisi lalu Iintas.
Saran yang diberikan dalam perubahan struktur skema adalah dengan melakukan 'restructuring' dari skema yang sudah ada, yaitu mengganti skema yang lama dengan skema yang baru. Perlunya peningkatan kesejahteraan juga merupakan aspek yang sangat terkait dengan denda damai. Selain itu aspek registrasi dan identifikasi pengemudi dan kendaraan bermotor yang merupakan salah satu fungsi dan tugas Polisi lalu lintas, juga disorot, karena skema yang terbentuk cenderung negatif. Penggunaan alat dengan validitas dan reliabilitas yang andal dapat lebih menunjang penelitian berikutnya, di samping pendekatan lain dari teori sosial."
Depok: Universitas Indonesia, 1995
S2464
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nana Lukita Sari
"ABSTRAK
Krisis moneter yang ditandai dengan meiemahnya mata uang rupiah pada pertengahan
tahun 1997 membawa Indonesia pada krisis ekonomi. Sejumlah masatah yakni
monopoli, kolusi, korupsi dan nepotisme, yang merasuk dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara, semakin membuat Indonesia terpuruk pada krisis
kepercayaan, mengkristal menjadi krisis di bidang politik dan hukum. Hasii Sidang
Umum (SU) DPR / MPR, terutama pemilihan Presiden dan pembentukan Kabinet VII
diyakini oleh kalangan masyarakat luas sebagai indikasi kurangnya kemampuan
Pemerintah melakukan reformasi yang memadai untuk memperbaiki situasi yang kian
memburuk.
Di tengah kondisi semacam "rtu, pada pertengahan tahun 1997, gerakan protes
mahasiswa mulai marak di beberapa kampus di puiau Jawa. Dalam waktu yang relatif
pendek, gerakan protes mahasiswa "rtu meiuas ke luar pulau Jawa dan merata ke
kampus-kampus di seluruh Indonesia. Dari segi kuantitas, aksi-aksi protes mahasiswa
ini merupakan yang terbesar selama dua dasawarsa terakhir. Isu-isu reformasi ekonomi
dan politik yang diangkat pun bersifat nasional tidak seperti aksi-aksi protes yang terjadi
sebelumnya yang isunya bersifat iokal dan isu ini merata pada hampir semua aksi
protes mahasiswa.
Adanya dukungan pada gerakan protes mahasiswa tahun 1998 yang sedemikian besar
membuat mahasiswa salah tingkah dan kehilangan arah. Gerakan protes mahasiswa
mulai dipertanyakan orang mulai dari kemumian gerakan sampai kepada intelektual
gerakan. Apresiasi rakyat kian menurun menyusul aksi-aksi protes yang dipandang
cenderung anarkis, emosional dan terkesan kurang inteiek (Republika, 15 Januari
1998). Selain itu gerakan protes mahasiswa pasca pemerintahan Soeharto mulai
terpecah-belah dan memiliki penylkapan politik yang berbeda-beda.
Agar individu atau masyarakat dapat memahami gerakan protes mahasiswa, maka
diperlukan suatu usaha untuk menjelaskan bagaimana mahasiswa mengorganisasikan
pengalaman masa lalu dan tingkah-takunya ke dalam satu pola atau bentuk tertentu. Hal
ini oleh Barlett (dalam Deaux, Dane dan Wrightsman, 1993) didefinisikan sebagai
Skema Sosiat {Social Schemata). Skema sosial merupakan pola dari tingkah-laku dan
juga pola untuk bertingkah-taku (Neisser, dalam Aldrin, 1995). Oleh karena itu. peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai skema sosia! mengenai gerakan protes mahasiswa tahun 1998. Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran teori
mahasiswa mengenai gerakan protes mahasiswa.
Penetitian in! menggunakan kriteria responden yang sama dengan penelitian yang
dilakukan oleh Sariito W. Sarwono (1978). Kriteria responden tersebut adalah Aktivis
Pemimpin dan Aktivis Pengikut.
Penelitian ini menggunakan metode kuesioner, yaitu berupa item-item pertanyaan yang
terdiri dari beberapa aftematif jawaban. Tiap-tiap kelompok responden boleh memilih
lebih dari satu alternatif jawaban. Banyaknya respon dari tiap-tiap responden
dijumfahkan dan direlaslkan dengan jumlah respon yang tidak dijawab. Prosedur statistik
yang digunakan adalah prosedur aggregate (grouping) dan crosstabs. Setelah itu
dilakukan perhitungan dengan menggunakan teknik analisa chi square.
Ternyata dari 11 hipotesa yang dibangun, hanya ada 3 hipotesa yang diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan skema antara kelompok aktivis pemimpin dan
pengikut.
Daiam diskusi dibahas mengapa tidak ada perbedaan skema antara kedua kelompok
aktivis. Selain itu juga diberikan saran-saran baik kepada responden, yaitu mengenai
perbaikan beberapa skema mengenai konsep tertentu seperti pengertian mahasiswa,
peran sebagai kekuatan politik dan pengertian inteiektual. Selain itu, saran-saran bagi
perbaikan penelitian ini juga diberikan."
1999
S2746
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Supozwa Begawan Asmara Lanank
"Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan sexual script di dalam aplikasi Grindr melalui pemaknaan terhadap posisi top, vers, dan bot di kalangan laki-laki homoseksual Jakarta dan Depok. Penelitian ini berangkat dari konsep sexual script yang melihat cara individu mempelajari norma dan nilai yang terkonstruksi dalam kehidupannya sehari-hari untuk kemudian dijadikan sebagai panduan bagi individu untuk menjalankan perilaku seksualnya. Konstruksi sexual script yang tradisional dalam interaksi langsung perlu ditinjau ulang dalam konteks relasi homoseksual di dalam era masyarakat digital. Penelitian ini berargumen bahwa aplikasi Grindr pemaknaan terhadap posisi top, vers, dan bot yang ditampilkan pada aplikasi Grindr membentuk sexual script yang baru dan berbeda dengan tradisional sexual script. Temuan penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Grindr memudahkan dalam mencari pasangan seks dan melanggengkan individu homoseksual untuk mengekspresikan identitas seksualnya. Penelitian ini juga melihat bahwa nilai-nilai heteronormativitas dan hegemoni maskulinitas masih diadopsi di dalam posisi seks top, vers, dan bot walaupun terdapat negosiasi mengenai peran bot pada dalam interaksi di dalam aplikasi Grindr atau pun kencan yang difasilitasi aplikasi tersebut. Selain itu penelitian ini juga menemukan bahwa pada posisi seks vers, interaksi yang terjadi akan mengikuti posisi seks dari pasangannya atau suasana hati dari individu saat itu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap laki-laki homoseksual berusia 18–29 tahun pengguna aplikasi kencan daring Grindr.

This article aims to understand sexual scripts in the Grindr application through the individuals meaning of top, vers, and bot positions among the homosexual male who use Grindr in Jakarta and Depok. This research is using the concept of sexual script that examines at the individual way to learn the norms and values constructed in their daily lives that that used as a guide for the individuals to carry out their sexual behavior. The traditional sexual script needs to be reviewed in the context of homosexual relations in the era of digital society. This study argues that Grindr app and the top, vers, and bot position in Grindr are preferences that creates a new form of sexual scripts on the use of online dating apps that distinguish them from the traditional sexual script. The research findings show that the Grindr apps has made it easier for the informants to find sex partners and express their sexuality. In addition, this studies also found that the values of heteronormative and hegemony of masculinity were still adopted even though there were negotiations regarding the role of homosexual sex interaction in bot in the Grindr application where they negotiate about the hegemonic of heteronormativity in Grindr. This study uses a qualitative method. The data is obtained by conducting in-depth interviews. The criteria of the informants in this study were homosexual men aged 18-25 years old, actively using Grindr online dating apps for homosexual men."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library