Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wiranita Ramadhani Utami
"Sebagai media sosial berbasis foto, Instagram memberikan ruang ke penggunanya untuk secara hati-hati mengekspresikan diri dengan tujuan untuk menyampaikan sisi positif pengguna ke pengikutnya. Hal ini menciptakan perilaku baru dimana pengguna membuat persona yang bukan diri mereka sendiri dan perempuan menjadi yang paling rentan dalam menghadapi efek negatif presentasi diri. Untuk mengurangi efek negatif dari Instagram, Tagar #MakeInstagramCasualAgain mendorong pengguna menampilkan foto dengan sedikit kurasi untuk menunjukkan diri mereka yang otentik atau tidak sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk memahami apakah gerakan ini mampu membantu perempuan menampilkan diri mereka secara berbeda tanpa mengikuti standar social di Instagram. Enam puluh sampel diambil dari lima akun yang mengunggah foto mereka dari Januari hingga Desember 2021. Menggunakan teori presentasi diri dari Goffman (1959), analisa menunjukkan foto yang masuk ke dalam tagar menggunakan sedikit kontrol. Selain itu, sosial media juga tidak mempunyai standar spesifik foto yang layak untuk dibagikan. atau singkatnya, setiap pengguna mempunyai kendali sendiri terhadap foto yang mereka bagikan. Terakhir, dengan lebih banyaknya pengguna yang beralih untuk mengunggah foto yang kurang dikurasi, estetika Instagram yang ada mungkin akan tergantikan dengan postingan biasa. Secara keseluruhan, gerakan ini berdampak positif pada cara orang menampilkan diri dan cara audiens Instagram memandang media sosial.

As a photo-based social media platform, Instagram allows users to create self-expression carefully. They are aiming for users to perceive their bright and positive side of them. This behavior often leads users to create a persona that is not theirs. Mostly, women are vulnerable to facing the consequence of creating self-presentation on Instagram. The hashtag #MakeInstagramCasualAgain encourages users to start displaying photos with less curation to show their imperfect and authentic selves to the public to lessen the negative effect of Instagram. This study aims to understand how this movement helps women present themselves differently without following the social standard through Instagram. Sixty samples are taken from posts uploaded by five accounts from January to December 2021. Using Goffman's (1959) theory of self-presentation, the study found that photos taken under the hashtag reveal that public users share a less controlled action. It also reveals that social media does not have any specific standard of which image is worth sharing. In short, the people who run the platform have control over what to share. Eventually, the existing aesthetic of Instagram may be replaced with casual posts because more users are shifting to show less curated photos. Overall, the movement positively impacts how people present themselves and how the audience of Instagram perceives social media."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siwi Sarita
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara need to belong dan self-presentation yang ditunjukkan remaja di Instagram. Need to belong didefinisikan sebagai kebutuhan untuk membentuk dan mempertahankan setidaknya kualitas minimum dari hubungan interpersonal, yang biasanya telah dibawa sejak lahir dan universal bagi manusia. Self-presentation adalah proses di mana individu berusaha untuk mengontrol kesan yang diberikan orang lain kepada mereka. Pengukuran need to belong dilakukan dengan menggunakan alat ukur Need to Belong Scale (NTBS) yang dikembangkan oleh Leary, Kelly, Cottrell, & Schreindorfer (2013). Pengukuran self-presentation dilakukan dengan menggunakan alat ukur Self-Presentation Tactics Scale (SPT) yang dikembangkan oleh Lee, Quigley Nesler, Corbett, & Tedeschi (1999). Alat ukur tersebut diadaptasi agar lebih sesuai ke dalam konteks penggunaan Instagram. Partisipan penelitian berjumlah 204 remaja berusia 10-22 tahun yang menggunakan Instagram. Melalui teknik statistik Pearson Correlation, diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara need to belong dan self-presentation yang ditunjukkan remaja di Instagram, khususnya pada tipe self-presentation ingratiation.

ABSTRACT
This research was conducted to find the correlation between need to belong and self-presentation that adolescents show on Instagram. Need to belong defined as a need to form and maintain at least a minimum quantity of interpersonal relationship, is innately prepared (and hence nearly universal) among human beings. Self-presentation defined as the use of behavior to communicate some information about oneself to others. Need to belong was measured using an instrument named Need to Belong Scale (NTBS) developed by Leary, Kelly, Cottrell, & Schreindorfer (2013). Self-presentation was measured using Self-Presentation Tactics Scale (SPT) developed by Lee, Quigley Nesler, Corbett, & Tedeschi (1999). This instrument was adapted to the context of the use of Instagram. Participants of this research were 204 adolescents aged 10-22 years old who use Instagram. The Pearson Correlation indicates positive significant correlation between need to belong and self-presentation that adolescents show on Instagram, particularly the ingratiation tactic of self-presentation."
2016
S64823
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meidina Aysha Anindita
"ABSTRAK
Media sosial telah merubah cara manusia berkomunikasi dengan satu sama lain. Perkembangan sosial media
saat ini membuka peluang karir baru yang belum pernah ada sebelumnya. Salah satunya adalah menjadi seorang
beauty vlogger. Tasya Farasya adalah salah satu beauty vlogger yang paling sukses di Indonesia saat ini.
Meskipun baru memulai karirnya di tahun 2017, Tasya saat ini memiliki 2.88 juta subscribers YouTube dan 2.6
juta followers di Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu upaya yang dilakukan Tasya Farasya
sebagai seorang beauty vlogger mempergunakan media sosial sebagai kanal untuk mempresentasikan dan
mempromosikan dirinya. Artikel ini terpusat pada panggung depan dari teori Dramaturgi karya Ervuing
Goffman dan personal branding milik Peter Montoya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentasi diri
Tasya Farasya di sosial media adalah sebagai pribadi yang menyenangkan, ceria, positif, dan jujur. Tasya
memiliki kredibilitas terhadap promosi produk yang baik, dan menonjol berkat spesialisasinya dalam full glam
makeup look dia diantara beauty vlogger lain yang mengikuti trend natural.

ABSTRACT
Social media has changed the way humans communicate with one another. The development of social media
opens up new career opportunities like never before. One of them is to become a beauty vlogger. Tasya Farasya
is one of the most successful beauty vloggers in Indonesia today. Although she only started her career in 2017,
Tasya currently has 2.88 million YouTube subscribers and 2.6 million followers on Instagram. This study aims
to explore the efforts made by Tasya Farasya as a beauty vlogger to use social media as a channel to present
and promote himself. This article is centered on the front stage of Ervuing Goffmans Dramaturgi theory and
Peter Montoyas personal branding. The results showed that Tasya Farasyas self-presentation on social media
was fun, cheerfu, positive, and truthful. Tasya has credibility for good product promotions, and she stands out
thanks to her specialization in full glam makeup look for her among other beauty vloggers who sticks to the
natural trend."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Goffman, Erving
New York: Doubleday , 1959
301 GOF p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Dianti Ratih Ramadhani
"Skripsi ini mendeskripsikan fenomena presentasi diri yang dilakukan oleh perempuan sebagai anggota komunitas berukuran tubuh ekstra, yaitu komunitas Xtra L, Kombes (Komunitas Besar) Indonesia, dan Kagumi (Ikatan Wanita Gemuk Indonesia). Penelitian ini merupakan penelitian fenomenologi yang bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman informan secara langsung terkait fenomena. Dalam penelitian ini, data utama yang peneliti gunakan berupa perkataan langsung dari informan, ataupun dokumentasi pribadi yang menggambarkan presentasi diri informan sebagai anggota komunitas berukuran tubuh ekstra. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa bentuk presentasi diri informan secara offline adalah pembenahan penampilan dan menganut pola hidup sehat. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa identitas kolektif sebuah kelompok dapat membentuk cara informan mempresentasi.

The focus of the study is to describe the self presentation phenomenon women as female members of Xtra L, Kombes (Big Community) Indonesia, and Kagumi (Association of Obese Women Indonesia). The purpose of this research is to describe the experience of each members of how they present themselves as a member of the community. Researcher did in-depth interview to seven informants and analyzing informant’s online personal documents to see their self presentation strategy. This research found that informant’s offline self presentation strategy is through managing their appearance and following a healthy lifestyle. Also, their motivation to do an online self presentation is by doing a self-monitoring and affinity seeking behavior. This research also showed that the strategies that informants use to present themselves were also shaped by the collective identity of their community.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S58659
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ajeng Savitri
"ABSTRAK
Aplikasi dan website kencan online telah menjadi fenomena besar karena pertumbuhan internet. Penelitian ini berfokus ekplorasi preferensi setiap invidivual untuk menggunakan metode tradisional atau pun baru dalam rangka mencari pasangan hidup. Penelitian ini dilaksanakan dengan mengadakan wawancara untuk memahami perspektif masing-masing orang dalam menemukan pasangan hidup dan bagaimana hal itu berdampak pada hubungan tiap individu. Penelitian ini menemukan bahwa banyak individual yang lebih memilih untuk menggunakan metode online untuk menemukan pasangan hidup dibandingkan menggunakan metode tradisional.

ABSTRACT
AbstractOnline dating applications and websites has become a huge phenomenon since the growth of the internet. The research focuses on exploring people preference of using traditional or new kind of dating methods to find relationship partners. The study conducted by interview to understand people rsquo s perspective of each ways to find partners and how it impacts every relationship of each individual. This research found that people prefer to find romantic partners through online method than the traditional one. "
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Safira Melati Putri
"Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena penipuan `catfishing` yang lazim ditemukan pada aplikasi kencan, salah satunya Bumble. Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai topik ini yang menghubungkan fenomena tersebut dengan Teori Presentasi Diri. Namun, ada beberapa aspek yang belum dipertimbangkan dalam aplikasi Bumble, seperti bagaimana pengguna Bumble merepresentasikan diri mereka pada profil mereka melalui foto profil dan kotak deskripsi mereka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan studi literatur melalui analisis data sekunder. Studi ini menggambarkan bahwa taraf `catfishing` pada aplikasi Bumble adalah sebagai bentuk presentasi diri yang selektif, bukan bertujuan untuk membuat profil palsu.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Atikah Kanza Atsarina Hakim
"Munculnya aplikasi kencan daring seperti Tinder telah menciptakan cara baru yang berbeda bagipengguna untuk menemukan calon kenalan baru dengan beragam latar belakang serta motif pada saatmenggunakan aplikasi kencan daring. Perancangan aplikasi kencan daring merepresentasikanpertumbuhan jenis komunikasi dan interaksi dibandingkan dengan cara kencan konvensional.Perubahan media untuk berkomunikasi dapat mengubah cara pengguna dalam percobaanmenggambarkan diri mereka pada aplikasi kencan, baik menjadi diri yang autentik atau bersifatdesepsi. Penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif, berdasarkan data survei yangdikumpulkan melalui media sosial (Instagram dan Twitter) pada pengguna aplikasi kencan daringTinder di DKI Jakarta serta menggunakan Structured Equation Modeling (SEM). Penelitian inimengamati bagaimana pengguna Tinder menampilkan diri mereka sekaligus melakukan uji pengaruh antara latar belakang demografis dan psikologis responden terhadap pemilihan motif mereka menggunakan Tinder, serta cara responden mempresentasikan diri mereka kepada lawan bicara padaaplikasi tersebut. Penelitian ini menemukan latar belakang psikologis narsisme sebagai latar belakang dengan signifikansi tertinggi dan paling banyak pengaruhnya terhadap pemilihan 3 (tiga) motif, yaitu motif hookup/sex, mencari teman pada saat berpergian, serta mencari validasi. Latar belakang psikologis kesendirian, menjadi latar belakang kedua tertinggi dan terbanyak dengan memengaruhi 2 (dua) motif secara signifikan yaitu motif mencari teman dan mencari pasangan romantis. Motifhookup/sex dan mencari validasi ditemukan sebagai motif yang memengaruhi presentasi diri yangdesepsi, sedangkan responden dengan motif mencari hubungan romantis ditemukan memiliki presentasidiri yang autentik.

The emergence of online dating application apps such as Tinder has created new different way for users to find new potential acquaintances with diverse background and motives of using such application online. The design of online dating application represents the growth of type of communication andinteraction compare to the conventional way of dating. The change of medium to communicate might change the way users try to depict themselves on the dating application, either being authentic ordeceptive-self. This research will be conducted with quantitative approach based on survey data collected via social media (Instagram and Twitter) on the users in DKI Jakarta and using StructedEquation Modelling (SEM), this research observed on how Tinder users present themselves and at the same time assessing the impact of their demographic, and personality background which mightinfluence their motives of using Tinder and how they present themselves. This study found narcissismas psychological background with the highest significance and the most influence on the selection of 3 (three) motives, namely hookup/sex motives, making friends while traveling, and seeking validation. The psychological background of loneliness is the second highest and most common background by significantly influencing 2 (two) motives, namely the motive of looking for friends and looking for a romantic partner. Hookup/sex motives and seeking validation were found to be the motives influencing deceptive self-presentation, whereas respondents with a romantic relationship-seeking motive werefound to have authentic self-presentations."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shelline Puteri Erlandhika
"Kasus pidana Rachel Vennya terkait masalah kabur dari kewajiban karantina di masa pandemi COVID-19 memengaruhi citra dan nama baiknya sebagai seorang selebriti Instagram (selebgram). Untuk mengupayakan perbaikan citra, Rachel melakukan presentasi diri di media sosial. Presentasi diri merupakan suatu tindakan di mana seseorang mengelola suatu kesan tertentu yang ingin ditampilkan di depan orang lain dengan harapan dapat membangun pemahaman atau citra diri sesuai harapannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif atas konten-konten relevan yang menunjukkan kehadiran diri Rachel Vennya di media sosial berupa Instagram dan Youtube. Kemudian, konten tersebut dianalisis menggunakan taktik presentasi diri yang dikemukakan oleh Lee, Quigley, Nesler, Corbett, & Tedeschi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rachel Vennya melakukan lima taktik presentasi diri di media sosial. Secara defensif, Rachel melakukan taktik apology dan taktik disclaimer, sedangkan secara asertif, ia melakukan taktik supplication, exemplification dan ingratiation. Taktik yang paling sering digunakan adalah taktik ingratiation. Hal tersebut dilakukan dengan menampilkan sisi baik Rachel sebagai seorang Ibu, gaya parenting dan kesan sebagai panutan yang belajar dari kesalahan.

The criminal case involving Rachel Vennya evading quarantine obligations during the COVID-19 pandemic affected her image and reputation as an Instagram celebrity. Rachel tries to improve her image by conducting self presentation on social media. Self presentation is the act of managing certain emotions that a person wants to show to others with the hope that an understanding or image will be formed in accordance with her plans. This study shows the presence of Rachel Vennya on social media such as Instagram and Youtube by using the descriptive analysis method. Then, the content was analyzed using the self presentation tactics proposed by Lee, Quigley, Nesler, Corbett, & Tedeschi. As a result, it turns out that Rachel Vennya did five self presentation tactics on social media. Defensively, Rachel uses apology and disclaimer tactics, while assertively, she uses supplication, exemplification and ingratiation tactics. The most commonly used tactic is the ingratiation. This is done by showing Rachel's good side as a mother, her parenting style and the impression of being a role model who learns from her mistakes."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia;, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ratu Vashti Annisa
"ABSTRAK
Pertanyaan lsquo;siapakah kita di dunia maya rsquo; mulai muncul dengan lahirnya internet dan media sosial, dimana kita diberikan kesempatan untuk mempertunjukan diri kita kepada dunia. Di dalam dunia tersebut, tidak ada batasan dan siapapun bisa menjadi apa atau siapapun yang mereka mau. Di Instagram--medium dimana orang mengunggah foto dan video--orang-orang dapat melakukan hal tersebut kepada publik, baik publik secara luas atau publik pilihan mereka dimana akun mereka tidak terbuka untuk umum.Bagaimana kita menggambarkan diri kita di dunia maya biasanya membutuhkan lsquo;impression management rsquo;. Goffman membuat teori ini di tahun 1967 dimana ia mengatakan bahwa orang-orang mempunyai kesan yang mereka buat untuk diri mereka sendiri dalam kontak secara langsung atau komunikasi melalui medium perharinya. Walaupun media sosial belum ada pada tahun tersebut, teori Goffman dapat diaplikasikan jaman sekarang. Terlebih lagi karena media sosial adalah tempat untuk membentuk kesan kita dan hal tersebut akan dilihat oleh banyak orang bahkan orang yang tidak kita kenal jika kita memperbolehkan hal itu untuk terjadi. Presentasi diri merupakan hal yang menarik untuk digali lebih dalam karena hal ini sering terlihat di akun banyak orang.

ABSTRACT
The question of lsquo Who Are We Online rsquo arises with the birth of the internet and social media, where we are given the opportunity to present ourselves to the world. That being said, it is important to highlight the fact that there is no boundary in this particular medium, one can be anyone they want. On Instagram a photo sharing platform people can post photos or videos of themselves to their public, whether it is to the free public or to their chosen public when their profile is private. How we portray ourselves online nowadays usually involve a very heavy impression management. Goffman created this theory back in 1967 where he described that people tend to have an image that they create for themselves in daily contact whether it is face to face or in mediated communication. Even though social media was not created back in his days, his theory can very much be applied to this time and age. Especially because social media acts as a platform to build an image of yourself and it is seen by everyone from the people we know even to strangers if we allow them to. Self presentation is an interesting topic to explore as it is often seen that people rsquo s account is carefully crafted for its audience. "
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>