Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 49 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hasto Nugroho
"Latar belakang: WHO merekomendasikan penggunaan obat TB dalam bentuk kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combinations=FDC) berisi 4 obat dalam strategi DOTS bertujuan meningkatkan mutu hasil pengobatan .Obat FDC memudahkan pengobatan, dan penatalaksanaan pengadaan obat serta mencegah bahaya resistensi obat. Sejak tahun 1999 Indonesia mulai menggunakan paduan OAT - FDC yang berisi 4 obat di Propinsi Sulawesi Selatan dengan basil memuaskan.
Tujuan menilai angka keberhasilan pengobatan TB paru dengan OAT kombinasi dosis tetap (FDC) di Surakarta.
Bahan dan cara: penelitian bersifat prospective study menggunakan uji klinik terbuka. Pemilihan sampel dilakukan secara acak sederhana. Perlakuan berupa pemberian OAT FDC untuk kelompok pertama dan pemberian OAT Kombipak untuk kelompok kedua. Kedua kelompok diikuti selama enam bulan. Subyek penelitian berjumlah 180 prang, masing-masing 90 orang kelompok FDC dan 90 orang ketompok Kombipak. Uji Chi square digunakan untuk menilai kemaknaan perbedaan pada variabel babas maupun variabel efek dengan skala nominal. Perhitungan beda rerata karakteristik subyek penelitian menggunakan uji-T. Data diolah dengan menggunakan program komputer SPSS versi 10.05.
Hasil: Angka keberhasilan pengobatan dengan OAT FDC 98,9% dan 96,7% untuk kelompok Kombipak. Tidak terdapat perbedaan bermakna angka keberhasilan FDC dibanding Kombipak (p>0,05)). Angka kesembuhan OAT FDC 97,8%. Tidak terdapat perbedaan bermakna keseluruhan gejala efek samping obat antara kelompok FDC dan Kombipak (p>0,05). Gejala gastrointestinal kelompok FDC lebih sedikit dibanding dan Kombipak,secara statistik bermakna (p<0,05).
Simpulan: Angka keberhasilan OAT FDC lebih besar dibanding Kombipak, secara statistik tidak berbeda bermakna. Angka kesembuhan OAT FDC 97,8%. Gejala gastrointestinal kelompok FDC lebih sedikit dibanding kelompok Kombipak, secara statistik berbeda bermakna.

Background: To improve tuberculosis treatment, a 4-drug FDC were recommended by the World Health Organization (WHO) as part of the DOTS strategy. FDCs TB drugs could simplifies both treatment and management of drug supply, and may prevent the emergence of drug resistance. Since 1999 Indonesia was taken a 4- drug FDCs to treatment the tuberculosis patient in the South Sulawesi province , treatment results are excellent.
Objectives: To asses success rate and treatment outcome in new smearpositif patient treated by FDCs drug.
Design: A prospective study, open clinical trial in which patient are simple randomly allocated to the FDC regimen or Kombipak.
Result : FDCs treatment success rate was 98.9% and 96.7% in patient treated by Kombipak, differences at the 5% level (p> 0.05 ) are regarded as no statistically significant. FDCs cure rate was 97,8%. Gastrointestinal complaint in patient treated with FDC lower than Kombipak (p<0,05), are regarded as statistically significant.
Conclusion: FDCs treatment success higher than Kombipak. FDC cure rate 97,8%. Gastrointestinal complaints in patient treated FDC lower than Kombipak."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T58470
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pattikawa, Geordie Raphael Abraham
"Di Indonesia, tingkat keberhasilan pengobatan tuberkulosis hanya mencapai 84% dan kemungkinan terjadinya kekambuhan berada pada 2%. Namun demikian, masih sangat sedikit penelitian yang memelajari hubungan antara ketidak teraturan obat anti tuberkulosis dengan hasil uji sputum BTA pada pasien TB kambuh. Pengambilan data dilakukan di Rumah Sakit Umum Persahabatan dengan menggunakan metode cross sectional. Target populasi dari penelitian ini adalah pasien yang terdiagnosis TB kambuh pada tahun 2018.
Dari 40 subjek penelitian, didapati subjek laki-laki berjumlah 19 (47,5%) dan perempuan berjumlah 21 (52,5%). Berdasarkan usia, jumlah kasus kambuh terbanyak dapat ditemui di rentang usia 36-55 dan 46-55 dengan jumlah 10 (25%). Didapati 24 (60%) subjek memiliki riwayat pengobatan yang tidak teratur dan hasil BTA tertinggi adalah negatif dengan jumlah subjek 13 (35%).
Dari hasil analisis chi square, didapatkan p=0,00883 dengan OR 6,43 (IK95% 1,495-27,646) dan dari hasil analisis Mann Whitney, didapatkan p=0,014 dengan rerata peringkat 15,06 dan 24,13 untuk riwayat pengobatan yang teratur dan tidak teratur. Ada hubungan antara riwayat pengobatan tuberkulosis dengan hasil jumlah BTA dengan nilai OR 6,43 dengan IK95% 1,495-27,646, dan tren hasil jumlah BTA yang cenderung naik lebih tinggi pada riwayat pengobatan yang tidak teratur.

In Indonesia, the success rate of tuberculosis treatment is only at 84% while the probability of a relapse case to occur is 2%. However, studies regarding the relation of previous tuberculosis regiments with AFB sputum smear are very limited. Datas are collected from RSUP Persahabatan by using cross-sectional method. Subjects of this experiment are patient that has been diagnosed with relapse tuberculosis in the year 2018. From 40 subjects, the ratio between male and female is 47,5% and 52,5% respectively.
Most subjects are on the age range of 36-45 and 46-55 (10 subjects each). Among those 40 subjects, 24 (60%) has been found to have irregular precious TB regiments while 13 has negative results of AFB sputum smear. Upon bivariate analysis with chi square, it is found that patients with irregular previous TB regiments are 6,43 times more likely (p=0,00883 OR 6,43 CI95% 1,495-27,646) to have a positive AFB sputum smear than those with regular previous TB regiments.
Upon using Mann Whitney analysis, it is found that average rank of irregular treatment and regular treatment is 24,13 and 15,06 respectively. There is a relation of previous TB regiments with results of AFB sputum smear with OR 6,43 CI95% 1,495-27,646 and a positive trend of AFB sputum smear on patients with irregular previous TB treatment.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Herni Rejeki
"Tujuan penelitian ini mendapatkan gambaran arti dan makna pengalaman dalam menjalani pengobatan TB kategori II di wilayah Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif menggunakan metode wawancara mendalam. Partisipannya adalah klien yang sudah selesai menjalani pengobatan TB kategori II, berjumlah tujuh orang. Data dikumpulkan melalui rekaman wawancara dan catatan lapangan, dianalisis dengan teknik Colaizzi.
Hasil penelitian teridentifikasi tujuh tema; pemahaman mengenai penyakit TB; dampak terhadap klien; upaya mencapai kesembuhan; kepatuhan menjalani pengobatan; kesulitan yang dialami; harapan dan dukungan selama pengobatan. Selama menjalani pengobatan TB klien mengalami masalah fisik, psikologis, sosial dan finansial menjadi kesimpulan penelitian ini.

The purpose of this research explore ideas and the meaning of experience of having tuberculosis category II treatment at Pekalongan Regency. This research used qualitative approach with descriptive phenomenology design and indepth interview method. Participants in this research were tucerculosis clients who had complete TB category II treatment. There are seven participants. The data was collected in the form of tapes interview and field notes wich were analyzed by Colaizzi techniques.
As the result of the research is the identification of seven themes: the understanding of TB desease; effects of treatment on clients; efforts to achieve recovery; treatment adherence; difficulties experienced during treatment; client expectations and the support received during treatment. The conclision of this research was the treatment of TB requires a long time, so that during treatment clients experiencing, psychologycal, social and financial problems.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dicky Soehardiman
"Background: Although combipack has high effectivity in tuberculosis treatment but it has lower compliance, The unst.iccessfull problems might be caused by number of pills taken by patients. Therefore, World Health Organization (WHO) decided to make new preparation which consist of more than two antituberculosis agent in one pill which is called fixed dose combination (FDC).
Methods: The efficacy of 2 antituberculosis agent (FDC and combipack) were compared after 6 months therapy of positive acid fast bacilli (AFB) pulmonary tuberculosis (PTB) patients in directly observed treatment, short course (DOTS) in Lung Clinics Persahabatan Hospital -Dep􀀛rtment Pulmonology and Respiratory Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia, with design randomized clinical trial.
Results: FDC group consist of 52 patients, 32 male (mean of age 28.56 ± 10.74) is compared to 58 patients, 33 male in combipack group (mean of age 29.53 ± 10.1 ). Sputum conversion is 98% in FDC g,roup and combipack 94. 7% in the early evaluation, the results almost similar to the end of.evaluation 97 .3% in FDC group and combipack 97.7%, and both of them are not statistically significant (p>0.005). Cure rate in FDC group is 69.2% and combipack 72.4%, and success rate in FDC group is 97.3% and combipack 97.7%, both of them are not statisticallly significant (p>0.005). FDC causing less itchy skin (1.9% in FDC and 6.9% in combipack) and musculoskeletal pain (0% in FDC and 5.2% in combipack) than combipack although it has no statiscal significant (p>0.005).
Conclusion: FDC has the same efficacy as combipack which can be used to treat PTB in DOTS strategy. Conversion rate, cure rate and success rate are almost the same in both groups."
Jakarta: [Publisher not identified], 2008
MK-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Reni
"Pada tahun 2015 Indonesia berada pada peringkat 2 dari 20 negara dengan penderita tuberkulosis terbanyak di bawah India. Pengobatan tuberkulosis cukup lama dan polifarmasi sehingga meningkatkan keluhan efek samping obat yang akan mempengaruhi kepatuhan dan kesuksesan pengobatan. Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan efek samping obat anti tuberkulosis. Desain penelitian adalah kasus kontrol. Kasus adalah pasien yang mengalami efek samping obat dan kontrol adalah pasien yang tidak mengalami
efek samping obat antituberkulosis. Jumlah sampel 342 terdiri dari 171 kasus dan 171 kontrol. Akhir analisis multivariat membuktikan ada 4 faktor yang berhubungan dengan efek samping obat yaitu umur, jenis kelamin, BTA(+) dan riwayat pengobatan TB dengan peran yang berbeda terhadap efek samping ringan dan efek samping berat. Faktor yang berhubungan dengan kejadian efek samping ringan adalah usia ≥40 tahun (OR = 2.17, 95% CI: 1.60 ? 4.75), jenis kelamin perempuan (OR= 4.67, 95% CI: 1.26 ? 17.33); faktor yang berhubungan dengan kejadian efek samping berat adalah usia ≥40 tahun (OR = 3.22, 95% CI: 1.73 - 5.96), jenis kelamin perempuan (OR= 2.92 95% CI: 1.07 ? 7.97), BTA(+) (OR=0.59, 95% CI: 0.35 ? 0.98) dan riwayat pengobatan TB (OR= 3.19, 95% CI: 1.16
? 8.74).

Indonesia was ranked 2nd out of 20 countries with the highest tuberculosis patients in the world after India. Long term exposure to anti-tuberculosis medication and polypharmacy increase risk of adverse drug reaction and which might determine adherence and therefore theraphy succes. The aim of this study was to determine factors associated with anti-tuberculosis adverse drugs reactions.
A case control study was performed. Controls were defined as not having reported as side effect, receiving anti-TB during the same time that the case had appeared. A total of 342 patients (171 cases and 171 controls) were analyzed. At the end of multivariate model prooved 4 factors (age, gender, BTA+ and previous anti-Tb therapy) associated with adverse drug reaction in different role. In multivariable model, age especially those over 40 years (OR = 2.17, 95% CI: 1.60 - 4.75), gender (OR= 4.67, 95% CI: 1.26 - 17.33) were independently associated with mild-adverse drug reaction and age over 40 years (OR = 3.22, 95% CI: 1.73 ? 5.96), gender (OR= 2.92 95% CI: 1.07 - 7.97), BTA(+) (OR= 0.59, 95% CI: 0.35 - 0.98) and previous anti-Tb therapy (OR= 3.19, 95% CI: 1.16 - 8.74) were independently associated with severe-adverse drug reaction.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
T45717
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Citra Febriony
"ABSTRAK
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi menular yang mendapat perhatian khusus di dunia.Pengawas Minum Obat merupakan bagian dari Directly Observed Treatment Shourtcourse.Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB Indonesia.Desain penelitian menggunakan potong lintang 205 subyek,dari data rekam medis dan TB-01 tahun 2012-2014 dan eksperimental 23 subyek kelompok kontrol,23 subyek kelompok terintervensi .Penelitian menunjukkan indikasi pemberian KDT 96,6 tepat dan 3,4 tidak tepat,lama pemberian 74,2 tepat dan 25,8 tidak tepat,pemberian dosis 85,9 tepat dan 14,1 tidak tepat. Hubungan efek samping KDT dengan keberhasilan pengobatan TB tidak bermakna secara statistik p=0,173;0,757,IK95 :0,077-1,612 .Kelompok terintervensi terjadi peningkatan PMO pengetahuan cukup 8,6 ,kelompok kontrol meningkat 13 .Pengetahuan kurang kelompok terintervensi menurun 8,6 ,kelompok kontrol menurun 13 .Tidak ada hubungan bermakna secara statistik antara hubungan pengetahuan PMO setelah 2 bulan p=0,575;IK95 : 0,978-1,151 dan 6 bulan pengobatan konversi dahak setelah 6 bulan 100 .Kepatuhan berobat pasien selama 6 bulan 100 .Efek samping minor tidak memengaruhi keberhasilan pengobatan TB,sehingga pengobatan tetap dilanjutkan meskipun muncul efek samping.Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan PMO dengan kepatuhan berobat,tingkat pengetahuan PMO dengan konversi dahak,serta kepatuhan berobat dengan konversi dahak.

ABSTRACT
Tuberculosis is an infectious disease which is under special attention by the world.Direct Observed Treatment DOT is part of the Directly Observed Treatment Shourtcourse.This research is conducted to improve TB treatment success rate in Indonesia.Design of research used cross sectional study 205 subjects which data was obtained from medical record and TB 01 card between 2012 2014 and experimental study 23 subjects as controlled group,23 subjects as experimental group. FDC treatment indication was 96.6 correct and 3,4 incorrect, FDC treatment duration was 74.2 correct and 25.8 incorrect, FDC dosage treatment was 85.9 correct and 14.1 incorrect.There was 8.6 increase in DOT rsquo s level of understanding in the experimental group while there was 13 increase in the control group.There was no statistical significant relationship between DOT rsquo s level of understanding with 2nd month p 0.575 95 CI 0,978 1,151 and 6th month treatment sputum conversion after 6 months was 100 .Medical treatment adherence within 6 month period was 100 .Side effect does not impact TB treatment success rate,therefore patients were still continued the treatment.There is no correlation between DOT rsquo s level of understanding with medical treatment adherence, DOT rsquo s level of understanding with sputum conversion as well as between medical treatment adherence with sputum conversion."
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakaria
"ABSTRAK
Tingginya angka TB di Puskesmas Dramaga menyebabkan di perlukannya penelitian kualitatif mengenai hal-hal dalam kepatuhan minum obat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidak berhasilan pengobatan TB Paru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengacu pada teori Health Belief Model (HBM). Pengambilan data dilakukan pada 11 orang dari pasien TB Paru, keluarga, dan petugas kesehatan dengan metode wawancara mendalam. Keberhasilan pengobatan TB dalam kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh persepsi informan terhadap kerentanan, keparahan, manfaat dan hambatan yang dialami selama menjalani pengobataan TB. Selain itu juga pengaruh dari besarnya dukungan keluarga dan pemberian informasi TB yang lengkap kepada pasien dan keluarga.

ABSTRACT
The high rate of TB in Puskesmas Dramaga led to the need for qualitative research on matters in medication adherence. This study aims to see what factors influence the success and failure of pulmonary tuberculosis treatment. This research is a qualitative research that refers to the theory of Health Belief Model (HBM). Data were collected on 11 people from TB patients, family, and health care workers with in-depth interview method. The success of TB treatment in medication adherence is influenced by informants' perceptions of the susceptibility, severity, benefits and constraints experienced during TB treatment. It also influences the extent of family support and the provision of complete TB information to patients and families.
"
2017
S69545
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eriska Dara Funna
"ABSTRAK
Tuberkulosis tercatat sebagai penyebab kematian nomor sembilan di dunia dan Indonesia menjadi negara kedua dengan kejadian tuberkulosis terbanyak di dunia. Dalam upaya mengendalikan tuberkulosis, pelaksanaan metode DOT directly observed treatment dibandingkan metode SAT self administered treatment menjadi hal yang penting untuk menjamin kepatuhan pasien. Tuberkulosis juga menyebabkan pengeluaran yang tidak sedikit karena pasien harus menjalani terapi dalam jangka waktu yang panjang, sehingga dibutuhkan suatu studi untuk menghubungkan kualitas hidup yang pasien peroleh dengan biaya yang harus dikeluarkan selama pengobatan. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis utilitas-biaya untuk melihat bagaimana pengaruh metode DOT dan SAT terhadap kualitas hidup pasien dan biaya yang dibutuhkan untuk setiap metode tersebut. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Subjek penelitian adalah pasien tuberkulosis kategori I yang berumur 18 tahun ke atas di RSPAD Gatot Soebroto. Utilitas diperoleh dengan bantuan kuesioner EQ-5D-5L dan biaya yang digunakan dilihat dari perspektif masyarakat dengan komponen biaya medis langsung, biaya non medis langsung, dan biaya tidak langsung. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah nilai utilitas sebesar 0,718 dengan total biaya pengobatan sebesar Rp5.499.656,00 pada kelompok DOT n=12 dan nilai utilitas sebesar 0,838 dengan total biaya biaya pengobatan sebesar Rp5.804.887,00 pada kelompok SAT n=30. Berdasarkan nilai tersebut, diperoleh rasio utilitas-biaya sebesar Rp7.659.688,02 pada kelompok DOT, Rp6.927.072,79 pada kelompok SAT, dan rasio inkremental utilitas-biaya sebesar Rp2.543.592/utilitas. Hasil yang telah diperoleh menunjukkan bahwa di RSPAD Gatot Soebroto kelompok DOT lebih utilitas-biaya dibandingkan kelompok SAT.

ABSTRACT
Tuberculosis TB recorded as the 9th cause of death worldwide and Indonesia becomes the 2nd country with the highest TB incidence worldwide. Implementation of DOT directly observed treatment method compared to SAT self administered treatment method is the important thing to ensure patient compliance. Tuberculosis also causes a lot of expenditures because patients have to undergo therapy for a long period of time, so a study is needed to link the quality of life that patients get with the costs at the expense of treatment. In this study, a cost utility analysis was conducted to see how the DOT and SAT methods influence the patient 39 s quality of life and how much it costs for each method. This study used a cross sectional design with primary data and secondary data collection. The subjects were tuberculosis category I patients aged 18 years and over at RSPAD Gatot Soebroto. Utilities were obtained with the help of the EQ 5D 5L questionnaire and the costs used were viewed from a social perspective with the components of direct medical costs, direct non medical costs, and indirect costs. The results obtained in this study is the utility value of 0.718 with total medical expenses Rp5.499.656,00 in the DOT group n 12 and the utility value of 0.838 with the total cost of medical expenses Rp5.804.887,00 in the SAT group n 30 . Based on these values, the average cost utility rasio in the DOT group was Rp7,659,688.02, in the SAT group was Rp6,927,072.79, and an incremental cost utility ratio was Rp2,543,592 utility. The results showed that in RSPAD Gatot Soebroto the DOT group is more cost utility than the SAT group."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mela Milani
"Indonesia menempati posisi kedua pada tahun 2016 dengan jumlah kasus tuberkulosis TB terbanyak di dunia sebanyak 1,02 juta kasus. Hal tersebut menyebabkan adanya peningkatan penggunaan obat anti tuberkulosis OAT. Oleh karena itu penggunaan OAT perlu dipantau. Penggunaan OAT harus digunakan secara benar agar tidak terjadi resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan OAT pada pasien TB. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif dari resep dan rekam medis pasien TB selama tahun 2017. Studi dilakukan secara kuantitatif dengan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose ATC/DDD dan kesesuaian obat dengan Formularium Nasional. Data kuantitas dihitung dalam nilai DDD, DDD/1000 pasien/hari dan DDD/1000 penduduk/hari. Sampel adalah data resep yang mengandung OAT dan rekam medis pasien TB rawat jalan usia dewasa 18 tahun di RSUD Jagakarsa tahun 2017 sebanyak 640 resep. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa 53 pasien TB adalah laki-laki, 26,40 berusia 18 sampai 24 tahun, dan 52 mengikuti program BPJS, 94,40 pasien TB menderita penyakit TB Paru. Berdasarkan hasil penelitian secara kuantitatif, total penggunaan obat anti tuberkulosis adalah sebanyak 24.313,75 DDD; 1,38 DDD/1000 pasien/hari; 0,752 DDD/1000 penduduk/hari. Kuantitas penggunaan OAT yang dinyatakan dalam DDD, DDD/1000 pasien/hari dan DDD/1000 penduduk/hari paling tinggi, yaitu isoniazid 10498,75 DDD; 0,596 DDD/1000 pasien/hari; 0,325 DDD/1000 penduduk/hari. Persentase kesesuaian penggunaan OAT dengan Formularium Nasional pada tahun 2017 adalah 100. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat anti tuberkulosis di RSUD Jagakarsa tahun 2017 telah sesuai dengan daftar obat pada Formularium Nasional, sehingga kesesuaian pengobatan diharapkan dapat tercapai.

Indonesia was in the second position in 2016 which had the biggest number oftuberculosis TB cases. It was 1.02 million cases. There is an increasing of antituberculosis drugs ATD usage. Therefore, anti tuberculosis drugs ATD usage needsto be monitored which was must be used rationally to prevent resistency. This researchaimed to evaluate the use of anti tuberculosis drugs in TB patients. The study design tobe used was cross sectional study with retrospective data retrieval method from patient rsquo sprescription and medical records of TB patients during 2017. The study was carried outquantitatively with the method of Anatomical Therapeutic Chemical Defined DailyDose ATC DDD and drug suitability with National Formulary. Quantity data wasmeasured based on DDD, DDD 1000 patiennts hari and DDD 1000 inhabitants day. The sample was patients prescription who used anti tuberculosis drugs and medicalrecords of adult outpatients TB ge 18 years old in RSUD Jagakarsa at 2017 with 640prescriptions. Based on research analysis that 53 of TB patients were male, 26.40 were 18 to 24 years old, and following the BPJS program were 52, and 94.40 of TBpatients suffered from pulmonary TB. Based on quantitative research result, the totaluse of anti tuberculosis drugs was 24.313,75 DDD 1,38 DDD 1000 patients 0,752DDD 1000 inhabitants day. The highest quantity of anti tuberculosis drug usage basedon DDD, DDD 1000 patients day and DDD 1000 inhabitants day was isoniazid 10498,75 DDD 0,596 DDD 1000 patients day 0,325 DDD 1000 inhabitants day. Thepercentage of appropriate anti tuberculosis drugs usage with National Formulary in2017 was 100. Based on the results of the study, it can be concluded that the use ofanti tuberculosis drugs at RSUD Jagakarsa in 2017 has been in accordance with the listsof drugs on the National Formulary, thus the use of drugs is expected to be achieved.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Katarina Damayanti
"Latar Belakang: Target angka keberhasilan pengobatan TB MDR/TB RR 2015 adalah ≥ 75 %. Angka keberhasilan pengobatan menurut WHO tahun 2013 adalah 52%. Kesenjangan antara target dan pencapaian masih sangat besar.
Metode: Penelitian cross sectional/potong lintang berdasarkan data rekam medis pasien TB MDR yang sudah ada hasil pengobatan sejak Januari 2013 sampai dengan Desember 2016. Hasil: Dari 409 pasien TB MDR di RSUP Persahabatan keberhasilan pengobatan 61,4% dengan hasil akhir pengobatan sembuh 243 subjek (59,4%), pengobatan lengkap 8 subjek (2%), meninggal 44 subjek (10,8%), loss to follow up 106 subjek (25,9%) dan gagal 8 subjek (2%). Pada penelitian ini 243 subjek (59,4%) laki-laki dengan rerata umur 38,79 ± 11,887 tahun, mayoritas gizi kurang dan terdapat pengobatan TB sebelumnya, resistensi terbanyak RHES dan efek samping terbanyak efek samping sedang (kelompok 2). Faktor umur, riwayat penggunaan alkohol dan komorbid DM mempunyai hubungan bermakna terhadap hasil akhir pengobatan (p<0,05). Riwayat penggunaan alkohol merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap hasil akhir pengobatan.
Kesimpulan: Keberhasilan pengobatan TB MDR di RSUP Persahabatan adalah sebesar 61,4% dan faktor yang berhubungan bermakna adalah umur, riwayat penggunaan alkohol dan terdapatnya komorbid DM.

Background: The target of treatment success rate of MDR TB/RR TB in 2015 is ≥ 75 %. The success rate in WHO 2013 is 52%. The gap between target and achievement is still very large.
Method: A cross sectional design based on medical record data of MDR TB patients who have been treatment outcomes from January 2013 to December 2016.
Result: Of a total 409 MDR TB patients at Persahabatan Hospital succes rate of treatment is 61,4% with the final outcome consist of cured 243 subjects (59,4%), complete treatment 8 subjects (2%), death 44 subjects (10,8%), loss to follow up 106 subjects (25,9%) dan failed 8 subjects (2%). Patients in this study were male 243 subjects (59,4%) with mean age of subjects 38,79 ± 11,887 years old, majority is malnutrition and had previous TB treatment, the most resistance is RHES and the most side effects is moderate. The age, alcohol user and comorbid DM were found to have significant relationship to treatment outcomes (p<0,05). The alcohol user is the most influential factor to the treatment outcomes.
Conclusion: The success rate of treatment outcome of MDR TB in Persahabatan hospital is 61,4% and associated factors is the age, alcohol user dan comorbid DM. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>