Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eddy Murfi Balaka
"Pada Tugas Akhir ini dilakukan perancangan Op Amp dengan noise dan diberi nama low noise Op Amp. Dalam perancangan Op Amp ini, digunakan rangkaian diferensial dengan masukan tipe-p. Hal ini dipilih karena transistor tipe-p memiliki noise yang cukup kecil dibandingkan dengan transistor tipe-n [ 1 ]. Pada perancangan low noise Op Amp ini, masukan diferensial, transistor M1 dan transistor M2, didisain untuk memiliki nilai lebar channel dan panjang channel yang besar sehingga noise yang dihasilkan makin kecil Penguatan tingkat pertama pada low noise Op Amp ini dibuat cukup besar, hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan efek noise yang ditimbulkan oleh tingkat kedua Op Amp. Hasil yang diperoleh dengan simulasi memakai software pspicc dibandingkan dengan hasil yang terdapat pada referensi dan hasil yang diperoleh leivat perhitungan menunjukkan bahwa noise yang diperoleh dengan simulasi rancangan Op Amp lebih baik. Pada Tugas Akhir ini Juga dibuat layout low noise Op Amp dengan menggunakan software MAGIC."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1996
S38841
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hughes, Fredrick W.
Englewood Cliffs, N. J.: Prentice-Hall, 1981
R 621.381 HUG o
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Ramon Fauzan
"PT Bukaka Teknik Utama sebagai pemimpin pasar penyediaan alat-alat konstruksi jalan raya di Indonesia mulai mendapatkan persaingan dari kompetitor. Untuk mempertahankan pangsa pasar, PT Bukaka harus meningkatkan kinerja dan kualitas produk yang dihasilkannya.
Salah satu metode peningkatan kualitas yang sering digunakan adalah six sigma dengan pendekatan Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC). Six sigma memungkinkan perusahaan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi, kapabilitas proses, penyebab terjadinya variasi, serta rencana yang akan dilakukan untuk mengurangi penyebab variasi tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses memiliki kapabilitas sebesar 3 sigma. Peningkatan kapabilitas proses dilakukan dengan mengidentifikasi penyebab kegagalan dengan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan menerapkan perbaikan terhadap penyebab yag memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi.

PT Bukaka Teknik Utama as market leader in providing road conrtruction equipment getting serious threat from competitors. To maintain market share, PT Bukaka have to improve their performance and product their produced.
There are many quality improvement methods that can be used, one of them is six sigma with Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC) approach. Six sigma stages enable companies to identify the problem, measure current process capability, identify potential causes of variation, and helps companies to arrange the action plans to reduce the failure modes.
Study result shows that process has 3 sigma level of capability which is need an improvement. Process capability improvement was started with identified potential causes by using Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) methods and applied action plans to failure mode with highest Risk Priority Number (RPN) rank.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S50279
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Santoso Tamsir
"ABSTRAK
CMOS OP-AMP Unbuffered dua tingkat merupakan OP-AMP dengan output resistance tinggi yang terdiri dari 7 buah MOSFET. Kestabilan dari OP-AMP tersebut ditentukan oleh panjang dan lebar kanal MOSFET-MOSFET tersebut, tail current dan second stage current. Untuk memudahkan desain, panjang kanal (L) dari MOSFET-MOSFET tersebut digandeng. Pada penelitian ini dianalisis pengaruh dari perubahan panjang kanal dalam daerah cakupan l?L?20um terhadap parameter-parameter seperti slew-rate, device area, gain, gain-bandwidth, power disipasi, tegangan saturasi drain-source pada MOSFET 6 dan 7, output resistance, tegangan offset, unity gain-bandwidth dan phase-margin. Hasil rancangan CMOS OP-AMP Unbuffered dua tingkat pada panjang kanal 10 um diperoleh phase-margin 48,15°, tegangan offset -470,356 nVolt, unity gain-bandwidth 1,9307 Mhz, sedangkan parameter lainnya dibandingkan dengan referensi [2] masing-masing slew-rate +240%, gain-AV -38%, gain-bandwidth +331% dan power disipasi +125%. Selanjutnya parameter-parameter hasil rancangan tersebut dibuat konstan kecuali panjang kanalnya yang divariasikan sesuai daerah cakupan di atas. Diperoleh hasil analisis slew-rate, power disipasi, tegangan offset dan phase-margin tidak dipengaruhi oleh panjang kanal, sedangkan gain-bandwidth dan unity gain-bandwidth meningkat hingga masing-masing 8 x 107 radian dan 19,307 Mhz bila panjang kanal diperkecil. Parameter-parameter lainnya menunjukkan kecenderungan menurun bila panjang kanal diperkecil."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1994
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Desi Wulandari
"ABSTRAK
Adanya pemboman Hiroshima dan Nagasaki, percobaan nuklir di udara pada tahun 1955-1965, serta kecelakaan reaktor, menimbulkan pencemaran zat radioaktif di lingkungan. Cs-137 digunakan sebagai indikator pencemaran radionuklida yang berasal dari dari reaksi fisi. Analisis Cs-137 dalam sampel lingkungan diperlukan dalam pemantauan rutin dan dalam kondisi kecelakan. Pengukuran Cs-137 menggunakan spektrometer gamma detektor HPGe dan NaI(Tl). Sampel yang dianalisis berupa air laut dan susu sapi. Metode preparasi yang digunakan dalam analisis Cs-137 adalah metode pengendapan dengan AMP (ammonium fosfomolibdat) dan metode penguapan.
Pada analisis Cs-137 dalam air laut, kedapatulangan metode pengendapan dan metode penguapan sebesar 100  12 % dan 77  5 %. Konsentrasi terendah yang dapat diukur untuk sampel sebanyak 20 liter dengan pengukuran menggunakan spektrometer gamma HPGe selama 40 jam untuk metode pengendapan dan penguapan sebesar 0,022 Bq dan 0,215 Bq. Waktu yang dibutuhkan untuk analisis dengan metode pengendapan lebih pendek daripada dengan metode penguapan. Penggunaan metode disesuaikan dengan konsentrasi dalam sampel dan waktu yang tersedia. Konsentrasi Cs-137 dalam air laut Pantai Ancol sebesar 2,2  0,3 Bq/m3 diperoleh dari analisis dengan metode pengendapan, sedangkan dengan metode penguapan tidak terdeteksi. Nilai kedapatulangan dari pengukuran sampel susu sapi dengan metode penguapan sebesar 75  15 %. Konsentrasi Cs-137 dalam sampel susu sapi murni dari Bogor sebesar 0,079  0,019 Bq/liter diperoleh dari analisis dengan metode penguapan. Pengukuran susu sapi dengan metode pengendapan tidak berhasil dilakukan

ABSTRACT
The bombing of Hiroshima and Nagasaki, and experiments of nuclear bomb in the atmosfer in 1955-1965, and some reactor accidents, cause the radioactive contamination in environment. Cs-137 is used as indicator of radioactive pollution from fission reaction. Analysis of Cs-137 is important related to routine monitoring and in accident condition. Cs-137 was measured using gamma spectrometer with HPGe and NaI(Tl) detectors. The analyzed samples were sea water and cow milk. The preparation methods in analyzing of Cs-137 were precipitation with AMP (ammonium molybdophosphate) and evaporation method.
For sea water sample, the recovery of precipitation method and evaporation method were 100  12 % and 77  5 %. The minimum concentration could be measured for 20 liters sample with HPGe spectrometer for 40 hours by the precipitation method and evaporation method were 0,022 Bq and 0,215 Bq. The analysis by precipitation method took shorter duration compare with evaporation method. The choice of method depend on the sample concentration and the duration. The Cs-137 concentration in sea water sample collected from Ancol beach was 2,2  0,3 Bq/m3 obtained from the analysis by precipitation method. In evaporation method, it was not detected. The recovery of cow milk measurement with evaporation method was 75  15 %. The concentration of Cs-137 from fresh cow milk collected from Bogor was 0,079  0,019 Bq/liter obtained by an analysis of evaporation method. The analysis with precipitation method for cow milk sample was not successful."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
S54644
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Restianny Hanindya
"ABSTRAK
Metil-Dietanol-Amina MDEA - 2-Amino-2-Metil-1-Propanol AMP - Trietilena-Tetramina TETA adalah campuran alkanolamina yang menjanjikan untuk menangkap karbon dioksida CO2 . Kemampuan absorpsi dan desorpsi MDEA-AMP-TETA dengan menggunakan campuran alkanolamina diketahui dari hasil studi eksperimental ini. Eksperimen absorpsi dilakukan pada 1 atm dan 40 C dengan menggunakan 15 v/v CO2. Pada proses absorpsi CO2, konsentrasi alkanolamina memiliki peranan penting pada kemampuan absorpsi. Konsentrasi masing-masing alkanolamina sebesar 1 mol/L M MDEA-2M AMP-1,5M TETA, 1,5M MDEA-1,5M AMP-1,5M TETA, 2M MDEA-1M AMP-1,5M TETA, dengan total konsentrasi dibuat konstan pada 4,5M. Eksperimen desorpsi CO2, temperatur desorpsi memiliki peranan penting, sehingga dilakukan variasi temperatur desorpsi 70 -90 C. Didapatkan 1,5M MDEA-1,5M AMP-1,5M TETA memiliki kapasitas CO2 loading terbesar. 2M MDEA-1M AMP-1,5M TETA dengan temperatur desorpsi 90 C dapat mendesorpsi CO2 terbesar.

ABSTRACT
Methyl Diethanol Amine MDEA 2 Amino 2 Methyl 1 Propanol AMP Triethylene Tetramine TETA is a promising aqueous alkanolamina blends for carbon dioxide CO2 capture. The absorption and desorption performance of MDEA AMP TETA using alkanolamina blends solutions were investigated. The absorption experiment were carried out at 1 atm and 40 C using 15 v v CO2. In the process of CO2 absorption, alkanolamina concentration played important effects on the absorption performance. Concentration of each alkanolamina were varied into 1 mol L M MDEA 2M AMP 1,5M TETA, 1,5M MDEA 1,5M AMP 1,5M TETA, 2M MDEA 1M AMP 1,5M TETA, total alkanolamina solutions concentration were kept constant at 4.5M. In the process of CO2 desorption from the used absorbent, desorption temperature played an important role on the desorption behavior. It will be varied into 70 90 C. It was discovered 1,5M MDEA 1,5M AMP 1,5M TETA has the greatest CO2 loading capacity. 2M MDEA 1M AMP 1,5M TETA with temperature desorption at 90 C has the greatest CO2 desorption."
2018
T49766
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"A new line,Medicago truncatula cv. Jemalong 2HA (herein known as 2HA) has been developed via repretitive regeneration and selection of M.truncatula cv. Jemalong....."
ITJOSCI
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Punia Mega Metlissa
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa masalah yang timbul dalam penentuan marketing intangible dari advertising, marketing and promotion expense (AMP expense) oleh distributor produk yang merknya dimiliki oleh afiliasi dan menentukan kewajaran dan kelaziman usaha transfer pricing AMP expense berdasarkan ketentuan dan konsep transfer pricing. Konsep yang digunakan dalam penelitian adalah OECD (2017) dan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada PT Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan timbulnya marketing intangible dari transfer pricing AMP expense perusahaan afiliasi adalah jumlah AMP expense yang melebihi jumlah AMP expense dari perusahaan pembanding sesuai dengan hasil wawancara kepada fiskus dan akademisi. Hasil wawancara digunakan karena belum adanya ketentuan perpajakan yang dapat memberikan panduan dalam mengidentifikasi AMP expense yang dapat menimbulkan marketing intangible. Kepemilikan marketing intangible dilakukan melalui analisis fungsi, aset, dan risiko yang berfokus pada pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, perlindungan, dan eksploitasi (DEMPE) marketing intangible (OECD, 2017). Remunerasi marketing intangible dapat diberikan dalam bentuk pengurangan harga beli, kompensasi langsung atas pengeluaran yang melebihi pengeluaran pihak independen ditambah keuntungan berdasarkan fungsi dan risiko yang ditanggung (OECD, 2017). Penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha transaksi transfer pricing AMP expense pada penelitian ini dapat digunakan oleh objek penelitian untuk mengurangi risiko pemeriksaan.

This study aims to analyze problem that arise in determining marketing intangibles of advertising, marketing and promotion expense (AMP expense) by distributors whose brand of the products are owned by affiliates and determine arm’s length principle of AMP expense based on the provisions and concepts of transfer pricing. The concept used in this study are OECD (2017) and tax regulations that apply in Indonesia. This research uses a qualitative approach with a case study at PT Z. The results show that the indicator that can be used to determine the emergence of marketing intangibles from transfer pricing AMP expenses of affiliated companies is the amount of AMP expense that exceeds the amount of AMP expense from the comparison company according to the results of interviews with the tax authorities. and academics. The results of the interview are used because there are no tax provisions that can provide guidance in identifying AMP expenses that can cause marketing intangibles. Ownership of marketing intangibles is carried out through an functions, assets, and risks analysis that focus on the development, improvement, maintenance, protection, and exploitation (DEMPE) of marketing intangibles (OECD, 2017). Remuneration for marketing intangibles can be given in the form of a reduction in the purchase price, direct compensation for expenses that exceed the expenses of independent parties plus profits based on the functions and risks borne (OECD, 2017). Arm’s length principle of AMP expense transfer pricing transactions in this study can be used by research object to reduce audit risk."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sebayang, Melya Dyanasari
"Saat ini banyak dikembangkan dengan teknologi pencangkokan material non polar Poletilene (PE) dengan material polar seperti poliamid (PA), maleic anhydride (MA) untuk mendapatkan pelembut yang mempunyai karakteristik yang stabil. Pada pencangkokan PA pada PE masih terbentuk gumpal gumpalan dan butir-butiran. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan pencangkokan MA dalam bentuk MA 25% solution pada PE 25% solution dengan menggunakan katalis ammonium persulfate (APS) dan penetral amino-metil-propanol (AMP) dalam kemurnian 95%, sehingga menghasilkan pelembut yang stabil tanpa terjadi penggumpalan dan butiran. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi perubahan ikatan karbon dengan menggunakan Fourier Transform Infra-Red (FTIR). Dengan instrumen FTIR terlihat adanya perubahan ikatan PE dari C-O menjadi C-N yang ditandai dengan puncak intensitas gelombang ??1090 cm-1 pada MA 7% dan 9%, serta terbentuknya ikatan baru pada PE setelah dicangkok dengan MA yaitu N-H yang ditandai dengan puncak intensitas gelombang ??2000 cm-1. Selain analisis perubahan ikatan PE-g-MA, juga dilakukan pengukuran derajat keasaman, ukuran partikel, kekentalan larutan, kadar padat, dan kelembutan bahan. Dari karakterisasi tersebut terlihat PE-g-MA 9% pada suhu 95??C adalah PE-g-MA yang paling stabil. Hal ini ditandai dengan terbentuknya perubahan ikatan dari ikatan C-O menjadi ikatan C-N, C=O, C O dan ikatan baru yaitu N-H serta tidak terjadinya penggumpalan dan pemisahan larutan pada saat pendinginan.

Recent development in the technology of fabric softener involves grafting of non polar poyethylene ( PE) with polar substances like polyamide ( PA) and maleic anhydride (MA). One of the problems associated with this grafting process is the formation of lumps and granules. To overcome this problem, ammonium persulphate ( APS) as catalyst together with amino- metil- propanol (AMP) having 95% purity as neutralizing agent will be used in grafting 25% MA solution with 25% PE solution. Characterization of the synthesized product includes chemical, bonds identification using Fourier Transform Infra-Red ( FTIR) spectroscopy, viscosity, solid content and softness. The information obtained from FTIR spectroscopy shows that C-O bonds have been replaced by C-N, C=O, C O bonds and that previously absent N-H bonds are formed. As a whole , this study also shows that PE-g-MA 9% synthesized at 950C is the most stable solution without the formation of lumps nor separation upon cooling."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
T25129
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sebayang, Melya Dyanasari
"Saat ini banyak dikembangkan dengan teknologi pencangkokan material non polar Poletilene (PE) dengan material polar seperti poliamid (PA), maleic anhydride (MA) untuk mendapatkan pelembut yang mempunyai karakteristik yang stabil. Pada pencangkokan PA pada PE masih terbentuk gumpal gumpalan dan butir-butiran. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan pencangkokan MA dalam bentuk MA 25% solution pada PE 25% solution dengan menggunakan katalis ammonium persulfate (APS) dan penetral amino-metil-propanol (AMP) dalam kemurnian 95%, sehingga menghasilkan pelembut yang stabil tanpa terjadi penggumpalan dan butiran. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi perubahan ikatan karbon dengan menggunakan Fourier Transform Infra-Red (FTIR). Dengan instrumen FTIR terlihat adanya perubahan ikatan PE dari C-O menjadi C-N yang ditandai dengan puncak intensitas gelombang ??1090 cm-1 pada MA 7% dan 9%, serta terbentuknya ikatan baru pada PE setelah dicangkok dengan MA yaitu N-H yang ditandai dengan puncak intensitas gelombang ??2000 cm-1. Selain analisis perubahan ikatan PE-g-MA, juga dilakukan pengukuran derajat keasaman, ukuran partikel, kekentalan larutan, kadar padat, dan kelembutan bahan. Dari karakterisasi tersebut terlihat PE-g-MA 9% pada suhu 95??C adalah PE-g-MA yang paling stabil. Hal ini ditandai dengan terbentuknya perubahan ikatan dari ikatan C-O menjadi ikatan C-N, C=O, C O dan ikatan baru yaitu N-H serta tidak terjadinya penggumpalan dan pemisahan larutan pada saat pendinginan.

Recent development in the technology of fabric softener involves grafting of non polar poyethylene ( PE) with polar substances like polyamide ( PA) and maleic anhydride (MA). One of the problems associated with this grafting process is the formation of lumps and granules. To overcome this problem, ammonium persulphate ( APS) as catalyst together with amino- metil- propanol (AMP) having 95% purity as neutralizing agent will be used in grafting 25% MA solution with 25% PE solution. Characterization of the synthesized product includes chemical, bonds identification using Fourier Transform Infra-Red ( FTIR) spectroscopy, viscosity, solid content and softness. The information obtained from FTIR spectroscopy shows that C-O bonds have been replaced by C-N, C=O, C O bonds and that previously absent N-H bonds are formed. As a whole , this study also shows that PE-g-MA 9% synthesized at 950C is the most stable solution without the formation of lumps nor separation upon cooling."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
T41203
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>