Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 67 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fitria Agustanti
"Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan pandemi dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. COVID-19 dapat mencetuskan badai sitokin, suatu reaksi hiperinflamasi yang menyebabkan acute respiratory distress syndrome dan kegagalan multiorgan. Zink dipertimbangkan sebagai terapi supportif pada COVID-19 karena memiliki potensi sebagai immunomodulator, antivirus serta antiinflamasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kadar zink pada saat masuk perawatan dengan manifestasi derajat penyakit COVID-19 serta luaran buruk COVID-19. Derajat penyakit
ditentukan berdasarkan manifestasi klinis sesuai kriteria WHO saat masuk perawatan sedangkan luaran buruk bila subjek pernah dirawat di ruang intensif, menggunakan ventilator selama perawatan atau meninggal. Pada penelitian ini didapatkan total 87 kasus yang terbagi menjadi kelompok derajat tidak berat sebanyak 74 kasus dan kelompok derajat berat sebanyak 13 kasus. Berdasarkan luaran didapatkan kelompok luaran buruk sebanyak 22 kasus dan luaran baik 65 kasus. Rerata kadar zink lebih rendah pada
kelompok derajat berat dan kelompok luaran buruk. Ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik pada rerata kadar zink dengan luaran COVID-19 sedangkan dengan derajat penyakit cenderung bermakna secara statistik. Kadar zink terhadap luaran buruk
COVID-19 memiliki luas Area Under the Curve (AUC) 81,6%, dengan nilai titik potong kadar zink 56,05 ug/dL yang memiliki sensitivitas 77,3% dan spesifitas 73,8%. Pasien dengan kadar zink ≤56,05 ug/dL berisiko 8,79 kali lebih tinggi mengalami luaran buruk COVID-19 dibandingkan pasien dengan kadar zink >56,05 ug/dL setelah diadjust dengan usia, komorbid penyakit jantung, dan diabetes mellitus. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang cukup untuk memperkuat hasil penelitian ini.

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a pandemic with high morbidity and mortality. COVID-19 can trigger a cytokine storm, a hyperinflammatory reaction that causes acute respiratory distress syndrome and multiorgan failure. Zinc was considered as a supportive therapy for COVID-19 because it has potential as an immunomodulator, antiviral and anti-inflammatory. This study aims to analyze the association between zinc level at the time of admission on disease severity and poor outcome of COVID-19. Disease severity was determined based on clinical manifestations according to WHO criteria on admission, while poor outcome was defined as a history of intensive care unit stay, intubated during treatment or deceased. There were 87 subjects consist of 74 cases of non-severe group and 13 cases of severe group. As for the outcome, there were 22 cases of poor outcome and 65 cases of good outcome. The mean of zinc level was lower in severe and poor
outcome group. There was a significant association between zinc level and poor outcome, while disease severity tended to be statistically significant. An Area Under the Curve (AUC) of zinc level and COVID-19 poor outcome was 81,6%, with a cut point of 56,05
ug/dL, sensitivity and specificity was 77.3% and 73.8%. Patients whose zinc level ≤56.05ug/dL had a 8.79-fold higher risk of poor outcome compared to patients whose zinc level > 56.05 ug/dL after age, heart disease, and diabetes mellitus adjustment. Further studies a sufficient number of sample are needed to support this study.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Trianti Kartikasari Kusuma
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan salah satu standar pelayanan farmasi klinik yang diatur dalam Permenkes 72 tahun 2016. Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Pada Maret 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kebayoran Lama sebagai rumah sakit milik pemerintah provinsi DKI Jakarta ditunjuk menjadi Rumah Sakit (RS) rujukan full Covid-19. Obat yang digunakan sebagai terapi Covid-19 merupakan obat potensial yang belum diuji klinis untuk menyembuhkan Covid-19 maka RSUD Kebayoran Lama sebagai rumah sakit rujukan full Covid-19 perlu melakukan kegiatan PTO pada pasien. Penelitian ini bertujuan melakukan analisa hasil PTO dan mengidentifikasi masalah terkait obat pada pasien Covid-19.
Metode yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan melihat data yang didapat dari form Pemantauan Terapi Obat (PTO). Berdasarkan data yang diperoleh, dibuat analisis PTO untuk tiap pasien.
Dari 26 pasien Covid-19, terdapat 5 pasien yang dilakukan analisis SOAP berdasarkan form PTO masing-masing pasien. Ditemukan 1 kasus pemilihan obat yang kurang tepat, 3 kasus mengalami pemberian dosis diatas batas normal, 4 kasus yang mengalami interaksi obat dan 2 kasus yang mengalami pemberian obat tanpa indikasi.

Drug Therapy Monitoring (PTO) is obe of the clinical pharmacy service regulated in Permenkes 72 of 2016. Covid-19 is an infectious disease caused by infection of Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). In March 2020, WHO declared Covid-19 a pandemic. The Kebayoran Lama Regional General Hospital (RSUD) as a hospital belonging to the DKI Jakarta government was appointed to be a full Covid-19 hospital. The drug used for Covid-19 therapy is a potential drug that has not been clinically tested to cure Covid-19, so RSUD Kebayoran Lama as a full Covid-19 referral hospital needs to carry out PTO activities on patients. This study aims to analyze PTO results and identify drug-related problems in Covid-19 patients.
The method used is a qualitative method by looking at the data obtained from the PTO form. Based on the data, a PTO analysis was made for each patient.
Of the 26 Covid-19 patients, there were 5 patients who underwent SOAP analysis based on the PTO form of each patient. There was 1 case of inappropriate drug selection, 3 cases experiencing dosages above the normal limit, 4 cases experiencing drug interactions and 2 cases experiencing drug administration without indications.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rivaldi Febrian
"Rapid swab antigen SARS-CoV-2 merupakan pemeriksaan alternatif dalam mendeteksi SARS-CoV-2. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemeriksaan rapid swab antigen SARS-CoV-ialah viral load yang direpresentasikan dengan cycle threshold (CT) pada pemeriksaan rRT-PCR. Hasil CT yang tinggi membuat sensitivitas pemeriksaan rapid swab antigen SARS-CoV-2 rendah. Tujuan utama pada penelitian ialah untuk menentukan nilai CT tertinggi pada pemeriksaan rRT-PCR yang mampu memberikan hasil reaktif pada pemeriksaan COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor). Penelitian merupakan penelitian observasional dengan metode potong lintang dilakukan pada poliklinik demam RS dr. Cipto Mangunkusumo pada tanggal Juli 2020- Desember 2021. Total subjek dalam penelitian berjumlah 235 terdiri dari 24,7% subjek dengan rRT-PCR SARS-CoV-2 positif dan 75,3% subjek dengan rRT-PCR SARS-CoV-2 negatif. Median CT tertinggi pada pemeriksaan rRT-PCR SARS-CoV-2 yang mampu memberikan hasil reaktif pada pemeriksaan COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) ialah 28,22 (13,33- 39,16), sedangkan median CT tertinggi pada COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) non-reaktif ialah 34,45 (26,08-39,65). Sensitivitas, spesifisitas, NPV, PPV, dan LR positif dan LR negatif hasil COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) pada CT ≤ 40 adalah 63.8%, 99.4%, 89.3%, 97.4%, 112.9, dan 0.4. Pada CT ≤ 33 sensitivitas, spesifisitas, NPV, PPV, dan LR positif dan LR negatif ialah 77.1%, 99.4%, 95.7%, 96.4%, 136.5, dan 0.2 sedangkan pada CT ≤ 25 sensitivitas, spesifisitas, NPV, PPV, dan LR positif dan LR negatif adalah 92.3%, 99.4%, 99.4%, 92.3%, 163.4, dan 0.1. Titik potong CT rRT-PCR SARS-CoV-2 tertinggi ialah 26,06 dengan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 99,4%. Pemeriksaan COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) dapat dipakai untuk keperluan diagnosis, contact tracing atau community surveilance.

SARS-CoV-2 rapid antigen swab is an alternative test for detecting SARS-CoV-2 infection. One of the factors that influence the examination is viral load, which is represented by the cycle threshold (CT) in the rRT-PCR examination. The higher CT value will result in lower sensitivity of SARS-CoV-2 rapid antigen swab examination. The main objective of the study was to determine the highest CT value in rRT-PCR examination which still able to give reactive results on the COVID-19 Ag test (Standard Q SD Biosensor). The study was a cross-sectional study carried out at the fever polyclinic in dr. Cipto Mangunkusumo Hospital between July 2020 - December 2021. The study consisted of 235 subjects, 24.7% of subjects were SARS-CoV-2 positives and 75.3% of subjects were negative for SARS-CoV-2 infections. Median highest CT value in the SARS-CoV-2 rRT-PCR examination which able to give reactive results on the COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) test was 28.22 (13.33-39.16) while the median CT value on the non-reactive COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) was 34.45 (26.08-39.65). The sensitivity, specificity, NPV, PPV, and LR positive and LR negative results of COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) were 63.8%, 99.4%, 89.3%, 97.4%, 112.9, and 0.4 at CT value ≤ 40. The sensitivity, specificity, NPV, PPV, and LR positive and LR negative at CT value ≤ 33 were 77.1%, 99.4%, 95.7%, 96.4%, 136.5, and 0.2, while at CT ≤ 25 sensitivity, specificity, NPV, PPV, and LR positive and LR negative were 92.3%, 99.4%, 99.4%, 92.3%, 163.4, and 0.1. The cut-off point for the highest CT value was 26.06 with a sensitivity of 100% and a specificity of 99.4%. In conclusion, COVID-19 Ag (Standard Q SD Biosensor) was acceptable for diagnosis, contact tracing or community surveillance."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Okada, Gen
"In brazil, where covid-19 was discovered in late february 2020, the outbreak has since exploded. Behind this lies a serious socioeconomic problem that has persinted since colonial times."
Tokyo: Center for Asian and Pacific Studies, Seikei University, 2022
915 RAPS 47 (2022)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ferdinand Andreas Chandra
"Latar Belakang: COVID-19 menyebabkan penyakit kritis dan kematian dengan manifestasi utama sindrom pernafasan akut. Prediktor kematian pada kasus COVID-19, seperti IL-6 berperan dalam mengatur respon imun dan inflamasi. Pada kasus berat, peningkatan IL-6 dapat menyebabkan sepsis dan kegagalan multi-organ. CRP juga berkontribusi signifikan terhadap peradangan. Keparahan derajat COVID-19 dipengaruhi oleh komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe II, dan hipertensi. Tocilizumab, penghambat reseptor IL-6 merupakan terapi baru untuk pasien COVID-19 berat dan kritis. Penelitian ini menilai mortalitas pasien COVID-19 berat yang diberikan dan tidak diberikan terapi tocilizumab setelah dikontrol oleh variabel perancu. Tujuan: Menganalisis pengaruh terapi tocilizumab terhadap kematian pada pasien COVID-19 berat. Metode: Desain penelitian kohort retrospektif, menggunakan data rekam medis pasien COVID-19 di ICU RSCM selama dua tahun. Data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil: Total 80 subjek, 52 pasien meninggal dan 28 pasien hidup. Mayoritas pasien memiliki CRP tinggi, IL-6 meningkat, serta tidak memiliki komorbid hipertensi, diabetes mellitus tipe II, dan penyakit kardiovaskular. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pemberian terapi tocilizumab dan kematian, serta tidak terdapat perancu dalam penelitian ini. Kesimpulan: Pemberian terapi tocilizumab tidak memperbaiki kejadian mortalitas pada pasien COVID-19 berat.

Background: COVID-19 causes critical illness and death with the main manifestation of acute respiratory syndrome. Predictors of death in COVID-19 cases, such as IL-6, play a role in regulating the immune response and inflammation. In severe cases, increased IL-6 can cause sepsis and multi-organ failure. CRP also contributes significantly to inflammation. The severity of COVID-19 is influenced by comorbidities such as cardiovascular disease, type II diabetes mellitus, and hypertension. Tocilizumab, an IL-6 receptor inhibitor, is a new therapy for severe and critical COVID-19 patients. This study assessed the mortality of severe COVID-19 patients who were and were not given tocilizumab therapy after controlling for confounding variables. Objective: To analyze the effect of tocilizumab therapy on mortality in severe COVID-19 patients. Methods: Retrospective cohort study design, using medical record data of COVID-19 patients in the ICU RSCM for two years. Data were analyzed using SPSS. Results: A total of 80 subjects, 52 patients died and 28 patients survived. The majority of patients had high CRP, increased IL-6, and did not have comorbid hypertension, type II diabetes mellitus, and cardiovascular disease. Statistical analysis showed no significant association between tocilizumab therapy and mortality, and there were no confounders in this study. Conclusion: Administration of tocilizumab therapy does not reducing mortality rates in severe COVID-19 patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Remzy Syah Ramazhan
"Coronavirus disease 19 (COVID-19) adalah penyakit pernapasan menular yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Penyakit ini memiliki gejala umum yang mirip dengan gejala penyakit pernapasan lain seperti alergi, flu, dan pilek. Tetapi setiap penyakit membutuhkan obat dan perawatan yang berbeda-beda. Sehingga, penting bagi penderita untuk mendapatkan diagnosis yang tepat atas penyakit yang diderita. Diagnosis biasanya dilakukan dengan pertemuan langsung antara dokter dan pasien. Akan tetapi, cara ini memiliki banyak hambatan, seperti: membutuhkan banyak waktu dan biaya. Selain itu, cara ini juga berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain. Oleh karena itu, diajukan implementasi chatbot untuk mengatasi hambatan dalam melakukan diagnosis COVID-19. Chatbot menerima input data berupa gejala yang dialami pasien. Data tersebut terlebih dahulu diubah menjadi data tabular untuk kemudian dilakukan klasifikasi jenis penyakit dengan bantuan algoritma machine learning. Pada Penelitian ini, akan dilakXGBoost pada data gejala yang dipublikasikan oleh Walter Conway di situs Kaggle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Random Forest memiliki kinerja terbaik pada data testing dengan skor rata-rata accuracy sebesar 93.38%, precision sebesar 96.58%, recall sebesar 93.38%,F1-Score sebesar 94.32%, specificity sebesar 99.73%, Geometric Mean sebesar 95.94%, dan waktu training selama 0.33 detik.

Coronavirus disease 19 (COVID-19) is an infectious respiratory disease that was first detected in Wuhan City, Hubei Province, China. This disease has general symptoms that are similar to the symptoms of other respiratory diseases such as allergies, flu, and colds. But each disease requires different medications and treatments. Thus, it is important for patients to get a proper diagnosis of the disease they are suffering from. Diagnosis is usually made by direct meeting between doctor and patient. However, this method has many obstacles, such as: it takes a lot of time and money. In addition, this method also has the potential to transmit the disease to others. Therefore, it is proposed to implement a chatbot to overcome obstacles in diagnosing COVID-19. The chatbot receives input data in the form of symptoms experienced by the patient. The data is first converted into tabular data and then the classification of the type of disease is carried out with the help of machine learning algorithms. In this study, a diagnosis of COVID-19 will be carried out using the Random Forest and XGBoost models on symptom data published by Walter Conway on the Kaggle website. The results showed that the Random Forest model had the best performance on data testing with an average score of 93.38% accuracy, 96.58% precision, 93.38% recall, 94.32% F1-Score, 99.73% specificity, and 95.94% Geometric Mean, and the training time is 0.33 seconds."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Penngetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmat Riadi
"Pelaksanaan Pemilihan Serentak di masa pandemi COVID-19 beresiko terhadap keamanan dan keselamatan baik penyelenggara maupun pemilih. Hal ini membutuhkan strategi penanganan yang tepat untuk menghadapi situasi dan kondisi penyebaran COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi penanganan bencana non-alam COVID-19 dalam Pemilihan Serentak tahun 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan mengkaji jurnal atau karya ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan Pemilihan Serentak di masa pandemi COVID-19 berpotensi menimbulkan implikasi pada sektor kesehatan, pada struktur anggaran, dan tahapan penyelenggaraan Pemilihan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyusun strategi pelaksanaan Pemilihan Serentak di masa pandemi melalui penundaan tahapan Pemilihan, re-schedule tahapan Pemilihan, penerapan sistem kerja Work From Home (WFH), penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di tempat kerja, menjaga jarak dalam berinteraksi, melaksanakan rapid test bagi penyelenggara, pengurangan jumlah pemilih di setiap TPS, pengaturan waktu pemilihan di TPS, mengatur cara memilih bagi pemilih dengan suhu tubuh 37,3°C atau lebih, mengatur cara memilih bagi pemilih positif COVID-19, serta membangun kemitraan atau kerjasama dengan pemerintah, partai politik, tokoh agama/tokoh masyarakat, media, lembaga pengawas, lembaga pengamanan, dan kerjasama internal penyelenggara."
Jakarta: Komisi Pemilihan Umum , 2021
320 JTKP 2:2 (2021)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Deli Andini
"Sejak diadakannya PSBB karena Pandemik Covid-19, jumlah pesepeda mulai banyak ditemukan di kawasan Ibu Kota Jakarta kurang lebih, bertambah sekitar 10x lipat. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap keberadaan tempat makan seperti cafe, coffee shop yang sekarang menjadi tempat kumpul atau terbentuknya komunitas sepeda di Jakarta. Dimana, mereka menjadikan tempat makan tersebut sebagai titik point untuk beristirahat sejenak. Dengan adanya isu tersebut, serta respon terhadap pandemik Covid-19 menghadirkan sebuah ide dimana sebuah tempat makan yang biasanya orang ingin berlama lama untuk duduk disana, menjadikan konsep Drive-Thru untuk pesepeda merupakan program utama dari bangunan yang akan di rancang.

Since the PSBB was held due to the Covid-19 Pandemic, the number of cyclists began to be found in the Jakarta Capital area more or less, an increase of about 10 times. This also affects the existence of places to eat such as cafes, coffee shops which are now gathering places or the formation of a bicycle community in Jakarta. Where, they make the place to eat as a point to rest for a while. With these issues, as well as the response to the Covid-19 pandemic, presenting an idea where a place to eat that usually people want to sit for a long time, makes the Drive-Thru concept for cyclists the main program of the building to be designed."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dienda Siti Rufaedah
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah terhadap imbal hasil saham. Dengan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) antara 1 Januari hingga 31 Desember 2020, penelitian ini mengkaji dampak Covid-19 dengan menggunakan jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 harian, kebijakan pemerintah, serta variabel-variabel ekonomi dan keuangan terhadap return saham. Negara sampel dibagi menjadi negara-negara yang dianggap berhasil menangani pandemi yang ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut setelah mengeluarkan beberapa kebijakan pemerintah, seperti Vietnam dan China, serta kurang berhasil seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Penelitian ini juga meneliti dampak kebijakan pemerintah seperti kebijakan lockdown dan kebijakan moneter/stimulus ekonomi terhadap return saham di negara-negara tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan total kasus positif Covid-19 berpengaruh negatif terhadap return saham di Vietnam, China, Indonesia, dan Malaysia sedangkan pertumbuhan total kasus positif Covid-19 berpengaruh positif terhadap return saham di Filipina. Sementara itu, perubahan nilai tukar domestik terhadap Dolar AS dapat menurunkan return saham di semua negara sampel. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai kapitalisasi pasar dan rasio price-to-book value berpengaruh positif terhadap return saham. Selain itu, investment freedom memiliki pengaruh yang berbeda di masing-masing negara. Sementara itu, kebijakan lockdown dan kebijakan moneter/stimulus ekonomi pada umumnya berpengaruh positif terhadap return saham. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar bereaksi positif terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

This study aims to determine how the impact of the Covid-19 pandemic and government policies on stock returns. Using the Ordinary Least Squares (OLS) method between 1 January – 31 December 2020, this study examines the impact of Covid-19 using daily Covid-19 confirmed cases, government policies, and other macroeconomic and financial indicators on stock returns. The sample countries are divided into successful countries in dealing with the Covid-19 pandemic as indicated by their economic growth after launching some government policies, such as Vietnam and China, and less successful, such as Indonesia, Malaysia, and the Philippines. This study also examines the impact of government policies such as the lockdown policy and the monetary policy/economic stimulus on stock returns in those countries. The findings indicate that Covid-19 confirmed cases have a negative effect on stock returns in Vietnam, China, Indonesia, and Malaysia, while the Covid-19 confirmed cases have a positive effect on stock returns in the Philippines. Meanwhile, changes in the domestic currencies decrease stock returns across all countries. This study also finds that market capitalization and the price-to-book value ratio positively associated with stock returns. Furthermore, investment freedom has different effects in each country. Meanwhile, the lockdown policy and the monetary policy/economic stimulus generally positively affected stock returns. This result indicates that the market has reacted positively to the government’s policies in handling the Covid-19 pandemic."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zakky Hazami
"Latar Belakang : Infeksi COVID-19 telah diketahui masih dapat menyebabkan gejala sampai 90 hari dan bahkan lebih, meski infeksi akutnya telah berlalu. Hal ini disebabkan karena adanya fenomena sindroma pasca COVID-19. Mekanisme kejadian tersebut sampai saat ini masih belum diketahui pasti. Hal tersebut diduga kuat akibat adanya fibrosis di beberapa organ, terutama jantung dan paru. Sementara itu, beberapa studi telah menyebutkan bahwa sST2 merupakan penanda fibrosis jantung. Meskipun demikian, sampai saat ini belum ada penelitian yang mencoba mengetahui faktor-faktor apa saja yang memiliki hubungan dengan kejadian fibrosis pasca infeksi COVID-19. Kadar sST2 pada pasien komorbid kardiovaskular tanpa COVID-19 dan populasi orang sehat, khususnya di Indonesia juga belum diketahui.
Tujuan : Mengetahui perbandingan kadar sST2 pada pasien komorbid kardiovaskular 12 minggu pasca infeksi COVID-19 dengan pasien komorbid kardiovaskular tanpa COVID-19 dan populasi orang sehat, serta hubungannya dengan faktor-faktor admisi.
Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional potong lintang. Kadar sST2 pada pasien 12 minggu pasca infeksi COVID-19 dibandingkan dengan komorbid kardiovaskular akan dibandingkan dengan kelompok kontrol, yaitu kontrol 1 yang merupakan pasien komorbid kardiovaskular tanpa COVID-19 dan kontrol 2 yang merupakan populasi orang sehat. Kelompok kontrol dipilih menggunakan metode matching. Hubungan faktor klinis dan laboratoris saat dengan kadar sST2 pada pasien 12 minggu pasca infeksi COVID-19 dianalisis menggunakan analisis multivariat.
Hasil : Terdapat 162 subjek yang menyelesaikan rangkaian penelitian yang terdiri atas 100 subjek dengan penyintas COVID-19 disertai komorbiditas kardiovaskular (kelompok kasus), 31 subjek dengan komorbiditas kardiovaskular tanpa COVID-19 (kelompok kontrol 1), dan 31 subjek sehat tanpa riwayat COVID-19 dan komorbiditas kardiovaskular (kelompok kontrol 2). Ketiga kelompok memiliki karakteristik yang sama. Terdapat perbedaan signifikan rerata nilai sST2 antara kelompok kasus dibandingkan kontrol 1 dan kontrol 2 (2786 ± 73 vs 2666 ± 162 pg/l, p <0.001 dan 2786 ± 73 vs 2517.15 ± 321 pg/l, p < 0.001), serta kontrol 1 dibandingkan kontrol 2 (2666 ± 162 pg/l vs 2517.15 ± 321 pg/l, p < 0.001). Analisis multivariat menunjukkan PaO2 (p < 0.001) dan nilai CT (p = 0.04) memiliki hubungan dengan kadar sST2 pada pasien 12 minggu pasca infeksi COVID-19.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan signifikan antara kadar sST2 sebagai penanda fibrosis jantung pada ketiga kelompok subjek penelitian, dengan kadar sST2 lebih tinggi pada subjek dengan penyintas COVID-19 disertai komorbiditas kardiovaskular. Terdapat hubungan PaO2 dan nilai CT saat admisi dengan kadar sST2.

Background : Recent findings showed that symptoms associated with COVID-19 infection may persist up to 90 days even after the acute disease period has passed. This condition is now termed as post COVID-19 syndrome. Several pathophysiologic mechanisms of this event had been proposed, all of which still needed further elaboration. One of the proposed mechanisms involves fibrotic processes in several organs, especially heart and the lungs. SST2 has been suggested as a novel biomarker for cardiac fibrosis. However data are still needed to further elucidate the factors which are associated with the incidence of fibrosis post COVID-19 infection. Furthermore, data regarding sST2 levels in patients with cardiovascular comorbidities and in healthy subjects are still limited.
Objective : Knowing the differences on sST2 levels between subjects with cardiovascular comorbidities 12 weeks post COVID-19 infection, those without history of COVID-19 but with cardiovascular comorbidities, and healthy population, as well as knowing its relationship with admission factors.
Methods : This study is a cross-sectional observational study on patients 3 months after COVID-19 infection presented with cardiovascular comorbidities. Age and sex-matched control groups were used as comparison. The results were compared with a group without history of COVID-19 and healthy populations. Relationship between admission factors was assessed using multivariate analysis
Results : 162 subjects completed the study series, consisting of 100 subjects with COVID-19 survivors with cardiovascular comorbidities (case group), 31 subjects with cardiovascular comorbidities without COVID-19 (control group 1), and 31 healthy subjects without a history of COVID-19 and cardiovascular comorbidities (control group 2). All three groups had similar characteristics. There was a significant difference in the mean sST2 value between the case groups compared to control 1 and control 2 (2786 ± 73 vs 2666 ± 162 pg/l, p < 0.001 and 2786 ± 73 vs 2517.15 ± 321 pg/l, p < 0.001 respectively), and control 1 compared to control 2 (2666 ± 162 pg/l vs 2517.15 ± 321 pg/l, p < 0.001). Multivariate analysis revealed PaO2 (p < 0.001 and CT values (p = 0.04) as admission factor associated with increased sST2 3 months after initial COVID-19 infection.
Conclusion : SST2 levels were found to be significantly different between the three groups, with the highest level on the case group (subjects with history of COVID-19 and cardiovascular comorbidities). Factors upon admissions which include Arterial oxygen partial pressure (PaO2) (p < 0.001) and CT value (p = 0.04) were found to be associated with increased sST2 levels.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>