Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yuliawati
"Anemia masih merupakan salah satu masalah gizi utama yang terjadi pada kelompok perempuan masa reproduktif, dimana prevalensi anemia pada kelompok ini antara negara maju dengan negara berkembang terdapat kesenjangannya cukup tinggi.
Akseptor KB yang maksud pada penelitian ini adalah khusus akseptor yang menggunakan alat kontrasepsi IUD hormonal dan Suntikan KB DMPA 150 mg. Di Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur didapatkan akseptor yang mengalami anemia 70%. Penyebab anemia yang paling sering adalah defisiensi zat gizi besi. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada akseptor keluarga berencana (KB), diantaranya pola perdarahan menstruasi, status gizi dan serta Paritas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara factor-faktor pola perdarahan menstruasi (jumlah darah, lamanya perdarahan dan frekwensi menstruasi), status gizi, paritas, penggunaan kontrasepsi IUD dan Suntikan KB DMPA 150 mg dengan keadaan anemia di Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur, Propinsi Lampung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, dengan responden 30 orang akseptor IUD hormonal dan Suntikan KB DMPA 150 mg. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan serta pemeriksaan kadar haemoglobin, kemudian diolah dengan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik chi square.
Prevalensi anemia pada responden akseptor KB adalah sebesar 33,3 %, hasil uji chi square menyimpulkan adanya hubungan antara jumlah darah menstruasi, frekuensi menstruasi, status gizi, paritas, dan penggunaan kontrasepsi dengan anemia.
Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan penanggulangan anemia zat gizi besi pada akseptor KB misalnya melalui KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) tentang pentingnya asupan gizi yang memadai, pemeriksaan kadar Hb secara berkala bagi akseptor sekaligus pemberian tablet Fe dalam kemasan yang menarik dan rasa yang lebih disukai.

Relationship Between Menstrual Pattern, Nutritional Status, Parity IUD and Injection Typed Contraception Use with Anemia in Pekalongan Sub District, District of East Lampung 2003Anemia still remains as one of nutrition main problems which happened among women in reproductive age group, where the prevalence in this group between developed and developing countries has a big difference.
In sub district Pekalongan, district of East Lampung found 70 % of Family Planning acceptor had anemia. Major cause of anemia is iron deficiency, with some factors such as, menstrual cycle pattern, nutritional status, and parity.
The aims of study is to find out relationship between such factors like menstrual cycle pattern (quantity of blood and menstrual frequencies), nutritional status, parity, contraception device with anemia status of family planning acceptors and DMPA 50 mg injection. Study design is cross sectional, with a total respondents of 30 acceptors who used hormonal IUD and DMPA 150mg injection. Data were collected by administering through questionnaire, measuring body weight, height, and hemoglobin quantity. These data processed by univariate, bivariate chi square test analyses.
Prevalence of anemia in respondents is 33,3% Chi square test showed that there is relation ship between quantities of menstrual blood, menstrual frequencies, nutritional status, parity, and contraception device use with anemia.
Based on the results of this study, it is recommended to deliver more information, communication and education (KIE) about the importance of adequate nutrition intake, to measure blood concentrate regularly and to give tablet of Fe with more attractive packaging and taste.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2003
T11315
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Edward Ricardo
"Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi seluruh penduduk. Masyarakat diharapkan mampu berpartisipasi aktif dalam memelihara kesehatannya. Dalam rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan 10 program unggulan kesehatan dan salah satu diantaranya adalah program keselamatan dan kesehatan kerja. Sebagaimana yang tercantum di dalam Undang-undang No.23 pasal 23, program kesehatan kerja ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal, agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa mernbehayakan diri sendiri dan masyarakat di sekelilingnya.
Departemen Kesehatan RI telah menyusun pedoman pelaksanaan kesehatan kerja bagi masyarakat kerja sektor informal, agar masyarakat pekerja sektor informal yang jumlahnya sudah mencapai 80% dari seluruh jumlah angkatan kerja dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang gambaran pelaksanaan program UKK sektor informal di Dinas Kesehatan dengan menganalisa faktor- faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program tersebut seperti pengetahuan tentang program UKK, Komitmen Kepala Dinas Kesehatan terhadap program, Peran Dinas Kesehatan terhadap pelaksanaan dam pengembangan program, tenaga ahli, anggaran, Juklak dan Juknis, perencanaan, pembinaan, advokasi, disinfo UKK, pembentukan Pos-pos UKK, pelatihan, pencatatan dan pelaporan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Subdinas serta Kepala Seksi pengelola program UKK sektor informal rasing-masing Dinas Kesehatan berjumlah 3 orang kemudian dilakukan telaah dokumen. Pengolahan data dibuat dalam bentuk Matriks yang dibuat berdasarkan transkrip hasil wawancara mendalam, kemudian dilakukan analisis isi berdasarkan teori atau pedoman Upaya Kesehatan Kerja lalu dibandingkan antara kenyataan dengan harapan.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa program UKK sektor informal di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung selatan belum berjalan seperti apa yang diharapkan. Masih rendahnya pengetahuan Kepala Dinas Kesehatan tentang UKK sektor informal, belum adanya komitmen Kepala Dinas Kesehatan terhadap program UKK, belum berjalannya peran Dinas Kesehatan, belum ada dukungan dari Pemerintah Daerah, tidak tersedianya anggaran, serta belum adanya sistem informasi Kesehatan Kerja merupakan faktor penyebab utama program UKK tidak terlaksana dengan baik.
Komitmen yang kuat dari Kepala Dinas sangat dibutuhkan agar program UKK dapat terlaksana, untuk itu pula upaya advokasi kepada Pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan di bidang anggaran sangat perlu dilakukan sehingga dalam pelaksanaan dan pengembangan program UKK mendapat dukungan, dan untuk pemantapan dan pengembangan program UKK maka dari Departemen Kesehatan diharapkan mendesain format yang adekuat untuk Sistem informasi Kesehatan Kerja sehingga dapat dijadikan acuan bagi Dinas Kesehatan dalam membuat perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program UKK.

Study of Informal Sector's Occupational Health Program in District Health Offices of Kota Bandar Lampung and South East Lam pung in 2002Health development aims to increase awareness, ability, and eagerness of living healthy by all population. The people is expected to be actively involved in keeping their health. In health development plan headed for "Healthy Indonesia 2010", it has been effected 10 main health programs. One of them is occupational safety and health program, as stipulated in the law No. 23 article 23. The program is implemented in order to reach the optimum work productivity, so the workers that may work healthily without endanger themselves and the people around them.
Ministry of Health had arranged a manual of work health implementation to the people working in informal sector, where their numbers has reached 80 % from all the work forces, so the informal sector workers that may obtain health services according to their works.
This research was conducted to get information about the implementation of informal sector's Work Health Unit (WHU) in the Health Office, and factors that may influence the program of implementation such as knowledge about WHU, Health Office head's commitment- toward the program. Health Office's role in program implementation and development, skilled personnel, budget, implementing and technical guides, planning, advocacy, WHU's disinformation, WHU's post construction, training, recording and reporting.
This research applied qualitative approach by using in-depth interview to the Head of District Health Office, head's deputy, and coordinator of WHU informal sector, where each Office has three personnel, before conducting document studies. Data were analyzed using matrix form according to the result of in-depth interview. Content analysis was done based on theory or Work Health Effort manual, and then it was compared between the realty and expectation.
The result of the research proved that Occupational's informal sector programs in the District Health Offices of Bandar Lampung and South Lampung did not worked as expected yet. The lack of the Office Heads' knowledge about the WHU's informal sector, static role of the Offices, no commitment of the Heads toward the WHU, not availability of Local Government's supports, budget, and information system of Work Health were the main causes of the not working of WHU program.
Strong commitment from the Office Head is really necessary to make the WHU Program is successful. Advocacy to the local government as the policy maker in budgetting is very important, so the WHU that may receive enough supports in its implementation and development. Ministry of Health is expected to provide adequate format in the Information System of Work Health in making plan, implementation, and evaluation of WHU program.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12687
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library