Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 74 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Benny Hoedoro Hoed
"French formal educational system consists of three "layers", i.e. elementary school (école élémentaiire, four years, age 6-11), junior secondary school (college, four years, age ll-15), senior secondary school (lycée, three years, age 15-18). The last year of lycée is called class terminale' at the end of which students have to take the baccalaureal examinations. At the tertiary layer we have the universities and grandes école. Universities are more research and theory oriented (except for the recently created institutes universities de technologie (comparable to the Anglo-Saxon Diploma Program or Polytechnical Schools)). The grandes écoles, which are more market oriented institutions, are elit schools that take only few highly selected students. To enter the grande école system, candidates must take two years of preparatory class especially in mathematics, beside modern languages, economics, philosophy, and literature, depending on the kind of school they choose. A sinergy between these two kinds of tertiary education has been developed, mainly in the area of research for doctoral program.
Education is one type of "soft power" in international politics. Most Indonesian academicians, scientists, and intellectuals who hold Masters or Doctor's degree come from universities in foreign countries (among others The Netherlands, USA, Britain, Germany, France, Australia, Japan, China, Egypt, Lebanon, and Saudi Arabia). They come back with ideas and abstract systems as well as academic behavior they learned in those universities. The first Indonesian student who studied in France at the Sorbonne was Rasjidi, later Professor at the University of indonesia, who defended his thesis on in 1956. There are now no less than 3000 Indonesia alumni from French universities covering about 25 various fields of study. There is a need of continuous and systematic effort to create a synergy among those alumni and with alumni from universities of other Countries."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
JKWE-4-3-2008-5
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1993
S6750
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suharso A.S.P.
Yogyakarta: Kanisius , 1995
712.5 SUH t (1)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Anita Aryani Kartomo
"ABSTRAK
Sejak awal masa Orde Baru. bangsa Indonesia mulai melaksanakan Pembangunan Nasional. khususnya di bidang ekonomi. Untuk itu pemerintah menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan wiraswasta. Diharapkan dengan berkembangnya kewiraswastaan di Indonesia dapat membantu pertumbuhan perekonomian bangsa. Perekonomian di Indonesia terbagi dalam 2 kelompok besar yaitu sektor formal dan sektor informal. Dengan berkembangnya bangsa Indonesia ke arah modernisasi maka diharapkan lebih banyak wiraswastawan yang bergerak di sektor formal dibanding sektor informal. Namun kenyataan· yang ada. lebih banyak wiraswastawan di Indonesia yang bergerak di sektor informal. Atas dasar kenyataan ini. penulis ingin mempelajari motivasi wiraswastawan yang berhasil di sektor informal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat motivasi wiraswastawan yang memulai usahanya di sektor informal. Sampel dibagi dalam 2 kelompok yai tu wiraswastawan yang berhasil di sektor informal yang tetap berusaha di sektor informal dan wiraswastawan yang berhas i 1 di sektor formal yang pindah ke sektor formaL Alat yang digunakan untuk mengukur motivasi berprestasi adalah T.A.T. yang dikembangkan oleh McClelland. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada. L o. s. 0, 10. Perbedaan yang signifikan kemungkinan besar dapat diperoleh pada 1. o. s. 0, 01 bila sampel · diperbesar dengan memperhatikan faktor usia. pendidikan, jenis usaha dan lamanya usaha."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jajang Gunawijaya
"ABSTRAK
Manusia yang tangguh yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang perlu dipersiapkan sejak dini, sejak janin dalam kandungan, masa balita,sampai pada persiapan kemampuan kerja. Posyandu merupakan strategi untuk memelihara kelangsungan hidup anak sejak janin kandungan sampai usia balita, juga merupakan strategi untuk membina tumbuh kembang anak secara sempurna baik fisik pun mental sehingga siap menjadi tenaga kerja yang tangguh. dalam mau Posyandu yang merupakan strategi untuk mempersiapkan manusia yang tangguh tersebut di desa Cikujang Sukabumi ternyata mengalami kemacetan. Kemacetan, tersebut terjadi karena terlalu banyak kendala yang dihadapi dalam menerapkan program tersebut. Kendala yang dihadapi tersebut, antara lain adalah kurangnya tenaga kader, tidak adanya koordinasi antar instansi terkait; ketiadaan dana, dan lain sebagainya termasuk adanya beberapa hambatan dari masyarakat untuk menerima program posyandu. sasaran Skripsi ini di samping berusaha menemukan apa saja kendala yang menyebabkan macetnya program posyandu tersebut juga berusaha menemukan alternatif lain yang dapat mengatasi kendala-kendala tersebut. Alternatif tersebut antara lain adalah potensi-potensi yang ada pada masyarakat desa setempat yang dapat dimanfaatkan untuk membantu kelancaran program posyandu. Potensi tersebut adalah pranata sosial budaya masyarakat setempat dan pemimpin-pemimpin masyarakat setempat yang lazim disebut pemimpin non formal. Adapun metode yang digunakan untuk mengumpulkan data skripsi ini adalah metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dengan sejumlah informan. Pranata sosial budaya yang dapat digunakan membina jelancaran posyandu adalah pendidikan agama terutama pengajian kaum ibu maupun pengajian kaum bapak, dan pesantren- pesantren. Sedangkan pemimpin non formal yang dapat diminta bantuannya untuk mensukseskan program posyandu antaranya adalah tokoh-tokoh agama, orang kaya desa, dik pandai; dukun kebatinan; dan.dukun beranak. untuk di cer- Pengajian kaum ibu dapat digunakan untuk tempat pos tandu dan sebagai sarana untuk mengajak ibu-ibu pasangan usia subur agar memanfaatkan posyandu. Sedangkan pengajian kaum bapak dapat digunakan sebagai forum penyampaian arti penting posyandu; dan tujuan posyandu, agar anggota masyarakat yang lain dapat memberikan sumbangan yang berarti terhadap program posyandu. Pemuka-pemuka agama dapat diminta bantuannya dalam hal penyediaan tenaga kader dengan menggunakan tenaga para santri yang belajar di pesantren; dan menggunakan pengaruh nya untuk mengajak tokoh-tokoh masyarakat yang lain terutama orang kaya desa untuk memberikan bantuan dana demi kelancaran program posyandu. Tokoh-tokoh masyarakat yang lain seperti cerdik pandai, dukun kebatinan, dan dukun beranak dapat diminta bantu annya untuk mengajak ibu-ibu pasangan usia subur agar memanfaatkan fasilitas posyandu dengan sebaik-baiknya. Sampai saat ini potensi-potensi yang ada pada masyarakat desa Cikujang tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Hal ini disebabkan karena rendahnya dukungan luar untuk mengajak pemimpin non formal berpartisipasi dari dalam program posyandu, dan adanya beberapa kendala baik dari dalam maupun dari luar yang menyebabkan mereka tidak berpartisipasi dalam program posyandu."
1990
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Octaviany Nadian
"Skripsi ini membahas tentang religiusitas dalam drama Al-Khātam karya ?Ali Aḥmad Bākaśīr yang melingkupi pembahasan religiusitas langsung (otentik) dan religiusitas tidak langsung (formal). Metode pendekatan yang digunakan adalah metode instrinsik yaitu pembahasan unsur-unsur dalam teks drama, sedangkan metode penelitian menggunakan metode deskripsi analisis. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui aspek religiusitas yang terdapat dalam drama. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa nilai religiusitas yang terkandung drama Al-Khātam adalah keimanan, ikhtiyār, rasa tanggung jawab, ketulusan dan keikhlasan, kesederhanaan hidup, dan kepasrahan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan atau disempurnakan lagi sehingga lebih bermanfaat bagi para pemerhati drama. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman untuk pengkajian lebih lanjut mengenai naskah drama yang diteliti khususnya tentang religiusitas dalam drama.

The focus of this study is about the religiousity aspect within Al-Khātam by ?Ali Aḥmad Bākaśir, which include direct religiousity explanation (authentic) and indirect religiousity explanation (formal). The approach method in this intrinsic method, that is explanation of drama manuscript unsures; meanwhile, the research method of this study is analytic descriptive method. This study is aimed to know religiousity aspect within drama manuscript. The conclution of the study shows that religiousity values are about faith, trying hard, responsible, honesty and sincerity, simplicity in life, and submission. The result of this study is expected to be improved or completed. So that it will give more benefits to others drama manuscript analyst. This study, also, could be one of references for further research about drama manuscript, especially in concerning the religiousity aspect."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S11039
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Utami Hidayati
"Di Indonesia pada saat ini banyak berkembang suatu kursus bimbingan belajar. Di dalam aturan mengenai kursus, bimbingan belaiar temasuk dalam pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan masyarakat, yang merupakan tempat untuk belajar dan berlatih untuk memperoleh pendidikan yang ?tidak dapat dlperoleh? di jalur pendidikan formal, dan termasuk dalam kursus khusus karena jenis kursus ini tidak dapat dimasukkan ke dalam jenis kursus yang Iain (Lembaga Pendidikan/Kursus PLSM, 1995).
Bimbingan belajar yang ada di Indonesia ini berbeda dengan definisi bimbingan beiajar yang ada, karena bimbingan belajar yang ada di indonesia bukan bantuan yang diberikan oleh orang lain (biasanya konselor) supaya proses belajar yang dilakukan individu menjadi sesuai dengan potensinya dan individu menjadi mampu membuat keputusan untuk memecahkan masaiahnya sendiri, tetapi Iebih merupakan proses pengajaran materi tertentu yang pengadaannya di luar pengajaran sekolah dengan tujuan agar siswa lebih memahami peiajaran tersebut.
Masalahnya di sekolah siswa juga memperoleh pengajaran materi (Winkel, 1991). Sehingga dengan adanya pendidikan sekolah dan definisi kursus sebagai tempat untuk memperoleh pendidikan yang ?tidak dapat diperoleh'' di jalur pendidikan formal, maka bimbingan belajar tidak seharusnya ada. Tetapi yang terjadi bimbingan belajar justru bertambah banyak. Oleh karena itu timbul pertanyaan untuk apa siswa mengikuti bimbingan belajar. Dari penelitian Baron & Byme (1994) diketahui bahwa kursus dapat meningkatkan self efficacy. Sitorus (dalam Silaban dkk, 1993) juga mengatakan bahwa siswa-siswi yang mengambil pendidikan tambahan di luar sekolah bisa ditafsirkan sebagai cermin ketidakyakinan terhadap materi pelajaran yang selama ini mereka peroleh di sekolah. Sedangkan Woolfolk (1993) mengatakan bahwa coaching dapat meningkatkan rasa percaya diri. Bimbingan belajar itu sendiri digolongkan dalam kursus dan keberadaannya melebihi coaching karena selain memperoleh keterampilan menghadapi ujian diluar materi dan drill soal, juga diajarkan materi itu sendiri. Oleh karena bimbingan belajar mengajarkan materi IPA maka asumsinya kepercayaan diri yang timbul juga akan berkaitan dengan bidang IPA. Keyakinan individu atas kemampuannya uniuk dapat mengatasi atau melakukan perilaku tertentu ini disebut self efficacy.
Dari hal di atas, maka dibuatlah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan self efficacy (bidang IPA) antara siswa yang mengikuil bimbingan belajar dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan skala self efficacy bidang IPA kepada siswa kelas dua SMU Negeri 28 baik yang mengikuti maupun yang tidak mengikuii bimbingan belajar. Teknik analisa data yang digunakan adalah t-test for independent samples dengan menggunakan bantuan SPSS for Windows Release 7.0.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam self efficacy antara siswa yang mengikuti dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar. Dan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, ada beberepa saran yang perlu diperhatikan, yaitu memperbesar jumlah sampel agar hasil peneilitian dapat digenerelisasikan dan mencari informasi yang akurat dan lebih banyak mengenai bimbingan belajar berkenaan dengan belum banyaknya Iiteratur yang membahas secara khusus mengenai jenis bimbingan belajar yang ada di Indonesia."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998
S2508
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Toni Priyanto Jayadi
"Faktor produksi sering diklasifikasikan menjadi empat, yaitu tanah, tenaga kerja, modal dan kewirausahaan. Pengklasifikasian terhadap keempat faktor produksi tersebut didasarkan atas perbedaan elstisitas penawaran parsial, karakeristik yang terkandung pada setiap faktor produksi, dan imbalan yang diterima masing-masing pemilik faktor produki. Secara historis, pembedaan ini bersesuaian dengan berkembangnya bergaining position antara tiga kelompok masyarakat, kapitalis, tuan-tuan tanah dan buruh (tenaga kerja). Kekuatan pasarlah yang kemudian menentukan berapa besar imbalan yang akan diterima masing-masing. Tenaga kerja akan mendapatkan upah, tuan tanah mendapatkan sewa tanah, pemilik modal mendapatkan tingkat bunga.
Pandangan ekonomi kapitalis terhadap tenaga kerja tidak terlepas dari konsep faktor produksi atau input. Perkembangan iklim usaha menuntut adanya penyesuaian perlakuan terhadap tenaga kerja. Pada awalnya ada kecenderungan tenaga kerja dianggap sebagai suatu faktor produksi lainnya yang memberikan kontribusi relatif tetap terhadap produksi. Pandangan ini yang menghasilkan sistem pengupahan tetap terhadap tenaga kerja sebagaimana input tanah mendapatakan sewa tetap dan modal mendapatkan bunga.
Adanya ketidakstabilan sifat dan karakter tenaga kerja, mendorong perusahaan untuk memberikan perlakuan lain terhadap tenaga kerja. Tenaga kerja dipandang sebagai suatu faktor produksi yang mampu untuk meningkatkan daya guna faktor produksi lainnya (mengolah tanah, memanfaatkan modal, dsb) sehingga perusahaan memandang tenaga kerja sebagai suatu investasi.
Pandangan mainstream economy terhadap permintaan tenaga kerja adalah sebagaimana permintaan terhadap faktor produksinya, dianggap sebagai permintaan turunan (derived demand), yaitu penurunan dari fungsi perusahaan. Meskipun fungsi perusahaan cukup bervariasi, meliputi memaksimumkan keuntungan, memaksimumkan penjualan atau - perilaku untuk memberikan kepuasan kepada konsumen, namun maksimisasi keuntungan sering dijadikan dasar analisis dalam menentukan penggunaan tenaga kerja.
Dengan pertimbangan tersebut (maksimisasi keuntungan), dan dengan asumsi perusaha beroperasi dalam sistem pasar persaingan, maka perusahaan cenderung untuk mempekerjakan tenaga kerja dengan tingkat upah sama dengan nilai produk marginal tenaga kerja (Value Marginal Product of Labor, VMPL) VMPL menunjukkan tingkat upah maksimum yang mau dibayarkan oleh perusahaan agar keuntungan perusahaan maksimum.
Beberapa indikator yang diduga mempunyai hubungan yang erat dengan struktur upah adalah jumlah pekerja, nilai tambah, tingkat pendidikan, pasar yang akan dituju apakah domestik atau iuar negeri, serta kepemilikan perusahaan. Indikator-indikator di atas akan dianalisis menggunakan metode regresi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai hubungan masing-masing indikator dengan upah yang diterima di tiap masing-masing kelompok lapangan usaha. Lebih lanjut juga akan dianalisa mengapa struktur upah yang diterima pekerja berbeda di masing-masing kelompok usaha."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2004
T13202
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>