Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rangi Faridha Asiz
"Gated community merupakan contoh penyegregasian yang terjadi dalam skala urban. Area perumahan yang memisahkan dan mengelompokan diri dari lingkungan sekitar ini menimbulkan permasalahan yang tak hanya berdampak bagi perkotaan namun juga juga turut memberi pengaruh ke lingkungan sosial. Penyegregasian ini berdampak terhadap terpecah-pecahnya ruang urban perkotaan yang seharusnya dapat dinikmati oleh publik. Selain itu pemisahan kelompok berdasarkan kelas-kelas sosial ini juga meningkatkan kesenjangan sosial serta meminimumkan interaksi sosial yang terjadi di dalam masyarakat.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui apa itu Gated community dan bagaimana Gated Community dapat tumbuh kembang di perkotaan. Terdapat beberapa factor yang diduga menjadi penyebab tumbuhnya gated community, akan tetapi latar belakang penyebab tumbuhnya gated community di tiap negara ternyata berbeda-beda. Lalu bagaimana dengan gated community yang ada di Indonesia? Hal ini akan dibahas dengan mengambil beberapa perumahan yang setipe dengan gated community sebagai kajian studi Kasus.
Gated community tumbuh sebagai dampak dari perkembangan kota. Kota yang semakin tak bersahabat memaksa segelintir orang untuk pindah ke area suburban yang dianggap memiliki kualitas daerah yang lebih baik bagi hunian. Namun, ternyata ada faktor lain di luar hal itu yang juga turut mempengaruhi. Hal itu adalah gaya hidup manusia itu sendiri. Perkembangan peradaban membuat manusia kini tak lagi banyak berhubungan dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Kehidupannya lebih banyak dipenuhi oleh aktivitas dan pekerjaan. Hingga akhirnya kebutuhan akan hunian saat ini tak lagi dianggap hanya sebagai tempat bernaung atau mencari perlindungan, akan tetapi juga sebagai sarana untuk ?menyendiri dan menunjukan diri? terhadap sekitarnya.
Hal ini kini tercermin dalam bentuk penyegregasian pola permukiman. Golongan mampu lebih memilih untuk tinggal dalam ?kantung? pemukiman ketimbang tinggal di tengah permukiman penduduk. Oleh karenya hal ini memang tak terelakan mengingat gated community saat ini telah menjadi kebutuhan. Namun sebenarnya terdapat beberapa desain gated community yang lebih ?ramah? bagi lingkungan sekitar, oleh karenanya dibutuhkan pengajian dan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Gated community is one of examples of urban scale segregation. Housing area which segregate them self from environment making any problems which are not causing cities only but also gives any problem to the social environment. This segregation impact the urban space which is devided it into many enclaves and make it secluded from public. In addition, the group based on social classes separation also increase social discrepancy and decrease social interaction between another in society.
The purpose of this writing is want to know what is gated community and how it can growcup in cities. There are several factors which is estimated as the cause of the gated community?s growing in cities. But, the background of gated community?s cause in each country is different. And then, how about the gated community in Indonesia? This question will be answeres by taking several housing which are typicalwith gated community as case studies.
Gated community?s growth is appear as an impact of city?s development. The city which is more and more unfriendly, forcing some people to move to suburban area which is known as a better place to live. But, there is another factor that also influence its growth. That is lifestyle of the human it self. The growing of human civilization make them having not relation anymore with their environment. Now, The city?s people life is much more loaded by jobs and activities. So then, the necessity of dwelling is not guessed as a place for shelter only, but also as tools for ?separated and show up? them self to their environments.
The attitude of ?separated and showing up? of human it self, now is seemed in a form of segregation in settlement pattern. Actually, remembering that gated community is now has changed as a necessity, this phenomenon is unavoidable. But actually, there are several design that can become more ?friendly? for the environment, so that the research and examination about the good design of gated community still needed.
"
2008
S48427
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Lestari Olivia
"ABSTRAK
Gated Community adalah area yang dikelilingi oleh penghalang fisik berupa dinding, pagar atau lanskap pada area tempat tinggal pribadi, jalan, trotoar, dan fasilitas di dalamnya. Batasan tersebut berperan dalam menjaga keamanan dan membatasi akses umum untuk masuk. Sehingga mencegah non-penghuni dapat menembus dan membuat intervensi di dalamnya. Setiap gated community mempunyai karakteristik berbeda-beda yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan dan keadaan sosial masyarakat di daerah tersebut. Kota Wisata merupakan bentuk gated community yang berkonsep wisata. Pengaruh konsep ini menyebabkan batasan yang dimiliki perumahan Kota Wisata menjadi gagal dalam membatasi dan melarang akses publik untuk masuk. Hal ini juga berpengaruh pada pembentukan fasilitas publik yang dapat digunakan secara umum oleh masyarakat luar Kota Wisata. Tujuan skripsi ini adalah untuk menelusuri implikasi spasial dan sosial dari penerapan gated community pada perumahan dengan konsep berwisata pada Perumahan Kota Wisata.

ABSTRACT
Gated community is an area surrounded by physical boundaries such as walls, fence or landscape in private housing area, street, sidewalk and other facilities. The boundaries are used for keeping security and limiting entrance for public access to prevent from non-residents or stranger come through that causes intervention. Each gated community has various characterisctics whose backgrounds are from culture and social environment. Kota Wisata is gated community with tourism concept. This concept causes the boundaries inside Kota Wisata fail to work which are limiting and prohibiting public access to come. This concept also influences the forming of public facilities that are accessible for people who do not dwell in Kota Wisata. The purpose of this thesis is to figure out spatial and social implication from gated community implementation in private housing with tourism concept in Kota Wisata residence.
"
Universitas Indonesia,. Fakultas Teknik, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dyah Esti Sihanani
"Manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi untuk dapat melanjutkan hidupnya dan salah satunya adalah kebutuhan akan rasa aman yang akan terganggu apabila terdapat ancaman yang membuatnya tidak nyaman. Selain itu, manusia juga perlu berinteraksi dengan manusia lainnya pada suatu lingkungan tertentu misalnya pada ruang bertinggalnya yang pada proses interaksi tersebut sering terjadi permasalahanpermasalahan yang mengganggu ketentraman hidup sehingga menimbulkan rasa takut pada diri manusia tersebut. Adapun rasa takut yang dialami oleh masyarakat dalam konteks berkehidupan kota yang akan dibahas pada tulisan ini adalah ketakutan manusia terhadap isu kriminalitas, identitas, anonimitas dan kaum minoritas.
Untuk dapat hidup dengan nyaman maka manusia perlu mengatasi ancaman-ancaman yang memicu rasa takut itu. Cara yang dilakukan manusia untuk mengatasi rasa takutnya secara spasial adalah dengan memberi jarak pada sumber ancaman dan mengadakan batas agar tidak terjadi interaksi antara dirinya dengan sumber tersebut. Pengadaan batas baik secara fisik maupun non-fisik sebagai reaksi pemenuhan kebutuhan rasa aman dan antisipasi terhadap rasa takut ini kemudian mewujudkan sebuah komunitas yang tereksklusifkan dari lingkungannya. Komunitas ini terpisah dari lingkungannya karena adanya batas yang menggerbangi baik berupa batas fisik yang menggerbangi ruang bertinggalnya maupun batas non fisik yang menggerbangi pemikirannya.
Penulisan ini akan membahas tentang keberadaan ?komunitas tergerbang? ini di kota Jakarta dengan tujuan memberikan gambaran bagaimana reaksi terhadap ketakutan yang dirasakan masyarakat kota dimanifestasikan ke dalam ruang sehingga perasaan takut tersebut dapat teratasi. Pengamatan dan analisis penulis terhadap komunitas-komunitas tersebut dititikberatkan pada pengolahan ruang dan karakter dari elemen yang pembentuk ruang tersebut.

Human being both as an individual and social creature has needs that must be completed to continue their life and one of those needs is security need which will be interrupted if there are threats that make them feel inconvenience. Besides, human being also needs to interact with others in a specific environment such as the dwelling area in which irritating problems happen sometimes during the process of interaction so that can produce the feeling of fear in theirselves. The fears felt by the people in the context of urban life which will be studied in this writing are fear of criminality, identity, anonymity, and small numbers.
To live comfortably human being needs to solve the threats that cause those fears. Ways that can be done to solve it spatially are by keeping distance and creating boundary so that there will be no interactions between people and the threat source. The boundary putting up physically and non-physically which are reactions to fulfill the needs and anticipation to fears as well then generate a community that exclude themselves from the surroundings. This community is separated by the presence of the boundary that confines as physical border that gates their dwelling space and also as non-physical boundary that gates their minds.
This writing will study more about the phenomenon of this ?gated community in Jakarta city in order to give the picture of how the reaction to citydweller's fears is manifested into space so that the fears can be solved. The observation and analysis to these communities will be focused on the space ordering and character of the elements that create the space.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S48413
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mustika Sari
"Manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi untuk dapat melanjutkan hidupnya dan salah satunya adalah kebutuhan akan rasa aman yang akan terganggu apabila terdapat ancaman yang membuatnya tidak nyaman. Selain itu, manusia juga perlu berinteraksi dengan manusia lainnya pada suatu lingkungan tertentu misalnya pada ruang bertinggalnya yang pada proses interaksi tersebut sering terjadi permasalahanpermasalahan yang mengganggu ketentraman hidup sehingga menimbulkan rasa takut pada diri manusia tersebut. Adapun rasa takut yang dialami oleh masyarakat dalam konteks berkehidupan kota yang akan dibahas pada tulisan ini adalah ketakutan manusia terhadap isu kriminalitas, identitas, anonimitas dan kaum minoritas.
Untuk dapat hidup dengan nyaman maka manusia perlu mengatasi ancaman-ancaman yang memicu rasa takut itu. Cara yang dilakukan manusia untuk mengatasi rasa takutnya secara spasial adalah dengan memberi jarak pada sumber ancaman dan mengadakan batas agar tidak terjadi interaksi antara dirinya dengan sumber tersebut. Pengadaan batas baik secara fisik maupun non-fisik sebagai reaksi pemenuhan kebutuhan rasa aman dan antisipasi terhadap rasa takut ini kemudian mewujudkan sebuah komunitas yang tereksklusifkan dari lingkungannya. Komunitas ini terpisah dari lingkungannya karena adanya batas yang menggerbangi baik berupa batas fisik yang menggerbangi ruang bertinggalnya maupun batas non fisik yang menggerbangi pemikirannya.
Penulisan ini akan membahas tentang keberadaan komunitas tergerbang ini di kota Jakarta dengan tujuan memberikan gambaran bagaimana reaksi terhadap ketakutan yang dirasakan masyarakat kota dimanifestasikan ke dalam ruang sehingga perasaan takut tersebut dapat teratasi. Pengamatan dan analisis penulis terhadap komunitas-komunitas tersebut dititikberatkan pada pengolahan ruang dan karakter dari elemen yang pembentuk ruang tersebut.

Human being both as an individual and social creature has needs that must be completed to continue their life and one of those needs is security need which will be interrupted if there are threats that make them feel inconvenience. Besides, human being also needs to interact with others in a specific environment such as the dwelling area in which irritating problems happen sometimes during the process of interaction so that can produce the feeling of fear in theirselves. The fears felt by the people in the context of urban life which will be studied in this writing are fear of criminality, identity, anonymity, and small numbers.
To live comfortably human being needs to solve the threats that cause those fears. Ways that can be done to solve it spatially are by keeping distance and creating boundary so that there will be no interactions between people and the threat source. The boundary putting up physically and non-physically which are reactions to fulfill the needs and anticipation to fears as well then generate a community that exclude themselves from the surroundings. This community is separated by the presence of the boundary that confines as physical border that gates their dwelling space and also as non-physical boundary that gates their minds.
This writing will study more about the phenomenon of this gated community in Jakarta city in order to give the picture of how the reaction to citydwellers fears is manifested into space so that the fears can be solved. The observation and analysis to these communities will be focused on the space ordering and character of the elements that create the space.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S48420
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aura Tazkia Amaria
"Gated community merupakan suatu bentuk baru dari diskriminasi dalam hal berhuni (Blakely dan Snyder, 1998). Gated community memiliki keutamaan untuk meningkatkan perlindungan dan keamanan bagi penduduk di dalamnya melalui adanya pagar berupa dinding yang mengelilinginya. Pemagaran pada gated community memang diperlukan sebagai usaha untuk meningkatkan rasa aman sesuai dengan Crime Prevention through Environmental Design (CPTED). Namun, kehadiran pagar itu sendiri tidak cukup untuk mencegah rasa takut bagi penduduk pada gated community sehingga diperlukan penerapan aspek lain pada CPTED yang mampu memperkuat keamanan gated community. Penerapan CPTED tersebut, terutama prinsip fisiknya, membuat suatu permukiman menjadi lebih tertutup. Oleh karena itu, fokus utama pada tulisan ini adalah untuk mengetahui penerapan prinsip-prinsip pada konsep CPTED pada gated community. Dengan demikian, dilakukan studi kasus mengenai permasalahan tersebut pada dua gated community dengan skala yang berbeda, yaitu Cluster Permata Billymoon dan Komplek Arlin Indah. Studi kasus ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan dari prinsip CPTED yang diterapkan pada kedua gated community.

A gated community represents a new form of discrimination in terms of residency (Blakely and Snyder, 1998). Gated communities primarily aim to enhance protection and security for their residents through the presence of surrounding walls or fences. This fencing is deemed necessary to enhance the sense of security, in line with the principles of Crime Prevention through Environmental Design (CPTED). However, the presence of walls alone is insufficient to fully ensure security within a gated community, necessitating the implementation of other CPTED aspects that can prevent the community’s fear. The implementation of CPTED, particularly its physical principles, makes a residential area more enclosed. Therefore, the primary focus of this paper is to examine the application of CPTED principles within various gated communities. A case study was conducted on two gated communities of different scales: Cluster Permata Billymoon and Komplek Arlin Indah. This case study aims to identify the differences in the CPTED principles applied in these two gated communities."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dimas Ruben Fajar
"[ABSTRAK
Produk properti perumahan eksklusif (gated community) dalam ruang kota
merupakan suatu lingkungan hunian bagi kalangan tertentu telah menjadi
fenomena dan tren produk properti perumahan di Indonesia saat ini. Gated
community adalah produk properti yang memiliki nilai lebih karena didesain
untuk keamanan dan kenyamanan (privasi) bagi komunitas penghuni di dalamnya.
Namun, bila pengembangannya menempati lahan massive atau sangat luas, gated
community khususnya di Indonesia sering menjadikan bagian dari suatu kota
menjadi tidak permeable dan berproses menjadi terpecah belah (fragmentation).
Tesis ini akan meneliti atau mengkaji bagaimana pengembangan properti gated
community dapat dilaksanakan atau terlaksana tanpa membuat bagian kota
menjadi tidak permeable. Teori yang digunakan dapat diuraikan berdasarkan
pengertian dari kota yang permeable, gated community, dan pengembangan
produk properti perumahan. Sedangkan metode yang digunakan untuk menjawab
pertanyaan penelitian adalah meneliti tahap-tahap pengembangan suatu produk
properti gated community melalui kajian simulasi desain, studi kasus di dalam
lahan eksisting.
Hasil dari riset simulasi desain pada lahan studi kasus eksisting tersebut
menunjukkan bahwa pengembang tetap dapat mengembangkan produk properti
gated community pada lahan massive tanpa membuat bagian dari suatu kota
menjadi tidak permeable dan nilai pengembangan tetap layak. Desain gated
community di dalam lahan massive yang tetap dapat ditembus oleh pergerakan
masyarakat kota dan visibilitas nilai pengembangan tetap memberi dampak positif
bagi pengembang dan investor.
Kesimpulan dari penelitian tesis setelah dilakukan simulasi desain sangat
berkaitan dengan proses pengembangan produk properti gated community itu
sendiri. Dalam proses tahapan tersebut, pengembang mendesain cluster sebagai
lingkungan eksklusif komunitas penghuni dan membentuk sirkulasi jalan di
sekitar cluster tersebut tetap permeable. Sehingga di dalam komitmen kontrak
masterplan, pengembang tetap dapat menyerahkan koridor jalan kepada publik
dan mendesain perumahan cluster tetap privat.

ABSTRACT
Exclusive residential property products such as gated community in the urban
area is a residential environment for the certain circles of the community that has
became a phenomenon and product trends for residential property in Indonesia
todays. Gated community is a property product, which have more value, because
it’s designed to safety and amenities for the community inside it. Nevertheless, if
the development is in massive land or very spacious, gated community especially
in Indonesia often made part of a city becomes not permeable and fragmentation.
This thesis will investigate or examine how the development of gated community
property can be implemented or executed without making parts of the city
becomes not permeable. The theory used can be described by the notion of
permeable city, gated community, and the development of residential property
product. While the methods used to answer the research question is to examine
the stages development of a gated community property product through a
simulation study design, case studies on the existing land.
The results of simulation study design on the existing land as case study indicate
that developers can still develop gated community property product on massive
land without making a part of a city becomes not permeable and development
value remain viable. Design of gated community in the massive land that can still
be penetrated by the movement of urban and visibility of development value
remain a positive impact to the developers and investors.
The conclusion of the thesis research after the simulation design is closely related
to the development process of gated community property product itself. In the
process of these stages, the developer designed the cluster as an exclusive
neighborhood community dwellers and form a circulation path around the cluster
remain permeable. Furthermore, in the masterplan contractual commitments,
developers can still submit road corridors to the public and designed the cluster
housing remain private, Exclusive residential property products such as gated community in the urban
area is a residential environment for the certain circles of the community that has
became a phenomenon and product trends for residential property in Indonesia
todays. Gated community is a property product, which have more value, because
it’s designed to safety and amenities for the community inside it. Nevertheless, if
the development is in massive land or very spacious, gated community especially
in Indonesia often made part of a city becomes not permeable and fragmentation.
This thesis will investigate or examine how the development of gated community
property can be implemented or executed without making parts of the city
becomes not permeable. The theory used can be described by the notion of
permeable city, gated community, and the development of residential property
product. While the methods used to answer the research question is to examine
the stages development of a gated community property product through a
simulation study design, case studies on the existing land.
The results of simulation study design on the existing land as case study indicate
that developers can still develop gated community property product on massive
land without making a part of a city becomes not permeable and development
value remain viable. Design of gated community in the massive land that can still
be penetrated by the movement of urban and visibility of development value
remain a positive impact to the developers and investors.
The conclusion of the thesis research after the simulation design is closely related
to the development process of gated community property product itself. In the
process of these stages, the developer designed the cluster as an exclusive
neighborhood community dwellers and form a circulation path around the cluster
remain permeable. Furthermore, in the masterplan contractual commitments,
developers can still submit road corridors to the public and designed the cluster
housing remain private]"
2015
T43832
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Asmara Permana
"ABSTRAK
Gated community merupakan salah satu fenomena global mengenai pemukiman di daerah perkotaan dan sekitarnya. Namun perumahan gated community hanya dihuni oleh masyarakat kelas menengah ke atas sehingga semakin mencerminkan kesenjangan sosial. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana distingsi masyarakat kelas menengah dalam gated community dengan tinggal di dalamnya. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah melakukan distingsi di dalam gated community untuk menekankan posisi sosial mereka. Penghuni memiliki habitus sebagai pekerja yang sibuk dari pagi sampai malam sehingga harus meninggalkan keluarganya di rumah. Penghuni juga memiliki modal untuk digunakan dalam arena sosial yaitu modal budaya dengan memiliki pendidikan tinggi, modal ekonomi dengan memiliki pekerjaan dan kepemilikan unit rumah, modal sosial sebagai anggota dalam ikatan perumahan, dan modal simbolik dengan identitas mereka sebagai penghuni gated community. Penghuni melakukan distingsi dalam arena sosial dengan habitus dan modal yang mereka miliki untuk menegaskan posisi kelas sosial mereka sebagai kelas menengah.

ABSTRACT
Gated community is one of global phenomenon about housing in urban area and its surrounding area. But gated community is only inhabited by upper middle class that increasingly reflect social inequalities. This study aims to explain how the distinction of middle class by living in it. The research approach in this study is qualitative approach.
The findings show that middle class do their distinction in gated community to emphasize their social position. Occupants have their habitus as busy worker that work from morning till night so had to leave their family at home. Occupants also have capitals to be used in social arena including cultural capital as highly educated person, economic capital as a worker and home ownership, social capital as a member of housing group, and symbolic capital as a resident of gated community. Occupants do their distinction in social arena with their habitus and capital to assert their class as middle social class.
"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
S61746
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Antonius
"ABSTRAK
Kawasan permukiman yang berkembang saat ini dan diminati merupakan kawasan berupa mirip Komunitas Tergerbang. Komunitas tergerbang yang diperkenalkan di Amerika saat ini yang mendapat banyak kritik dari para perancang kota, karena menimbulkan segregasi dan peningkatan penggunaan kendaraan bermotor.
Komunitas tergerbang merupakan lingkungan pemukiman yang fisiknya sama seperti lingkungan perumahan pada umumnya namun hak kepemilikan atas segala yang terdapat di dalam komunitas milik komunitas tersebut. Perumahan di Indonesia yang dibangun khususnya di daerah Tangerang, memenuhi peraturan pemberian fasilitas umum dan fasilitas sosial berupa jalan ke pemerintah sehingga tidak dapat disebut sebagai komunitas tergerbang. Perumahan di Indonesia melakukan pembatasan hanya pada rumahnya sedangkan fasilitas umum dan fasilitas sosial berada di luar pagar. Sehingga istilah komunitas tergerbang di Indonesia sebenarnya sangat jauh dari komunitas tergerbang yang sebenarnya, walaupun ada komunitas tergerbang di Indonesia yang sesungguhnya. Komunitas tergerbang yang sebenarnya seharusnya adalah berbentuk sama seperti apartemen dengan hak milik privat tapi berupa lahan horizontal. Masalah yang ditimbulkan oleh komunitas tergerbang di Indonesia adalah permeabilitas dari sebuah kota bukan segregasi.

ABSTRAK
Housing project development like Gated Community is attract people today. Gated Community promising security and prestige to its resident. Gated Community is housing development from America which got many critics from urban planner because Gated Community makes segregation and increasement of automobile usage.
Gated Community basically is neighborhood but every facilities inside this community is private. Housing development by private developer used to give a part of their land as a responsibility to government as written on Indonesian regulation. That housing development can not be longer called gated community, yet developer in Indonesia not privatize its facilities, so strangers from outside the community can access and use facilities together with private residents. The term Gated Community in Indonesia provides misleading definition from Blakely and Snyder theory about Gated Community. Gated Community should be like an a horizontal apartment. Gated Community in Indonesia is not about segregation but permeability of the city.
"
2016
S64216
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asmarawati Handoyo
"Abstract. This article discusses the rise of new public issues and their implication on social conflict inflicted by the rapid growth of gated community in Sleman District. These new public issues include economic problems, accessibility, social and environmental problems. Through the methods of observation and in-depth interview, it is found that the rise of the new public issues triggers conflicts when meeting two following requirements: (1) Both communities are unsuccessful in establishing an agreement to resolve new public issues, and (2) There is no local government intervention to overcome the new public issues of gated community. This article has two objectives: conceptually, it supports the new publicness theory stating that publicness may arise from the privacy sphere, while at the same time complete the fact that the rise of new public issues can cause social conflicts when meeting the two preconditions. Based on the findings in this study, two suggested recommendations include, first, both communities need to build intensive communication and create joint mechanism to avoid social conflict; second, the commitment and active role of Sleman government are required, particularly to eradicate the rents of licensing-bureaucracy and to improve close supervision in the field, so that new licensing processed will not instigate new public issues that can trigger social conflicts.
Abstrak. Artikel ini mendiskusikan munculnya masalah publik baru dan implikasinya terhadap konflik sosial akibat dari tingginya pertumbuhan gated community (perumahan modern) di Kabupaten Sleman. Masalah publik baru tersebut meliputi permasalahan ekonomi, aksessibilitas, sosial, dan lingkungan. Melalui metode studi kasus dengan observasi dan wawancara mendalam, ditemukan bahwa munculnya masalah publik baru dapat berimplikasi pada lahirnya konflik sosial apabila menemui dua situasi berikut; (1) kedua masyarakat tidak berhasil membangun kesepakatan untuk menyelesaikan masalah publik baru, dan (2) tidak adanya intervensi pemerintah daerah untuk mengatasi munculnya masalah publik baru gated community. Artikel ini memiliki dua tujuan: secara konseptual mendukung teori new publicness, bahwa kepublikan dapat muncul dari ranah privat, sekaligus melengkapinya bahwa munculnya masalah publik baru dapat berimplikasi pada konflik sosial apabila menemui dua prakondisi di atas. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, dua rekomendasi yang diberikan yaitu pertama, perlunya dibangun komunikasi intensif dan mekanisme bersama diantara kedua masyarakat untuk menghindarkan munculnya masalah publik baru. Kedua, perlunya komitmen dan peran aktif Pemda (Pemerintah Daerah) Sleman khususnya dalam memberantas rente birokrasi perijinan dan peningkatan pengawasan langsung di lapangan sehingga perijinan yang diberikan tidak menimbulkan permasalahan publik baru yang berimplikasi pada konflik sosial."
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Department of Government and Study, 2016
J-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Nova Lissandhi
"ABSTRAK
Fenomena berkembangnya Gated Community yang terjadi di Indonesia sedang menunjukkan gejala pergeseran dari yang berbasis etnis sampai berbasis agama. Konteks tragedi 98, urbanisasi, pertumbuhan perekonomian, kebangkitan Islam, dan kemunculan kelas menengah muslim baru, berimplikasi pada semakin tingginya permintaan perumahan muslim dengan konsep Gated Community. Gated Community merupakan sebuah konsep lingkungan di kelilingi tembok atau pagar dengan akses yang terbatas. Hal ini dianggap sebagai bentuk rasa takut lsquo;fear rsquo; atas kejahatan yang coba diatasi dengan mengontrol sebuah teritori. Tujuan dari penelitian ini dibuat adalah untuk memahami makna dan perilaku penghuni perumahan muslim untuk mengatasi fear yang menjadi preferensi pemilihan tempat tinggal. Etnografi menjadi alat untuk memahami konstruksi pengetahuan ldquo;fear rdquo; yang direproduksi dalam mengontrol ruang terjaga GCs perumahan muslim. Data didapat dari wawancara yang mendalam dengan pengembang maupun penghuninya yang di dukung oleh pengamatan terlibat dan penelusuran literatur. Hasilnya adalah perumahan muslim menjadi ruang aman dalam proses konstruksi sosial yang membentuk identitas muslim perkotaan.

ABSTRACT
The phenomenon of Gated Community development in Indonesia showing of shifting social segregation from ethnic to religious based. The context of the tragedy 98, urbanization, economic growth, the rise of Islam, and the emergence of a new Muslim middle class, have implications for the growing demand for Muslim housing with the concept of a Gated Community. Gated Community GC is an environmental concept surrounded by walls or fences with limited access. This is regarded as a fear of crime that tries to overcome by controlling a territory. The purpose of this study is to understand the meaning and behavior of residents of Muslim housing to counter the fear that becomes the preference for the choice of residence. Ethnography becomes a tool to understand the social construction of muslim space that is reproduced in controlling Muslim housing GCs. Data were obtained from in depth interviews with the developers and their occupants who were supported by the observations involved and the literature search. The result is muslim housing being a safe space in the social construction process that shapes the identity of the urban Muslims."
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>