Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1995
S6813
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Pusat Penelitian Biologi LIPI, 2008
581.7 MER
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yoga Aulia Luqman
"Manifestasi Kawah Ratu Terletak di Pegunungan Halimun-Salak yang merupakan terletak di antara Banten dan Jawa Barat. Pada tahap awal eksplorasi panas bumi, survei aspek geologi dan geokimia. Survei geologi meliputi aspek geomorfologi dan litologi daerah penelitian. Survei geokimia untuk mengetahui karakteristik fluida pada manifestasi dan mencari penyebab terjadinya manifestasi di daerah tersebut. Pembuatan pemodelan panas bumi merupakan salah satu pendekatan awal pada eksplorasi panas bumi. Pemodelan panas bumi dibuat dengan korelasi data geologi, geokimia, dan geofisika. Data geologi di dapatkan dengan melakukan pemetaan dan studio dengan analisis citra DEM. Pengambilan ata geokimia dilakukan dengan sampling fluida panas bumi. Data geokimia berupa analisis kation anion, isotop, gas chromatography, dan gas titration. Data geofisika didapatkan dari studi literature pada daerah penelitian. Kawah Ratu didominasi dengan batuan vulkanik seperti breksi andesit, scoria, dan tuff yang sudah teralterasi. Kawah Ratu memiliki karakteristik fluida sulfat dengan tingginya kandungan SO4. Fluida pada manifestasi kawah ratu berasal dari air hujan atau meteoric water. Dari karakteristik geologi dan geokimia pada Kawah Ratu masuk ke dalam kelompok geothermal play convection dominated tipe CV– 1. Hasil akhir dari penelitian ini berupa model konseptual model Lapangan Panas Bumi Kawah Ratu.

Kawah Ratu Manifestation Located in the Halimun-Salak Mountains which are located
between Banten and West Java. In the early stages of geothermal exploration, survey of
geological and geochemical aspects. The geological survey covers the geomorphological
and lithological aspects of the research area. Geochemical survey to see the fluid response
to manifestations and to find out the causes of manifestations in the area. Geothermal
modeling is one of the earliest approaches to geothermal exploration. Geothermal modeling
is carried out by displaying geological, geochemical and geophysical data. Geological data
were obtained by mapping and studio using DEM image analysis. Geochemical sampling is
carried out by taking geothermal fluid samples. Geochemical data are in the form of analysis
of cation anions, isotopes, gas chromatography, and gas titrations. Geophysical data were
obtained from literature studies in the research area. Kawah Ratu is dominated by volcanic
rocks such as altered andesite, scoria, and breccia tuff. Kawah Ratu contains sulfuric liquid
containing SO4. The liquid in the form of the queen's crater comes from rainwater or meteor
water. From the influence and geochemistry of Kawah Ratu, it is included in the geothermal
convection game group which is dominated by the CV– 1 type. The final result of this study
is a conceptual geological model of the Kawah Ratu Geothermal Field
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sola, Eugenio
Bogor: GHSNP Management Project, 2005
595.7 SOL p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Divara Andhaaru Naufal Rafif
"Penelitian ingin menjelaskan bagaimana peran mitos sebagai mekanisme kontrol sosial dalam konteks aktivitas pendakian di Gunung Salak via Ajisaka. Berangkat dari pengalaman pribadi saya dan menggunakan pendekatan kualitatif dan autoetnografi, penelitian ini menggambarkan berbagai narasi mistis yang beredar di kalangan pendaki tidak hanya berfungsi sebagai cerita rakyat, tetapi juga sebagai pedoman sosial dalam mengambil keputusan di alam bebas. Penelitian ini menggunakan teori Clifford Geertz, Travis Hirschi, dan Bronislaw Malinowski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos-mitos seperti larangan mendaki ganjil, dilarang memetik bugna anggrek, dan aturan tidak tertulis tentang sikap sopan saat melewati petilasan, secara nyata membentuk pola perilaku dan pengambilan keputusan para pendaki. Meskipun tidak bersifat formal, mitos menjadi alat kontrol yang diterima secara kolektif dan mampu menciptakan disiplin sosial dalam komunitas pendaki. Selain itu, mitos juga berperan sebagai medium edukasi keselamatan, terutama bagi pendaki pemula yang lebih mudah terhubung secara emosional dengan narasi mistis dibandingkan instruksi teknis. Mitos dalam konteks digital, tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga direproduksi dan didistribusikan melalui media sosial, menjadikannya bagian dari pembentukan persepsi dan identitas kolektif di era pendakian modern. Dengan demikian, mitos di Gunung Salak berkembang dari sekadar warisan budaya menjadi sistem nilai yang hidup dan adaptif dalam praktik sosial pendakian masa kini.

This research aims to explain how myths work as a form of social control in hiking activities on Mount Salak via the Ajisaka trail. Based on my personal experience and using a qualitative, autoethnographic approach, this study explores how mystical stories shared among hikers are not just folk tales, but also serve as social guidelines for making decisions in the wild. This research uses theories from Clifford Geertz, Travis Hirschi, and Bronislaw Malinowski. The findings show that myths, such as the rule against hiking in odd numbers, the taboo on picking orchids, and the custom of being respectful when passing sacred places, play an important role in shaping the behavior and decisions of hikers. Although these rules are not written, they are widely followed and help create social discipline among hikers. Myths also act as a way to teach safety, especially for beginners who find it easier to connect with stories than with technical instructions. In today’s digital age, myths are not only passed down through stories but are also shared through social media, helping shape how people see hiking and their connection to nature. In this way, myths on Mount Salak have grown from traditional beliefs into a living system of values that continues to guide people in modern hiking life. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library