Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Raudina Aisyifa Ekawati
"Tuberkulosis menjadi penyebab kematian akibat agen penyakit menular nomor 2 di dunia setelah COVID-19. Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan penyebaran tuberkulosis terbesar di dunia dengan persentase 10% dari kasus dunia dan stigma terhadap penderita tuberkulosis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan tentang penularan tuberkulosis terhadap stigma tuberkulosis pada dewasa muda di Kota Bekasi. Metode yang digunakan adalah cross-sectional melalui teknik simple random sampling dan uji statistik korelasi spearman. Hasil analisis menujukkan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang penularan tuberkulosis dan stigma (p < 0,05). Rekomendasi penelitian ini ditujukan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan frekuensi pemberian edukasi kesehatan secara masif dengan media edukasi yang lebih inklusif, efektif, serta kreatif.

Tuberculosis is the second leading cause of death from infectious diseases worldwide, following COVID-19. Indonesia ranks second globally for tuberculosis prevalence, accounting for 10% of global cases, with a high level of stigma toward tuberculosis patients. This study aims to analyze the relationship between the level of knowledge about tuberculosis transmission and stigma among young adults in Bekasi. A cross-sectional design was employed, utilizing simple random sampling and Spearman correlation analysis. The results indicate no significant relationship between knowledge level and tuberculosis stigma (p < 0.05). This study recommends healthcare providers increase the frequency of health education using more inclusive, effective, and creative educational media. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alandia
"Pendahuluan: HIV/AIDS tetap menjadi tantangan kesehatan global yang signifikan, terutama pada populasi heteroseksual. WHO dan UNAIDS menargetkan untuk mengakhiri epidemi ini pada tahun 2030 melalui strategi 95-95-95. Hingga tahun 2022, Indonesia melaporkan bahwa 81% individu mengetahui status HIV mereka, 41% menjalani pengobatan, dan 19% berhasil mencapai penekanan viral. HIV Testing menjadi kunci dalam mengidentifikasi individu yang terinfeksi.
Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan tentang HIV, dukungan sosial, dan persepsi risiko dengan sikap terhadap tes HIV pada heteroseksual di Indonesia.
Metodologi: Deskriptif analitik dengan cross-sectional yang melibatkan 192 responden dari RSUD Bekasi, Lapas Kelas I Cipinang, Lapas Narkotika Kelas II A Cipinang, dan RS Siloam Mampang. Instrumen yang digunakan meliputi Knowledge Questionnaire-18 (HIV-KQ-18), Perceived Social Support in HIV (PSS-HIV), HIV Risk Perception Questionnaire (HRPQ), dan HIV-Antibody Testing Attitude Scale (HTAS).
Hasil: Analisis multivariat menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki nilai P < 0,001 dengan OR tertinggi sebesar 3,778, menunjukkan bahwa responden dengan dukungan sosial tinggi 3,778 kali lebih mungkin mendukung tes HIV (95% CI: 1,719-8,029).
Kesimpulan: Dukungan sosial merupakan faktor yang paling signifikan dibandingkan dengan variabel lain yang mempengaruhi keputusan individu untuk melakukan pengujian HIV.

Introduction: HIV/AIDS remains a significant global health challenge, particularly among heterosexual populations. The WHO and UNAIDS aim to end the epidemic by 2030 through the 95-95-95 strategy. By 2022, Indonesia reported that 81% of individuals were aware of their HIV status, 41% were undergoing treatment, and 19% had achieved viral suppression. HIV Testing is critical in identifying infected individuals.
Objective: To analyze the relationship between the level of HIV knowledge, social support, and risk perception with attitudes toward HIV Testing among heterosexuals in Indonesia.
Methodology: A descriptive-analytic cross-sectional study involving 192 respondents from RSUD Bekasi, Class I Cipinang Correctional Facility, Class II A Cipinang Narcotics Correctional Facility, and Siloam Mampang Hospital. The instruments used included the Knowledge Questionnaire-18 (HIV-KQ-18), Perceived Social Support in HIV (PSS-HIV), HIV Risk Perception Questionnaire (HRPQ), and HIV-Antibody Testing Attitude Scale (HTAS).
Results: Multivariate analysis revealed that social support had a P-value < 0.001, with the highest OR of 3.778, indicating that respondents with high social support were 3.778 times more likely to support HIV Testing (95% CI: 1.719–8.029).
Conclusion: Social support is the most significant factor compared to other variables influencing an individual's decision to undergo HIV Testing
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library