Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Moch. Ta`in
"ABSTRAK
Bahwa di Indonesia Wall tumbuh dengan pesat perusahaan atau pabrik-pabrik, dan unit-unit perlu pengamanan, Dalam pelaksanaan pengamanan selain dilakukan oleh Kepolisian, juga dilakukan oleh satuan pengaman yang digaji/dibayar perusahaan yang dikenal dengan pengamanan swakarsa (atas Kemauan. Kemampuan dan untuk kepentingan perusahaan sendiri). Pengamanan swakarsa ada yang bersifat tradisional disebut dengan ronda kampung (siskamling), dan ada yang modern (di pabrik atau perusahaan) dikenal dengan Satpam.
Satpant dikenal sejak tahun 1980, dan mempunyai tugas untuk mengamankan perusahaan dengan melakukan penjagaan, pengawasan dan mengontrol perusahaan. Dalam pelaksanaan tugas biasanya dibina oleh Kepolisian. Masa-masa sebelumnya, dalam pengamanan perusahaan banyak dilakukan oleh centeng atau penjaga malam, dan Mulai tahun 1980 ditata dalam bentuk satpam sebagai bentuk pengamanan swakarsa, dikenal adanya 3 macam satpam yaitu satpam yang bekerja di pemukiman, satpam yang bekerja ditempat-tempat umum, dan satpam yang bekerja di perusahaan.
Dalam pengamanan industri (Industrial security), satpam bertindak sebagai security guard atau security force yang bertugas menjaga, mengawasi dan mengontrol untuk melindungi dan mengamankan asset perusahaan, termasuk karyawan dan informasi perusahaan. Guna memahami lebih dalam terhadap perilaku Satpamdalam mengamankan perusahaan, dipilih PT. Martina Berto yang berada di Kawasan Industri Pulo Gadung sabagai tempat pengkajian.
Perusahaan tersebut dinilai memiliki satpam yang tergolong baik, dan juga terletak di kawasan industri yang berada di perkotaan Pulogadung, JakartaTimur. Hasil kajian ditemukan, bahwa perilaku Satpam dalam mengamanankan perusahaan telah dilaksanakan sesuai dengan kepentingan dan keperluan perusahaan, dengan menjaga dan mengawasi asset perusahaan. Pelaksanaan tugas Satpam untuk menciptakan security mindedness belum terlaksana. Temuan lain menunjukan bahwa jumlah Satpam relatif kecil, belum seluruhnya ,mengikuti pendidikan Satpam, sebagai kelompok pelaksana, berstatus sebagai pengawal perusahaan, belum tersedia Manajer Sekuriti.
Dalam kajian pengamanan swakarsa, disamping Satpam sebagai pelaksana dalam pengamanan diharapkan juga dapat berfungsi sebagai pemberi saran pimpinan dalam menciptakan security mindednes.
Berkaitan dengan pengamanan industri (Industrial security), perilaku satpam diharapkan dapat melakukan tugas dalam pengamanan fisik, pengamanan personil dan pengamanan informasi. Sedangkan Kepolisian dalam melakukan pembinaan Satpam dilakukan secara bertingkat, mualai dari Pos Polisi yang terdekat, Polisi Sektor, Polres dan Polda Metro Jaya. Dengan penemuan tersebut disarankan:
Kepolisian untuk lebih aktif memberi pemahaman tentang pengamanan swakarsa dan industrial security serta menyarankan adanya Manajer sekuriti di setiap perusahaan/pabrik, guna peningkatan pelaksanaan tugas Satpam diperusahaan masing-masing.
"
1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saragih, Sadariah
"Tesis ini mengangkat masalah maraknya kasus unjuk rasa para pekerja pabrik di kawasan industri Tangerang. Pembahasan aksi unjuk rasa para pekerja pabrik tersebut di analisa dengan pendekatan ilmu Politik. Melalui metode kwantitatif, penelitian ini mencoba mengukur tingkat pengetahuan dan kesadaran para pekerja pabrik dengan menggunakan konsep Budaya Politik dari Rossenbaum dan Partisipasi Politik dari Sammuel Huntington.
Permasalahan yang diangkat adakah seberapa tinggi tingkat pengetahuan dan kesadaran politik (Budaya Politik) para pekerja pabrik khususnya yang berkaitan dengan kepentingan mereka sebagai pekerja; seberapa tinggi tingkat partisipasi politik pekerja khususnya dalam kasus unjuk rasa; adakah hubungan antara tingkat Budaya Politik dengan tingkat Partisipasi Politik tersebut.
Dari hail penelitian di lapangan maka dapat diketahui ternyata pengetahuan dan kesadaran para pekerja pabrik yang terlibat aktif dalam aksi unjuk rasa di lingkungan pabrik ditempat mereka bekerja ternyata adalah para pekerja yang memiliki tingkat pengetahuan dan keaadaran politik yang tinggi dalam hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan pekerja pabrik.
Mayoritas responden dalam penelitian ini adalah para pekerja yang memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dalam arti mereka terlibat dalam rangkaian aksi unjuk rasa dari mulai menyebarkan issue, mengajak dan menghimbau sesama rekan pekerja, mengadakan rapat pertemuan; memberi bantuan dana maupun pemikiran, sampai pada aksi unjuk rasa itu sendiri. Mereka yang aktif tersebut diikuti dengan tingkat pengetahuan dan kesadaran politik yang tinggi dalam hal yang berkaitan dengan kepentingan pekerja seperti pahamnya mereka mengenai besarnya tingkat upah dan berbagai insentif lainnya, Cara menyalurkan aspirasi mereka termasuk menempuh cara nonkonvensional ketika mereka mengalami jalan buntu dalam menempuh jalur formal.
Dari pengujian statistik diketahui terdapat hubungan yang kuat den signifikan antara tingkat Budaya Politik dengan tingkat Partisipasi Politik sebesar 0,99. Hal ini bermakna semakin tinggi tingkat Budaya Politik maka semakin tinggi pula tingkat Partisipasi Politiknya. Atau semakin baik kesadaran dan pengetahuan pekerja pabrik mengenai hakhaknya maka semakin aktif mereka dalam menuntut hak-hak baik dengan cara konvensional maupun non konvensional. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Pasosong, Indra
"Cultural of organization represent component able to cause why a strategy earn implementation success at one particular company. Successful Organizational is adaptation organization able to be cultural to environment, place where the organization operated.
Social responsibility is obligation of company to formulate to policy, taking decision and execute an action giving benefit to society. In attainment of organizational target among others is organizational strategy, organization chart and organizational system, power in organizational culture and organization. Therefore arising out main problem, what is there relation which significant between organizational culture with social responsibility of company?
Theory the lifted is theory - theory of organizational culture and theory - social responsibility theory is and also continued with research method. This research cope to lay open relation between organizational culture with social responsibility of company in industrial area by using method of descriptive analyze and take population as sample or non sampling probability.
Instrument the used is statement according to scale of Lingkert with score 5,4,3,2 and 1. By conducting spreading 65 questioners from 215 employees during period April 2004 in industrial area of Cikarang, Bekasi."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14063
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Feby Setyo Hariyono
"Rumusan kawasan industri dalam Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1996 tentang kawasan industri adalah sebagai tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki ijin usaha kawasan industri. Ditinjau dari segi penataan ruang, resiko lingkungan, kepastian tempat usaha, penyediaan prasarana dan sarana penunjang, prosedur dan waktu penyelesaian perijinan, keamanan, dan lain sebagainya, mendirikan industri di kawasan industri lebih menguntungkan daripada berlokasi industri di luar kawasan industri. Segala kemudahan yang disiapkan di kawasan industri diharapkan dapat mempermudah pembangunan dan pengendalian industri, pihak industri dapat memperkecil ongkos investasi maupun operasinya, serta dengan terkelompoknya industri di satu kawasan diharapkan dapat mempermudah upaya pengelolaannya dan pengendalian dampak pencemaran yang diakibatkan oleh aktifitas industri yang berlangsung.
Mengingat tujuan kebijakan pengembangan kawasan industri adalah untuk memberikan kemudahan bagi kegiatan industri di kawasan industri dalam rangka mendorong kegiatan industri untuk berlokasi di kawasan industri, sementara pada perkembangannya terjadi penurunan tingkat pemanfaatan lahan di kawasan industri dan terjadi peningkatan pemanfaatan lahan di luar kawasan industri, seperti halnya yang terjadi di Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat. Hal tersebut mencerminkan tidak berhasilnya implementasi kebijakan, yang ditunjukkan dengan adanya gap antara harapan dan kenyataan kebijakan pengembangan kawasan industri.
Hasil analisis terhadap lima faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan pengembangan kawasan industri, yaitu jenis manfaat yang diterima oleh target groups, perubahan yang diinginkan dari kebijakan, sumber daya, komunikasi, serta kondisi sosial, politik dan ekonomi menunjukkan adanya hambatan-hambatan, baik yang berasal dari isi kebijakannya maupun pada implementasi kebijakannya. Mengingat kebijakan pengembangan kawasan industri ditujukan untuk menjadikan kawasan industri sebagai alat untuk penciptaan iklim usaha yang baik, pengaturan tata ruang, jaminan lingkungan hidup, pengembangan wilayah, serta sebagai investasi fasilitas umum (bukan profit making/real estate), maka perlu pengaturan yang jelas dan rinci mengenai instansi yang terkait, tugas dan tanggung jawabnya dalam pengembangan kawasan industri, pemberian kemudahan dan fasilitas khusus dalam pengembangan kawasan industri, dan sosialisasi mengenai arti penting investasi bagi pertumbuhan ekonomi negara untuk mendapat dukungan masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban di kawasan industri.

Industrial area formulation as stated in Presidential Decree Number 41 Year of 1996 regarding industrial area is a center of industrial activities equipped with infrastructure and facility that are developed and organized by the industrial area's company that has been obtained the business license of industrial area From the point of view of space arrangement facet, environment risk, business place certainty, provision of supporting infrastructure and facility, procedure and license of accomplishment time, security, and so on, establishing industry in industrial area is more advantageous than outside industrial area. All eases prepared in industrial area expected to ease the industrial development and controlling, industry party can reduce investment and operational fee, industrial grouping in a area is expected to ease the efforts of organization and controlling pollution impact that is caused by going on industrial activity.
Considering the aim of industrial area development policy is to ease industrial activity in industrial area in order to support industrial activity to locate in an industrial area, meanwhile during development progress there is a decline in the extent of area utilization and conversely, and increase in area utilization outside industrial area, just like what happens at Bekasi Regency, West Java Province. That reflects unsuccessful policy implementation, as shown by the gap between expectation and reality in policy of industrial area development.
The analysis outcome on five factors that influence policy implementation of industrial area development, is kinds of benefit accepted by the group target, desired changes from the policy, resources, condition of social, politic and economy, and communication show obstacles that come either from the policy content of policy implementation. Considering the policy of industrial area development aims to make industrial area as a medium for creation of good business climate, space arrangement, living environment guarantee, area expansion, and as investment facility for public (not for profit making/real estate), then clear and detailed regulations regarding related institutions is needed, its duties and responsibilities in developing industrial area, giving ease and special facility in developing industrial area and socialization regarding the essence of investment for the growth of country economy in order to get support from the society in maintaining security and orderliness in industrial area."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2005
T21527
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"The Objectives of this study were to determine cadmium and lead concentration in the breas milk of healthy lactating women who were living in Zarrinshar, an industrial area of Iran and to investigate the effect of mother's age, parity and smoking habits in families living in the vacinity of areas contaminated with heavy metals."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Alia Zata Izzati Shodiqi
"Karawang yang dahulu dikenal sebagai lumbung padi nasional kian beralih menjadi kawasan industri yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek, Light Rail Transit (LRT) Jabodetabek, jaringan Jalan Raya Lintas Pulau Jawa, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Bandar Udara Internasional Kertajati, dan Pelabuhan Patimban. Keterbatasan lahan yang tersedia untuk pembangunan fasilitas fisik dan infrastruktur menyebabkan pengalihan lahan non-terbangun, termasuk ruang hijau, menjadi lahan terbangun secara masif di Kabupaten Karawang. Hal ini menimbulkan dampak negatif pada lingkungan yang secara langsung dapat dirasakan manusia, salah satunya adalah terjadinya urban heat island (UHI) atau pulau bahang perkotaan. UHI merupakan perbedaan suhu udara antara kawasan perkotaan dan pedesaan yang memengaruhi kesehatan, kenyamanan, biaya penggunaan energi, kualitas udara, jarak pandang, ketersediaan dan kualitas air bersih, layanan ekologis, rekreasi, dan kualitas hidup manusia. Selain itu, aktivitas industri menyebabkan pencemaran udara, bau, dan kebisingan yang dapat membahayakan kesehatan manusia, khususnya pada saluran pernapasan. Berdasarkan Laporan Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang (2018), selama tahun 2017, penyakit utama yang dialami masyarakat Kabupaten Karawang adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan jumlah pengidap sebanyak 173.953 orang. Penyakit ISPA sendiri bisa timbul akibat terhirupnya polutan-polutan hasil aktivitas industri. Oleh sebab itu, peneliti akan merencanakan pembangunan infrastruktur berbasir ruang hijau di kawasan industri Karawang. Dengan adanya ruang hijau, diharapkan dapat mengurangi urban heat effect di kawasan ini dengan mengurangi total emisi CO2. Selain itu, dengan meningkatkan kontak antara manusia dengan alam (ruang hijau), dapat meningkatkan kesehatan fisik dan psikologis seseorang yang berhubungan erat dengan kesejahteraan. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan studi literatur tentang bagaimana konsep ruang hijau yang dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di kawasan industri Karawang. Penelitian menghasilkan bahwa konsep infrastruktur yang dapat meningkatkan kesehatan masyarakat di kawasan industri Karawang adalah dengan menanam vegetasi yang dapat menyerap polutan secara efektif, seperti pohon dadap kuning, flamboyant, trembesi, lolipop kuning, nusa indah merah, bougenvil ungu, azalea, dan koleus. Selain itu, perlu disediakan tempat sampah dan toilet agar sanitasi ruang hijau lebih terkendali. Lebih lanjut, untuk meningkatkan kesehatan fisik masyarakat, perlu diadakan sarana olahraga seperti jogging track, lapangan futsal, dan alat gym. Sedangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan industri Karawang adalah dengan penyediaan kios (food stall) agar masyarakat sekitar dapat berdagang dan mengutamakan penjual adalah mereka yang menjual produk-produk unggulan yang dimiliki Kecamatan Klari, seperti pepes jambal, sate maranggi, ikan paray, dan kerupuk cikur. Selain itu, untuk mendukung kesenian yang ada, RTH bisa digunakan sebagai tempat latihan kearifan budaya setempat, seperti wayang golek. Dengan begitu, Taman Industri Karawang bisa menjadi objek wisata  yang akan menimbulkan atraksi yang dapat membuat kawasan di sekitarnya ikut berkembang. Setelah itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui lokasi mana yang paling sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada untuk dijadikan ruang hijau. Kemudian peneliti melakukan survei kuesioner terhadap penduduk yang tinggal di Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang. Dari kuesioner tersebut, didapatkan bahwa masyarakat Kecamatan Klari setuju bila dalam ruang hijau terdapat kolam artifisial, air mancur, area bermain khusus anak, papan nama pada pohon, lintasan lari, lapangan multifungsi, instalasi alat gym, tanah lapang, dan lahan yang cukup untuk parkir mobil dan motor. Namun, masyarakat tidak setuju dengan adanya taman komunitas di ruang hijau. 

Karawang, formerly known as the national rice barn, is increasingly turning into an industrial area with facilities such as the Jakarta-Cikampek Toll Road, Jabodetabek Light Rail Transit (LRT), the Trans-Java Highway network, the Jakarta-Bandung Fast Train, Kertajati International Airport, and Patimban Port. The limited land available for the construction of physical facilities and infrastructure that led to the transfer of non-built land, including green space, became a massive building area in Karawang Regency. This has a negative impact on the environment that can be felt by humans, which is urban heat island (UHI). UHI is one of the main factors between urban and rural areas that affects health and comfort, energy use costs, water quality, visibility, clean air quality needs, ecological services, recreation, and the quality of human life. In addition, industrial activities cause water pollution, odors, and health problems that can endanger humans, especially in the respiratory tract. Based on the Karawang Regency Central Bureau of Statistics (2018) report, during 2017, the main disease experienced by the Karawang with 173,953 sufferers is ARI, which can arise from the inhalation of pollutants from industrial activities. Therefore, the researcher will plan the construction of green space-based infrastructure in the Karawang industrial area. With the existence of green space, it is expected to reduce the urban heat effect by reducing the total CO2 emissions. In addition, increasing contact between humans and nature (green space) can improve physical and psychological health related to well-being.This research began with studying literatures on the concept of green space that can improve the health and well-being of people in the Karawang industrial area. The use of effective pollutant-absorber vegetations is believed as an effective way, such as yellow dadap, flamboyant, trembesi, yellow lollipops, beautiful red deer, purple bougainvillea, azaleas, and coleus. In addition, it is necessary to provide trash bins and toilets so that green spaces sanitation is more controlled. Furthermore, to improve public health, the procurement of sports facilities such as jogging tracks, futsal courts, and gym equipment is needed. Meanwhile, to improve the welfare of the community in Karawang industrial areas, providing kiosks (food stalls) is aimed so that the surrounding communities can trade and prioritize sellers who sell superior products in the Klari District, such as pepes jambal, maranggi satay, paray fish, and cikur crackers. In addition, to support the existing local art, the green space can be used as a place to practice local cultural wisdom, such as puppet shows. That way, this green space can become a tourist attraction that will attract interest that can make the surrounding area grow. After that, the research about which location is best-suited the criteria needed for becoming a green space is done. Then the researcher conducted a survey of the population living in the Klari District, Karawang Regency. From the questionnaire, the Klari District community agreed that if there is an artificial pool, a fountain, a playground for children, vegetation name on the tree, a running track, multifunctional sports field, sports equipment installation, terrain, and enough parking space for cars and motorbikes. However, the community does not agree with the existence of community parks in green spaces."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alfino Rinaldi Arief
"Kawasan Industri Maloy telah ditetapkan sebagai pusat industri berbasis pertanian kelapa sawit di Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak ekonomi yang ditimbulkan dari pembangunan kawasan industri tersebut terhadap perekonomian wilayah, serta menganalisis pola investasi terbaik berdasarkan pilihan alternatif skenario. Perkiraan jumlah nilai investasi dalam kurun waktu tahun 2012-2025 adalah sebesar Rp.21.534.028.560.000,- yang terdiri dari : pembangunan infrastruktur, pengembangan industri hulu dan hilir kelapa sawit, serta pengembangan komoditas kelapa sawit. Melalui metode analisis Input-Output, diperoleh hasil bahwa dampak total yang ditimbulkan dari investasi tahun 2012-2015 terhadap perekonomian Kalimantan Timur adalah peningkatan output sebesar 5,18%, peningkatan nilai tambah bruto sebesar 4,16%, peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 4,42%, dan peningkatan tenaga kerja sebesar 17,34%. Terhadap 3 (tiga) skenario pola investasi, juga diketahui bahwa strategi dengan terus berfokus pada pengembangan sektor (21) industri makanan dan minuman serta sektor (25) industri pupuk, kimia, dan karet merupakan strategi yang paling menguntungkan bagi perekonomian Kalimantan Timur.

Maloy Industrial Area has been designated as a center of palm oil agriculture-based industry in East Kalimantan. The aim of this study is to analyze the economic impacts from Maloy industrial area development, and to analyze the best investment pattern based on alternative scenario choices. Estimated total value of investment within 2012-2015 is Rp.21.534.028.560.000,- consist of : infrastructure development, upstream and downstream palm oil industrial development, and palm oil commodity development. Through Input-Output analysis methods, result that the total impact from investments within 2012-2015 to East Kalimantan economy are 5.18% growth in output, 4.16% growth in gross value added, 4.42% growth in household incomes, and 17.34% growth in labor. There are three scenarios in investment pattern, where to continue focusing on food and beverage industry sector and fertilizers, chemicals, and rubber industry sector development are most beneficial strategies to East Kalimantan economy.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2015
T43160
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iskandar
"Bila diperhatikan dari sisi kontribusi revenue dan prospek ke depan, wilayah Industri Pulo Gadung merupakan kawasasan bisnis yang sangat penting bagi Telkom terutama KANDATEL Jakarta Timur. Untuk itu perlu adanya upaya-upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar di kawasan tersebut. Salah satu upaya pentingnya adalah dengan mengembangkan infrastruktur pelayanan. Pengembangan infrastruktur pelayanan dimulai dari proses perkiraan dengan menggunakan data kuantitatif untuk dapat mengetahui kebutuhan fasilitas telekomunikasi. Perkiraan yang dimaksudkan disini adalah merupakan pernyataan apa yang akan terjadi bila kondisi tertentu atau kecenderungan yang terus menerus dengan asumsi bahwa penyebab kejadian tersebut dapat diatur oleh manusia , sehingga bila hasil perkiraan tidak seperti yang diinginkan masih mungkin dengan kemampuan manusia untuk memperbaikinya. Perkiraan kebutuhan fasilitas telekomunikasi pada Kawasan Industri Pulo Gadung dan pada setiap subsegmen industri dengan menggunakan Metode Regresi. Variabel-variabel bebas yang dipergunakan adalah inflasi, suku bunga (rate), kurs dan produk domestik bruto. Pemilihan variabel-variabel tersebut diatas sangat beralasan mengingat sektor industri sangat dipengaruhi hal-hal tersebut diatas. Output dari proses regresi dianalisa untuk mengetahui seberapa besar dan pentingnya pengaruh masing-masing variabel terhadap kebutuhan fasilitas telekomunikasi. Disamping menggunakan data kuantitatif, pengembangan layanan juga perlu menggunakan data kualitatif agar hasil dari pelaksanaan sesuai dengan keinginan dan harapan para pelanggan.

If it is seen from side of revenue and future prospect, Pulo Gadung Industrial Area is very important business area for TELKOM particularly for East Jakarta Area. Hence, it needs some efforts to keep and develop market segment in the said area. One of its important attempts is to develop service infrastructure. The development of service infrastructure is initiated from forecasting process using quantitative data to see telecommunication facility needs. The forecasting stipulated here is a statement of what will happen if certain conditions or continuing tendency on assumption that the cause of it could be managed by human being, so that out come of the assessment is not like what it was desired still has possibility for human being capability to renew it. The forecasting of telecommunication facility needs in Pulo Gadung Industrial Area and at every sub segment of Industry using Regression Method. The independent variables utilized are inflation, interest rate, foreign exchange currency, and gross domestic product. The selection of the variables above is very reasonable recalling that the industry sector influences the said matters. Output of the regression process is analyzed to see how much and how important the impact of each variable on telecommunication facility needs. Instead of using quantitative data, service development also needs to use qualitative data so that the output of its implementation is fit to the expectation and the desire of customers.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
T3018
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Onni Habie
"Pasang surutnya pertumbuhan ekonomi nasional dan kebijakan politik yang selalu berubah akhir-akhir ini telah membebani kehidupan masvarakat. Berada di tengah kawasan industri Jababeka yang berkembang pesat dan perumahan padat penduduk di Lemah Abang Cikarang Bekasi, Puskesmas DTP Mekar Mukti harus menjalankan perannya sebagai ujung tombak program pengembangan kesehatan pemerintah, dan menjadi penyedia layanan kesehatan bagi lingkungan yang saling berlawanan; lingkungan industri yang dinamis dan penuh persaingan serta lingkungan pinggiran yang penuh kekurangan. Sebagai lembaga pelayanan kesehatan pemerintah, puskesmas ini harus selalu melaksanakan program kebijakan pemerintah yang pada umumnya kurang memperhatikan perencanaan yang menyeluruh akan kebutuhan setempat. Dengan BOR kurang dari 40% dan LOS mendekati dua hari, puskesmas ini harus dikembangkan untuk menjawab tingginya tuntutan kebutuhan masyarakat dan agar mampu bersaing dengan penyedia layanan kesehatan setempat lainnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun perencanaan strategik pengembangan Puskesmas DTP Mekar Mukti tahun 2003-2008. Perencanaan strategik ini harus mampu memanfaatkan peluang yang ada di lingkungannya, menghindari ancaman dari luar, mengandalkan kekuatan dari dalam dan mengurangi kelemahan yang dimiliki.
Penelitian dilakukan menggunakan metoda penelitian operasional melalui analisis data dan pengamatan lapangan terhadap keadaan yang ada di puskesmas ini. Penyusunan strategi dilakukan dengan mengasialisis dan memahami pengaruh faktor lingkungan luar dan dalam yang berdampak pada perencanaan strategik puskesmas ini. Dimulai dengan memusatkan kelompok diskusi dalam membahas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dengan menggunakan matriks evaluasi faktor dalam (ME) dan luar (EFE). Hasil kedua matriks ini lalu dianalisis menggunakan matriks luar-dalam (GE) yang menghasilkan posisi bersaing bagi puskesmas ini dalam kuadran keempat. Dengan mencocokkan hasil matrik IE dan matrik posisi strategik dan evaluasi tindakan (SPACE), diperoleh penetrasi pasar dan pengembangan produk sebagai strategi yang dapat dipilih untuk diterapkan.
Akhirnya dengan menentukan skala prioritas menggunakan matrik perencanaan strategik kuantitatif (QSPM), strategi pengembangan produk berupa PONED (program obstetri neonatal emergensi dasar) dapat diterapkan untuk meningkatkan pelayanan dan mengembangkan Puskesmas DTP Mekar Mukti.

The turbulence of national economic growth and the ever changing of political policy recently, have, anyway, weighted the public life. Situated between the center of growing paced industrial estate Jababeka and crowded public housing in Lemah Abang Cikarang Bekasi, Public Health Center DTP Mekar Mukti should conduct its role as the front runner of national health development program, beside of as the health care provider for both of nontraditionally competitive dynamical industrial life and poor urban environment. As the government health care institution, this health care provider must always implement government development policy, all of which lacking in locally comprehensive planning. With BOR less than 40% and LOS approaching two days, the public health center has to be developed to cope against high public demand and to compete with other locally health care provider.
The objective of the study is to formulate a representative strategic plan of Public 'Health Center DTP Mekar Mukti Bekasi for the period of 2003-2008: The strategic plan should take advantage of opportunities in the environment, avoid external threats, capitalize on internal strengths, and reduce any .weaknesses. The research is conducted with operational research method with data analysis and direct observation of the real condition at this public health center. The formulation of the strategy is implemented by analyzing and understanding the influence of both internal and external environment factors that gave impaction this public health's planning strategy. It starts from focusing discussion group on evaluating the strengths, weaknesses, opportunities and threats using internal (IFE) and external factor evaluation (EFE) matrix. Using of both matrices results, internal-external (IE) matrix gives competitive position of the public health center in fourth quadrant. By matching the results of LE matrix and strategic position and action evaluation (SPACE) matrix, we have market penetration and product development as the chosen applied strategy.
Finally by determining the scale of priority with quantitative strategic planning matrix (QSPM), product development strategy i.e. PONED (neonatal and pregnant woman special emergency program) could be applied and developed to best position the public health center within its external environment and will help assure success to the development of Public Health Centre Mekar Mukti with Inpatient Care Unit as a whole.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12752
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>