Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ririen Ekoyanantiasih
Jakarta: Pusat Bahasa. Depdiknas, 2002
499.252 RIR p (1)
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Suyati Suwarso
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1992
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Lilie Suratmino
"ABSTRAK
Dalam kelas BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) tingkat tengah dan lanjutan sering dijumpai peserta yang belum dapat merealisasikan fonem-fonem bahasa Indonesia baik lisan maupun tertulis secara benar. Sebagian besar peserta umumnya telah menguasai lafal dengan benar karena mereka sejak tingkat dasar telah dilatih secara intensif di kelas atau di laboratorium bahasa. Kebanyakan mahasiswa yang mengalami kesulitan merealisasi ini fonem-fonem tersebut adalah mahasiswa yang loncat kelas ke tingkat lebih tinggi dalam ujian saringan masuk BIPA (placement test) yang diselenggarakan setiap tahun ajaran baru. Meskipun mereka nantinya lulus ujian terakhir pada BIPA tingkat akhir (lanjutan), namun apabila mereka belum dapat merealisasikan fonem-fonem bahasa Indonesia dengan benar, hal ini akan memberikan kesan bahwa mereka tidak diajar atau belajar dengan benar. Makalah ini membahas masalah tersebut berdasarkan pengalaman penulis di kelas mata kuliah pandang dengar tingkat tengah dan lanjutan. Selain pemilihan metode yang tepat, pendekatan dalam menangani masalah secara individual atau klasikal, juga teknik yang sesuai. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk memperoleh hasil yang lebih optimal tanpa mengganggu proses belajar mengajar di kelas, sebaiknya didirikan kelas khusus yang menangani masalah ini secara individual (remedial comer atau remedial class). Dalam kelas ini mengurangi beban psikologis peserta terutama berdasarkan faktor usia mereka, mereka akan malu bila dikoreksi di depan peserta lain di kelas terutama bagi mereka yang pemalu. Dalam kelas khusus ini mereka dapat berlatih dengan tenang."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Ninuk Retna Sumiarsih
"[ABSTRAK
Tesis ini membahas penggunaan bahasa Indonesia oleh pengajar bahasa Inggris di kelas Bahasa Inggris Umum tingkat dasar dan menengah. Perbedaan tingkat kemampuan bahasa Inggris pemelajar dari dua kelas digunakan sebagai variabel untuk mengetahui apakah tingkat kemampuan bahasa asing pemelajar mempengaruhi penggunaan bahasa pertama pengajar. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif kuantitatif. Data diperoleh dari proses observasi, wawancara dengan pengajar, kuesioner untuk pemelajar, dan video-stimulated recall dengan pengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan penggunaan bahasa Indonesia oleh pengajar di kelas Bahasa Inggris Umum tingkat dasar lebih bervariasi dibandingkan di tingkat menengah. Selain itu, persentase penggunaan bahasa Indonesia juga lebih besar terjadi di kelas Bahasa Inggris Umum tingkat dasar dibandingkan menengah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan bahasa asing pemelajar mempengaruhi tujuan dan persentase penggunaan bahasa pertama oleh pengajar.

ABSTRACT
The focus of this study is the use of Indonesian by an English teacher in elementary and intermediate level of General English class. The study tries to find out whether the students’ English proficiency level affects the use of Indonesian by the English teacher. The design of the study is a case study with both quantitative and qualitative approaches. The instruments used to collect data are classroom observations, an interview with the teacher, a questionnaire for the students, and video-stimulated recall with the teacher. The findings show that, first, the purposes of using Indonesian by the teacher are more varied in the Elementary class than in the intermediate class. Second, the percentage of using Indonesian by the teacher is also higher in the elementary class than in the intermediate class. In conclusion, students’ English proficiency level affects how often the teacher uses the first language and the purposes for using it.
;The focus of this study is the use of Indonesian by an English teacher in elementary and intermediate level of General English class. The study tries to find out whether the students’ English proficiency level affects the use of Indonesian by the English teacher. The design of the study is a case study with both quantitative and qualitative approaches. The instruments used to collect data are classroom observations, an interview with the teacher, a questionnaire for the students, and video-stimulated recall with the teacher. The findings show that, first, the purposes of using Indonesian by the teacher are more varied in the Elementary class than in the intermediate class. Second, the percentage of using Indonesian by the teacher is also higher in the elementary class than in the intermediate class. In conclusion, students’ English proficiency level affects how often the teacher uses the first language and the purposes for using it.
;The focus of this study is the use of Indonesian by an English teacher in elementary and intermediate level of General English class. The study tries to find out whether the students’ English proficiency level affects the use of Indonesian by the English teacher. The design of the study is a case study with both quantitative and qualitative approaches. The instruments used to collect data are classroom observations, an interview with the teacher, a questionnaire for the students, and video-stimulated recall with the teacher. The findings show that, first, the purposes of using Indonesian by the teacher are more varied in the Elementary class than in the intermediate class. Second, the percentage of using Indonesian by the teacher is also higher in the elementary class than in the intermediate class. In conclusion, students’ English proficiency level affects how often the teacher uses the first language and the purposes for using it.
, The focus of this study is the use of Indonesian by an English teacher in elementary and intermediate level of General English class. The study tries to find out whether the students’ English proficiency level affects the use of Indonesian by the English teacher. The design of the study is a case study with both quantitative and qualitative approaches. The instruments used to collect data are classroom observations, an interview with the teacher, a questionnaire for the students, and video-stimulated recall with the teacher. The findings show that, first, the purposes of using Indonesian by the teacher are more varied in the Elementary class than in the intermediate class. Second, the percentage of using Indonesian by the teacher is also higher in the elementary class than in the intermediate class. In conclusion, students’ English proficiency level affects how often the teacher uses the first language and the purposes for using it.
]"
2015
T45230
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chairina HS
"Salah satu fungsi dari bermain adalah dapat meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi anak (Papalia & Olds, 1993). Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti dan dimengerti oleh temantemannya. Hal ini mendorong anak untuk belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, bagaimana membentuk hubungan sosial, bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam hubungan tersebut. Untuk mempelajari itu semua sulit dilakukan oleh anak tunarungu. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuannya dalam berkomunikasi.
Ketidakmampuannya untuk berkomunikasi berdampak luas dari segi kemampuan bahasa, membaca, menulis maupun penyesuaian sosial serta prestasi sekolahnya. Tetapi sekarang banyak anak-anak dengan gangguan pendengaran atau tuli dapat diidentifikasi pada usia kanak-kanak awal. Mereka sering dibantu melalui operasi atau penggunaan alat bantu dengar. Mereka belajar- untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman mereka dengan menggunakan bicara, membaca ujaran, bahasa isyarat atau teknik-teknik lainnnva. Banyak dari orang-orang yang menderita gangguan pendengaran atau tuli dapat mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, mampu memasuki bidang-bidang professional dan dapat mencapai keberhasilan individual/personal.
Jalur pendidikan formal (sekolah) merupakan satu upaya yang banyak dilakukan untuk membantu anak-anak tunarungu (Mangunsong dkk. 1998). Untuk anak-anak tunarungu yang berada di Taman Latihan Santi Rama, kegiatan belajar sehari-harinya adalah belajar berkomunikasi khususnya belajar berbicara. Tetapi dalam proses belajar berkomunikasi itu tidak terlepas dari kegiatan bermain. Kegiatan bermain merupakan bagian penting dalam program pendidikan prasekolah. Dalam kegiatan bermain dimasukkan juga dengan kegiatan belajar berkomunikasi di kelas melalui latihan mendengar dan penggunaan metode oralisin.
Dengan memperhatikan kekhususan pada tingkat perkembangan usia prasekolah dan kegiatan bermain anak tunarungu, dalam penelitian ini ingin diperoleh gambaran bermain pada anak tunarungu dilihat dari materi bermain, bimbingan yang diperoleh, dan peran orang tua, guru, saudara, dan teman yang sangat membantu pada perkembangan komunikasi anak tunarungu. "
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2000
S3001
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ros Mayasari
"Penelitian ini bertolak dari adanya kebutuhan akan pemahaman peran faktor-faktor psikologis dalam proses pembelajaran mata kuliah Bahasa Arab. Di IAIN (Institut Agama islam Negeri), mata kuliah Bahasa Arab menjadi mata kuliah yang penting dilihat dari tujuan lembaga ini yang bergerak pada pengkajian dan pengembangan ilmu-ilmn keislaman- Pengemhangan dan pengkajian ilmu-ilmu keislaman sangat memerlukan penguasaan bahasa Arab karena sumber utama pengkajian bidang disiplin ilmu ini berasal dan literatur yang berbahasa Arab. Namun pada kenyataannya, hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Bahasa Arab belum optimal Oleh karena itu, dalam penelitian ini dikaji beberapa faktor psikologis yang dianggap memberi sumbangan terhadap keberhasilan Mahasiswa pada mata kuliah Bahasa Arab. Dari beberapa faktor psikologis yang perlu mendapatkan perhatian adalah kemampuan awal bahasa Arab, self-efficacy, dan rask value. Faktor kemampuan awal bahasa Arab penting diteliti karena mahasiswa IAIN berasal dari sekolah umum, madrasah, dan pondok pesantren dimana ketiga lembaga pendidikan tersebut memberi porsi mata pelajaran Bahasa Arab yang berbeda-beda.
Faktor self-efficacy (penilaian kemampuan diri untuk melakukan tugas tertentu) juga dianggap penting untuk diteliti karena mata kuliah Bahasa Arab sering dianggap sebagai mata kuliah yang sulit Pandangan tentang kesulitan suatu tugas akan mempengaruhi penilaian seseorang tentang kemampuannya untuk berhasil pada tugas tersebut. Demikian juga dengan faktor task value (penilaianmu tentang kebermaknaan dan kepentingan suatu tugas). Adanya perbedaan tujuan jurusan-jurusan yang ada di setiap fakultas yang tidak semuanya berhubungan langsung dengan pengkajian ilmu keislaman, memungkinkan perbedaan penilaian (ask value mahasiswa terhadap mata kuliah Bahasa Arab. Oleh karena itulah penelitian ini bertujuan untuk meneliti sumbangan kemampuan awal bahasa Arab, faktor self-efficacy, dan task value terhadap hasil belajar mata kuliah Bahasa Arab.
Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa Fakultas Tarbiyah semester satu yang sedang mengambil mata kuliah Bahasa Arab. Sampel berjumlah 214 orang yang diperoleh dengan teknik accidental .sampling. Data tentang kemampuan awal bahasa Arab menggunakan hasil ujian masuk IAIN pada mata ujian Bahasa Arab dan data hasil belajar diambil dari hasil ujian mid semester mata kuliah Bahasa Arab. Adapun data tentang self-efficacy dan task value diperoleh dari kuesioner self-efficacy dan task value. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi dan pengolahan data dilakukan dengan memanfaatkan program SPSS (Statistical Package for Social Science).
Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan awal dan self-efficacy memberi sumbangan yang signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah Bahasa Arab, baik pada saat dihitung sendiri~sendiri maupun bersama-sama. Adapun faktor task value ternyata tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah Bahasa Arab. Tidak adanya sumbangan yang signifikan variabel task value terhadap hasil belajar diduga karena adanya interaksi antara variabel task value dengan variabel lain yang tidak diukur dalam penelitian ini, adanya tingkat self-efficacy yang rendah dan dimungkinkan pula oleh adanya sikap faking good responden dalam menjawab kuesioner.
Untuk penelitian lebih lanjut disarankan melakukan pengontrolan variabel tertentu yang dianggap memberi pengaruh terhadap hasil belajar mata kuliah Bahasa Arab seperti bakal bahasa asing dan perlunya keseragaman pengukuran hasil belajar serta menggunakan teknik random sampling untuk pengambilan sampel penelitian agar hasil penelitian dapat digeneralisir secara lebih luas. Penelitian tentang variabel rask value perlu dilakukan dengan melibatkan variabel-variabel lain seperti strategi belajar karena dalam penelitian Pintrich dan Dc Groot (1990), sumbangan task value muncul terhadap strategi belajar. Strategi belajar inilah yang berpengaruh secara langsung terhadap hasil belajar. Di samping itu, penelitian bersama antara variabel kemampuan awal, motivational belief (seperti self-efficacy dan task value) serta strategi belajar penting dilakukan untuk melihat bagaimana pola hubungan dan interaksi antara variabel-variabel tersebut dalam mempengaruhi hasil belajar.
Faktor kemampuan awal bahasa Arab dan self-efficacy ternyata memberi sumbangan yang signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Bahasa Arab. Oleh karena itu, disarankan untuk mengembangkan program pengajaran yang dapat mengakomodasi perbedaan kemampuan awal bahasa Arab mahasiswa yang bervariasi, misalnya dengan memberi bimbingan remedial atau mengelompokkan mahasiswa pada satu kelas sesuai dengan tingkat kemampuan awal bahasa Arabnya di samping itu, disarankan pula untuk mengmbangkan proses pembelajaran di kelas yang dapat meningkatkan self-efficacy mahasiswa terhadap mata kuliah Bahasa Arab. Misalnya, memberi pengalaman sukses dalam mengerjakan tugas-tugas mata kuliah Bahasa Arab, memberi umpan balik yang konsisten terhadap kemajuan penguasaan mahasiswa terhadap hasil belajarnya serta tetap memberikan persuasi verbal bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berhasil dalam mata kuliah Bahasa Arab."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2002
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Laila Tri Nurachma
"Autism spectrum disorder ASD adalah gangguan neurologis yang menghambat kemampuan komunikasi sosial. Pada individu dengan ASD, mereka mengalami hambatan kognitif sehingga kesulitan dalam mengelola informasi yang ditangkap dari lingkungan, hambatan dalam tata bahasa syntax dan pemahaman bahasa semantic, serta rendah dalam theory of mind. Kondisi ini lebih parah ketika ASD komorbid dengan intellectual disability ID.
Pelatihan sentential complements diketahui dapat meningkatkan kemampuan bahasa dan theory of mind yang penting dalam proses komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas Pelatihan sentential complements terhadap peningkatan kemampuan bahasa dan theory of mind pada anak dengan ASD komorbid dengan ID.
Desain penelitian yang digunakan adalah single-subject. Data diperoleh dari hasil inspeksi visual pada grafik hasil tugas sentential complements dan tugas false belief serta perbandingan hasil pre-post tes pada alat ukur Vineland Adaptive Behavior Scale ranah komunikasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada kemampuan syntax dan semantic sebesar 87.5 dan peningkatan ini stabil selama periode pelatihan. Kemampuan komunikasi reseptif dan ekspresif juga meningkat sebesar 12 dan 16.5. Di samping itu, terdapat peningkatan pada kemampuan theory of mind sebesar 52, namun tidak stabil selama periode pelatihan.
Dapat disimpulkan bahwa pelatihan sentential complements mampu meningkatkan kemampuan bahasa pada anak dengan ASD komorbid dengan ID. Adapun peningkatkan kemampuan theory of mind yang belum stabil membutuhkan tidak hanya pengembangan kemampuan bahasa, tapi juga kemampuan lainnya yang berkaitan dengan theory of mind, seperti kemampuan kognitif, sosial, dan emosional.

Autism spectrum disorder ASD is a neurological disorder that inhibits social communication skills. Individual with ASD experience cognitive disruption resulting difficulties in managing information captured from the environment, language grammatical syntax and language comprehension semantic, and low in theory of mind. This condition is more severe when ASD is comorbid with intellectual disability ID.
Sentential complements training is known to improve language skills and theory of mind that are important in the communication process. This study aims to see the effectiveness of sentential complements training on enhancing language skills and theory of mind in a child with ASD comorbid with ID.
This study is single subject A B B1 B2 design. Data were obtained from visual inspection result of sentential complements task graph and false belief task graph and than comparison between pre post test of Vineland Adaptive Behavior Scale communication domain.
The results show that there is an increase in syntax and semantic skills score of 87.5 and this increasing is stable over training period. Receptive and expressive communication skills are increasing in 12 and 16.5 . Besides that, there is an 52 of increas in theory of mind skills score, but this increasing was not stable over training periods.
It conclud that sentential complements training can improve language skills in child with ASD comorbid with ID. The unstable increasing in theory of mind requires not only language skills, but also other abilities related to theory of mind, such as cognitive, social, and emotional abilities."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
T49095
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Saputra
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang problematika proses belajar mengajar bahasa Arab yang dialami mahasiswa Program Studi Arab serta strategi pengajaran untuk mengatasinya. Skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang disajikan secara deskriftif. Hasil penelitian skripsi ini menunjukkan bahwa harus ada kerjasama sama yang maksimal antara dosen dan mahasiswa serta strategi-strategi pengajaran tertentu untuk meningkatkan kualitas kemampuan berbahasa Arab para mahasiswa.

Abstract
This thesis discusses the problem of teaching and learning process that had been around by student of the Arabic Studies Program and teaching strategies to overcome. This thesis uses qualitative research methods are presented descriptively. The results of this thesis research indicate that there should be a hard and cooperative work between lecturers and students to optimize their ability in learning Arabic language with some teaching strategy as the problem solving."
2010
S13120
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rigen Herpramasanti
"ABSTRAK
Tujuan : Mengetahui angka kejadian keterlambatan bahasa dan kognisi pada anak riwayat prematur, mengetahui adakah perbedaan rerata kemampuan bahasa dan kognisi pada anak riwayat prematur Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR), dan melihat hubungannya dengan faktor-faktor ibu yaitu pendidikan ibu, ibu bekerja, jumlah anak dalam keluarga, riwayat pemberian ASI lebih dari 6 bulan, dan rentang waktu interaksi ibu dan anak.
Metode : Desain penelitian adalah potong lintang. Populasi terjangkau adalah anak riwayat lahir prematur yang terdata di Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak tahun 2009 sampai dengan 2010 dan anak riwayat prematur yang terdata di Poli Rawat Jalan Divisi Pediari Departemen Rehabilitasi Medik. Cara pengambilan sampel dengan consecutif sampling. Penilaian kemampuan bahasa dan kognisi dengan menggunakan Capute Scale CAT/CLAMS.
Hasil : Angka kejadian keterlambatan bahasa dan kognisi pada anak riwayat prematur usia 18-36 bulan adalah sebesar 25%. Terdapat kecenderungan nilai rerata kemampuan bahasa dan kognisi yang lebih rendah pada anak riwayat prematur BBSR dibandingkan BBLR, namun tidak signifikan (p>0,05). Faktor ibu yang memberikan hubungan yang bermakna adalah rentang waktu interaksi ibu dan anak, dimana didapatkan memiliki korelasi lemah terhadap kemampuan kognisi (r=0,275, p=0,04)
Kesimpulan : Kejadian keterlambatan bahasa dan kognisi pada anak riwayat prematur usia 18-36 bulan cukup besar, sehingga memerlukan perhatian khusus. Ibu dengan anak riwayat prematur hendaknya meningkatkan rentang waktu interaksi dengan anaknya untuk meningkatkan kemampuan kognisi pada anak.

ABSTRACT
The aim: To knew the prevalence of language and cognition problem in preterm children, to knew the difference in language and cognition acquitition between preterm children with low birth weight (LBW) and very low birth weight (VLBW), and to knew relationship with maternal factors are maternal education, working mother, number of chlidren, breast feeding for 6 months, dan length time of mother children interaction.
Methods: Study design was crosssectional. The population was preterm infant registered in Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak 2009 until 2010 and preterm children registered in Poli Rawat Jalan Divisi Pediari Departemen Rehabilitasi Medik. Cara pengambilan sampel dengan consecutif sampling. The tools used to measure language and cognition acquisition were Capute Scale CAT/CLAMS.
Results: The prevalence of language and cognition problem in premature children was 25%. There is a trend that language and cognition acquisition lower in premature children with VLBW than LBW, but not significant (p>0,05). Maternal factor that gave significant relationship only the length time of mother children interaction, with gave weak correlation with cognition acquisition (r=0,275, p=0,04)
Conclussion: The prevalence of language and cognition problem in preterm children was high, so should be gave close attention. Mother of preterm children shoould be increase the length time of interaction with her child to increase the child’s cognition"
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ], 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elien Wihestin
"[ABSTRAK
Latar Belakang : Kemampuan berbahasa merupakan salah satu indikator
perkembangan anak karena melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor,
psikologis, emosi dan lingkungan disekitar anak. Penilaian kemampuan bahasa
anak sangat penting pada periode 2-4 tahun karena terjadi peningkatan jumlah dan
kompleksitas dalam perkembangan bicara dan bahasa. Penilaian dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan maupun oleh orang tua. Keterbatasan tenaga kesehatan di
daerah rural menyebabkan penilaian berbasis orang tua sangat penting sehingga
dibutuhkan instrumen yang sesuai dengan budaya, bahasa dan lingkungan anak.
Tujuan penelitian adalah mengetahui akurasi instrumen penilaian kemampuan
bahasa berbasis orang tua pada anak usia 18-36 bulan didaerah rural.
Metode : Subjek penelitian diambil dari anak usia 18 ? 36 bulan dan orang
tua/pelaku rawat peserta posyandu di desa Sukarapih, Kecamatan Tambelang,
Kabupaten Bekasi. Orang tua/pelaku rawat harus mampu membaca dan mengerti
bahasa Indonesia. Perkembangan bahasa anak dinilai dengan skala REEL
(Receptive Expressive Emergent Language) modifikasi oleh orang tua dan skala
ELM (Early Language Milestone) oleh peneliti. Hasil penilaian skala REEL
dibandingkan dengan skala ELM melalui uji diagnostik untuk mendapatkan nilai
sensitivitas dan spesifitas, nilai prediksi positif dan negatif serta likelihood ratio
(LR).
Hasil : Jumlah subjek terdiri dari 100 anak dan 100 orang tua/pelaku rawat yang
diambil dari empat posyandu. Skala REEL mempunyai nilai sensitivitas 72,73 %,
spesifisitas 98,87 %, nilai prediksi positif 88,89%, nilai prediksi negatif 96,70%,
LR positif 64,73 dan LR negatif 0,28.
Kesimpulan : Skala REEL dapat dipakai dalam menilai gangguan perkembangan
bahasa pada anak usia 18-36 bulan di daerah rural dengan menggunakan kalimat
yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

ABSTRACT
Background : Language skill is one of the indicator of a child's development
because it involves cognitive ability, sensory motor, the psychological, emotional
and environment around children. Assessment of a child's language skill at the age
of 2-4 years is very important due to an increase in the number and complexity in
the development of speech and language. Assessment can be done by health
professionals as well as by parents. Limitations of available health workers in
rural areas increases the need for a parental-based assessment tool that is
applicable with the culture, language and environment of the children. The
research objective was to determine the accuracy of the parental-based language
assessment instrument on children aged 18-36 months in rural areas.
Methods : The subjects were children aged 18-36 months and their parents /
caregivers who were participants of Sukarapih neighborhood health center in the
village, District Tambelang, Bekasi Regency. Parents / caregivers should be able
to read and understand Bahasa Indonesia. The children's language development
was assessed using the modified REEL (receptive Expressive Emergent
Language) scale by their parents and the ELM (Early Language Milestone) scale
by the researcher. The REEL-scale assessment results was compared with ELM
scale through a diagnostic test for sensitivity and specificity, positive and negative
predictive values as well as likelihood ratio (LR).
Results : The subjects consisted of 100 children and 100 parents / caregivers
taken from four neighborhood health center. The REEL scale has 72.73%
sensitivity, 98.87% specificity, 88.89% positive predictive value, 96.70% negative
predictive value, 64.73 positive LR and of 0.28 negative LR.
Conclusion : The REEL Scale can be used to assess language development
disorders in children aged 18-36 months in rural areas by using simplified and
easy to understand sentences.;Background : Language skill is one of the indicator of a child's development
because it involves cognitive ability, sensory motor, the psychological, emotional
and environment around children. Assessment of a child's language skill at the age
of 2-4 years is very important due to an increase in the number and complexity in
the development of speech and language. Assessment can be done by health
professionals as well as by parents. Limitations of available health workers in
rural areas increases the need for a parental-based assessment tool that is
applicable with the culture, language and environment of the children. The
research objective was to determine the accuracy of the parental-based language
assessment instrument on children aged 18-36 months in rural areas.
Methods : The subjects were children aged 18-36 months and their parents /
caregivers who were participants of Sukarapih neighborhood health center in the
village, District Tambelang, Bekasi Regency. Parents / caregivers should be able
to read and understand Bahasa Indonesia. The children's language development
was assessed using the modified REEL (receptive Expressive Emergent
Language) scale by their parents and the ELM (Early Language Milestone) scale
by the researcher. The REEL-scale assessment results was compared with ELM
scale through a diagnostic test for sensitivity and specificity, positive and negative
predictive values as well as likelihood ratio (LR).
Results : The subjects consisted of 100 children and 100 parents / caregivers
taken from four neighborhood health center. The REEL scale has 72.73%
sensitivity, 98.87% specificity, 88.89% positive predictive value, 96.70% negative
predictive value, 64.73 positive LR and of 0.28 negative LR.
Conclusion : The REEL Scale can be used to assess language development
disorders in children aged 18-36 months in rural areas by using simplified and
easy to understand sentences.;Background : Language skill is one of the indicator of a child's development
because it involves cognitive ability, sensory motor, the psychological, emotional
and environment around children. Assessment of a child's language skill at the age
of 2-4 years is very important due to an increase in the number and complexity in
the development of speech and language. Assessment can be done by health
professionals as well as by parents. Limitations of available health workers in
rural areas increases the need for a parental-based assessment tool that is
applicable with the culture, language and environment of the children. The
research objective was to determine the accuracy of the parental-based language
assessment instrument on children aged 18-36 months in rural areas.
Methods : The subjects were children aged 18-36 months and their parents /
caregivers who were participants of Sukarapih neighborhood health center in the
village, District Tambelang, Bekasi Regency. Parents / caregivers should be able
to read and understand Bahasa Indonesia. The children's language development
was assessed using the modified REEL (receptive Expressive Emergent
Language) scale by their parents and the ELM (Early Language Milestone) scale
by the researcher. The REEL-scale assessment results was compared with ELM
scale through a diagnostic test for sensitivity and specificity, positive and negative
predictive values as well as likelihood ratio (LR).
Results : The subjects consisted of 100 children and 100 parents / caregivers
taken from four neighborhood health center. The REEL scale has 72.73%
sensitivity, 98.87% specificity, 88.89% positive predictive value, 96.70% negative
predictive value, 64.73 positive LR and of 0.28 negative LR.
Conclusion : The REEL Scale can be used to assess language development
disorders in children aged 18-36 months in rural areas by using simplified and
easy to understand sentences., Background : Language skill is one of the indicator of a child's development
because it involves cognitive ability, sensory motor, the psychological, emotional
and environment around children. Assessment of a child's language skill at the age
of 2-4 years is very important due to an increase in the number and complexity in
the development of speech and language. Assessment can be done by health
professionals as well as by parents. Limitations of available health workers in
rural areas increases the need for a parental-based assessment tool that is
applicable with the culture, language and environment of the children. The
research objective was to determine the accuracy of the parental-based language
assessment instrument on children aged 18-36 months in rural areas.
Methods : The subjects were children aged 18-36 months and their parents /
caregivers who were participants of Sukarapih neighborhood health center in the
village, District Tambelang, Bekasi Regency. Parents / caregivers should be able
to read and understand Bahasa Indonesia. The children's language development
was assessed using the modified REEL (receptive Expressive Emergent
Language) scale by their parents and the ELM (Early Language Milestone) scale
by the researcher. The REEL-scale assessment results was compared with ELM
scale through a diagnostic test for sensitivity and specificity, positive and negative
predictive values as well as likelihood ratio (LR).
Results : The subjects consisted of 100 children and 100 parents / caregivers
taken from four neighborhood health center. The REEL scale has 72.73%
sensitivity, 98.87% specificity, 88.89% positive predictive value, 96.70% negative
predictive value, 64.73 positive LR and of 0.28 negative LR.
Conclusion : The REEL Scale can be used to assess language development
disorders in children aged 18-36 months in rural areas by using simplified and
easy to understand sentences.]"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library