Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Imam Cahyo Baskoro
"Kendal merupakan salah satu dari sekian banyak daerah di Indonesia dengan kondisi tanah lunak. Tanah lunak kerap menimbulkan permasalahan konstruksi akibat sifatnya yang memiliki konsistensi lunak, kadar air tinggi, gaya geser kecil, dan memiliki daya dukung yang rendah. Upaya perbaikan tanah lunak yang populer adalah vacuum preloading. Kekurangan metode perbaikan ini adalah dapat dihasilkannya deformasi lateral ke arah dalam pada tepi area pekerjaan. Pemodelan vacuum preloading dengan penambahan beban timbunan dilakukan melalui perangkat lunak Midas GTS NX untuk meninjau deformasi yang terjadi. Parameter dan model tanah diolah dari data sekunder Laporan Akhir Pekerjaan Penyelidikan Tanah untuk PT Geoforce daerah Kendal. Tiga model dibuat untuk mensimulasikan tiga jenis konstruksi yang berbeda : 1) vacuum preloading saja, 2) vacuum preloading kemudian diberikan timbunan, dan 3) vacuum preloading disertai pemberian timbunan. Output yang dihasilkan dari ketiga model tersebut adalah pembacaan probe inclinometer. Hasil pengamatan menunjukkan pekerjaan vacuum preloading secara parallel dengan pemberian timbunan menghasilkan deformasi lateral terkecil dengan pengurangan deformasi sebesar 20 mm terhadap deformasi akibat vacuum preloading saja. Penambahan timbunan setelah vacuum preloading menghasilkan penurunan deformasi sebesar 10 mm. Perbandingan pembacaan inclinometer model terhadap inclinometer pekerjaan vacuum preloading di lapangan menghasilkan hasil yang cukup berbeda dalam kedalaman sehingga perlu peninjauan lebih lanjut.

Kendal is one of those place in Indonesian coast in which soft soil exhibits vast area. Soft soil often causes problems in construction due to its property. Soft soil requires a handling before one can construct a building or pavement there. A popular method to improve soft soil is by using vacuum perloading. This method has a drawback that it can produce inward lateral deformation in its perimeter of the work area. Vacuum apreloading is then modelled using Midas GTS NX with addition of embankment load to study the effect of embankment to lateral deformation of soil. Parameters and models used in this study were processed from secondary data ‘The Final Report of Soil Investigation Work for PT. Geoforce in Kendal Area.’ Three models were created : 1) vacuum preloading work only; 2) vacuum preloading work then a surcharge load is added to the work area; and 3) vacuum preloading work along with surcharge loading in work area. The output of the three model is estimated by using an inclinometer probe model. The study results show that using a surcharge load along with the preloading can reduce inward lateral deformation. The parallel work reduce the deformation up to 20 mm, while if the surcharge load applied after vacuum preloading done it resulted in 10 mm deformation reduction. Comparing the readings of the inclinometer probe model and data acquired in the field shows that the results are quite different in some depth that the model need to be evaluated further."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Logidea Anki
"Jembatan Cisomang merupakan bagian dari ruas Jalan Tol Cikampek-Padalarang yang terletak pada KM 100+700. Berdasarkan laporan Pusjatan pada Desember 2016, bahwa terjadi pergeseran/deformasi lateral lereng sebesar 57,02 cm yang dapat menyebabkan keruntuhan/kegagalan struktur jembatan. Penyebabnya diduga karena adanya degradasi kekuatan dari jenis tanah clayshale akibat infiltrasi air Sungai Cisomang. Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan analisis pengaruh perkuatan lereng dengan penambahan bore pile untuk mengurangi deformasi lateral yang terjadi. Penelitian dilakukan dengan pemodelan tiga dimensi menggunakan software MIDAS GTS NX. Dilakukan pemodelan perkuatan bore pile dengan variasi jarak antar tiang dan diameter bore pile sehingga mendapatkan desain perkuatan bore pile dengan deformasi lateral yang paling kecil.

Cisomang Bridge is part of the Cikampek-Padalarang Toll Road section located at KM 100+700. Based on the Pusjatan report in December 2016, there was a lateral shift/deformation of the slope of 57.02 cm which could cause collapse/failure of the bridge structure. The cause is thought to be due to the degradation of the strength of the clayshale soil type due to water infiltration of the Cisomang River. For this reason, this research analyzes the effect of slope reinforcement with the addition of bore piles to reduce the lateral deformation that occurs. The research was conducted with three-dimensional modeling using MIDAS GTS NX software. Bore pile reinforcement modeling was carried out with variations in the distance between piles and bore pile diameter to obtain a bore pile reinforcement design with the smallest lateral deformation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anindya Hiswara
"Dikarenakan input yang rumit dalam menghasilkan mesh dan dokumentasi terkait pengaruh dari ukuran mesh dalam analisa stabilitas lereng, Metode Elemen Hingga untuk analisa stabilitas lereng jarang untuk digunakan untuk keperluan praktis. Oleh karena itu, tujuan dari riset ini adalah untuk mendapat ukuran dan kepadatan mesh yang direkomendasikan dalam software geoteknik dengan input yang rumit. Riset analisa stabilitas lereng dilakukan dengan MIDAS GTS, yang memiliki input yang rumit untuk menghasilkan mesh dalam bentuk element size dan refinement factor, dibandingkan dengan PLAXIS 2D, yang memiliki input yang simpel yaitu dari kekasaran Very Coarse ke Very Fine. Analisa sensitivitas dilakukan dengan mencari dalam tingkat kekasaran apa MIDAS GTS dan PLAXIS 2D memiliki kemiripan nilai FK dan garis lengseran, dan menentukan ukuran dan kerapatan mesh yang dianjurkan untuk semua tingkat kekasaran di MIDAS GTS. Studi berlanjut dalam kasus nyata dari kegagalan lereng untuk menentukan tingkat kekasaran dalam MIDAS GTS yang menghasilkan hasil yang paling akurat. Ditemukan bahwa MIDAS GTS dan PLAXIS 2D memiliki hasil yang paling sama dalam kekasaran Medium, namun GTS menghasilkan hasil paling akurat untuk keperluan praktis pada kekasaran Very Fine.

Due to complex input in generating mesh and the documentation of mesh sizes effect in slope stability analysis, Finite Element Method (FEM) for slope stability analysis is rarely conducted in practical uses. This reason inspired the objective of this research, which is to find the recommended generated mesh size and density in complex inputted geotechnical related software. This research of slope stability analysis is conducted using MIDAS GTS, which has a complex input of mesh generation in form of element size input and refinement factor, and compared to PLAXIS 2D, which has a simpler optional input which are Very Coarse to Very Fine coarseness, for the mesh generation. Sensitivity analysis firstly conducted to decide in what coarseness MIDAS GTS and PLAXIS 2D has a similar SF and slip critical line result, and to decide the recommended mesh size and density for all coarseness level in MIDAS GTS. The study continues to the real case of slope failure to decide in which coarseness in MIDAS GTS that resulting the most accurate result for practical use. It is found in Medium coarseness that MIDAS GTS and PLAXIS 2D produce the most similar result, but GTS produces the most accurate result for practical use in Very Fine coarseness."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Malik Pahad
"Tanah lunak seringkali menjadi permasalahan dalam proses pembangunan pembangunan infrastruktur seperti gedung atau jalan. Tanah lunak merupakan jenis tanah yang memiliki daya dukung rendah serta tingginya tingkat kompresibilitas tanah tersebut. Oleh karena itu, stabilisasi tanah lunak diperlukan, salah satu metode yang tepat untuk digunakan dalam melakukan stabilisasi tanah adalah metode vacuum consolidation. Metode vacuum consolidation merupakan salah satu metode stabilisasi tanah yang menggunakan bantuan pompa sebagai vakum dan prefabribricated vertical drain (PVD) sebagai saluran drainase airnya. Data dan parameter tanah lunak didapatkan dari uji lapangan dan uji laboratorium. Dalam menganalisa data untuk mengetahui efek metode vacuum consolidation terhadap kompresibilitas tanah lunak dilakukan analisa perhitungan penurunan menggunakan bantuan software Midas GTS NX, dimana hasil dari analisa permodelan akan dibandingkan dengan penurunan aktual di lapangan. Analisa data dengan software Midas GTS NX dilakukan dalam tahapan construction stage, yaitu: kondisi awal (initial state), kondisi saat proses vakum dimulai (suction drain), dan kondisi setelah proses vacuum consolidation dihentikan (leave time). Hasil dari perhitungan penurunan (settlement) menggunakan software Midas GTS NX adalah 0,801 meter dengan waktu proses vakum selama 90 hari, dan hasil penurunan (settlement) aktual di lapangan akibat proses vakum adalah 0,974 meter (SP1) dan 0,866 meter (SP2).

Soft soil is often a problem in the process of developing infrastructure such as buildings or roads. Soft soil is a type of soil that has a low bearing capacity and a high level of soil compressibility. Therefore, stabilization of soft soil is needed, one of the appropriate methods to be used in conducting soil stabilization is the vacuum consolidation method. The vacuum consolidation method is a soil stabilization method that uses a pump as a vacuum and prefabricated vertical drain (PVD) as a water drainage channel. Soft soil data and parameters were obtained from field tests and laboratory tests. In analyzing the data to determine the effect of the vacuum consolidation method on the compressibility of soft soil, a settlement analysis was carried out using the Midas GTS NX software, where the results of the modeling analysis will be compared with the actual settlement in the field. Data analysis with Midas GTS NX software was carried out in the construction stage, namely: initial conditions, conditions when the vacuum process was started (suction drain), and conditions after the vacuum consolidation process was stopped (leave time). The results of the settlement calculation using the Midas GTS NX software are 0.801 meters with a vacuum processing time of 90 days, and the actual settlement results in the field due to the vacuum process are 0.974 meters (SP1) and 0.866 meters (SP2)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizca Angela
"Perilaku fondasi tiang tunggal dan kelompok yang terletak di dekat lereng menunjukkan perbedaan dibandingkan dengan fondasi yang berada di tanah rata, terutama ketika menerima beban lateral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku fondasi tiang tunggal dan kelompok yang berada di dekat lereng dengan menggunakan perangkat lunak elemen hingga MIDAS GTS NX. Model tanah yang digunakan terdiri dari dua jenis, yaitu model Mohr-Coulomb dan model Hardening Soil. Tiang fondasi dimodelkan sebagai elemen balok yang berada pada lapisan tanah silty clay setebal 3 meter dan dilanjutkan dengan lapisan clay stone hingga kedalaman 40 meter. Fokus utama penelitian adalah menganalisis respon fondasi terhadap beban lateral, baik pada tiang tunggal maupun kelompok tiang dengan konfigurasi 1 × 2 dan 1 x 3. Penelitian ini mengekplorasi variasi kemiringan lereng, tinggi vertikal lereng, dan arah pembebanan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai interaksi tanah-struktur. Semakin curam lereng dan semakin tinggi lereng makan akan semakin besar pengaruh terhadap tiang. Beban lateral yang dianalisis adalah sebesar 90 kN, 180 kN, dan 270 kN, semakin besar pembebanan, maka pengaruh pada tiang akan semakin besar. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai desain fondasi di dekat lereng.

The behavior of single pile and pile group foundations adjacent to slopes differs from foundations on level ground, especially when subjected to lateral loads. This study aims to analyze the behavior of single piles and pile groups adjacent to slopes using the finite element software MIDAS GTS NX. The soil model consists of two types: the Mohr-Coulomb model and the Hardening Soil model. The pile foundations are modeled as beam elements embedded in a 3-meter-thick silty clay layer, followed by a claystone layer extending to a depth of 40 meters. The primary focus of the research is to analyze the response of foundations to lateral loads, both for single piles and pile groups with 1×2 and 1×3 configurations. This study explores variations in slope ratio, vertical slope height, and loading direction to provide a more comprehensive understanding of soil-structure interaction. The steeper and higher the slope, the greater effect to pile foundations. The lateral loads analyzed are 90 kN, 180 kN, and 270 kN; the larger the load, the greater effect to the pile foundations. The results of this study are expected to provide insight into foundation design near slopes."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elisa Primax
"Pembangunan saluran bawah tanah di bawah infrastruktur yang sudah ada, khususnya jembatan layang, menimbulkan risiko yang signifikan terhadap stabilitas struktur. Studi ini menyelidiki dampak pengeboran mesin slurry pada pondasi tiang pancang yang sudah ada melalui pemodelan numerik 3D menggunakan MIDAS GTS NX. Analisis difokuskan pada variasi Gaya Dorong Total (F) dan kedalaman saluran, dengan dua skenario Gaya Dorong Total (F) dan dua posisi saluran (0.5D dan 1.5D di bawah ujung tiang pancang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gaya Dorong Total merupakan faktor penting yang mempengaruhi respon struktural pondasi tiang, dimana peningkatan Gaya Dorong Total (F) menyebabkan defleksi, penurunan, dan momen lentur yang lebih tinggi. Selain itu, posisi saluran yang lebih dalam dapat mengurangi efek-efek tersebut, yang mengindikasikan bahwa kedalaman saluran memainkan peran penting dalam mengurangi dampak struktural. Momen lentur maksimum terjadi pada kepala tiang pancang, yang menunjukkan bahwa area ini memerlukan perhatian khusus untuk perkuatan struktur. Selain itu, tidak adanya balok pengikat pada struktur tak tentu statik memperkuat efek gerakan pondasi pada superstruktur Studi ini memberikan wawasan yang berharga untuk merencanakan konstruksi saluran bawah tanah yang aman di bawah struktur jembatan yang sudah ada dan menyoroti pentingnya mengoptimalkan parameter pengeboran untuk meminimalkan risiko struktural.

The construction of underground channel beneath existing infrastructure, particularly elevated bridges, poses significant risks to structural stability. This study investigates the impact of slurry machine on existing pile foundations through 3D numerical modeling using MIDAS GTS NX. The analysis focuses on variations in Total Thrust Force (F) and conduit depth, with two Total Thrust Force (F) scenarios and two conduit positions (0.5Doc and 1.5Doc below pile tip). The results demonstrate that Total Thrust Force is a critical factor influencing the structural response of pile foundations, where increased Total Thrust Force (F) leads to higher deflection, settlement, and bending moment. Additionally, deeper conduit positioning mitigates these effects, indicating that conduit depth plays a significant role in reducing structural impact. The maximum bending moment is observed at the pile head, suggesting that this area requires special attention for structural reinforcement. Furthermore, the absence of tie beams in a statically indeterminate structure amplifies the effect of foundation movements on the superstructure.This study provides valuable insights for planning safe underground conduit construction beneath existing bridge structures and highlights the importance of optimizing tunneling parameters to minimize structural risk. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anindya Hiswara
"Dikarenakan input yang rumit dalam menghasilkan mesh dan dokumentasi terkait pengaruh dari ukuran mesh dalam analisa stabilitas lereng, Metode Elemen Hingga untuk analisa stabilitas lereng jarang untuk digunakan untuk keperluan praktis. Oleh karena itu, tujuan dari riset ini adalah untuk mendapat ukuran dan kepadatan mesh yang direkomendasikan dalam software geoteknik dengan input yang rumit. Riset analisa stabilitas lereng dilakukan dengan MIDAS GTS, yang memiliki input yang rumit untuk menghasilkan mesh dalam bentuk element size dan refinement factor, dibandingkan dengan PLAXIS 2D, yang memiliki input yang simpel yaitu dari kekasaran Very Coarse ke Very Fine.
Analisa sensitivitas dilakukan dengan mencari dalam tingkat kekasaran apa MIDAS GTS dan PLAXIS 2D memiliki kemiripan nilai FK dan garis lengseran, dan menentukan ukuran dan kerapatan mesh yang dianjurkan untuk semua tingkat kekasaran di MIDAS GTS. Studi berlanjut dalam kasus nyata dari kegagalan lereng untuk menentukan tingkat kekasaran dalam MIDAS GTS yang menghasilkan hasil yang paling akurat. Ditemukan bahwa MIDAS GTS dan PLAXIS 2D memiliki hasil yang paling sama dalam kekasaran Medium, namun GTS menghasilkan hasil paling akurat untuk keperluan praktis pada kekasaran Very Fine.

Due to complex input in generating mesh and the documentation of mesh sizes effect in slope stability analysis, Finite Element Method (FEM) for slope stability analysis is rarely conducted in practical uses. This reason inspired the objective of this research, which is to find the recommended generated mesh size and density in complex inputted geotechnical related software. This research of slope stability analysis is conducted using MIDAS GTS, which has a complex input of mesh generation in form of element size input and refinement factor, and compared to PLAXIS 2D, which has a simpler optional input which are Very Coarse to Very Fine coarseness, for the mesh generation.
Sensitivity analysis firstly conducted to decide in what coarseness MIDAS GTS and PLAXIS 2D has a similar SF and slip critical line result, and to decide the recommended mesh size and density for all coarseness level in MIDAS GTS. The study continues to the real case of slope failure to decide in which coarseness in MIDAS GTS that resulting the most accurate result for practical use. It is found in Medium coarseness that MIDAS GTS and PLAXIS 2D produce the most similar result, but GTS produces the most accurate result for practical use in Very Fine coarseness.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Hisyam
"Sebuah lereng di Lawe Sikap, Kutacane, Nangroe Aceh Darussalam mengalami kegagalan lereng pada dua titik, yaitu pada STA 0+000 dan STA 0+600. Kegagalan tersebut terjadi pada tahun 2019, dimana jenis keruntuhan yang terjadi ialah keruntuhan guling (toppling). Hasil pengujian lapangan menggunakan piezometer mengatakan bahwa terdapat muka air tanah pada lereng batuan, sehingga penelitian ini berfokus dalam pemodelan muka air yang dapat menggambarkan kondisi asli di lapangan menggunakan aplikasi Midas GTS NX 2019 2D. Pemodelan Muka Air Tanah (MAT) dilakukan dengan beberapa alternatif, yaitu air hanya pada celah antar batuan, air pada celah antar batuan dan batuan utuh yang diinput nilai permeabilitas, air pada celah antar batuan memiliki ketinggian berbeda dengan air pada batuan utuh, dan pemodelan air menggunakan konsep drained-undrained. Terdapat variasi ketinggian Muka Air Tanah (MAT) untuk alternatif terpilih, sehingga akan dilakukan analisis hasil faktor keamanan, analisis tegangan, dan juga analisis pola keruntuhan.

A slope in Lawe Sikap, Kutacane, Nangroe Aceh Darussalam experienced slope failure at two points, namely at STA 0+000 and STA 0+600. The failure occurred in 2019, where the type of collapse that occurred was toppling collapse. The results of field testing using a piezometer said that there was a groundwater table on the rock slope, so this research focuses on modeling the water table that can describe the original conditions in the field using the Midas GTS NX 2019 2D application. Groundwater Level (MAT) modeling was carried out with several alternatives, namely water only in the gap between rocks, water in the gap between rocks and intact rocks with permeability values inputted, water in the gap between rocks has a different height from water in intact rocks, and water modeling using the concept of drained-undrained. There are variations in the height of the Groundwater Table (MAT) for the selected alternative, so that the results of the factor of safety analysis, stress analysis, and collapse pattern analysis will be carried out"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library