"Perubahan iklim dan tujuan dekarbonisasi global memerlukan transisi ke energi terbarukan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sumatera Utara, provinsi dengan potensi energi terbarukan yang besar, hidro, panas bumi, biomassa, dan surya, memainkan peran strategis dalam peta jalan dekarbonisasi energi Indonesia menuju Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan peta jalan dekarbonisasi untuk mencapai 100% pembangkit listrik Energi Terbarukan di Provinsi Sumatera Utara, dengan mempertimbangkan dua wilayah yakni Pulau Sumatera Utara dan Pulau Nias. Menggunakan Platform Analisis Emisi Rendah (LEAP) dan software optimasi NEMO, empat skenario dimodelkan: Business As Usual (BAU), Referensi Kebijakan Pemerintah berdasarkan RUED (REF), Skenario Subsidi (SUB) dan target energi terbarukan 100% (RE100). Setiap skenario menggabungkan data tekno-ekonomi, lingkungan, dan kebijakan berdasarkan data regional dan dokumen perencanaan nasional (RUPTL, RUEN, dan RUED). Skenario BAU mengasumsikan tidak ada batasan emisi atau target terbarukan, hanya menggunakan optimasi biaya terendah. Skenario REF, pendekatan backcasting, selaras dengan target provinsi, menekankan pengembangan energi terbarukan dan membatasi pembangkitan berbasis fosil. Skenario RE100 memberikan target bauran energi terbarukan sebesar 30% pada tahun 2030, 70% pada tahun 2050, dan 100% pada tahun 2060. Skenario Sub memberikan Subsidi 50% pada biaya investasi awal pembangkit tenaga surya dan BESS. Penelitian menunjukkan bahwa skenario RE100 merupakan strategi yang paling efektif bagi pulau Sumatera Utara dan Pulau Nias untuk memenuhi target energi terbarukan 100% pada 2060. Dalam perluasan sistem ketenagalistrikkan pulau besar menggunakan teknologi hydropower, geothermal dan biomass yang bersifat sentralisasi sedangkan pada pulau kecil menggunakan teknologi desentralisasi seperti pembangkit tenaga surya dan biomassa. Biaya investasi yang diperlukan untuk mencapai 100% energi terbarukan pada pulau besar sebesar 27.284 Juta USD dengan BPP sebesar 8,4 cent/kWh dan 734 Juta USD untuk pulau kecil dengan BPP sebesar 12,57 cent/kWh. dengan biaya tersebut dapat menurukan emisi menjadi lebih rendah 72% pada pulau besar dan 83% pada pulau kecil dibanding emisi tahun 2020.
Climate change and the global decarbonization goals require a transition to renewable energy, particularly in developing countries like Indonesia. North Sumatra, a province with significant renewable energy potential including hydropower, geothermal, biomass, and solar energy, plays a strategic role in Indonesia's energy decarbonization roadmap towards achieving Net Zero Emissions (NZE) by 2060. This study aims to develop a decarbonization roadmap to achieve 100% renewable energy-based power generation in North Sumatra, considering two regions: The Sumatra Island and The Nias Island. Using the Low Emission Analysis Platform (LEAP) and NEMO optimization software, four skenarios were modeled: Business As Usual (BAU), Government Policy Reference (REF), Subsidy Skenario (SUB), and Renewable Energy 100% Target (RE100). Each skenario integrates techno-economic, environmental, and policy data based on regional data and national planning documents (RUPTL, RUEN, and RUED). The BAU skenario assumes no emissions limits or renewable energy targets, only using the lowest cost optimization. The REF skenario, a backcasting approach, aligns with provincial targets, emphasizing renewable energy development and limiting fossil fuel-based power generation. The RE100 skenario targets a renewable energy mix of 30% by 2030, 70% by 2050, and 100% by 2060. The SUB skenario provides a 50% subsidy on the initial investment costs for solar power plants and BESS. The study shows that the RE100 skenario is the most effective strategy for both Sumatra Island and Nias Island to achieve 100% renewable energy by 2060. In expanding the electricity system on the larger island, centralized technologies like hydropower, geothermal, and biomass will be used, while decentralized technologies like solar power and biomass will be applied on the smaller island. The required investment to achieve 100% renewable energy on the larger island is USD 27.284 billion with a BPP of 8.4 cents/kWh, and USD 734 million for the smaller island with a BPP of 12.57 cents/kWh. With these costs, emissions could be reduced by 72% on the larger island and 83% on the smaller island compared to 2020 emissions. "