Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
Andrias Fajarudin
"Dibangun Sebuah lagrangian untuk menyatukan interaksi elektromagnetik dan dinamika fluida. Lagrangian ini memiliki simetri terhadap transformasi gauge lokal U(1)FD ⊗U(1)G dan G(n)FD ⊗G(n)G. Dari lagrangian ini kita akan menurunkan seluruh persamaan gerak untuk seluruh medan dan rapat energi sistem magnetofluida yang akan diaplikasikan untuk plasma quark-gluon."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
S28969
UI - Skripsi Open Universitas Indonesia Library
Eunike Fera
"Telah dibangun Lagrangian baru serta dilakukan perhitungan analitik tensor energi-momentum untuk fluida QCD yang mengandung suku viskositas. Suku viskositas ini dibuat dengan asumsi bahwa persamaan gerak yang diperoleh mereproduksi persamaan gerak hidrodinamika relativistik. Suku viskositas mengakibatkan perusakan simetri fluida QCD. Memakai Lagrangian yang telah dibangun, dihitung distribusi jumlah partikel memakai teori kinetik dan resolusi Cooper- Frye. Ditunjukkan bahwa distribusi jumlah partikel memiliki kontur yang samamdengan hasil perhitungan sebelumnya memakai persamaan gerak hidrodinamika relativistik.
A new Lagrangian and energy momentum tensor for fluid QCD with viscous term have been developed and calculated analytically. The viscous term has been constructed assuming that the generated equation of motion should reproduce the known relativistic hydrodynamics. The viscous term induces symmetry breaking of fluid QCD. Using the Lagrangian, the particle number distribution has been calculated using kinetic theory and Cooper-Frye prescription. It is shown that the distribution has the same contour as previous results calculated using the equation of motion of relativistic hydrodynamics."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S1512
UI - Skripsi Open Universitas Indonesia Library
Ahmad Fauzi
"Pada tahun 1964, Gellman dan Zweig mengajukan hipotesis bahwa proton, neutron, dan hadron lainnya tersusun dari partikel elementer yang disebut quark. Setelah itu, Bodmer, Terazawa dan Witten mengajukan gagasan ten- tang adanya quark strange pada bintang kompak yang menyebabkan energi ikat quark up, down, strange lebih rendah dibandingkan energi ikat nuklir. Model yang mudah digunakan untuk mempelajari bintang quark yaitu dengan model bag MIT. Ukuran bag direpresentasikan oleh konstanta bag, B, dimana massa quark konstan. Pada temperatur T = 0, maka fraksi quark up konstan, sekitar 33%, sedangkan fraksi quark down turun diikuti fraksi quark strange yang naik. Fraksi quark up pada T ̸= 0, tanpa penangkapan neutrino, sekitar 33%, namun pada T ̸= 0, dengan penangkapan neutrino, fraksi quark up naik menjadi 42%. Massa bintang akan meningkat ketika nilai B turun.
In 1964, Gellman and Zweig proposed their hypothesis about the proton, the neutron, and all the other hadrons composed by elementary particle which were called quark. Afterwards, Bodmer, Terazawa and Witten proposed idea about strange quark in compact stars which binding energy of up, down, strange quark lower than nuclear. A simple model to learn quark stars is the MIT bag model. The size of the bag is represented by the bag constant, B, with mass of quark is constant. Temperature T = 0, the fraction of up quarks is constant, about 33%, the fraction of down quarks decreases followed by the increase of strange quarks fraction. The fraction of up quarks at T ̸= 0, without neutrino trapping about 33%, whereas at T ̸= 0, in case neutrino trapping, the fraction of up quarks increases to 42%. The maximum mass of the stars increases as the value B decrease."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S1097
UI - Skripsi Open Universitas Indonesia Library
R. Tony Ibnu Sumaryada Wijaya Puspita
"Dalam penelitian ini dilakukan justifikasi faktor bentuk elektromagnetik pion berbentuk dipol (pekerjaan T.Das) dan berbentuk single pole dari model VMD (pekerjaan kami) sebagai hasil alamiah yang diperoleh dari model penggambaran Thomas-Fermi terhadap perilaku distribusi lautan pasangan quark-antiquark dalam sistem partikel pion. Model dipol dan faktor bentuk elektromagnetik pion memberi kesesuaian yang cukup baik dengan data eksperimen faktor bentuk elektromagnetik pion dalam daerah spacelike, baik untuk daerah energi rendah maupun tinggi. Bentuk single pole dari model VMD menunjukkan kesesuaian yang sangat baik dengan data eksperimen faktor bentuk elektromagnetik pion dalam daerah spacelike, baik untuk daerah energi rendah maupun tinggi. Kami juga menggunakan model penggambaran Thomas-Fermi untuk menghitung potensial quark-antiquark yang diturunkan dari masing-masing faktor bentuk elektromagnetik tersebut. Karena model dipol hanya mempertimbangkan perilaku statistik saja (untuk limit jumlah kerapatan tak hingga, potensial cenderung mengambil satu harga tertentu konstan) maka hal ini berakibat pada tertentunya harga potensial pada r = 0 fm. Ini tidak cocok dengan model potensial yang ada (model potensial QCD dan UKQCD). Namun model dipol ini dapat kita katakan mampu menghampiri dengan cukup baik bentuk potensial quark-antiquark dalam pion untuk jarak r > 0.2 fm. Potensial yang diturunkan dari model VIVID (mempertimbangkan perilaku statistik dan asimptotik dan potensial untuk limit jumlah kerapatan tak hingga) menunjukkan kesesuaian yang sangat baik terutama dengan model terbaru potensial quark statik untuk hadron ringan dari kolaborasi UKQCD. Kami juga telah menunjukkan bahwa perhitungan potensial quark-antiquark dengan menggunakan model penggambaran klasik Thomas-Fermi tidak dapat memunculkan suku potensial linier yang berhubungan dengan gaya string, hal ini mungkin disebabkan fenomena string tidak dikenal dalam penggambaran klasik."
2001
T5803
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Nowo Riveli
"Di thesis ini kami menyelidiki mekanisme confinement dari quark, melalui teori lattice dengan medan gauge murni. Secara khusus, kami menjalankan simulasi pada sistem medan gauge SU(2) murni, dimana sifat non-Abeliannya diyakini dapat merepresentasikan kondisi dalam mekanisme confinement. Kami mempelajari perilaku dari energi bebas quark, sebagai fungsi dari temperatur, dan mengharapkan adanya temperatur kritis dimana keadaan confinement berubah menjadi keadaan deconnement. Maka energi bebas ini digunakan sebagai orderparameter untuk transisi fase confinement-deconfinement.
Di awal kami memberikan ringkasan singkat mengenai teori lattice medan gauge, dan algoritma numerik yang dibutuhkan untuk menjalankan simulasi Monte-Carlo. Berikutnya kami memperkenalkan Polyakov loop, sebagai besaran lattice yang dari besaran ini kita dapat mengekstrak energi bebas quark. Sehingga, kami menggunakan Polyakov loop ini sebagai order parameter dalam lattice dalam mempelajari transisi fase. Sebelum menjalankan simulasi, kami memeberi panjelasan mengenai bagaimana membangun lattice untuk sistem dengan temperatur tertentu. Dan akhirnya kami tampilkan hasil simulasi Monte Carlo, yang memberikan kesimpulan bahwa sistem medan gauge SU(2) murni memiliki temperatur kritis dimana deconfinement muncul.
In this thesis we are investigating the mechanism of quark confinement by means of pure lattice gauge theory. In particular, we conduct the simulation in pure SU(2) gauge system, where its non-Abelian properties believed to give a representative insight of the confinement mechanism. We studied the behaviour of quark free energy as a function of temperature, and expecting a critical temperature where confinement state will turn into deconfinement state. Thus the free energy is taken to be the order parameter for confinement-deconfinement phase transition.At the beginning we give a short review of lattice gauge field theory, and of the numerical algorithms needed for our Monte Carlo simulations. Afterwards we introduce Polyakov loop as the lattice observable where we can extract the physical free energy. Hence, we are using Polyakov loop as the order parameter on the lattice to investigate the phase transition. Before running the simulation, we give the explanation on constructing a finite temperature physics on the lattice. At the end, we present the result of our Monte Carlo result, which give the conclusion that for pure SU(2) gauge theory, there exist a critical finite temperature where deconfinement occur."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
T21189
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library