Search Result  ::  Save as CSV :: Back

Search Result

Found 3 Document(s) match with the query
cover
I Dewa Putu Wibisana Wikananda
"

Tanaman Hevea brasiliensis merupakan tanaman yang banyak ditanam di Indonesia, karena lateks yang bernilai ekonomi tinggi. Alternatif metode konvensional budidaya H. brasiliensis adalah dengan metode kultur in vitro. Namun, penelitian kultur in vitro memiliki hambatan berupa rentannya kontaminasi, baik dari eksplan, medium, dan alat bahan yang diapaki. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimasi dan memilih antara enam jenis sterilan dan kombinasinya yang paling efektif terhadap kontaminasi dalam kultur tangkai daun H. brasiliensis. Hipotesis yang diajukan adalah perlakuan perendaman dengan NaOCl 5,25%, H2O2 20%, dan alkohol 70% selama masing-masing lima menit adalah perlakuan sterilisasi paling efektif dalam menghadapi kontaminasi. Eksplan tangkai daun diberi lima perlakuan dan satu kontrol, yakni kontrol dengan perendaman NaOCl 5,25%, perlakuan 1 dengan perendaman NaOCl 5,25% dan H2O2 20%, perlakuan 2 dengan perendaman NaOCl 5,25% dan alkohol 70%, perlakuan 3 dengan   perendaman NaOCl 5,25% dua kali dan H2O2 20%, perlakuan 4 dengan perendaman NaOCl 5,25%, alkohol 70%, dan H2O2 20%, dan perlakuan 5 dengan perendaman NaOCl 5,25% dua kali dan alkohol 70%.  Empat perlakuan memiliki efektivitas dalam mencegah kontaminasi, yakni perendaman dengan NaOCl 5,25% dan H2O2 20%, perendaman dengan NaOCl 5,25% sebanyak dua kali dan H2O2 20%, perendaman NaOCl 5,25%, alkohol 70%, dan H2O2 20%, serta perendaman NaOCl 5,25% dua kali dan alkohol 70%. Sementara itu, perlakuan NaOCl 5,25% dan alkohol 70% berhasil menahan pencokelatan pada persentase 50% di minggu kedelapan. Oleh karena itu, perlakuan yang lebih baik dalam mengurangi kontaminasi dan pencokelatan adalah perendaman dengan NaOCl 5,25% dan alkohol 70%.


Hevea brasiliensis is a plant that is widely grown in Indonesia, because its latex has high economic value. An alternative to the conventional method of cultivating H. brasiliensis is the in vitro culture method, but this method has a disadvantages, especially its risk to contamination from explant, medium, and tools. So, the aim of this research is to optimize and select between six types of sterilants and their combinations that are most effective against contamination in the culture of H. brasiliensis leaf stalks. The hypothesis proposed is that soaking treatment with 5.25% NaOCl, 20% H2O2 and 70% alcohol for five minutes each is the most effective sterilization treatment in dealing with contamination. Petiole explants were given five treatments and one control, namely control by immersion in 5.25% NaOCl, treatment 1 by immersion in 5.25% NaOCl and 20% H2O2, treatment 2 by immersion in 5.25% NaOCl and 70% alcohol, treatment 3 by soaking in 5.25% NaOCl twice and 20% H2O2, treatment 4 by soaking in 5.25% NaOCl, 70% alcohol and 20% H2O2, and treatment 5 by soaking in 5.25% NaOCl twice and 70% alcohol.  Four treatments were effective in preventing contamination, namely soaking with 5.25% NaOCl and 20% H2O2, soaking twice with 5.25% NaOCl and 20% H2O2, soaking with 5.25% NaOCl, 70% alcohol, and 20% H2O2 %, as well as soaking twice in 5.25% NaOCl and 70% alcohol. Meanwhile, treatment with 5.25% NaOCl and 70% alcohol succeeded in preventing browning at a percentage of 50% in the eighth week. Therefore, a better treatment in reducing contamination and browning is soaking with 5.25% NaOCl and 70% alcohol.

 

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ushulil Hidayat
"Salah satu penyebab penurunan produksi karet Indonesia diketahui disebabkan oleh serangan patogen Pestalotiopsis. Salah satu solusi paling relevan dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pembentukan klon karet yang resistan terhadap infeksi Pestalotiopsis. Pembentukan klon karet resistan membutuhkan pemahaman tentang gen-gen terkait pertahanan tanaman. Gen Hevea brasiliensis WRKY40 menjadi salah satu gen pertahanan yang diduga berperan penting dalam memediasi pertahanan tanaman karet. Tujuan penelitian adalah menyajikan informasi mengenai pola peningkatan dan perbedaan ekspresi gen HbWRKY40 pada tanaman karet terhadap infeksi Pestalotiopsis pada klon moderat RRIC 100 dan rentan GT 1. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat pola peningkatan ekspresi gen HbWRKY40 pada H. brasiliensis terhadap infeksi Pestalotiopsis dan terdapat perbedaan level ekspresi gen HbWRKY40 pada kedua klon. Penelitian dimulai dengan melakukan ekstraksi RNA daun H. brasiliensis berbasis spin column, yang kemudian diubah menjadi cDNA melalui metode reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR). Sintesis cDNA yang diperoleh digunakan dalam analisis ekspresi gen berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) sehingga didapatkan nilai quantification cycle (Cq). Nilai tersebut dihitung menggunakan rumus Livak (2-ΔΔCq) untuk melihat tingkat ekpresi gen dalam satuan perubahan kelipatan (fold change). Hasil penelitian menunjukkan ekspresi gen HbWRKY40 pada tanaman karet yang terinfeksi Pestalotiopsis meningkat pada hari ke-4 dan 6 setelah inokulasi. Selain itu, tingkat ekspresi gen HbWRKY40 pada klon moderat RRIC 100 lebih rendah daripada klon rentan GT 1.

One of the causes of the decline in Indonesian rubber production is known to be due to attacks by the Pestalotiopsis pathogen. One of the most relevant solutions to this problem is the creation of rubber clones that are resistant to Pestalotiopsis infection. The creation of resistant rubber clones requires an understanding of the genes related to plant defense. The Hevea brasiliensis WRKY40 gene is one of the defense genes that is thought to play an important role in mediating the defense of rubber plants. The objective of this study is to present information on the pattern of increase and differences in the expression of the HbWRKY40 gene in rubber plants against Pestalotiopsis infection in the moderate RRIC 100 and susceptible GT 1 clones. The hypothesis of this study is that there is a pattern of increased expression of the HbWRKY40 gene in H. brasiliensis against Pestalotiopsis infection and that there are differences in the expression levels of the HbWRKY40 gene between the two clones. The study began with RNA extraction from H. brasiliensis leaves using a spin column, which was then converted into cDNA via reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR). The synthesized cDNA was used in gene expression analysis based on quantitative polymerase chain reaction (qPCR), yielding quantification cycle (Cq) values. These values were calculated using the Livak formula (2-ΔΔCq) to determine gene expression levels in terms of fold change. The results showed that the expression of the HbWRKY40 gene in rubber plants infected with Pestalotiopsis sp. increased on days 4 and 6 after inoculation. In addition, the level of HbWRKY40 gene expression in the RRIC 100 moderate clone was lower than that in the GT 1 susceptible clone."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Akhris Fuadatis Sholihah
"Penyakit Gugur Daun Pestalotiopsis (PGDP) merupakan penyakit yang menyerang perkebunan karet Indonesia sejak akhir 2017. Patogen yang menyebabkan PGDP adalah kelompok fungi Pestalotiopsis. Dampak yang ditimbulkan oleh PGDP antara lain gugur daun hingga mencakup 75-90% kanopi dan penurunan produksi lateks hingga 45% dari berbagai tingkatan usia dan berbagai jenis klon. Penelitian bertujuan untuk mengetahui respons daun Hevea brasiliensis terhadap infeksi Pestalotiopsis sp. secara mikromorfologi dari klon RRIC 100 dan BPM 24. Sebanyak 3 individu dari klon RRIC 100 dan BPM 24 digunakan sebagai ulangan dalam penelitian. Inokulasi dilakukan di 3 area pada permukaan abaksial anak daun. Pengamatan dilakukan pada 1 sampai 3 hari setelah inokulasi (hsi). Sediaan mikromorfologi dibuat melalui 2 tahap, yaitu bleaching dan staining. Respons yang ditunjukkan anak daun Hevea brasiliensis klon RRIC 100 dan BPM 24 adalah terbentuknya lesi patogenik yang terdiri atas zona miselia dan zona nekrosis di sekitar area inokulasi. Hasil pengamatan mikromorfologi menunjukkan bahwa kecenderungan arah kolonisasi hifa Pestalotiopsis sp. teramati pada area pertulangan daun. Respons yang ditunjukkan klon RRIC 100 terhadap infeksi Pestalotiopsis sp. adalah pembentukan zona nekrosis berwarna cokelat dengan garis batas yang jelas dan mencegah penyebaran miselia Pestalotiopsis sp.. Sementara pada BPM 24, pembentukan zona nekrosis memunculkan warna cokelat dengan tepi tidak beraturan dan gari batas yang samar sehingga kurang dapat mencegah penyebaran miselia Pestalotiopsis sp.. Hasil tersebut menunjukkan bahwa klon RRIC 100 mengembangkan sistem pertahanan diri yang lebih baik dalam menghambat penyebaran infeksi melalui pembentukan zona nekrosis yang lebih tebal dan tegas dibandingkan dengan klon BPM 24.

Pestalotiopsis leaf fall disease (PLFD) is a disease that has been affecting Indonesian rubber plantations since late 2017. The pathogen that causes PLFD is Pestalotiopsis group of fungi. The impacts caused by PLFD include leaf fall covering 75-90% of the canopy and a decrease in latex production of up to 45%. PLFD can attack H. brasiliensis plants of various ages and various types of clones, including clones with moderate resistance such as RRIC 100 and susceptible clones such as BPM 24. The research aimed to determine the response of Hevea brasiliensis leaves to Pestalotiopsis sp. infection micromorphologically from clones RRIC 100 and BPM 24. Total of 3 individuals from clones RRIC 100 and BPM 24 were used as replicates in the research. Each individual was represented by 3 compound leaves that treated with wounding, inoculation, and wounding+inoculation. Inoculation was given in 3 areas on abaxial surface of the leaflets. Observations were made at 1 to 3 days post inoculation (dpi). Micromorphology preparations were made through 2 stages, which are bleaching and staining. Micromorphological observations showed that the tendency of Pestalotiopsis sp. hyphae colonization was observed in the area of leaf veins. The response shown by clone RRIC 100 to Pestalotiopsis sp. infection is the formation of a brown necrosis zone with clear boundaries and is blocking the spread of infection. While in BPM 24, the formation of necrosis zones gave rise to a brown color with irregular edges. These results indicate that the RRIC 100 clone developed a better self-defense system in inhibiting the spread of infection through the formation of a thicker and more defined necrosis zone compared to the BPM 24 clone."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library