"Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi akibat kondisi topografi yang curam, curah hujan tinggi, serta struktur geologi yang kompleks. Penelitian ini bertujuan membandingkan dua metode pemetaan kerawanan longsor, yaitu SMORPH yang berbasis geomorfologi dan WoE yang berbasis statistik. SMORPH menggunakan parameter kemiringan dan bentuk lereng, sedangkan WoE menggunakan sembilan variabel serta memanfaatkan data historis kejadian longsor dari tahun 2015 hingga 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode SMORPH mengidentifikasi sebagian besar wilayah Cipongkor dalam zona kerawanan rendah hingga sedang, dengan zona tinggi terbatas di lereng curam. Zona tersebut banyak ditemukan pada satuan geomorfologi seperti FL1 (Dataran Aluvial Danau) dan S6 (Perbukitan Antiklin) yang memiliki bentuk lahan lebih stabil. Sebaliknya, metode WoE menunjukkan zona kerawanan tinggi lebih luas, terutama di bagian tengah hingga barat daya yaitu Desa Cijambu, Cibenda, Cintaasih, Karangsari yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, elevasi menengah, jarak dekat dengan sungai, kondisi geologi dan penggunaan lahan. Zona-zona tersebut sebagian besar berada pada satuan geomorfologi yang lebih kompleks dan aktif secara morfogenetik seperti S3 (Perbukitan Blok Sesar) dan DV5 (Perbukitan Jejak Dinding Kawah Purba). Hasil perbandingan menunjukkan bahwa metode WoE dan SMORPH menghasilkan tingkat akurasi yang berbeda dalam pemetaan kerawanan longsor. Nilai AUC WoE sebesar 0,712 (success rate) dan 0,632 (predictive rate), sedangkan SMORPH sebesar 0,589 (success rate) dan 0,568 (predictive rate). Perbedaan nilai ini mencerminkan variasi pendekatan dan sensitivitas spasial dari masing-masing metode.
Cipongkor Sub-district, located in West Bandung Regency, is an area with a high susceptibility to landslides due to its steep topography, high rainfall, and complex geological structure. This study aims to compare two landslide susceptibility mapping methods: SMORPH, which is based on geomorphological characteristics, and WoE (Weight of Evidence), which is statistically based. The SMORPH method uses slope and slope shape parameters, while WoE incorporates nine spatial variables and historical landslide data from 2015 to 2024. The analysis shows that SMORPH identifies most areas in Cipongkor as having low to moderate susceptibility, with high susceptibility zones limited to steep slopes. These zones are commonly found in geomorphological units such as FL1 (Alluvial Lake Plains) and S6 (Anticline Hills), which are considered more stable landforms. In contrast, the WoE method identifies wider areas of high susceptibility, particularly in the central to southwestern parts of Cipongkor, including Cijambu, Cibenda, Cintaasih, and Karangsari Villages. These areas are influenced by high rainfall, moderate elevation, proximity to rivers, geological conditions, and land use. The high susceptibility zones are mostly located in more complex and morphogenetically active units such as S3 (Fault Block Hills) and DV5 (Ancient Crater Rim Hills). The comparison results indicate that WoE and SMORPH produce different levels of accuracy in landslide susceptibility mapping. WoE achieved AUC values of 0.712 (success rate) and 0.632 (predictive rate), while SMORPH achieved AUC values of 0.589 (success rate) and 0.568 (predictive rate) respectively. These differences reflect the variation in spatial sensitivity and modeling approaches of each method."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025