Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Trifena Kristiani
"Brakiterapi merupakan salah satu pengobatan efektif untuk kanker serviks karena memungkinkan memberikan dosis tinggi pada tumor tetapi memiliki resiko untuk organ radiosensitive di sekitarnya seperti buli dan rektum. Perencanaan pengobatan yang tepat dapat meminimalkan dosis buli dan rektum yang diterima. Untuk mengetahui keakurasian dosis buli dan rektum hasil perhitungan Treatment Planning System (TPS) dengan dosis sebenarnya diperlukan pengukuran langsung.
Penelitian ini menggunakan fantom khusus yang terbuat dari bahan akrilik sebanyak 12 lembar balok akrilik membentuk kubus berukuran 20 x 20 x 12 cm3 yang didalamnya terdapat beberapa hole yang digunakan untuk meletakkan aplikator yang digunakan sebagai tempat sumber iridium-192 dihubungkan dengan pesawat brakiterapi HDR Microselectron V2 dan detektor ionisasi PTW Farmer TM 30013 serta electrometer Unidos.
Dua metode pengukuran yang digunakan yaitu penggunaan aplikator tabung intrauterine dan sepasang ovoid serta penggunaan sepasang ovoid tanpa tabung intrauterine dengan pemberian dosis titik A atau titik referensi sebesar 700, 850 dan 1000 cGy. Dari penelitian ini didapatkan dosis fantom yang terukur mendekati dosis hasil perhitungan TPS.

Brachytherapy is one effective treatment for cervical cancer because it allows to give high doses to the tumor but has a risk to radiosensitive organs in the vicinity such as bladder and rectum. Planning appropriate treatment can minimize the dose received bladder and rectum. To determine the accuracy of dose calculation results of bladder and rectum Treatment Planning System (TPS) with direct measurement of the dose is actually necessary.
This study uses a special phantom made of acrylic material as much as 12 sheets of acrylic blocks to form a cube measuring 20 x 20 x 12 cm 3 in which there are several holes that are used to put the applicator that is used as a source of iridium-192 HDR brachytherapy is connected by Microselectron V2 unit and PTW Farmer ionization detector and electrometer Unidos TM 30 013.
Two methods of measurement used is the use of intrauterine applicator tube and a pair of ovoid and the use of a pair of ovoid without intrauterine tube with a dose of point A or point of reference by 700, 850 and 1000 cGy. From this study obtained a measured dose phantom approaching TPS dose calculation results.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S1073
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Vincentius Deva Ananta
"Studi ini menggunakan kasus prostesis pinggul lateral kanan untuk mengamati efek algoritma modern dari berbagai Sistem Perencanaan Pengobatan (TPS) rumah sakit. Untuk mereplikasi pelvis manusia dengan prostesis, dibuatlah phantom pelvis internal. Parameter dosimetrik yang digunakan adalah dosis yang diterima oleh target dan organ risiko (OARs) rektum dan kandung kemih dengan 7 sudut arah berkas IMRT yaitu 180°, 230°, 280°, 330°, 30°, 80°, dan 130°. Rencana berkas tunggal untuk perturbasi dosis dengan berbagai TPS pada phantom menggunakan berkas foton 6 MV dengan dan tanpa koreksi densitas prostesis (4 g/cm³) dibandingkan dengan pengukuran. Parameter dosimetrik yang dibandingkan termasuk D98%, D90%, D50%, D2%. Dose pertubation dan pengukuran dilakukan menggunakan film Gafchromic EBT3 pada phantom dengan prostesis.
Kualitas kuantitatif pengukuran dosis dapat dilihat pada informasi dosis yang terkandung dalam TPS dengan D98%, D90%, D50%, D2% bersamaan dengan indeks homogenitas (HI). Perbedaan DVH untuk OARs disebabkan oleh perbedaan algoritma dan perencana. Terdapat perbedaan dosis yang signifikan pada kedalaman 7,8-11,8 cm di mana terdapat material prostesis.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa pemilihan algoritma TPS dan penerapan verifikasi dosis sangat penting untuk memastikan akurasi perencanaan pengobatan radiasi pada pasien dengan implan prostesis.

This study used a right lateral hip prosthesis case to observe the effect of modern algorithms from various hospital Treatment Planning Systems (TPS). To replicate the human pelvis with prosthesis, an internal pelvic phantom was created. The dosimetric parameters used were the dose received by the target and organs at risk (OARs) rectum and bladder with 7 angles of IMRT beam direction at 180°, 230°, 280°, 330°, 30°, 80 and 130°. Single beam plans for dose pertubation with different TPS for the phantom using 6 MV photon beams with and without prosthesis density correction (4 g/cm3) were compared with measurements. The dosimetric parameters compared included D98%, D90%, D50%, D2%. Dose pertubation and measurements were performed using Gafchromic EBT3 film on the phantom with a prosthesis.
The quantitative quality of dose measurement can be seen in the dose information contained in TPS with D98%, D90%, D50%, D2% along with homogeneity index (HI). The difference in DVH for OARs is due to differences in algorithms and planners. There is a significant dose difference at a depth of 7.8-11.8 cm where at prosthesis material.
The findings of this study demonstrate that the selection of a TPS algorithm and the implementation of dose verification are of paramount importance in ensuring the accuracy of radiation treatment planning in patients with prosthesis implants.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library