Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rudi Nurdiansyah
"Permasalahan utama yang dibahas dalam penelitian ini adalah kebijakan darurat militer Presiden Yoon Seok-yeol yang mengancam demokrasi di Korea Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gerakan sosial yang diterapkan oleh BISANG Action dalam mendorong pemakzulan Presiden Yoon Seok-yeol di Korea Selatan pada tahun 2024-2025. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data sekunder seperti jurnal akademik, buku, artikel berita, laporan lembaga riset, serta dokumen-dokumen lainnya. Dengan menggunakan teori gerakan sosial dalam 3 aspek yaitu Political Opportunity, Collective Action Framing, dan, Resource Mobilization, penelitian ini menunjukkan bahwa BISANG Action berhasil mengoptimalkan peluang politik yang muncul akibat krisis politik dan deklarasi darurat militer dengan membangun koalisi yang luas melibatkan berbagai organisasi sipil, serikat buruh, kelompok mahasiswa, dan aktivis lingkungan yang berperan penting dalam menjaga kontinuitas aksi protes, membingkai narasi pemakzulan dengan identitas kolektif yang kuat, serta memobilisasi sumber daya manusia, finansial, dan teknologi secara efektif. 

The main issue discussed in this study is President Yoon Seok-yeol’s declaration of martial law, which posed a threat to democracy in South Korea. This research aims to analyze the social movement employed by BISANG Action in pushing for the impeachment of President Yoon Seok-yeol during 2024-2025. The study uses a qualitative approach with secondary data collection techniques, including academic journals, books, news articles, research institution reports, and other documents. The analysis is based on three aspects of social movement theory: Political Opportunity, Collective Action Framing, and Resource Mobilization, the findings indicate that BISANG Action successfully optimized political opportunities arising from the political crisis and martial law declaration by building a broad coalition involving various civil society organizations, labor unions, student groups, and environmental activists who played a crucial role in sustaining continuous protest actions, framing the impeachment narrative with a strong collective identity, and effectively mobilizing human, financial, and technological resources. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fathiya Ranakifa Putri Suryana
"Pada Pemilu 2022, Yoon Seok-yeol dari People Power Party berhasil mengalahkan Lee Jae-myung dari Democratic Party of Korea dalam pertarungan memperebutkan kursi Presiden Korea Selatan ke-13. Hasil pemilu tahun 2022 menunjukkan persaingan ketat antara kedua kandidat yang hanya memiliki selisih suara 0,73 persen dengan total partisipasi pemilih 77,1 persen. Pada masa kampanye Pilpres tersebut, ditemukan beberapa narasi yang mempengaruhi hasil suara, antara lain perdebatan seputar paham anti-feminisme dan masalah domestik yang kurang diatasi oleh pemerintahan sebelumnya, administrasi Presiden Moon Jae-In. Dalam rangka untuk memenangkan pemilu, Yoon Seok-yeol berupaya untuk memanfaatkan sentimen anti-feminisme dalam wacana kampanyenya, terutama di kalangan pemilih laki-laki muda. Dengan menggunakan teori strategi politik ofensif milik Peter Schr�der. Melalui empat variabel dari teori tersebut, yaitu target image (citra yang diinginkan), kelompok target, pesan kelompok target, dan instrumen kunci, penelitian ini ingin menjelaskan strategi ofensif Yoon Seok-yeol dari PPP dalam memenangkan kontestasi Pilpres 2022 di Korea Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data sekunder dan studi literatur. Penelitian ini menemukan berkembanganya wacana anti-feminisme sejak Pemerintahan Presiden Moon Jae-In berhasil dimobilisasi oleh Yoon Seok-yeol untuk menggiring opini para kelompok laki-laki muda untuk memilihnya.

In the 2022 Presidential Election, Yoon Seok-yeol from the People Power Party defeated Lee Jae-myung from the Democratic Party of Korea in the battle for the 13th President of South Korea. The election results in 2022 showed a tight competition between the two candidates, with a narrow vote margin of 0.73 percent and a total voter turnout of 77.1 percent. During the presidential campaign, several narratives were found to influence the voting results, including debates surrounding anti-feminism ideology and unresolved domestic issues under the previous administration of President Moon Jae-In. In order to win the election, Yoon Seok-yeol sought to capitalize on anti-feminism sentiments in his campaign discourse, particularly among young male voters. Using Peter Schr�der's theory of offensive political strategy, this research aims to explain Yoon Seok-yeol's offensive strategy from the PPP in winning the 2022 Presidential contest in South Korea. The study examines four variables from the theory, namely target image, target group, group-targeted message, and key instruments, to analayze Yoon Seok-yeol's strategy. The study employs a qualitative methodology by using secondary data collection and literature review. The research finds the proliferation of anti-feminism discourse since the Moon Jae-In administration, succesfully mobilized by Yoon Seok-yeol, exploiting the opinions of young male groups to secure their votes."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library