Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Djoko Triwibowo
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
S10619
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jovan Prima Firmansyah
"Penelitian tesis ini bertujuan untuk mengeksplanasikan terjadinya konflik elit politik dalam UMNO pada masa kepemimpinan Mahathir Mohamad (1981-1988). Konflik elit politik tersebut mengakibatkan UMNO dinyatakan sebagai partai politik yang tidak sah di 4 Februari 1988, hingga kemudian berganti nama menjadi UMNO Baru di 15 Februari 1988. Penelitian tesis ini berdasarkan metode penulisan sejarah melalui tahapantahapan dengan didukung sumber-sumber tertulis baik yang berasal dari data-data primer maupun sekunder. Dengan menggunakan teori strukturistik Christopher Lloyd yang didukung oleh teori kekuasaan dan kadar legitimasi dari Charles F. Andrain, penelitian tesis ini memfokuskan pada peran individu yang dalam hal ini merupakan elit politik di UMNO sebagai agen sosial. Elit-elit politik dalam UMNO yang dapat memengaruhi pihak lain untuk mengikuti tindakan, keinginan dan tujuan yang ingin dicapai harus mampu menggunakan kekuasaannya secara efektif agar pihak lain yang dipengaruhinya dapat mengikuti keinginannya. Melalui penelitian tesis ini, konflik elit politik dalam UMNO pada masa kepemimpinan Mahathir Mohamad (1981-1988) berawal dari konflik antara Musa Hitam dengan Tengku Razaleigh Hamzah pada pemilihan UMNO di 1981 yang kemudian bergeser menjadi konflik antara Musa Hitam dengan Mahathir Mohamad di tahun 1986. Terjadinya konflik antara Musa Hitam dan Mahathir Mohamad, selanjutnya menciptakan konflik antara kelompok dalam pemilihan UMNO 1987 dengan adanya Team A dan Team B. Konflik antara kelompok dalam UMNO berakhir dengan kemenangan Team A dalam pemilihan tersebut. Kemenangan Team A itulah yang digugat 11 orang yang sebelumnya berasal dari Team B ke Mahkamah Tinggi sehingga UMNO dinyatakan sebagai partai politik yang tidak sah pada 4 Februari 1988.

The objective of this theses research is to explain the conflict of political elites in UMNO under Mahathir Mohamad leadership (1981-1988). The conflict resulted UMNO been stated as an illegal political party on 4th of February 1988. As a result of it, then it known as New UMNO on 15th February 1988. This theses research is using several stages on the historical writing methods based on written sources that come from primary and secondary data. With structuristic theory from Christopher Llyod which supported by theories of power and legitimacy by Charles F. Andrain, it focusing on individual role of political elites in UMNO that could influence other individuals to follow the action, purpose and objective that to be achieve by using the power effectively. When it was being used effectively, other individuals would be agree to follow the purpose of political elites. Through this theses research, conflict of political elites in UMNO under Mahathir Mohamad leadership (1981-1988) started with conflict between Musa Hitam and Tengku Razaleigh Hamzah on UMNO 1981 Assembly. Furthermore, it shifted to conflict between Musa Hitam and Mahathir Mohamad on 1986. Conflict of Musa Hitam with Mahathir Mohamad then created conflict between groups in UMNO. They known as Team A and Team B on UMNO 1987 assembly. Team A managed to achieve their victory on that assembly. It caused an accusation from 11 people that previously as Team B. It effected UMNO been stated by the high court as an illegal political party on 4th of February 1988."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2009
T25869
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Asy Syifa Nur Adilah
"Di masyarakat Indonesia, pandangan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah beban, aib, atau bahkan bentuk karma dari orang tua masih kerap kali diwariskan. Meskipun pandangan tersebut mulai bergeser, anggapan bahwa ABK merupakan individu yang inferior tetap sering muncul dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun, hal berbeda justru terlihat di lingkungan SMP Hikmah Teladan di Kota Bandung, di mana penerimaan terhadap teman-teman ABK tampak nyata dalam keseharian siswa-siswinya. Banyak siswa non-ABK menunjukkan interaksi yang mencerminkan penerimaan, kepedulian, dan rasa saling menghargai di antara mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana sekolah sebagai agen sosial merekonstruksi pemahaman mengenai ABK hingga terbentuk penerimaan di dalam konteks sekolah inklusi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi, penelitian ini memberikan gambaran bahwa dalam memelihara penerimaan, sekolah sebagai agen sosial berperan aktif dalam merekonstruksi ulang cara pandang siswa terhadap ABK. Proses rekonstruksi makna ini berlangsung melalui relasi sosial yang sederhana, seperti memposisikan teman-teman dengan disabilitas sebagai “adik”, penanaman nilai-nilai Islam tentang keberagaman, serta penciptaan ruang sosial melalui program dan kegiatan inklusif. Penelitian ini juga berusaha menunjukkan bahwa proses rekonstruksi makna tersebut terbentuk melalui sosialisasi yang berlangsung secara situasional dan organik dengan menggunakan pendekatan model kultural.

In Indonesian society, the perception that children with special needs (ABK) are a burden, a disgrace, or even a form of karma passed down from their parents is still commonly inherited. Although such views have gradually shifted, the notion that ABK are inferior individuals often persists in everyday social life. However, a different reality can be seen at SMP Hikmah Teladan in Bandung, where acceptance toward students with special needs is visibly practiced in daily student interactions. Many non-ABK students display behaviors that reflect acceptance, care, and mutual respect. This research aims to understand how the school, as a social agent, reconstructs students’ perceptions of ABK, leading to meaningful inclusion within the school environment. Using a qualitative approach through in-depth interviews and observation, this study illustrates that the school actively plays a role in reshaping how ABK are perceived. This process of meaning reconstruction takes place through simple social relations, such as positioning students with disabilities as “younger siblings,” integrating Islamic values of diversity, and creating inclusive social spaces through school programs and activities. The study also shows that this reconstruction process occurs through situational and organic forms of socialization based on a social model approach."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library