Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Czeresna Heriawan Soejono
"A complaint of unwillingness to eat in the elderly is often overlooked, both by the patient, the family, or the doctor. Such condition may have a more serious underlying background, such as infection. A reduced physiological deposit and different clinical manifestations gives importance lo the analysis of the problem of anorexia. Changes in body composition, reduced physical activity and basal metabolism rate, reduced Na+-Kl~-ATP-ase, teeth that are no longer in optimal condition, reduced taste and smell ability, increased CCK satiation effect, reduced gastric emptying, reduced NO-synthase activity of the gastric fundus, as well as reduced endogenous opioid level, could all influence the development of anorexia. In addition, there are also several other clinical conditions that play a role, such as polypharmacy, dementia, depression, and physiological disturbance in swallowing."
2003
AMIN-XXXV-3-JuliSep2003-154
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Ibrahim Isra
"Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui apakah tekanan peergroup dapat mempengaruhi gejala perilaku makan menyimpang di kalangan remaja SMA di Jakarta. Skripsi ini menggunakan jenis kelamin sebagai variabel yang mengontrol tekanan peergroup dengan gejala perilaku makan menyimpang. Untuk menganalisa hubungan antara tekanan peergroup dan gejala perilaku makan menyimpang, skripsi ini menggunakan Teori Pilihan Rasional. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah kuantitatif dengan data primer yang diperoleh melalui kuesioner.
Skripsi ini menemukan bahwa terdapat hubungan antara tekanan peergroup dengan gejala perilaku makan menyimpang dengan kekuatan hubungan sedang yang artinya tekanan peergroup dapat mempengaruhi gejala perilaku makan menyimpang pada remaja. Hasil uji Somer?s d juga menunjukkan bahwa pada tekanan peergroup, dimensi message lebih kuat pengaruhinya pada laki-laki dibanding perempuan. Sedangkan dimensi interaction dan likeability lebih kuat berpengaruh pada perempuan dibandingkan laki-laki.

The thesis purposes are to determine whether peergroup pressure may cause or influence eating disorder behavior symptoms in senior high school student in Jakarta. This thesis uses sex as a control variable in the relationship between peergroup pressure and symptoms of eating disorder behavior. This thesis use Rational Choice Theory to analyze the relationship between peergroup pressure and eating disorder behavior symptoms. The concept used in this thesis was peergroup and peerpressure.This Thesis research method is quantitative and primary data obtained through questionnaires.
This thesis found that the strength of the relationship between peergroup pressure and eating disorder behavior symptoms was 'moderate', peergroup can affect eating disorder behavior symptoms in high school adolescent in Jakarta. The Somers?d test results also showed that at peergroup pressures, men are stronger affected by messages dimension rather than women. While the peergroup pressure dimension of Interaction and Likeability, women were affected stronger than men.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
S60868
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sriharat, Watchara
"A cross sectional study was conducted at the Department of Medicine, Khan Kaen Regional Hospital, Thailand to investigate the relationship between protein energy and anorexia status in 100 adult hospitalized patients (50 males and 50 females), aged 20-50 years, who stayed 4-7 days in hospital. Protein Energy Malnutrition (PEM) was diagnosed using Body Mass Index (BMI) < 18.5 kg/m2 as a cut-off point and anorexia was based on the weight of leftover food; in this study leftover food containing > 213 (> 66.7%) of the energy served reflected anorexia. On admission, 30% of males were suffering from PEM and it increased to 34% on discharge while among females it was 28% both on admission and discharge. In men, 16% were suffering from anorexia on admission, which decreased to 10% on discharge while 6% of females were suffering from anorexia on admission and increased to 10% on discharge. The anorexia subjects had lower BMI and had a longer length of stay than the non-anorexic subjects (p < 0,05 in males).
In conclusion, PEM of hospitalized patients occurred before admission and during hospitalization. There was a negative association between nutritional status and length of stay in hospital. PEM was found to be more prevalent in males than females and the leftover foods of males was also more than the females. The prevalence of PEM is related to leftover foods; it can be used as an estimate of anorexic status and represents an objective indicator for anorexia."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999
LP 8612
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Johana Titus
"ABSTRAK
Tujuan: Mengetahui status metabolisme penderita SHD rawat inap di rumah sakit, dan memperoleh rumus untuk menentukan kebutuhan energi yang sesuai dengan status metabolisme penderita.
Tempat: Bagian Gizi dan Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta.
Metode Penelitian didisain Cross Sectional, pada 49 subyek SHD laki-laki atau perempuan 30-80 tahun yang diseleksi secara konsekutif, dan 40 kontrol sehat yang diseleksi secara random dari karyawan RSSW. Data REE diperoleh dari hasil pemeriksaan konsumsi O2 dan CO2 yang dikeluarkan tubuh, dengan mempergunakan Kalorimeler Indirek. Asupan makanan dicatat selama 3 hari berturut-turut sebelum pemeriksaan REE. Data antropometri (LLA, TLLBK, KAOLA, TB, dan BB) dan pengumpulan urin dilakukan satu hari sebelum pemeriksaan REE, pengambilan darah untuk pemeriksaan IGF-l dan GH dilakukan setelah pemeriksaan Kalorimetri Indirek. Uji Statistik: Univariat mempergunakan tes Kormogorov Smimov, Bivarial mempergunakan uji t tidak berpasang, uji Mann Whitney dan Korelasi Pearson. Uji multivariat mempergunakan uji regresi linier ganda.
Hasil dari 49 subyek SHD yang masuk RS karena komplikasi: hematemesis (34,69%), malaria (46,94%), ikterus (55,1%), dan yang terbanyak asites (87,76%). Dari jumlah tersebut 67,35% tergolong Child C, sisanya Child B. Ditemukan 63,27 % subyek SHD mengeluh mual dan 75,52% anoreksia. Rerata asupan energi subyek SHD secara bermakna lebih rendah dari kontrol sehat (1282,04 ± 229,85 vs 1448,71 ± 325,56; p = 0,006), dan mempunyai korelasi dengan derajat penyakit. Proporsi asupan terhadap kebutuhan energi subyek SHD hanya mencapai 79,49% ± 17,60% REE. Proporsi asupan terhadap kebutuhan energi lebih besar pada subyek SHD yang tanpa keluhan mual dan anoreksia. Penelitian ini menemuken 73,57 % dari subyek SHD daiam keadaan malnutrisi, dan 58,26 % diantaranya (42,86% total subyek SHD) dalam keadaan muscle wasting (AOLA pada persentil < 5) dan menunjukkan korelasi dengan asupan energi (p=0,007). Meningkatnya mobilisasi lemak dan oksidasi substrat lemak ditandai oleh TLLBK pada lebih dari 67% subyek SHD pada persentil < 15 dan RQ = 0,7 ± 0,08, serta menunjukkan korelasi yang bermakna dengan kurangnya asupan energi (p = 0,005). Meningkatnya mobilisasi lemak dan lipolisis diduga mempunyai hubungan dengan rendah IGF-1 dan tingginya GH dalam darah. Walaupun oksidasi lemak diduga untuk mencegah berlanjutnya katabolisme otot, penelitian ini menunjukkan katabolisme otot berlanjut, hal ini ditandai dengan; imbang nitrogen negatif, rasio NUU/K.AOLA subyek SHD bermakna lebih tinggi dari kontrol sehat, dan RQ sekitar 0,43-0,86. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang bermakna REE subyek SHD dengan kontrol sehat; hal ini disebabkan oleh menurunnya massa otot, dan meningkatnya oksidasi substrat lemak sehingga konsumsi oksigen dan REE rendah. Data menunjukkan rasio REE/K.AOLA bermakna lebih tinggi dari kontrol sehat. Keadaan ini menujukkan subyek SHD dalam kondisi hipermetabolisme disertai penyimpangan metabolisme yang dapat ditandai oleh berlanjutnya mobilisasi lemak; oksidasi substrat lemak (tak sempurna); dan oksidasi substrat protein berlangsung bersama. Asupan nutrisi, komposisi tubuh, dan status metabolisme penderita SHD telab diidentifikasi merupakan acuan penting untuk menentukan REE. Dengan menggunakan variabel; rerata asupan energi, komposisi tubuh (TB, BB, AOLA, dan lainnya) dan derajat penyakit (skor Child-Pugh, albumin, dan NUU) sebagai variabel independen. Melalui uji regresi linier ganda (metode STEPWISE) penelitian ini menemukan 3 variabel merupakan determinan kuat REE yaitu TB, AOLA dan kadar albumin. Dan uji tersebut diperoleh persamaan model yang merupakan model REE estimasi SHD yang reliabel, sehingga dapat direkomendasikan sebagai rumus estimasi REE atau kebutuhan energi penderita SHD yaitu :
kebutuhan energi = -270,40+17,26*AOLA - 217,83*Albumin + 11,42*TB.
Kesimpulan Pada penderita SHD, keadaan hipermetabolisme tidak dapat ditentukan hanya dengan indikator REE. Hipermetabolisme pada subyek SHD menjadi nyata dengan menentukan REE/K.AOLA dan NUU/K.AOLA. Nasib oksidasi makronutrien pada SHD berbeda dengan pada starvasi. Pada subyek SHD lerjadi rangsangan mobilisasi lemak, oksidasi substrat lemak, katabolisme protein otol, dan oksidasi substrat protein secara bersama. Keadaan yang membuktikan adanya penyimpangan metabolisme. Dengan uji regresi limier ganda (metoda STEPWISE), AOLA, albumin dan tinggi badan ditemukan sebagai determinan kuat dari REE atau kebutuhan energi pada penderita SHD rawat inap di RS.

ABSTRACT
Objective: To study the metabolic status of the Decompensated Liver Cirrhotic (DLC) patients who were hospitalized, and to formulate the equation of energy requirements equal to their metabolic status.
Places: The Department of Nutrition and the Department of Internal Medicine at Sumber Waras Hospital (SWH), Jakarta.
The cross sectional study was carried out on 49 DLC subjects, aged 30-80 years, selected consecutively, and on 40 healthy control subjects, selected at random, from SWH staff. The REE data was determined by assessing the Oz consumption (V02) and CO2 production (VCO2] using an Indirect Calorimeter. Food intake was recorded for 3 consecutive days before determining REE. The anthropometrics data (AC, TSF, C.AMA, Height and Weight) and urine samples were assessed one day prior to determining REE. The blood samples for determining IGF-1 and GH were taken after the Indirect Calorimetric assessment (REE data). The statistical tests: Univarian (using Kormogorof-Smimov), Bivarian (using unpaired T-tests, Mann-Whitney and Pearson Correlation), Multivariate (using multiple linear regression).
Results The 49 DLC subjects were hospitalized mainly due to complications of ascites (87.76%); many also suffered with hematemesis (34.69%), melena (46.94%), or icterus (55.1%). Of the 49 subjects, 67.35% were classified as Child C, the rest were Child B. The subjective findings were nausea (63.27%) and/or anorexia (75.52%). The mean energy intake of DLC subjects was significantly lower than the control (healthy volunteers) (1282.74 229.85 vs. 1448.71 * 325.56; p = 0.006), and had a correlation to the degree of disease, Their intake had only been 79.49 17.60% of REE. The proportion of food intake to energy requirements was larger in the DLC subject who had no symptoms of nausea and anorexia. This study has proved that 73.57% of DLC subjects had malnutrition, and 58.26 % of them (42.86 % of all DLC subjects) were in a muscle wasting condition (the percentile of AMA < 5). Il showed a correlation to a decrease in the energy intake (p = 0.007). The increase of fat mobilization and lipid substrate oxidation were shown by the DLC subjects' TSF of more than 67% with a percentile of less than 15 and the mean RQ = 0.7 ± 0.08. This also had a significant correlation to a decrease in the energy intake (p = 0.005). The increase of fat mobilization and lipolysis was assumed to have a correlation with the low level of blood IGF-1 and the high levels of blood GH. The increase of lipid substrate oxidation was assumed to prevent the subsequent of muscle catabolism, however this study showed that the process of muscle catabolism does not end, which was marked by a negative nitrogen balance, a significantly higher the UNUIC.AMA than the control and a RQ of 0.43 - 0.86. In this study, there was no significant difference between the REE of the DLC subjects and the control; this was due to the decrease of muscle mass and the increase of lipid substrate oxidation. This caused a low V02 consumption and a low REE. This study showed REEIC.AMA of the DLC subjects was significantly higher than the control. This condition indicated that the subjects were hyper metabolic with several abnormalities in metabolism such as: continued stimulation causing lipid mobilization from adipose tissue; incomplete oxidation of fatty acid and protein substrate oxidation running together. Energy intake, body composition, the metabolic status of DLC patients was an important reference for the identification of the REE. By using variables which influenced REE, i.e. the mean energy intake, body composition (height, weight, C.AMA, etc.) and the degree of disease severity (Child-Pugh score, albumin, and UNU), which were tested by the multiple linear regression of STEPWISE method, the equation model has been formulated and tested The final equation for estimating energy requirement is:
Energy requirements = -270.40 + 17.26*AOLA - 217.83*Albumin + 11.42?Height.
Conclusion RITE is not the only indicator of hyper metabolism in DLC patients. Hyper metabolism can be identified in DLC patients using REFIC.AMA and UNUIC.AMA. This study has proved abnormalities in metabolism of DLC patients as follows: continued stimulation causing lipid mobilization from adipose tissue; oxidation of fatty acid; muscle protein catabolism; and protein substrate oxidation running together. Through multiple linear regression analysis (the STEPWISE method), AMA, albumin level and height have been found as strong determiners of REE or determiners of energy requirements for DLC subjects.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003
D476
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Koko Harnoko
"Jumlah penderita kanker paru di dunia terus meningkat dan menjadi masalah kesehatan yang penting. Menurut International Journal of Cancer 1999, terdapat 8,1 juta penderita seluruh jenis kanker di dunia dan lebih dari separuhnya berada di negara berkembang. Kanker paru adalah jenis kanker yang paling sering ditemukan, yaitu 18% dari seluruh kanker di negara maju dan 21% dari seluruh kanker di negara berkembang. Di Indonesia, kanker paru menduduki peringkat ketiga di antara tumor ganas yang paling sering ditemukan. Data dari Rumah Sakit Persahabatan Jakarta menunjukkan peningkatan jumlah penderita kanker paru setiap tahunnya. Tabun 1970-1976 ada 382 kasus, tahun 1984-1988 ada 666 kasus dan tahun 1993-1998 didapatkan 1285 kasus.
Anoreksia pada penderita kanker seringkali merupakan proses awal dalam suatu tahapan menuju berkurangnya asupan makanan yang kronik, malnutrisi dan akhirnya kakeksia. Kakeksia atau penurunan berat badan pada beberapa penelitian klinis berhubungan dengan berkurangnya angka tahan hidup, menurunnya respons terhadap kemoterapi dan penurunan tampilan klinis. Di antara faktor-faktor prognostik utama penderita kanker yaitu jenis tumor, stage, tampilan klinis dan penurunan berat badan, yang secara potensial paling respons terhadap intervensi pengobatan adalah penurunan berat badan. Dampak panting anoreksia dan penurunan berat badan ini biasanya tampak pada bentuk fisik dan konsekuensi psikososial. Anoreksia dapat mempengaruhi kondisi klinis dan emosional penderita seperti bentuk badan, massa lemak tubuh, energi, status fungsional, kemampuan bersosialisasi dan perasaan.
Sitokin mempunyai peranan kunci sebagai faktor humoral utama pada kakeksia akibat kanker. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sitokin dapat menginduksi penurunan berat badan. Sitokin dapat mengatur ambilan energi (nafsu makan) dan pengeluaran energi (metabolic rate). Pemberian tumor necrosis factor (TNF) pada tikus dan manusia akan menurunkan asupan makanan, tetapi efeknya hanya terlihat jangka pendek. Darling dkk. membuktikan bahwa jika TNF diberikan melalui infus terus menerus akan menimbulkan efek anoreksik, sedangkan efek anoreksik tidak terjadi dengan pemberian secara bolus. TNF jugs berperan pada katabolisme protein dan mekanisme proteolitik dan apoptosis otot.
Tidak ada pengobatan efektif yang telah terbukti sebelumnya untuk menyembuhkan anoreksia dan penurunan berat badan pada penderita kanker stage lanjut. Beberapa obat (kortikosteroid, siproheptadin, hidralazin sulfat dan dronabinol) yang telah diuji untuk mengatasi anoreksia ternyata kurang berhasil. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral akan meningkatkan asupan kalori, tetapi cara ini dinilai tidak praktis, mahal dan tidak nyaman. Suatu obat praktis yang nontoksik untuk mengatasi anoreksia dan kakeksia akan lebih menguntungkan dalam penatalaksanaan simtomatik dan suportif penderita kanker."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58466
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library