Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Erry Widiana
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
T27359
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Jan Halmaher Amili
"Latar belakang: Kanker ovarium menyumbang 152.000 kematian di seluruh dunia
setiap tahun. Apendik merupakan organ intraperitoneal yang rentan terhadap
metastasis oleh kanker epitel ovarium. Penentuan keterlibatan apendik merupakan
salah satu penentu surgical staging. Surgical staging yang optimal merupakan
sebuah kunci untuk tatalaksana setelah operasi serta memperoleh prognosis yang
baik, serta peningkatan respon tatalaksana kemoterapi. Oleh karena itu, penelitian
ini dilakukan untuk melihat keterlibatan apendiks pada pasien-pasien dengan
kanker epitel ovarium di RSCM yang menjalani pembedahan primer.
Tujuan: Mengetahui prevalensi metastasis kanker epitelial ovarium ke apendiks
yang dilakukan pembedahan primer di RSCM
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang menggunakan data rekam
medis pasien kanker ovarium epitelial yang menjalani pembedahan primer dan
apendiktomi pada bulan juli 2009-juli 2019 di RSCM Jakarta yang memenuhi
kriteria inklusi, dan dilakukan pengambilan data secara acak
Hasil: Didapatkan 80 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Dari 80 subjek penelitian, dengan rerata usia 48 tahun. Sebanyak 43
subjek (53,8%) sebagai stadium I, 7 subjek (8,8%) sebagai stadium II, 30 subjek
(37,5%) stadium III, dan tidak terdapat stadium IV (0%). Dari 80 subjek yang
menjalani apendiktomi, didapatkan 8 subjek (10%) anak sebar ke apendiks, 19
subjek (23,8 %) apendisitis kronis, 53 subjek (66,3%) tidak terdapat anak sebar.
Dari 8 subjek yang terdapat anak sebar ke apendik dengan temuan histologi 4
musinosum, 2 serosum, 2 endometroid. Sebanyak enam dari delapan subjek
terdiagnosis pada stadium klinis stadium III dan dua lainnya pada stadium klinis
satu. Dua subjek yang terdiagnosis dari stadium klinis satu memiliki temuan
histologi musinosum.
Kesimpulan: Terdapat 10 persen pasien kanker epitelial ovarium yang dilakukan
pembedahan primer di RSCM memiliki metastasis ke apendiks yang terbagi atas
jenis musinosum, serosum, dan endometrioid. Oleh karena itu, apendektomi dapat
dipertimbangkan dilakukan pada pembedahan baik stadium awal maupun stadium
lanjut.

Background: Around 152,000 women were death every year because of ovarian
cancer. Appendix is an intraperitoneal organ which prone to ovarian epithelial
cancer metastasis. Appendix involvement is one of surgical staging scoring.
Optimal surgical staging is one of key point to determine post operation treatment,
accurate prognosis, and better chemotherapy response. This research was done to
see appendix involvement from primary surgery in ovarian epithelial cancer at
RSCM
Aim: To determine prevalence of metastasis to the appendix from primary surgery
in ovarian epithelial cancer at RSCM
Method: This cross sectional study used ovarian epithelial cancer patient medical
record which primary surgery and appendectomy were conducted on July 2009-July 2019 at RSCM. Inclusion and exclusion criteria were counted and consecutive
random sampling were used.
Result: Eighty subjects which were taken from inclusion and exclusion criteria has
average age on 48 years old. Out of 80, 43 subjects (53.8%) were defined as stadium
I patient, 7 subjects (8.8%) as stadium II, 30 subjects (37.5%) as stadium III, and
none of them as stadium IV. Appendectomy were done and eight subjects (10%)
has metastasis to the appendix. On the other hand, 19 subjects (23.8%) have chronic
appendicitis and 53 subjects (66.3%) doesnt have metastasis to the appendix. From
eight subjects which has appendix involvement, four were defined have mucinous
histology, two serous, and two endometrioid. Six out of eight were diagnosed at
clinical stadium III and two were diagnosed at stadium I. These two stadium I
subjects has mucinous histology.
Conclusion: There are 10 percent appendix metastases from primary surgery in
ovarian epithelial cancer at RSCM which consist of mucinous, serous, and
endometrioid histological types. Based on this research, appendectomy can be
considered done on surgery whether in early or late stadium."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Wijaya
"Latar Belakang: Apendisitis masih merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia dengan insidensi yang cukup tinggi. Salah satu parameter yang dapat dinilai dari apendisitis adalah reaktivitas dari folikel limfoid. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara reaktivitas folikel limfoid dengan tipe radang apendiks pada pasien yang didiagnosis apendisitis secara histopatologis di RSUPNCM antara tahun 2005 hingga 2007.
Metode: Penelitian dilakukan pada 50 sediaan apendisitis akut dan 50 sediaan apendisitis kronik yang dipilih secara acak. Penelitian dilakukan dengan metode analitik desain potong lintang yaitu dengan memperoleh data sekunder dari departemen Patologi Anatomi FKUI-RSUPNCM, mengamati sediaan dengan mikroskop, serta menganalisis data yang diperoleh dengan uji statistik.
Hasil: Pada apendisitis akut, ditemukan hiperplasia folikel limfoid sebanyak 32%, sedangkan pada apendisitis kronik ditemukan hiperplasia folikel limfoid sebanyak 42%.
Kesimpulan: Berdasarkan uji non-parametrik Chi square, didapatkan kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara hiperplasia folikel limfoid pada apendisitis akut maupun kronik pada pasien yang didiagnosis apendisitis secara histopatologis di RSUPNCM tahun 2005 hingga 2007.

Background: Appendicitis is still causing health problem in Indonesia with high incidency. One of the parameter that can be studied in appendicitis is lymphoid follicle hyperplasia. Objective of this study is to know whether there is relationship between lymphoid follicle reactivity and type of inflammation in patients who are diagnosed histopathologically suffering appendicitis in Cipto Mangunkusumo National General Hospital in 2005-2007.
Method: This study evaluated 50 speciments of acuteappendicitis and 50 speciments of chronic appendicitis selected by random sampling. This study is a cross sectional analitic study done by analizing secondary data and observing preparates of appendix.
Result: In this study, 32% of acute appendicitis have lymphoid follicle hyperplasia, and 42% of chronic appendicitis have lymphoid follicle hyperplasia.
Conclusion: Based on Chi square non-parametric test, it is concluded that there are no significant difference of lymphoid follicle hyperplasia between acute and chronic appendicitis in patients who are diagnosed histopathologically suffering appendicitis in Cipto Mangunkusumo National General Hospital in 2005-2007.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
S-pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fajar Awalia Yulianto
"Morbiditas dan mortalitas apendisitis akut disebabkan karena perkembangan apendisitis akut menjadi perforasi apendiks. Hal-hal yang menyebabkan kerentanan apendiks belum banyak diteliti dan belum diketahui sebab pastinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat memprediksi terjadinya perforasi apendiks. Penelitian menggunakan desain kasus kontrol menggunakan data sekunder berupa rekam medis penderita apendisitis akut dewasa tahun 2013-2014 dengan jumlah kasus (perforasi apendiks) 36 dan kontrol (non perforasi) 93. Analisis data yang dilakukan meliputi deskriptif, chi square, receiver operating characteristic, dan regresi logistik multivariat. Dua faktor prediksi yang bermakna sebagai faktor prediksi perforasi apendiks dalam analisis regresi logistik multivariat adalah suhu badan diatas 37,50C dengan odds ratio (OR) 7,54 (95% CI 2,01; 28,33), jumlah leukosit diatas 11.500/mm3 dengan OR 12,12 (95% CI 4,03; 36,48) Perlu validasi pemeriksaan suhu badan di RS, penelitian lebih lanjut untuk mencari faktor prediksi lainnya, persiapan operasi segera untuk pencegahan komplikasi perforasi apendiks, dan pemberian informasi ke masyarakat bahwa sakit perut dapat bersifat gawat darurat.

Appendix perforation is the causation for acute appendicitis morbidity and mortality. Factors that may cause appendix vulnerability has not been extensively studied before and the main cause is still yet unknown. The goal of this study is to analyze what factors that could be used to predict appendix perforation. This study is a case control study using 2013-2014 medical records as data. Case group pooled from 36 perforated appendix adult (above 15 years old) patients, while control group pooled from 93 non perforated appendix adult patients. Data analysis conducted are descriptive, chi square, receiver operating characteristic, and multivariate logistic regression. There are two prediction factors which significantly associated with perforated appendix. Those are body temperature above 37,50C with odds ratio (OR) 7,54 (95% CI 2,01; 28,33), and leucocytes count above 11.500/mm3 with OR 12,12 (95% CI 4,03; 36,48). Further studies and body temperature validation on each hospital are needed to find other prediction factors, preparing pre operative equipment for immediate definite measure like surgery, to prevent the complication of perforated appendix, and education to people that abdominal pain is not always causing by gastric problem and it might be a case of emergency.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T42151
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meliala, K. Chandra
"Perkembangan teknologi dalam peralatan kedokteran, menyebabkan adanya alternatif baru dalam pelayanan kesehatan. Laparoskopik yang terbuat dari fiber optik dipergunakan dalam tindakan bedah radang apendiks, tindakan bedah ini disebut dengan metode laparoskopi apendiks. Efektivitas biaya dari metode laparoskopi apendik perlu diteliti untuk dibandingkan dengan metode apendiktomi yang selama ini dipergunakan dalam pembedahan radang apendiks.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode bedah radang apendiks yang efektif biaya diantara metode apendiktomi dan laparoskopi apendiks.
Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif menggunakan data sekunder yang diambil secara cross sectional tahun 2000 di RS MMC Jakarta. Analisa data biaya investasi menggunakan biaya investasi setahun (Annualized Investment Cost). Distribusi biaya rumah sakit dari unit penunjang ke unit produksi, menggunakan metode distribusi ganda. Pada unit produksi penghitungan biaya pelayanan dilakukan dengan dasar proporsi waktu pada masing-masing tindakan atau pemeriksaan. Sedangkan biaya satuan aktual diperoleh dengan menghitung total biaya dan dibagi dengan besarnya output pada kegiatan tersebut.
Pada penelitian ini untuk mendapatkan biaya satuan aktual bedah radang apendiks, dilakukan penghitungan biaya satuan aktual pemeriksaan darah rutin di patologi anatomi unit laboratorium, foto thorax dan apendikogram pada unit radiologi, apendiktomi dan laparoskopi apendiks di operating theater serta biaya rawat inap pada masing-masing kelas perawatan di unit perawatan lantai VIP RS MMC Jakarta.
Dari penghitungan biaya satuan aktual pelayanan bedah radang apendiks, diketahui bahwa besarnya biaya sangat dipengaruhi oleh biaya ruang rawat inap yang dipergunakan untuk merawat pasca bedah.
Analisa biaya hasil dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu : membandingkan biaya satuan aktual metode bedah radang apendiks dan penghitungan simulasi biaya total untuk menentukan besarnya output. Kedua metode penghitungan tersebut menunjukkan bahwa jika pasien dirawat pada ruang rawat super VIP, maka pelayanan bedah radang apendiks dengan metode laparoskopi apendiks Ieblh efektif biaya dibandingkan dengan metode apendiktomi. Sebaliknya jika pasien dirawat pada ruang rawat VIP, kelas-l, kelas-2, atau kelas-3, maka tindakan bedah radang apendiks dengan metode apendiktomi lebih efektif biaya dibandingkan dengan metode laparoskopi apendiks.
Dan penelitian dapat disimpulkan bahwa pelayanan bedah radang apendiks yang paling efektif biaya adalah metode apendiktomi dan pasien dirawat pada ruang rawat kelas-3, dimana biaya hanya 65,32 % dibandingkan dengan biaya dengan metode laparoskopi apendiks. Sedangkan jika menggunakan ruang rawat super VIP maka tindakan bedah radang apendiks yang efektif biaya adalah metode laparoskopi apendiks, dimana biaya metode apendiktomi sebesar 102,19 % dibandingkan dengan metode laparoskopi apendiics.

The development of technology in the medical equipment, results a new alternative in health care services. Laparoscope's which is made of fiber optic to be used in the abscess appendix surgery and this kind of surgery namely appendices laparoscope's method. Cost Effectiveness of the appendix laparoscope's method need to be research to be compared with appendectomy, the method that commonly applied in the abscess appendix surgery.
The purpose of this research is to find out which one is the most cost effective method, between appendectomy and appendix laparoscope's in the abscess appendix surgery.
The research made was descriptive, by the usage of secondary data taken in a cross sectional method, in the year 2000 at the MMC Hospital Jakarta The data analysis on the investment cost using an Annualized Investment Cost, hospital cost distribution from supporting unit to production unit using a double distribution method. At the production unit, the cost calculation was done based on time spent in each measure or examination taken. While the Actual Cost is obtained from the calculation of the Total Cost to be divided with the Total Output of the related activity.
In this research to have an actual unit cost of abscess appendix surgery was obtained through a finding on the actual unit cost of the blood routine at pathology unit of the Laboratory Department, thorax and appendecogram at Radiology Department, appendectomy and appendix laparoscope's at the operating theater also the cost of bed services of each class at the Ward Unit third floor of MMC Hospital Jakarta.
By calculating the actual unit cost of abscess appendix surgery was found out that the high or low cost is directly affected by the cost of bed services in the post-operating period.
Cost analysis was made on two (2) ways as follows: compare the actual unit cost of abscess appendix surgery and simulated calculation of the total cost to find the out put. Both methods showing that if the patient is treated at super VIP ward then abscess appendix surgery through appendix laparoscope's method is more cost effective than appendectomy method. On the contrary if the one is treated at VIP ward, Class-I, Class-2 or Class-3, resulting the abscess appendix surgery through appendectomy method will be more cost effective compared with one through laparoscope's appendix method.
The conclusion of this investigation is that the most cost effective on abscess appendix surgery is appendectomy method but the patient is treated at Class-3 ward, where the cost is 65,32 % lower than the cost of laparoscope's appendix method. In case of super VIP ward is applied then the cost effective abscess appendix surgery is laparoscope's appendix method, where the cost of appendectomy method as much as 102,19 % higher than laparoscope's appendix method.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T4298
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stefanus Satrio
"Latar belakang: Apendisitis merupakan salah satu kegawatdaruratan medik yang membutuhkan penatalaksanaan segera. Apendisitis dibedakan menjadi apendisitis akut dan kronik. Keterlibatan neuron, yaitu hiperplasia dan hipertrofi neural dalam apendisitis akut dibandingkan pasien dengan apendiks normal telah dibuktikan, namun belum ada data pengaruh tipe radang apendisitis terhadap keterlibatan serabut saraf, khususnya dalam bentuk perubahan letak serabut saraf/serabut saraf ektopik di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo antara tahun 2005-2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan serabut saraf dalam bentuk serabut saraf ektopik dengan tipe radang apendisitis tersebut.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode desain potong lintang (cross-sectional). Sampel berupa sediaan preparat patologi anatomik diperoleh melalui teknik random sampling dan dari hasil penghitungan yang sesuai dengan uji hipotesis diperoleh 50 sampel tiap kelompok (uji analitik kategorik 2 kelompok tidak berpasangan). Data diperoleh dari sediaan preparat patologi anatomik setelah diteliti di bawah mikroskop cahaya.
Hasil penelitian: serabut saraf ektopik ditemukan lebih banyak pada apendisitis kronik (64%) dibandingkan apendisitis akut (34%). Hasil penelitian dilakukan uji nonparametrik Chi-square dan ditemukan terdapat perbedaan bermakna proporsi serabut saraf ektopik pada apendisitis kronik dibandingkan dengan serabut saraf ektopik pada apendisitis akut (p<0,05).
Kesimpulan: Proporsi serabut saraf ektopik pada apendisitis kronik lebih tinggi dibandingkan dengan apendisitis akut.

Background: Appendicitis has been one of the emergency situations needing immediate medical intervention, differentiated into two types, acute appendicitis and chronic appendicitis. Neural involvements, which are neural hyperplasia and hypertrophy has been proved, yet there has not been any research stating the role of type of inflammation of appendicitis in involvement of neuron, especially in form of neural displacement, in Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital between the year of 2005 and 2007. This research is made to explore the relationship between the type of inflammation of appendicitis and the involvement of neuron, in form of neural displacement.
Method: The method of this research was cross-sectional. The sample was chosen using random sampling. Using the hypothesis test, categorical-analytical-two-independent-group test, the sample needed for each group is 50. Data then observed under light microscope.
Result: The neural displacement was found more in chronic appendicitis (64%) than in the acute appendicitis (34%). The result was then tested using nonparametric test, Chi-square. Using the test, the value of p was <0.05, stating there is significant difference of the neural displacement was acute appendicitis and chronic appendicitis.
Conclusion: The proportion of neural displacement in chronic appendicitis is higher than in the acute appendicitis.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
S09059fk
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Jan Halmaher Amili
"Latar belakang: Kanker ovarium menyumbang 152.000 kematian di seluruh dunia setiap tahun. Apendik merupakan organ intraperitoneal yang rentan terhadap metastasis oleh kanker epitel ovarium. Penentuan keterlibatan apendik merupakan salah satu penentu surgical staging. Surgical staging yang optimal merupakan sebuah kunci untuk tatalaksana setelah operasi serta memperoleh prognosis yang baik, serta peningkatan respon tatalaksana kemoterapi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat keterlibatan apendiks pada pasien-pasien dengan kanker epitel ovarium di RSCM yang menjalani pembedahan primer.
Tujuan: Mengetahui prevalensi metastasis kanker epitelial ovarium ke apendiks yang dilakukan pembedahan primer di RSCM
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang menggunakan data rekam medis pasien kanker ovarium epitelial yang menjalani pembedahan primer dan apendiktomi pada bulan juli 2009-juli 2019 di RSCM Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, dan dilakukan pengambilan data secara acak
Hasil: Didapatkan 80 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari 80 subjek penelitian, dengan rerata usia 48 tahun. Sebanyak 43 subjek (53,8%) sebagai stadium I, 7 subjek (8,8%) sebagai stadium II, 30 subjek (37,5%) stadium III, dan tidak terdapat stadium IV (0%). Dari 80 subjek yang menjalani apendiktomi, didapatkan 8 subjek (10%) anak sebar ke apendiks, 19 subjek (23,8 %) apendisitis kronis, 53 subjek (66,3%) tidak terdapat anak sebar. Dari 8 subjek yang terdapat anak sebar ke apendik dengan temuan histologi 4 musinosum, 2 serosum, 2 endometroid. Sebanyak enam dari delapan subjek terdiagnosis pada stadium klinis stadium III dan dua lainnya pada stadium klinis satu. Dua subjek yang terdiagnosis dari stadium klinis satu memiliki temuan histologi musinosum.
Kesimpulan: Terdapat 10 persen pasien kanker epitelial ovarium yang dilakukan pembedahan primer di RSCM memiliki metastasis ke apendiks yang terbagi atas jenis musinosum, serosum, dan endometrioid. Oleh karena itu, apendektomi dapat dipertimbangkan dilakukan pada pembedahan baik stadium awal maupun stadium lanjut.

Background: Around 152,000 women were death every year because of ovarian cancer. Appendix is an intraperitoneal organ which prone to ovarian epithelial cancer metastasis. Appendix involvement is one of surgical staging scoring. Optimal surgical staging is one of key point to determine post operation treatment, accurate prognosis, and better chemotherapy response. This research was done to see appendix involvement from primary surgery in ovarian epithelial cancer at RSCM Aim: To determine prevalence of metastasis to the appendix from primary surgery in ovarian epithelial cancer at RSCM Method: This cross sectional study used ovarian epithelial cancer patient medical record which primary surgery and appendectomy were conducted on July 2009-July 2019 at RSCM. Inclusion and exclusion criteria were counted and consecutive random sampling were used. Result: Eighty subjects which were taken from inclusion and exclusion criteria has average age on 48 years old. Out of 80, 43 subjects (53.8%) were defined as stadium I patient, 7 subjects (8.8%) as stadium II, 30 subjects (37.5%) as stadium III, and none of them as stadium IV. Appendectomy were done and eight subjects (10%) has metastasis to the appendix. On the other hand, 19 subjects (23.8%) have chronic appendicitis and 53 subjects (66.3%) doesn't have metastasis to the appendix. From eight subjects which has appendix involvement, four were defined have mucinous histology, two serous, and two endometrioid. Six out of eight were diagnosed at clinical stadium III and two were diagnosed at stadium I. These two stadium I subjects has mucinous histology. Conclusion: There are 10 percent appendix metastases from primary surgery in ovarian epithelial cancer at RSCM which consist of mucinous, serous, and endometrioid histological types. Based on this research, appendectomy can be considered done on surgery whether in early or late stadium."
Lengkap +
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Keyzer, Caroline
"This book is a comprehensive account of imaging of acute appendicitis and other appendiceal diseases. Background information is first provided on clinical presentation, perforation and negative appendectomy rates, and treatment options. The role of each imaging modality – radiography, ultrasound, CT, and MRI – is then considered separately in adults and children with suspected acute appendicitis. Many high-quality illustrations are included, and detailed information is provided on appropriate protocols and radiation saving. Further chapters addresses the spontaneously resolving and chronic appendicitis as well as other appendiceal lesions and review the findings of evidence-based medicine and cost-effectiveness analyses. Emergency physicians, pediatricians, surgeons, and radiologists will all find this book to be an excellent source of information and guidance."
Lengkap +
Berlin : Springer, 2011
e20426168
eBooks  Universitas Indonesia Library