Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Melisa Ratna Anggraini
"Penelitian ini adalah penelitian eksploratif pada perilaku selingkuh pada dewasa muda yang berpacaran. Penelitian ini dilakukan karena tingkah laku pada saat berpacaran akan dapat mempengaruhi tingkah laku pada masa pernikahan dan tingkah laku sendiri dapat dipengaruhi oleh salah satunya atribusi kausal. Atribusi kausal dalam penelitian ini adalah atribusi kausal dari Weiner, yang terdiri atas (1) locus of causality, (2) extemal control, (3) stability, (4) personal control. Melalui peninjauan atribusi kausal ini dapat diketahui gambaran dari apa yang dipersepsikan seseorang sebagai penyebab dari terjadinya perselingkuhan. Dengan diketahuinya gambaran tersebut maka seseorang akan dapat lebih memahami perilaku dirinya maupun orang lain, memprediksi perilaku dimasa mendatang, serta memungkinkan dirinya mengontrol lingkungannya.
Dengan melihat permasalahan tersebut serta berbagai faktor yang terkait dengannya, dirumuskan masalah yang hendak dijawab dalam penelitian ini. Masalah yang ingin dibahas dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah pola atribusi kausal perselingkuhan dewasa muda berpacaran pada kelompok dewasa muda? Permasalahan tersebut terbagi atas beberapa masalah khusus, yaitu : Bagaimana pola atribusi dewasa muda berpacaran pada kelompok dewasa muda yang berselingkuh? Bagaimana pola atribusi dewasa muda berpacaran pada kelompok dewasa muda yang diselingkuhi? Adakah perbedaan pola atribusi perselingkuhan dewasa muda antara kelompok dewasa muda yang berselingkuh dan yang diselingkuhi? Adakah perbedaan pola atribusi perselingkuhan dewasa muda antara kelompok pria dan wanita?
Penelitian ini dilakukan di Jakarta dengan menggunakan metode kuesioner. Sampel penelitian ini adalah 63 orang dewasa muda yang terdiri dari 31 pria dan 32 wanita. Kriteria subyek adalah, berusia 22 sampai 28 tahun, belum menikah dan pemah selingkuh dan atau diselingkuhi. Pendekatan metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa hal, secara umum subyek mengatribusikan perselingkuhan kepada faktor internal, tidak stabil, terdapat kontrol personal dan tidak terdapat kontrol eksternal.
Tidak ada perbedaan atribusi kausal yang signifikan antara kelompok subyek yang berselingkuh dan yang diselingkuhi, maupun antara kelompok pria dan wanita. Seluruh kelompok menunjukkan kecenderungan pola atribusi kepada satu sisi, kecuali kelompok pria yang diselingkuhi pada dimensi stabilitas. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat menambah pengetahuan mengenai penerapan teori atribusi kausal dalam interpersonal relationship, khususnya dalam perselingkuhan di masa berpacaran. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat berguna bagi perkembangan terapi atribusi. Dengan diketahui pola atribusi kausal perselingkuhan baik dari kelompok yang berselingkuh dan diselingkuhi, dapat dikethui atribusi yang disfungsional, yang kemudian dapat diganti dengan atribusi yang lebih adaptif."
2003
S3287
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Troy Sarajar
"Setiap waktu, manusia berusaha menjelaskan suatu kejadian, peristiwa ataupun tingkah laku. Penyimpulan penyebab dari hal-hal tersebut dipelajari dalam dunia psikologi dengan istilah atri- busi. Penyimpulan sebab dari suatu kejadian / peristiwa atau tingkah laku ini menjadi penting karena merupakan persepsi yang akan mempengaruhi tingkah laku selanjutnya. Dalam teori atribusi ditemukan beberapa hal yang menarik seperti penyebab tingkah laku manusia akan dipersepsi secara berbeda tergantung dari pelaku maupun peristiwa. Tingkah laku orang lain akan cenderung diatribusikan secara internal, yaitu mengacu pada hal-hal yang bersifat personal. Sedangkan tingkah laku diri sendiri cenderung diatribusikan secara eksternal yang mengacu pada hal-hal yang bersifat lebih situasional. Lebih jauh lagi juga diungkapkan dalam teori atribusi bahwa suatu kegagalan pada diri sendiri akan diatribusikan secara eksternal, Sedangkan keberhasilan diatribusikan secara lebih internal. Sebaliknya, kegagalan pada orang lain akan diatribusikan secara internal, sedangkan bila berhasil akan diatribusikan secara eksternal.
Kemiskinan adalah suatu masalah yang masih banyak dijumpai di Indonesia. Banyak program yang diajukan untuk mengatasi masalah ini, namun penelitian untuk melihat atribusi tentang kemiskinan belum banyak dilakukan pada masyarakat di Indonesia. Mengacu pada teori atribusi, kemiskinan dapat dianalogikan sebagai suatu kegagalan. Dengan demikian kalangan kaum miskin akan mengatribusikan kemiskinan secara eksternal, sebaliknya di kalangan kaum tidak miskin akan mengatribusikannya secara lebih internal.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara atribusi penyebab kemiskinan dengan tingkat ekonomi --kaum miskin dan tidak miskin. Di samping itu juga menggali atribusi apa saja yang dominan di antara kedua kelompok tersebut. Penelitian dilakukan di DKI Jakarta dengan jumlah responden sebanyak 285 orang. Analisa data pertama-tama dilakukan dengan nenggunakan analisa faktor guna memperoleh faktor-faktor penyebab kemiskinan. Dari hasilnya diperoleh dua faktor yang bersifat internal (perilaku negatif dan inkompetensi) dan dua faktor eksternal (situasional dan nasib). Sedangkan untuk membandingkan kedua kelompok digunakan perhitungan t test. Hasilnya menunjukkan bahwa kaum miskin dibanding kaum tidak miskin, lebih menganggap berperan faktor situasional dan nasib sebagai penyebab kemiskinan. Sebaliknya kaum tidak miskin lebih menganggap berperan faktor perilaku negatif. Di kalangan kaum miskin sendiri, ternyata faktor perilaku negatif dan inkompetensi cenderung lebih diyakini sebagai penyebab kemiskinan dibanding dengan faktor nasib. Sementara itu faktor situasional kurang berperan bila dibanding dengan faktor inkompetensi. Sedangkan di kalangan kaum tidak miskin, ternyata faktor perilaku negatif dan inkompetensi dianggap lebih berperan daripada faktor situasional dan nasib.
Karena itu disimpulkan bahwa pada kaum miskin bila dibanding dengan kaum tidak miskin, ternyata atribusinya lebih bersifat eksternal. Akan tetapi di kalangan kaum miskin sendiri atribusi mereka cenderung internal, sedangkan di kalangan kaum tidak miskin hal tersebut tampak semakin kuat. Saran untuk penelitian ini adalah untuk menambahkan jumlah sampel sesuai dengan batas minimal dan lehih menyeimbangkan penyebaran responden berdasarkan karakteristik demografis."
Depok: Universitas Indonesia, 1997
S2683
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dinna Respati Winedar
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2003
S3281
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novian Pranata
"Citra Polisi di mata masyarakat, khususnya mengenai tingkah laku denda damai, masih sering dinilai baik. Namun penilaian (atribusi) mahasiswa (angota masyarakat) tentulah berbeda dengan penilaian (atribusi) polisi. Dengan adanya asumsi ini maka penelitian ini mencoba memanfaatkan dan mengembangkan salah satu teori psikologi sosial (atribusi) dalam memahami dan menganalisa tingkah laku masyarakat khususnya terhadap tingkah laku denda damai.
Metode penentuan sample pada penelitian ini dilakukan secara 'purposive sampling? sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan cara 'accidental sampling'. Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa mewakili anggota masyarakat dan Polantas mewakili anggota Polri. Alat pengumpul data adalah kuesioner.
Dari penelitian ini diperoleh hasil beberapa hasil. Pertama, ada perbedaan antara atribusi mahasiswa dengan atribusi polisi terhadap tingkah laku 'denda damai oknum polisi. Kedua, mahasiswa lebih memberikan atribusi eksternalnya. dibandingkan atribusi internalnya terhadap tingkah laku denda damai oknum polisi yang disebabkan oleh tawaran oknum polisi. Ketiga, anggota polisi lebih memberikan atribusi eksternalnya dibandingkan dengan atribusi internalnya terhadap tingkah laku denda damai oknum polisi yang disebabkan oleh tawaran oknum mahasiswa.
Saran yang diberikan untuk mengatasi atribusi yang saling bertentangan adalah dengan melakukan pelatihan pengatribusian kembali (reattribution training) yang dimulai sejak pendidikan dasar. Untuk mengurangi tingkah laku denda damai perlu diterapkan prinsip teori psikolog belajar sosial dari Bandura dan juga peningkatan kesejahtrraan anggota polisi sangat perlu untuk diperhatikan. Untuk penelitian selanjutnya perlu diupayakan penggunaan sarana audio visual (video) sebagai pengganti kuesioner sehingga subyek dapat lebih menghayati situasi dan kondisi yang terjadi. Selain itu juga perlu diadakan penelitian yang lebih mendalam dengan menggunakan pendekalan teori lain khususnya dalam psikologi sosial."
Depok: Universitas Indonesia, 1995
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lisyanti
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perfeksionisme multidimensional dan atribusi berperan terhadap efikasi diri dalam keputusan karier siswa SMK kelas 12. Sebagai salah satu institusi pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan siswa lulusannya siap langsung terjun ke dunia kerja, faktanya lulusan SMK menjadi orang dengan status pengangguran tertinggi di Indonesia. Sebagai faktor internal yang secara konsisten memengaruhi aspek profesional dan akademis seseorang, perfeksionisme dan atribusi siswa SMK perlu dilihat lebih jauh bagaimana perannya terhadap efikasi diri dalam keputusan karier. Penelitian ini bersifat korelasional dengan partisipan yang terdiri dari 925 siswa SMK di Jakarta dan Depok. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa efek kumulatif 2 dari 3 dimensi perfeksionisme dan atribusi setelah dilakukan kontrol terhadap variabel jenis kelamin memiliki peran yang signifikan terhadap efikasi diri dalam keputusan karier (F = 61,728, p=0,000, <0,001).

The purpose of this study is to find out whether multidimentional perfectionism and attribution have role in career decision self-efficacy on 12th grade vocational high school students. As one of educational institution which purpose is to prepare its graduate for workplace, the fact, however, says that vocational high school graduate has the highest number in unemployment. As an internal factor which consistently influence ones professional and academic aspect, perfectionism and attribution of vocational high school student needs a closer look on what role does it play in career decision self-efficacy. This research is correlational with participants consist of 925 vocational high school students in Jakarta and Depok. Multiple regression analysis shows that 2 out of 3 cumulative effect perfectionism dimention and attribution after doing control towards sex variable had significant role towards self-effication on career decision sef-efficacy (F = 61,728, p=0,000, <0,001).
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Yuanita Sunatrio
"Sejalan dengan adanya perubahan sosial dalam masyarakat, terdapat pula perubahan harapan dan pola perkawinan, yang cenderung mengabaikan arti penting perkawinan itu sendiri. Fenomena tersebut yang banyak ditemui di masyarakat adalah meningkatnya perceraian dalam perkawinan. Salah satu penyebab terbesar perceraian adalah perselingkuhan dari salah satu pasangannya. Perselingkuhan atau dikenal pula dengan hubungan seks ekstramarital (HSE), didefinisikan sebagai hubungan seks dengan pasangan di luar nikah, baik terlibat secara emosional maupun tidak. Walaupun secara umum HSE Iebih memiliki dampak yang negatif bagi perkawinan, ditemukan adanya peningkatan jumlah orang yang melakukan HSE pada pria maupun wanita.
Banyak hal yang dapat menjadi faktor penyebab HSE, baik yang berasal dari segi individunya sendiri, pihak Iain yang terlibat maupun karena perubahan sosial yang terjadi. Dibalik faktor-faktor penyebab tersebut, apa yang dapat disimpulkan atau apa yang rnendasarinya. Hal ini dapat ditinjau melalui pendekatan atribusi kausal, yang menekankan pada pemahaman bagaimana seseorang mempersepsikan diri, orang Iain atau suatu kejadian dimana ia menggunakan informasi untuk memperoleh penjelasan tentang suatu kejadian atau peristiwa. Melalui atribusi kausal akan diperoleh keyakinan seseorang akan penyebab suatu kejadian sehingga dapat membantu untuk meramalkan bagaimana perilakunya di masa mendatang.
Dalam atribusi kausal HSE, akan dijelaskan hal-hal apa yang dipersepsikan sebagai penyebab HSE atau tidak melakukan HSE. Weiner membagi dimensi atribusi kausal ke dalam dimensi fokus, stabilitas dan kontrofabilitas. Menurut Weiner, bila seseorang memiliki atribusi kausal perilakunya ke dalam dimensi yang 'internaI, stabil dan terkontrol', maka ada kecenderungan pada dirinya untuk mempertahankan atau mengulang perilakunya.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran pola atribusi kausal HSE, khususnya di kalangan orang yang melakukan dan tidak melakukan HSE. Mengingat adanya perbedaan alasan melakukan HSE pada pria dan wanita, akan dikaji juga perbedaan atribusi kausal di antara mereka. Dalam penelitian ini alat ukur atribusi kausal yang digunakan adalah hasil adaptasi Causal Dimension Scale Il dari Russel.
Penelitian ini dilakukan pada 136 orang pria dan wanita yang menikah. Analisis data pertama-tama dilakukan dengan menggunakan uji perbedaan mean (t-test), untuk melihat perbedaan di antara orang yang melakukan HSE dan tidak melakukan HSE dalam hal mengatribusikan masing-masing perilakunya. Hasil menunjukkan bahwa ada perbedaan, dimana orang yang melakukan HSE mengatribusikan penyebab perilakunya yaitu ?ketidapuasan emosional/psikologis dengan pasangan' pada hal yang internal, tidak stabil dan terkontrol. Sedangkan orang yang tidak melakukan HSE mengatribusikan penyebab perilakunya yaitu 'memegang norma-norma agama dan sosial' pada hal yang Iebih internal, stabil dan Iebih terkontrol dibandingkan orang yang tidak melakukan HSE. Kelompok subyek yang melakukan HSE mengatribusikan perilakunya pada hal yang tidak menetap, menunjukkan bahwa ada ekspektansi pada mereka untuk mengubah perilakunya.
Selanjutnya, dilihat juga perbedaan atribusi kausal HSE berdasarkan keterlibatan HSE dan jenis kelamin. Melalui perhitungan dengan teknik analisa varian dua arah diperoleh beberapa hasil. Walaupun kelompok subyek yang melakukan HSE dan tidak melakukan HSE menyatakan faktor penyebab yang berbeda, namun tidak ada perbedaan dalam atribusi kausal, dimana mereka mengatribusikannya pada hal yang internal, tidak stabil dan terkontrol. Dalam hal ini kelompok subyek yang melakukan HSE meyakini faktor penyebab perilakunya adalah 'ketidakpuasan emosional/psikologis dengan pasangan?, sedangkan kelompok subyek yang tidak melakukan HSE meyakini faktor penyebab seseorang melakukan HSE adalah 'kurangnya pemahaman norma agama dan sosiaI'. Selanjutnya, ditemukan pula adanya perbedaan atribusi kausal tidak melakukan HSE di antara kedua kelompok, dimana kelompok yang melakukan HSE mengatribusikannya pada hal yang internal, stabil dan terkontrol, sedangkan kelompok subyek yang tidak melakukan HSE mengatribusikannya pada hal yang internal, cenderung Iebih terkontrol dan Iebih stabil dibandingkan kelompok subyek yang melakukan HSE. Dalam hal ini kedua kelompok meyakini faktor penyebab tldak melakukan HSE adalah 'memegang norma-norma agama dan sosial'.
Berdasarkan jenis kelamin, ditemukan bahwa kelompok wanita mengatribusikan penyebab HSE cenderung Iebih internal dibandingkan kelompok pria. Dalam atribusi tidak melakukan HSE, tidak ditemukan perbedaan di antara kedua kelompok.
Sebagai saran untuk menyempurnakan penelitian Ianjutan yang serupa adalah mengkaji Iebih jauh mengenai reaksi emosional yang berkaitan dengan atribusi kausal HSE, memperbanyak jumlah sampel jauh melebihi batas minimal, dan menyeimbangkan jumlah penyebaran sampel berdasarkan karakteristik demografis."
Depok: Universitas Indonesia, 1997
S2646
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu A. Fiantoro
"ABSTRAK
Fakultas Psikologi UI mempunyai Iebih dari 10% mahasiswa yang
memiIiki IPK (indeks prestasi kumulatif) kurang dari 2.00. Kondisi ini tidak hanya
menunjukkan rendahnya prestasi akademik sebagian mahasiswa Fakultas
Psikologi UI saja, tapi juga menunjukkan bahwa mereka terancam untuk tidak
dapat melanjutkan pendidikannya. Rendahnya prestasi akademik memiliki
pengaruh yang Iebih Iuas Iagi yaitu ketidakefisienan kegiatan pembelajaran.
Upaya untuk meningkatkan prestasi akademik mahasiswa Fakultas
Psikologi UI dilakukan oleh pihak fakultas, baik dengan kebijaksanaan-
kebijaksanaan yang diberikan maupun melalui peran PA (penasehat akademik).
Berbagai alasan akan dikemukakan oleh mahasiswa jika ditanyakan
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademiknya. Proses
mencari penyebab sesuatu atau peristiwa ini disebut atribusi kausal (Fiske &
Taylor, 1991). Atribusi kausal rpemiIiki dimensi kausalitas (internalitas),
kontrolabilitas serta stabilitas. Atribusi kausal dapat meramalkan bagaimana
motivasi, sikap serta Iangkah-Iangkah yang akan dilakukan pada masa yang
akan datang. Weiner(1988) menyimpulkan bahwa mahasiswa yang berpresiasi
dalam ujian biasanya memiliki atribusi kausal yang kausalitasnya Iebih internal,
terkontrol serta stabil dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak berprestasi.
Penelitian ini berusaha memberikan gambaran dimensi atribusi kausal
pada mahasiswa Fakultas Psikologi UI yang memiliki prestasi rendah (IPK <
2,00) dan prestasi tinggi (IPK > = 3,00). Kedua kelompok ini kemudian
dibandingkan untuk melihat apakah ada perbedaannya. Untuk mengetahui
dimensi-dimensi atribusi kausal digunakan alat dari Russel (1992) yang disebut
Causal Dimension Scale Il (CDSII) yang terdiri dari 12 item.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi atribusi kausal pada
mahasiswa yang berprestasi akademik rendah adalah : memiliki kausalitas yang
internal, dan kontrolabilotas yang personal serta cenderung tidak eksternal, dan
tidak stabil. Mahasiswa berprestasi akademik tinggi memiliki dimensi: kausalitas
yang internal, memiliki kontrolabilitas yang personal serta cenderung tidak
eksternal, dan tidak stabil. Perbedaan antara dua kelompok ini pada
stabilitasnya. Walaupun kedua kelompok memiliki dimensi yang tidak stabil, pada
kelompok mahasiswa berpresiasi rendah stabilltasnya Iebih rendah daripada
kelompok mahasiswa berprestasi tinggi.
Dalam pembahasan atribusi kausal tidak pernah Iepas dan reaksi emosi
seseorang dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagaIannya, oleh karena
itu, untuk penelitian selanjutnya disarankan mengkaitkan secara khusus pada
reaksi emosi seseorang pada atribusi kausal yang diberikan pada keberhasilan
maupun kegagalannya. Selain itu sebaiknya untuk mengetahui reaksi emosi
yang muncul digunakan pertanyan-pertanyaan terbuka."
1998
S2677
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riesa Melani Zainuddin
"ABSTRAK
Di Indonesia terjadi peningkatan perilaku hubungan seks ekstramarital
(HSE) terutama yang dilakukan pria maupun wanita. Tidaklah dipungkiri wanita
yang sudah menikah dapat saja melakukan HSE dengan pria menikah maupun pria
lajang. Dengan semakin sempitnya waktu yang dimiliki oleh wanita menikah untuk
dirinya sendiri, juga semakin pesatnya jumlah wanita lajang saat ini (BPS, 1990),
maka diperkirakan lebih banyak wanita Iajang yang terlibat affair dengan pria
menikah.
Wanita Iajang menarik untuk diteliti terutama yang berada dalam kelompok
dewasa muda, mengingat pada periode ini seseorang diharapkan sudah menikah
dan membentuk keluarga. Pada periode ini pula timbul kebutuhan akan intimacy.
Terlibatnya wanita lajang dengan pria menikah meperlihatkan adanya
kecenderungan pemenuhan intimacy melalui affair. Keterlibatan wanita lajang
dengan pria menikah menurut penelitian sebelumnya akan berlanjut pada perilaku
HSE jika mereka menikah suatu saat nanti.
Banyak faktor penyebab affair- wanita Iajang dengan pria menikah yang
dikemukakan para ahli, diantaranya ?kesepian? dan ?kesenangan semata?. Wanita
lajang pelaku affair ataupun yang bukan pelaku affair tentunya juga melakukan
penyimpulan terhadap penyebab perilakunya sendiri.
Adanya penyimpulan terhadap penyebab peristiwa atau perilaku diri sendiri
maupun orang lain disebut atribusi kausal. Dengan mengetahui pola atribusi kausal
affair dari subyek pelaku affair, akan dapat membantu pembentukan suatu tingkah
Iaku baru yang positif, mengingat atribusi kausal sangat berkaitan erat dengan sikap
yang merupakan dasar dari tingkah laku seseorang.
Weiner mengajukan model 3 dimensi dalam teori atribusi kausal. Dimensi
tersebut adalah locus, stability dan controllability. Dengan mengetahui dimensi
lokus akan diketahui pula apakah faktor penyebab berkaitan dengan diri pelaku
ataukah berada di luar diri pelaku. Sedang dimensi stabilitas berhubungan dengan
ekspektansi apakah perilaku akan dipertahankan atau tidak di masa mendatang.
Dimensi kontrolabilitas akan memperlihatkan apakah penyebab perilaku berada
dalam kontrol diri atau dalam kontrol orang lain/lingkungan.
Dalam proses atribusi sering terjadi bias, diantaranya adalah actor observer
effect, dimana seseorang akan mengatribusikan kegagalan atau perilaku negatif
dalam penyebab yang eksternal sedangkan perilaku orang lain dalam penyebab
internal.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan pola atribusi kausal affair
wanita lajang pelaku affair dan bukan pelaku affair. Alat ukur yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Causal Dimension Scale II yang dibuat oleh Russel dan kawan-kawan (1992). Subyek dalam penelitian ini berjumlah 67 orang, yang terdiri
dari 34 pelaku affair dan 33 bukan pelaku affair.
Dari penelitian diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan atribusi kausal
affair pada kedua kelompok subyek penelitian. Kelompok pelaku affair
mengatribusikan perilakunya dalam dimensi yang lebih internal, tidak stabil namun
lebih terkontrol secara personal dibandingkan kelompok bukan pelaku affair.
Dengan demikian baik pelaku rnaupun bukan pelaku, keduanya menganggap bahwa
perilaku affair tidak akan dipertahankan, sedangkan faktor penyebab berada pada
lokus internal atau berkaitan dengan diri pelaku serta dapat dikontrol oleh diri
sendiri.
Sedangkan dalam atribusi kausal tidak melakukan affair antara kedua
kelompok subyek juga terdapat perbedaan dalam dimensi stabilitas, dimana subyek
bukan pelaku mengatribusikan perilakunya ke dalam dimensi internal, stabil, dan
memiliki kontrol personal. Artinya, bukan pelaku affair tetap akan
mempertahankan perilakunya untuk tidak melakukan affair. Pelaku affair
mengatribusikan tidak melakukan affair disebabkan oleh sesuatu yang internal,
tidak stabil tapi juga memiliki kontrol personal. Dengan demikian, pelaku affair
memiliki anggapan bahwa subyek bukan pelaku diperkirakan akan melakukan
affair di masa mendatang.
Tidak ditemukan indikasi bias atribusi bagi pelaku affair dalam
mengatribusikan penyebab perilaku affair seperti yang dikemukakan oleh Jones,
Nisbett dan Watson (dalam Brehm & Kassin, 1993), tetapi terjadi bias atribusi
pada subyek bukan pelaku affair mengingat subyek mengatribusikan perilaku affair
dalam lokus internal atau yang berkaitan dengan diri pelaku. Peneliti melihat
adanya kemungkinan bahwa pelaku affair tidak memandang perilakunya sebagai
hal yang negatif.
Faktor penyebab affair yang paling utama bagi pelaku affair adalah
?menghindari komitmen untuk menjalin hubungan formal?, sedangkan bagi bukan
pelaku lebih memilih, ?menyukai pribadi yang matang'. Faktor penyebab tidak
melakukan affair bagi bukan pelaku maupun pelaku affair lebih disebabkan pada
?kontrol diri yang kuat?.
Pada penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan wawancara mendalam,
terutama untuk menggali keterlibatan atau kedekatan emosional pada pasangan
affair, agar kita terhindar dari pandangan bahwa affair terjadi akibat motif-motif
hedonis; seperti alasan ?variasi seks? dan ?kesenangan semata?. Sampel penelitian
juga dapat menggunakan pria lajang yang memiliki affair dengan wanita menikah,
karena adanya perbedaan karakteristik, sehingga penelitian dengan menggunakan
sampel tersebut akan mcnarik untuk dibuat. Adanya ketidaksesuaian hasil
penelitian dengan toeri-teori yang ada merupakan hal yang menarik. Bias yang
terjadi dalam penelitian ini dapat dihindari dengan penelitian lanjutan dengan
sampel yang lebih besar dengan alat yang lebih baik."
1998
S2679
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Fatmawati Mashoedi
"Setiap orang diharapkan dapat berprestasi sesuai dengan potensi atau kapasitas kemampuannya. Bila prestasi seseorang di bawah potensi yang dimilikinya maka perlu ditelaah mengapa hal ini terjadi. Berbagai pendekatan teoretis dapat digunakan untuk
menjelaskan hal ini. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori atribusi karena dengan memahami atribusi seseorang akan dapat menjelaskan mengapa ia tidak berprestasi dengan baik Penelitian ini juga melihat gaya pengasuhan sebagai faktor yang diduga memiliki kaitan yang erat dengan pembentukan gaya atribusi seseorang.
Adapun yang dimaksud dengan atribusi adalah penyimpulan tentang penyebab suatu peristiwa (Deaux, Dane, & Wrightsrnaxg 1993), dan dalam kaitannya dengan prestasi, atribusi adalah keyakinan seseorang tentang penyebab keberhasilan atau kegagalannya. Penulis menggunakan model teori atribusi dari Weiner (1979, dalam Fiske & Taylor, 1991) yang mendasarkan model atribusinya pada tiga dimensi bebas, yaitn:dimensi lokus (internal-ekstemal), dimensi stabilitas (stabil-tidak stabil), dan dimensi kontrol (terkontrol-tidak terkontrol). Seseorang dalam menilai penyebab keberhasilan atau kegagalannya merupakan kombinasi dari ketiga dimensi tersebut, dan seseorang juga dapat memiliki kecenderungan untuk menggunakan dimensi-dimensi tertentu saja dalam meyakini penyebab keberhasilan dan kegagalannya (disebut gaya atribusi). Gaya atribusi seseorang dapat bersifat adaptif atau ma1adaptif Untuk gaya pengasuhan, penulis mengambil gaya pengasuhan dari Baunnind (1966; 1967; 1971; 1973, dalam Berns,1997) yaitu otoritatif, otoritarian, dan permisif.
Penulis menggunakan pendekatan kuantitatif subyek penelitian adalah mahasiswa dari 9 Fakultas yang ada di Universitas Indonesia (UI) yang memiliki prestasi akademik baik dan kurang baik. .Jumlah subyek 249, teknik pengambilan sampel incidental sampling, alat ukur penelitian adalah skala gaya pengasuhan dan gaya atribusi, metode analisis menggunakan teknik analisis statistik Chi-Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki gaya atribusi keberhasilan adaptif ternyata prestasi akademiknya lebih baik daripada mahasiswa yang memiliki gaya atribusi keberhasilan maladaptif Juga diketahui bahwa mahasiswa yang diasuh secara otoritatif gaya atribusi keberhasilannya lebih adaptif dibandingkan dengan mahasiswa yang diasuh secara permisif.Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi orangtua dan pembimbing akademik untuk membantu mahasiswa membentuk gaya atribusi yang adaptif."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2003
T38575
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>