Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aan Mi`dad Arrizza
"Air kelapa (Cocos nucifera) sebagai alternatif media penyimpanan gigi avulsi. Avulsi merupakan kondisi lepasnya gigi dari soket alveolar akibat adanya cedera gigi. Pada gigi permanen perawatan avulsi adalah dengan replantasi gigi ke dalam soket. Hal yang menjadi perhatian utama sebelum perawatan replantasi gigi avulsi adalah menjaga vitalitas sel ligamen periodontal yang terletak di permukaan akar gigi. Vitalitas sel ligamen periodontal sangat diperlukan untuk pembentukan jaringan periodontal baru yang akan mensupport gigi sehingga keberhasilan perawatan replantasi gigi avulsi dapat dicapai. Oleh karena itu diperlukan suatu media penyimpanan untuk menjaga vitalitas sel ligamen periodontal. Tujuan dari penulisan studi literatur ini untuk mengkaji pengunaan air kelapa (Cocos nucifera) sebagai alternative media penyimpanan gigi avulsi. Air kelapa merupakan cairan biologik murni dan steril, dengan kandungan yang kaya akan asam
amino, protein, vitamin dan mineral. Komposisi elektrolit dari air kelapa menyerupai cairan intraseluler. Air kelapa juga unggul dalam melakukan pemeliharaan kelangsungan hidup sel-sel ligamen periodontal karena adanya berbagai nutrisi di dalamnya seperti protein, asam amino, vitamin, dan mineral. Penelitian sebelumnya menunjukan kemampuan air kelapa menjaga viabilitas sel ligamen periodontal yang setara dengan Hank?s balanced salt solution (HBSS), media penyimpanan yang direkomendasikan pilihan oleh the American Association of Endodontics. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah air kelapa memiliki efektifitas yang menyerupai HBBS dalam menjaga viabilitas sel. Keunggulan air kelapa sebagai media penyimpanan adalah murah dan mudah tersedia. Sehingga air kelapa dapat direkomendasikan sebagai media penyimpanan gigi avulsi.

Avulsion is a condition of tooth displacement outside the socket due to the trauma. In a case of tooth avulsion case of permanent teeth, the treatment of choice is replanting the tooth back to the socket. The main concern prior to tooth replantation is to maintain the vitality of periodontal ligament (PDL) cells. The vitality of PDL cells is crucial to form new periodontal ligament tissue to support the teeth in order to achieve the success of replantation treatment. Therefore the tooth storage media is needed to maintain the vitality of PDL cells. The aim of the present literature review was to discuss the use of coconut water as an alternative storage medium of the avulsed teeth. Coconut water is biologically pure and steril, rich in amino acid, proteins, vitamins and minerals. The electronic composition of coconut water resembles the intracellular fluid. The ability of coconut water to maintain the vitality of PDL cells is due its nutrient component such as protein, amino acid, vitamin and minerals. Previous study showed the ability of coconut water to maintain the viability of PDL cells was comparable to Hank?s balanced salt solution (HBSS), storage media that is recommended by the American Association of Endodontics. In conclusion, coconut water is an effective storage medium for avulsed teeth to maintain the vitality of PDL cells. The advantages of the use of coconut water are economical and easily obtained, and therefore ideal to be recommended as a storage medium for avulsed teeth."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2010
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Vassa Khema Katthika
"Latar belakang: Gigi avulsi adalah suatu kondisi gigi terlepas keluar secara utuh dari soketnya, dan terjadi sekitar 0,5-16% pada gigi permanen anak. Avulsi merupakan salah satu injuri yang serius dan pertolongan pertama yang salah saat terjadinya trauma dapat menyulitkan prognosis gigi tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas cedera pada gigi anak terjadi di lingkungan sekolah dan guru berperan penting dalam memberikan pertolongan pertama di lokasi kecelakaan. Namun, beberapa penelitian menunjukkan pengetahuan guru sekolah mengenai pertolongan pertama gigi avulsi tidak memadai sehingga diperlukan suatu alat bantu pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis adanya pengaruh video animasi Pertolongan Pertama Mandiri Gigi Avulsi Anak terhadap pengetahuan guru sekolah dasar. Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah eksperimental klinis. Sebanyak 54 guru sekolah dasar negeri (SDN) dari 13 SDN di Jakarta Pusat yang dipilih secara acak diminta untuk mengisi kuesioner. Setelah itu video animasi Pertolongan Pertama Mandiri Gigi Avulsi Anak ditayangkan. Selesai menonton, guru diminta untuk mengisi kembali kuesioner yang sama. Hasil: Analisis data menggunakan uji komparatif Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan (p<0,05) nilai total skor pengetahuan guru SDN setelah menonton video animasi Pertolongan Pertama Mandiri Gigi Avulsi Anak. Kesimpulan: Video animasi Pertolongan Pertama Mandiri Gigi Avulsi Anak berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan guru sekolah dasar.

Background: Dental avulsion is a condition in which the tooth is completely dislodged from its socket and occurs around 0.5-16% in the child's permanent teeth. Improper management when trauma occurs can complicate the prognosis of the tooth. Majority of injuries to children s teeth occur in the school environment and teachers play an essential role in providing first aid at the accident site. However, the school teacher s knowledge regarding first aid dental avulsion is inadequate, so an educational tool is needed. The purpose of this study was to analyze the effect of animated video First Aid Management of Dental Avulsion towards primary school teacher s knowledge. Methods: The design of this study is a clinical experimental study. Subjects were 54 teachers from 13 public elementary schools in Central Jakarta who were chosen randomly to fill out a questionnaire before and after animated video First Aid Management of Dental Avulsion was presented. Results: Data analysis using the Wilcoxon comparative test showed that there was a statistically significant increase (p<0.05) in teacher s knowledge after watching the animated video First Aid Management of Dental Avulsion. Conclusion: The animated video First Aid Management of Dental Avulsion was effective in increasing the primary school teacher s knowledge."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Marianti Enikawati
"Latar Belakang : Trauma di rongga mulut memiliki prevalensi yang tinggi, terutama pada anak-anak. Avulsi gigi merupakan kasus trauma di rongga mulut yang paling berat dan sering terjadi di sekolah. Sekitar 64,5% kasus avulsi gigi tidak mendapatkan penanganan yang tepat karena kurangnya pengetahuan guru sekolah terhadap pertolongan pertama avulsi gigi. Oleh karena itu, guru sekolah membutuhkan edukasi untuk meningkatkan prognosis perawatan pada anak. Salah satu media edukasi yang dapat digunakan yaitu poster. Penelitian mengenai pengaruh poster edukasi terhadap perubahan tingkat pengetahuan guru sekolah dasar mengenai pertolongan pertama mandiri avulsi gigi belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat pengetahuan guru sekolah dasar sebelum dan sesudah membaca poster edukasi “Pertolongan Pertama Mandiri Gigi Avulsi pada Anak” Metode Penelittian : Penelitian ini dilakukan di 13 sekolah dasar negeri di Jakarta Pusat, dengan total 54 guru yang memenuhi kriteria inklusi. Setelah mengisi informed consent, pengetahuan awal diukur dengan menggunakan kuesioner kemudian guru membaca poster edukasi mengenai pertolongan pertama avulsi gigi. Setelah membaca poster, guru mengisi kembali kuesioner yang berisi pertanyaan yang sama. Perbedaan total skor pengetahuan sebelum dan sesudah membaca poster edukasi diuji secara statistik. Hasil : Nilai median total skor sebelum membaca poster adalah 5 sedangkan nilai median setelah membaca poster adalah 10. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p=0.000 yang menandakan terdapat perbedaan signifikan antara tingkat pengetahuan guru sekolah dasar sebelum dan sesudah membaca poster edukasi Kesimpulan : Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan guru sekolah dasar sebelum dan sesudah membaca poster edukasi “Pertolongan Pertama Mandiri Gigi Avulsi pada Anak” yang menandakan poster edukasi merupakan media edukasi yang efektif. 

Background : Oral trauma has a high prevalence, especially in children. Dental avulsion is the most severe type of oral trauma and school is the common place where dental avulsion occurs. Arround 64.5% of dental avulsion cases did not get proper treatment due to inadequate teachers’ knowledge about first aid management of dental avulsion; therefore, teachers need education to improve the prognosis of treatment. One of the educational media that can be used is poster. Research on educational poster’s effect on the knowledge of elementary school teachers regarding first aid management of dental avulsion has never been done in Indonesia. Objective: The purpose of this study is to analyse the difference of level on the knowledge of Elementary School Teachers Before and After Reading Educational Posters “First Aid Management Of Dental Avulsion on Children” Methods : This study was conducted in 13 public primary schools in central Jakarta, with a total of 54 teachers who met the inclusion criteria. After filling out the informed consent, initial knowledge was measured using a questionnaire, then the teacher read an educational poster about the first aid management of dental avulsion. After reading the poster, the teachers answered the questionnaire, which included the same questions as the first questionnaire. The difference between total knowledge scores before and after reading the educational poster was statistically counted. .Results : The median of total score before reading the poster was 5 while the median of total score after reading the educational poster was 10. The Wilcoxon test showed a significant difference (p=0.000) between the level of knowledge of elementary school teachers before and after reading the educational poster. Conclusion : There is a difference in the level of knowledge of elementary school teachers before and after reading the educational poster "Independent First Aid for Children's Avulsion Teeth" which indicates that the educational poster is an effective educational tool. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lestari Mustika Rini
"ABSTRAK
Latar Belakang: Avulsi levator ani merupakan lepasnya otot puborektalis dari insersinya pada dinding pelvis. Kejadian ini seringkali terjadi akibat trauma persalinan pervaginam dan dapat menyebabkan gejala uroginekologi beberapa tahun kemudian. Tujuan: Untuk mengetahui proporsi avulsi levator ani menggunakan ultrasonografi 3D/4D dan menentukan faktor-faktor persalinan pervaginam yang berkontribusi pada terjadinya avulsi levator ani diantara pasien dengan gejala prolaps organ panggul. Metode: Studi potong-lintang dilakukan pada pasien dengan gejala prolaps organ panggul di Poliklinik Uroginekologi RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Secara retrospektif dan prospektif dilakukan pengumpulan data sejak Januari 2012 hingga April 2017 dengan pemeriksaan klinis menggunakan POP-Q dan ultrasonografi 3D/4D transperineal untuk menilai otot levator ani.Hasil: Dari total 127 pasien prolaps organ panggul yang dimasukkan sebagai subjek memiliki median usia 61 26-80 tahun, median paritas 3 0-13 dengan 2 pasien nuligravida dan 2 pasien menjalani persalinan hanya dengan seksio sesarea. Sebanyak 10 subjek 7.9 , IK95 3.1-12.6 terdeteksi adanya avulsi levator ani menggunakan USG 3D/4D transperineal. Diantara kelompok avulsi tersebut dilakukan analisis dengan mengeksklusi 4 pasien tanpa persalinan pervaginam. Dari total 123 pasien, median usia pertama melahirkan adalah 26 18-31 tahun, p=0.156; median jumlah persalinan pervaginam adalah paritas 3 1-9 , p=0.19; riwayat persalinan dengan forsep hanya terdapat 1 kasus 10 , p=0.081; riwayat persalinan dengan vakum 10 , p=0.35, dari total 5 kasus vakum; dan berat lahir bayi terbesar dengan median 3470 3100-3700 gram, p=0.752.Kesimpulan: Proporsi avulsi levator ani pada pasien prolaps organ panggul di Poliklinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sebesar 7.9 . Faktor risko obstetri seperti usia pertama melahirkan, jumlah persalinan pervaginam, riwayat persalinan dengan forsep, riwayat persalinan dengan vakum dan berat lahir bayi terbesar tidak dapat disimpulkan hubungannya dengan terjadinya avulsi levator ani.

ABSTRACT
Background Avulsion of levator ani could arise from detachment of puborectalis muscle form its insertion on the pelvic sidewall. This manifest is a common consequence of vaginal childbirth trauma and could represent urogynecological symptoms many years later. Objective To estimate the proportion of levator ani avulsion using 3D or 4D ultrasound and determine the vaginal birth factors that contribute to levator ani avulsion among the symptomatics of pelvic organ prolapse women. Methods Cross sectional study was conducted among women with symptomatic pelvic organ prolapse in Urogynecology Clinic RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Patients were retrospective and prospectively investigated from January 2012 until April 2017 by clinical examination using POP Q system and 3D 4D imaging of levator ani muscle.Results A total 127 women with pelvic organ prolapse were included in this study, median age was 61 26 80 years, median parity was 3 0 13 with 2 patients were nulligravid and 2 patients have giving birth by c section only. There were 10 cases 7.9, IK95 3.1 12.6 levator avulsion by transperineal 3D 4D US exam. In the group of levator avulsion, 4 cases without history vaginal birth were excluded. Of total 123 patients, first age delivery median was 26 18 31 years, p 0.156 vaginal birth parity median was 3 1 9, p 0.19 1 case forceps delivery 10, p 0.081 vacuum delivery 10, p 0.35, from total vacuum history was 5 cases and maximum birthweight median mas 3470 3100 3700 gram, p 0.752.Conclusion Proportion of levator avulsion in women with pelvic organ prolaps at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo was 7.9 . First age delivery, vaginal birth parity, forceps delivery, vacuum delivery, dan maximum birth weight as obstetric factors cannot be concluded these association to levator avulsion."
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library