Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wahyu Mayangsari
"Indonesia merupakan salah satu penghasil nikel dunia dengan produksi yang meningkat setiap tahunnya. Peningkatnya produksi nikel menyebabkan produk sampingnya, terak feronikel, juga meningkat sehingga membutuhkan area penyimpanan yang luas karena 1ton nikel yang diproduksi menghasilkan 8-14ton terak. Berdasarkan peraturan pemerintah, terak feronikel termasuk ke dalam limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yang dapat direcovery. Sehingga dapat digunakan untuk berbagaimacam aplikasi seperti untuk bahan baku silika presipitat karena kandungan silikanya yang tinggi, yaitu 46,95%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat silika presipitat dari terak feronikel dengan proses impregnasi, roasting, leaching dan presipitasi, untuk mengetahui pengaruh serangkaian prosesnya terhadap komposisi, fasa dan mikrostrukturnya serta karakterisasi produk yang dihasilkan. Proses impregnasi NaOH terhadap terak feronikel dilanjutkan dengan roasting pada temperatur 350 ° C selama 60 menit telah dilakukan. Kemudian leaching dilakukan terhadap hasil roasting terak feronikel teralkalinasi menggunakan aquades yang diikuti dengan proses presipitasi untuk menghasilkan silika presipitat. Fasa Na2SiO3 terbentuk dari hasil proses roasting. Namun, keberadaan fasa magnesium silikat pada residu leaching dapat menurunkan recovery SiO2 yang didapatkan.  Leaching pada temperatur 90 °C selama 60 menit dengan rasio s/l 1/6 dan kecepatan pengadukan 200 rpm dapat menghasilkan pregnant solution dengan % ekstraksi 29 %.  35,80 % silika presipitat berhasil direcovery dari pregnant solution silika dengan ukuran partikel dan surface area berturut-turut adalah 15,0706 ± 0,4481 mm dan 246,7045 ± 1,6324 m2/ g.

Indonesia is one of the countries that produce worlds nickel supply which has been increasing production capacity every year. Increasing nickel production causes the by-product, ferronickel slag, is also increases, thus it needs large storage area since 1ton nickel production generates 8-14ton slag. Based on the Indonesian governments regulation, ferronickel slag is the hazardous and toxic materials that can be recovered. It can be used for various applications such as raw material for precipitated silica since the high content of silica in the ferronickel slag, it is about 46,95 %. The aims of this study are to produce precipitated silica from ferronickel slag by impregnation, roasting, leaching and precipitation processes, to determine the effect of the series processes mentioned previously to the compositions, phases and microstructures as well as the characterizations of the precipitated silica produced.

Impregnation process of NaOH to the ferronickel slag followed by roasting at 350 ° C for 60 minutes were carried out. Then, leaching was performed to the roasted alkalinized ferronickel slag using distilled water followed by precipitation process to produce precipitated silica. Na2SiO3 phase formed from roasting process. However, the presence of magnesium silicate phases in the leaching residue could reduce recovery of SiO2 produced. Leaching at temperature of 90 ° C for 60 minutes with solid/ liquid ratio 1/ 6 and mixing speed of 200 rpm to the roasting product, produces 29 % of % extraction of Si in the pregnant solution. 35,80 % of silica precipitated recovered from the silica pregnant solution which has particle size and the surface area of 15,0706 ± 0,4481 mm and 246,7045 ± 1,6324 m2/g respectively."

Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Maksum
"Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemungkinan penggunaan limbah biomassa dalam proses reduction roasting bijih besi nikel laterite Indonesia. Adapun motif di balik penelitian ini adalah untuk meningkatkan nilai tambah dari bijih besi kadar rendah dan mendapatkan bio-reduktor baru yang akan menjadi alternatif pengganti batu bara di masa depan. Dalam penelitian ini diteliti tiga limbah biomassa sebagai agen pereduksi bijih besi nikel laterite dari Sorowako, yaitu: ampas tebu dari kabupaten Cirebon, cangkang sawit dari Palangkaraya - Kalimantan Tengah, dan sekam padi dari Kerawang - Jawa Barat. Adapun metode yang digunakan adalah reduction roasting dengan variasi parameter temperatur, rasio massa, dan waktu reduksi. Selanjutnya dilakukan analisis berdasarkan pola difraksi hasil X-Ray Diffraction (XRD), X-Ray Fluorescence (XRF), dan Induced Couple Plasma Mass Spectroscopy (ICP-MS).
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ampas tebu, cangkang sawit, dan sekam padi terbukti mampu digunakan sebagai agen pereduksi alternatif pengganti batu bara. Pada penelitian ini, ampas tebu hanya mampu menghasilkan fasa wustite dalam reduction roasting bijih besi nikel laterite, di mana hasil reduksi tertinggi diperoleh pada sampel dengan rasio massa 1:4 yang direduksi pada temperatur 1000°C selama 30 menit. Sementara itu, cangkang sawit mampu mereduksi bijih besi nikel laterite menjadi Fe metal, dimana parameter optimalnya adalah: rasio massa = 1:3, durasi waktu reduksi = 30 menit, dan temperatur reduksi 1000°C. Di samping itu, meskipun sekam padi hanya mampu mereduksi bijih besi sampai fasa magnetite (dimana hasil optimal diperoleh pada penambahan padi sebesar 20%), tetapi dari sekam padi berhasil diperoleh bio-silika amorf dengan tingkat kemurnian 99,99% dan specific surface area (luas permukaan spesifik) 192 m2/g.

In general, this study aims to explore the utilization of local biomass as renewable reducing agents in the reduction roasting of Indonesian nickel laterite iron ore. The motive behind this research is to increase the added value of low grade iron ore and to obtain reducing agents to substitute coal in the reduction process. In this study, the three of biomass which have potential to be used as reducing agents for coal substitutes in reducing nickel laterite iron ore from Sorowako, are: bagasse from Cirebon, palm shells from Palangkaraya - Central Kalimantan, and rice husk from Kerawang - Jawa Barat. The reduction method used is reduction roasting with various temperature, mass ratio, and reduction time. And the analysis is based on the diffraction pattern of X-Ray Diffraction (XRD), X-Ray Fluorescence (XRF), and Induced Couple Plasma Mass Spectroscopy (ICP-MS).
The results obtained in this study indicate that bagasse, palm kernel shells, and rice husks have been proven to be able to be used as an alternative reducing agent for coal substitution. In this study, bagasse was only able to produce the wustite phase in the reduction roasting of nickel laterite iron ore, where the highest reduction results were obtained in samples with a mass ratio of 1: 4 which was reduced at a temperature of 1000°C for 30 minutes. Meanwhile, palm kernel shells could reduce nickel laterite iron ore to Fe metal, where the optimal parameters were: mass ratio = 1: 3, reduction time duration = 30 minutes, and reduction temperature = 1000°C. In addition, although rice husk was only able to reduce iron ore to magnetite phase (where optimal results are obtained by adding rice by 20%), but from rice husk it was successfully obtained amorphous bio-silica with a purity level of 99.99% and specific surface area 192 m2/g."
Depok: Universitas Indonesia, 2019
D2617
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library