Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 68 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
"Dengan Semakin meningkatnya kebutuhan akan energi. menyebabkan
banyaknya teknologi baru yang menggunakan sumber energi atau bahan bakar baru
yang persediaannya masih cukup banyak atau dapat diperbaharui Biomassa adalah
bahan bakar yang dapat terbaharui mempunyai pulensi enwrgi yang besar. Salah
satunya adalah tandan sawit kosong (Empty Fruiz Bunch) yang merupakan komposisi
limbah terbesar pada perkebunan kelapa sawil dan selama ini lmelum diguuakan
teknologi untuk memanfaatkannya secara serius.
Teknologi untuk pengoptimalan pemanfaatan biomass ialah biomass gassifier
yaitu alat untuk gasifikasi dari biomassa yang mana setelah melalui proses pembakaran
tidak sempurna akan menghasilkan gas yang dapat menghasiikan energi thermal dan
kemudian dapat dikonversikan sesuai dengan kebutuhan, Untuk memulai pemanfaatan
energi maka diperlukan sebuah perancangan dasar terhadap biomass gassifier yang
diharapkan terlaksana pembangunannya sehingga dapat dilakukan penelitian yang
menghasilkan sebuah analisis mengenai efektifitas penggunaan biomass gassifier
dalam aplikasinya."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
S37461
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"After the oil-shocks of the early 1970s occured frantic efforts were made to find new and alternative sources of energy to lessen dependence on oil that become very expensive and also scarce."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Anondho Wijanarko
"ABSTRAK
Masalah gas rumah kaca telah menjadi salah satu topik lingkungan yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Demikian pula dengan produksi biomassa yang telah menjadi komoditi ekonomi bernilai tinggi. Oleh karenanya penelitian mengenai proses fiksasi CO2 dengan memanfaatkan mikroalga Chlorella SP ini dapat dijadikan salah satu alternatif untuk mengatasi efek rumah kaca dan juga mendapatkan kandugnan pati serta karbohidrat dari produksi biomassa yang dihasilkan oleh aktivitas forosintesis.
Proses fiksasi CO2 dan produksi biomassa dengan menggunakan mikroalga Chlorella SP ini dilakukan dalam medium benneck dalam sebuah fotobioreaktor kolom gelembung. Fotobioreaktor ini diaerasi dengan kondisi operasi: kecepatan superficial gas ±2,4 m/hr, suhu 29°C, kandungan CO2 5% dalam aliran udara inlet, intensitas cahaya 700 lux, dan variasi panjang gelombang dengan menggunakan lampu merah, biru, putih, kuning, dan hijau. Data yang diambil adalah intensitas cahaya keluar reaktor (lb), julah sel, selisih fraksi gas CO2 inlet dan outlet serta besar pH.
Hasil yang penting dikemukakan disini adalah laju pertumbuhan sel paling tinggi dicapai oleh sumber iluminasi sinar biru dan paling rendah oleh sinar hijau, sedangkan sinar putih berada ditengah-tengahnya. Laju pengurangan CO2 terbsear terjadi pada sumber iluminasi sinar biru. Hal ini ternyata sebanding dengan peningkatan jumlah sel. namun seiring dengan berjalannya waktu, ternata laju pengurangan CO2 berkurang bahkan sebelum laju pertumbuhan memasuki fase stasioner, sedangkan model pendekatan secara empiris yang paling akurat terhadap data-data yang diperoleh, didapatkan dengan menggunakan persamaan Webb."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Anondho Wijanarko
"ABSTRAK
Pemanasan global merupakan isu utama dalam berbagai jurnal pengetahuan dan pemberitaan akhir-akhir ini. Cara-cara pencegahan dan penanggulanan sudah mulai dikembangkan untuk menghindari efek yang lebih berbahaya. Salah satu cara penanggulananya adalah dengan fiksasi CO2 oleh mikroalga. Fiksasi CO2 selain dapat mengurangi kadar CO2 di udara juga dapat menghasilkan biomassa mikroalga yang memiliki nilai ekonomis seperti protein dan glukosa. Hasil biomassa ini kini telah banyak diolah untuk dikonsumsi manusia.
Proses foto sintesis merupakan proses utama berlangsungnya pembentukan biomassa selain proses enzimatis (tanpa cahaya). Penelitian sebelumnya telah membuktikan semakin besar intensitas chaya yang diberikan pada kultur mikroalga semakin besar pula biomassa yang dihasilkan. Penelitian ini diaharapkan dapat menunjukkan pengaruh variasi intensitas cahaya dan jumlah inokulum terhadap produksi biomassa dan fiksasi Co2 oleh mirkoalga.
Penelitian ini akan menggunakan Chlorella sp. Chlorerlla merupakan alga hijau (Chlorophyta) dan merupakan mikroalga yang paling banyak dikembangkan. Mikroalga ini akan dilihat pertumbuhannya dalam fotobioreaktor. Sistem reaktor yang digunakan adalah fotobioreaktor kolom gelembung."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
"Dua puluh lima ekor tikus dibagi dalam lima kelompok perlakuan, terdiri
atas kelompok normal kontrol (KK1) yang tidak diberi diet tinggi lemak dan
kolesterol, kelompok perlakuan kontrol (KK2) yang diberi diet tinggi lemak dan
kolesterol, dan tiga kelompok perlakuan (KP1, KP2, dan KP3) yang diberi diet
tinggi lemak dan kolesterol dan suspensi biomassa Rhodotorula minuta UICC Y-
227 dengan dosis 5, 10, dan 20 mg/kg bb. Pemberian bahan uji dilakukan setiap
hari selama 21 hari berturut-turut. Pengambilan sampel darah dilakukan pada hari
ke-0 dan hari ke-22, kemudian dilakukan analisis konsentrasi trigliserida
berdasarkan hasil reaksi glycerol phosphate oxidase (GPO). Rerata nilai
konsentrasi trigliserida secara berturut-turut pada KK1, KK2, KP1, KP2, dan KP3
adalah 80,25 mg/dl ± 0,85; 87,49 mg/dl ± 1,93; 73,48 mg/dl ± 1,71; 72,72 mg/dl ±
1,83; dan 68,61 mg/dl ± 0,84. Berdasarkan uji LSD (P < 0,05) menunjukkan
adanya penurunan konsentrasi trigliserida pada seluruh kelompok dosis. Rerata
penurunan konsentrasi trigliserida hingga di bawah konsentrasi trigliserida
kelompok normal kontrol dicapai oleh kelompok perlakuan dengan dosis 20
mg/kg bb. Sedangkan, kelompok perlakuan dengan dosis 5 dan 10 mg/kg bb
mendekati konsentrasi trigliserida kelompok normal kontrol."
Universitas Indonesia, 2010
S31654
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Satria Utama
"Kegiatan industri yang semakin meningkat tentunya menyebabkan pemakaian pembangkit listrik berbahan bakar fosil meningkat dan pada gilirannya pemakaian bahan bakar fosil meningkat pula. Selain dari itu pembangkit ini mempunyai permasalahan pertama efisiensinya rendah. Efisiensi ini dapat terlihat dalam karakteristik masukan/keluaran suatu pembangkit. Peran kerja dari suatu pembangkit dapat dimaksimalkan dengan terlebih dahulu mengetahui karakteristik dari pembangkit tersebut. Dengan memaksimalkan kapasitas pembangkit tentu saja dapat meminimalkan biaya operasional pembangkit yang berujung pada efisiensi pembiayaan. Pada skripsi ini akan diteliti tentang karakteristik pembangkit dalam hal ini karakteristik masukan/keluaran pembangkit tenaga gas. Sebagai studi kasus penelitian ini adalah karakteristik masukan/keluaran PLTG Muara Karang pada periode penelitian Januari 2006."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S40242
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Pemanasan global telah menjadi salah satu topik utama dalam masalah lingkungan. Naiknya kandungan CO2 menjadi salah satu penyebab terjadinya efek rumah kaca. Oleh karena itu, telah dilakulcan usaha untulc mengurangi kandungan CO; tersebut. Salah satu usaha yang dilakukan adalah mencoba memanfaatkan gas CO; menjadi produk yang berguna, antara lain adalah dengan Eksasi CO2 untuk menghasilkan biomassa menggunakan Chlorella sp. Saat ini Chlorella telah diteliti Oleh banyak ahli karena kemampuannya dalam menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan manusia sebagai suplemen makanan dengan kandungan gizi sangat tinggi. Clrlnreffa juga sangat mudah ditangani, karena memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik.
Fiksasi CO2 yang paling sederhana adalah clengan memanfaatkan proses fotosintesis. Proses fotosintesis ini memerlukan beberapa komponen supaya beljalan dengan baik, antara lain kondisi operasi yang tepat, pencahayaan yang sesuai, dan nutrisi yang cukup.
Masalah yang terjadi adalah terganggunya proses fotosintesis apabila disinari oleh sinar dengan panjang gelombang tertentu dengan kadar yang terlalu besar. Sinar-sinar seperti Ultraviolet (UV) dan Infrared (IR) dapat berakibat mematikan kehidupan Chlorella apabila kadarnya melebihi batas yang diperbolehkan. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian untuk menguji sejauh mana sinar-sinar tersebut berdampak pada pertumbuhan Chlorella tersebut.
Penelitian ini melalui beberapa tahap yaitu mengkultur Chlorella sp. dalam medium Benneck yang selanjutnya digunakan dalam fotobioreaktor kolom gelembung. Variasi utama dalam penelitian ini adalah penggunaan sinar UV dan IR, sedangkan data yang diambil adalah jumlah/kerapatan sel (N), pl-I, dan selisih fraksi CO2 yang masuk dengan fraksi CO2 yang lceluar (Ay CO2). Kemudian dilakukan perhitungan dan perbandingan dari data yang dihasilkan pada kedua kondisi penyinaran.
Pada uji ketahanan Clxlorella sp., dapat terlihat bahwa nilai kerapatan sel tems menumn seiring berjalarmya walctu_ Hal ini disebabkan karena Chlorella sp.
mengalami kematian disebabkan oleh radiasi sinar UV dan IR. Kondisi ini bertolak "
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
S49444
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ingrid Claudia Elianne Inthe
"ABSTRAK
Nannochloropsis sp. merupakan salah satu jenis mikroalga yang banyak
mengandung nutrisi. Dengan demikian Nannochloropsis sp. sebenarnya
mempunyai potensi yang besar dan menjanjikan sebagai sumber nutrisi pangan
dan bahan baku biomedis. Pada penelitian ini akan dilakukan teknik untuk
meningkatkan produksi biomassa mikroalga Nannochloropsis sp. dengan
pengaturan pencahayaan yaitu mencari Iμmax,opt dari beberapa inokulum dilanjutkan
dengan perlakuan alterasi pencahayaan. Kultivasi Nannochloropsis sp. dilakukan
dalam medium walne pada temperatur 29°C, tekanan operasi 1 atm, sumber
pencahayaan lampu 20W/12V/50Hz, dan konsentrasi CO2 5 %. Hasilnya
menunjukkan bahwa alterasi mampu meningkatkan kemampuan produksi
biomassa sampai 1.22 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pencahayaan pada
intensitas tetap dengan jumlah inokulum yang sama serta masa kultivasi yang
lebih singkat (204 jam) dan energi untuk produksi biomassa (Ex) yang lebih
efisien (793,75 kJ/g). Selain itu, pada perlakuan alterasi juga didapatkan nilai ratarata
qco2 lebih besar 1.08 kali lipat (37,69 g/gsel.jam), nilai CTR (Carbon Transfer
Rate) lebih besar 2.03 kali lipat (25,55 g/L.jam) dan konsentrasi [HCO3-] lebih
besar 1.11 kali lipat (0.0245 M) dibanding pencahayaan pada intensitas tetap.
Mikroalga yang dikultivasi pada alterasi pencahayaan juga memiliki kadar lipid
lebih tinggi yaitu (39.6%). Pencahayaan yang kuat secara tidak langsung memang
dapat mempengaruhi akumulasi lemak jika dikombinasikan dengan tekanan lain
atau keberadaan CO2 berlebih.

ABSTRACT
Nannochloropsis sp. has a great potential and promising as a nutritional source of
food and biomedical materials in consideration of it contain many nutrients. On
the other hand, environmental factors affecting growth rates and gains in the
cultivation of cells also have an impact on levels of lipids and oils and its
composition in Nannochloropsis sp. One of the influential factors is lighting.
Based on these facts, then on this study will be conducted a techniques to increase
biomass production of microalgae Nannochloropsis sp. by the lighting setting that
are tailored to the growth. Lighting arrangement is done by finding Iμmax,opt from
several inoculum followed by the alteration lighting treatment which is expected
could reduce the self-shading effect that occurs in cultured microalgae in a
photobioreactor, in order to obtain optimal growth rate and increased the biomass
production of Nannochloropsis sp. Alteration of lighting treatment on the
cultivation of Nannochloropsis sp. in the walne medium on 29 °C temperature
operating conditions, operating pressure of 1 atm, lighting sources
20W/12V/50Hz, and 5% CO2 concentration was successful in increasing biomass
production capability up to 1:22-fold higher than in continuous illumination with
the same amount of inoculum and a shorter cultivation period (204 hours) and for
the production of biomass energy (Ex) is more efficient (793748.66 J/g). In
addition, the alteration treatment is also found CO2 fixation and cell activity fold
higher compared with continuous illumination at Iμmax,opt it with the same amount
of inoculum. As shown by the average value of alterations qco2 and CTR on each
lightingfold larger 1:08 and 2:03 times as well as the concentration of [HCO3-]
1:11-fold higher (0.0245 M). Microalgae are cultivated on the alteration of
lighting also has a higher lipid content (39.6%) compared lipid levels in
continuous light. Strong lighting is able to indirectly affect the accumulation of fat
when combined with other pressures, or the presence of excess CO2.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43752
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rudi Hariyanto
"Salah satu kendala yang menghambat program pengembangan gasifikasi biomassa sampai saat ini adalah gas produk gasifikasi siap pakai mengandung kadar tar diatas standar yang diijinkan yaitu <2 g/Nm3 (Energi Engineering- What is Gasification.htm). Sedang syarat yang ideal untuk berat kadar tar yang keluar gasifier tidak lebih dari 1% dari berat gas produk yang digunakan. Penelitian ini sebenarnya merupakan pengembangan penelitian dari tesis Saudara Fajri Vidian, 640202014Y, yang baru sampai tahap penelitian komposisi gas produk gasifikasi. Pengembangan penelitian yang dimaksud disini adalah memberikan penambahan udara pada udara pembakaran. Berdasarkan penelitian JH Howson, kandungan tar dalam gas secara proporsional dapat diturunkan dengan adanya penambahan udara. Oleh karenanya pengujian ini difokuskan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variasi kapasitas udara terhadap nilai kadar tar dan nilai kalor (CV) gas produk khususnya yang keluar dari gasifier dan perbandingannya terhadap standar yang ditetapkan. Dari hasil pengujian yang dilakukan ternyata didapatkan bahwa penggunaan lowrate udara bakar 413,73 lpm atau bukaan katup udara bakar 40° untuk proses gasifikasi biomassa 50% tandan kosong dan 50% tempurung kelapa sawit adalah yang mampu menghasilkan kualitas gas produk paling optimum. Penilaian ini didasarkan atas gas produk yang dihasilkan mempunyai nilai kalor tertinggi yaitu 13,307 MJ/m3 dan prosentase kadar tar di dalam gas produk yang bernilai 0,65%. Nilai ini dibawah dari standar ideal yang ditetapkan sebesar 1% berdasar berat.

One of problem which to pursue the biomassa gasification development program until now is gasification that ready to use are containing tar more than 2 g/Nm3 (Energi Enginering - What is Gasification. htm) from standard allowed. The ideal criteria for tar contain of gasifier is not more than 1% from producer gas weight used. This examination is development from last tesis of Mr. Fajri Vidian, 640202014Y, just from composition exam of the producer gas. The development point of this examination is air addition of acombustion air. Based on JH Howson exam, tar contains on gas in proportional can reduced with air addition. Cause of that this exam focus on knowing the size can influence air flowrate variation with tar and calory (CV) specialy on producer gas. From experimental results that known if the addition of air significantly reduced the level of incondensable hydrocarbons (tar) of the gas. Using 413,73 lpm of the combustion air flowrate with ER = 0,62 resulted the optimum quality of producer gas. The producer gas have a caloricic value (CV) 13,307 MJ/m3 and a level of tar in the gas 0,65% by weight. Its under of 1% that is a standard level and a reasonable design basis for a downstream gas-treatment plant."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T16906
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>