Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sihombing, Unedo Hence Markus
"Kanker ovarium merupakan kanker paling mematikan ke-8 pada perempuan di dunia. Pasien kanker ovarium umumnya akan mengalami kemoresistensi, kekambuhan dan prognosis buruk setelah operasi sitoreduktif dan kemoterapi berbasis platinum. Hal tersebut berhubungan dengan peningkatan ekspresi Cancer Stem Cells (CSCs) CD44+/CD24-, RAD6, dan penurunan DDB2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ekspresi CSCs, RAD6 dan DDB2 dengan kemoresistensi kanker ovarium di jaringan kanker ovarium dan sirkulasi darah.
Penelitian kohort ambispektif ini dilakukan di RSUP Cipto Mangunkusumo, RSUD Tarakan, RSUP Dharmais, dan RSUP Fatmawati pada Februari 2018–Februari 2022. Subjek adalah 64 orang pasien yang dibagi menjadi dua kelompok. Semua subjek menjalani operasi sitoreduktif dan pemeriksaan histopatologi. Kemoterapi diberikan sebanyak enam seri diikuti enam bulan observasi, kemudian ditentukan respons terapi dengan kriteria Response Criteria in Solid Tumors (RECIST). Uji imunohistokimia dilakukan langsung ke jaringan kanker ovarium (retrospektif) dan uji flowsitometri darah (prospektif) untuk menilai Ekspresi CSCs, RAD6 dan DDB2.
Terdapat peningkatan Ekspresi CSCs, RAD6 serta penurunan bermakna ekspresi DDB2 (p < 0,05) di jaringan kanker ovarium kemoresisten, dan peningkatan bermakna Ekspresi CSCs, dan RAD6 yang bermakna (p < 0,05) di sirkulasi darah penderita kanker ovarium. Ekspresi DDB2 di uji imunohistokimia adalah protein dengan nilai AUC terbaik sedangkan di uji flowsitometri, CSCs memiliki nilai AUC terbaik. Disusun skor IHC-UNEDO (imunohistokimia) dan skor FCM- UNEDO (flowsitometri) untuk membantu memprediksi respons terapi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan Ekspresi CSCs, RAD6 dan penurunan DDB2 di jaringan kanker ovarium, serta peningkatan Ekspresi CSCs di sirkulasi darah penderita kanker ovarium dan protein tersebut merupakan prediktor respons terapi kanker ovarium yang baik."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kevin Johanes Kawengian
"Glioblastoma multiforme (GBM) merupakan tipe kanker yang agresif dan malignan dengan persentase kejadian tertinggi untuk tumor malignan primer pada sistem saraf pusat. Pengobatan standar pasien GBM yang salah satunya menggunakan kemoterapi temozolomide (TMZ) masih belum optimal dikarenakan dapat memicu resistensi GBM terhadap terapi. Studi terdahulu memperlihatkan adanya pengaruh senesens terhadap pembentukan kemoresistensi dan regulasi immunosurveillance (pengawasan imun) antikanker sel NK dan sel T sitotoksik, salah satunya melalui MICA/B. Namun, kaitan antara regulasi kemoresistensi dengan ekspresi MICA/B maupun dengan senesens pada GBM masih belum dipahami secara jelas. Untuk itu, pada penelitian ini dilakukan analisis ekspresi dan sekresi MICA/B juga analisis ekspresi marka senesens p16/p21 menggunakan RT-qPCR, flow cytometry, dan ELISA pada sel GBM yang sensitif maupun yang resisten terhadap TMZ. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pada sel GBM yang resisten terhadap TMZ terjadi penurunan ekspresi permukaan MICA/B dan peningkatan sekresi MICB, jika dibandingkan dengan sel GBM yang sensitif TMZ. Kemudian, hasil analisis tingkat senesens menunjukkan bahwa pada sel GBM yang resisten TMZ memiliki ekspresi p16/p21 yang lebih tinggi dari sel yang sensitif TMZ. Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat diketahui bahwa pembentukan kemoresistensi TMZ pada GBM terasosiasi dengan induksi senesens dan dapat berpengaruh terhadap regulasi MICA/B sehingga dapat menghambat sistem pengawasan imun GBM.

Glioblastoma multiforme (GBM) is an aggressive and malignant cancer, having the highest incidence rate among primary malignant tumors of the central nervous system. Standard GBM treatment, including temozolomide (TMZ) chemotherapy, remains suboptimal due to potential GBM resistance to therapy. Prior studies have indicated that senescence influences the development of chemoresistance and the regulation of immunosurveillance by anticancer NK cells and cytotoxic T cells, particularly through MICA/B. However, the relationship between chemoresistance regulation, MICA/B expression, and senescence in GBM is not well understood. This study, therefore, examined MICA/B expression and secretion, along with the expression of the senescence markers p16/p21, in TMZ-sensitive and TMZ-resistant GBM cells using RT-qPCR, flow cytometry, and ELISA. The findings revealed that TMZ-resistant GBM cells exhibited reduced MICA/B surface expression and increased MICB secretion compared to TMZ-sensitive cells. Furthermore, the analysis of senescence levels showed that TMZ-resistant GBM cells had higher p16/p21 expression than TMZ-sensitive cells. These results suggest that the development of TMZ chemoresistance in GBM is linked to the induction of senescence and can impact MICA/B regulation, thereby hindering the immune surveillance system of GBM."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rustam Effendi
"Lupus nephritis (LN) is involvement of the kidney in patient with systemic lupus erythematosus (SLE) and one of the most common target organ in SLE. The diagnosis of LN will significantly impact the clinical outcome and therapy of the patient. Therapy regiment of LN is divided into two stages, induction and maintenance treatment. The main objective of the induction therapy is to achieve complete or partial remission as soon as possible since it is correlated with better prognosis and fewer relapse incidence. In the maintenance stage, the main aim of the therapy is to maintain the remission status and avoid future relapse. It is also important to evaluate the effectiveness of the therapy as it will affect the duration and the regiment therapy being used. Corticosteroid, cyclophosphamide, mycophenolate mofetil, azathrioprine, cyclosporine and tacrolimus are example of drugs used in LN therapy. Currently, studies are being conducted to evaluate and develop targeted drug therapy to further add treatment options for LN.

efritis lupus (NL) adalah keterlibatan organ ginjal pada pasien lupus eritematosus sistemik (LES) dan merupakan salah satu keterlibatan organ yang paling sering ditemukan. Ditemukannya NL pada pasien LES akan berdampak besar baik secara prognosis dari pasien maupun dalam pengobatan itu sendiri. Pengobatan NL dibagi menjadi dua tahap, induksi dan rumatan. Target dari pengobatan tahap induksi adalah untuk secepatnya mencapai remisi, baik parsial ataupun komplit, karena akan memberikan prognosis yang lebih baik dan kejadian relapse yang lebih rendah. Pada tahap rumatan, target yang ingin dicapai adalah untuk mempertahankan status remisi dan mencegah terjadinya relapse. Evaluasi keberhasilan dari masing-masing tahap juga sangat penting karena akan berpengaruh pada kelanjutan pengobatan. Kortikosteroid, siklofosfamid, mikofenolat mofetil, azatioprin, siklosporin dan takrolimus adalah obat-obat yang biasa dipakai dalam pengobatan NL. Berbagai target pengobatan baru juga terus berkembang guna memberikan pilihan yang lebih luas dalam menangani kejadian NL."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
610 UI-IJIM 49:4 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library