Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Vilna Octiariningsih
"Community-Acquired Pneumonia CAP adalah penyakit sistem pernapasan yang menyerang jaringan parenkim paru. Penyakit ini banyak mengancam individu dewasa dengan penurunan sistem imun. Penderita CAP mengalami peningkatan setiap tahunnya akibat peningkatan polusi udara yang berada di wilayah perkotaan, terutama pada kawasan industri. Penderita CAP akan mengalami peningkatan produksi sputum yang berujung pada kesulitan dalam mengeluarkan sputum. Pasien dengan CAP sering mengalami penurunan refleks batuk yang membuat sputum terakumulasi di jalan napas sehingga menyebabkan peningkatan usaha untuk bernapas. Fisioterapi dada merupakan salah satu teknik pembersihan jalan napas pada pasien dengan penurunan refleks batuk.
Karya Ilmiah Akhir Ners ini bertujuan untuk menganalisis intervensi fisioterapi dada untuk mengurangi gejala serta mencegah perburukan pada pasien dengan CAP. Metodologi yang digunakan adalah metode studi kasus dan analisa penelitian yang telah ada. Hasil analisa yang didapatkan menunjukkan fisioterapi dada dapat menurunkan usaha napas pasien, pengurangan episode demam, perubahan karakteristik sputum, serta penuruan persentase mortalitas melalui skoring CURB-65.

Community Acquired Pneumonia CAP is a respiratory disease that attacks the pulmonary parenchymal tissue. This disease threatens many adults with decreased immune system. CAP sufferers are increasing every year due to increasing air pollution in urban areas, especially in industrial areas. CAP sufferers will experience an increase in sputum production that leads to difficulties in removing sputum. Patients with CAP often have decreased cough reflexes that make sputum accumulate in the airway causing increased effort to breathe. Chest physiotherapy is one of the airway cleansing techniques in patients with decreased cough reflexes.
This Final Scientific Work of Ners aims to analyze the interventions of chest physiotherapy to reduce symptoms and prevent worsening of patients with CAP. The methodology used is the case study method and the existing research analysis. The results obtained showed chest physiotherapy can decrease the patient 39 s breathing effort, reduction of febrile episodes, changes in sputum characteristics, as well as the percentage of mortality by scoring CURB 65.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Dharmawan
"ABSTRAK
Pneumonia komunitas Community Acquired Pneumonia, CAP merupakan penyakit infeksi yang sering terjadi dan merupakan masalah kesehatan, menempati peringkat ke lima sebagai penyebab kematian global. Etiologi CAP dapat ditemukan hanya pada 30 ndash; 50 kasus menggunakan metode konvensional. Pemberian tatalaksana awal antibiotika pada CAP menggunakan metode terapi empirik berdasarkan educated guess atau data antibiogram lokal. Pewarnaan Gram sputum merupakan metode yang sederhana dan murah untuk secara cepat memperkirakan etiologi mikroba pneumonia. Penelitian ini dilakukan secara prospektif untuk melakukan evaluasi hasil pemeriksaan mikroskopik sputum dengan pewarnaan Gram untuk menetapkan dugaan etiologi pneumonia komunitas pada pasien rawat inap di RSUD Budhi Asih. Dari 100 sampel sputum yang sudah diseleksi kelayakannya, dinilai lagi kelayakannya menurut kriteria ASM 94 sampel , Bartlett rsquo;s 100 sampel dan Musher dkk 96 sampel . Setelah dilakukan pemeriksaan kultur, PCR dari 100 sampel, 65 sampel diketahui penyebabnya, sedangkan 35 sampel tidak diketahui, namun 10 diantaranya BTA positif. Patogen yang ditemukan adalah Klebsiella pneumoniae 29,6 , Acinetobacter baumanii 10,2 , Enterobacter cloacae, Pseudomonas aeruginosa dan Staphyloccocus aureus 4,6 , Moraxella catarrhalis 3,7 , Enterobacter aerogenes dan Escherichia coli 2,8 , Streptococcus pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae 1,9 , Citrobacter koseri 0,9 . Penilaian kelayakan sputum dapat menggunakan kriteria Bartlett rsquo;s karena kriteria ini yang lebih longgar sehingga penolakan spesimen sputum lebih sedikit dan hasil yang didapat tidak berbeda secara signifikan

ABSTRACT
Community Acquired Pneumonia CAP is an infectious disease that often occurs and is a health problem, ranked fifth as the cause of global death. The etiology of CAP can be found in only 30 50 of cases using conventional methods. Administration of early antibiotic treatment in CAP using empirical therapy method, based on educated guess or local antibiogram data. Sputum Gram staining is a simple, rapid and cheap method to estimate the etiology of bacterial pneumonia. This study was conducted prospectively to evaluate the results of sputum microscopic examination with Gram staining to establish the alleged etiology of community acquired pneumonia in inpatients at RSUD Budhi Asih. From 100 selected sputum samples eligible, they were re assessed according to ASM criteria 94 samples , Bartlett 39 s 100 samples and Musher et al 96 samples . After culture examination and PCR detection from100 samples, 65 samples can be identified the etiology, while 35 samples cannot be identified, but 10 samples are positive AFB. Pathogens found were Klebsiella pneumoniae 29,6 , Acinetobacter baumanii 10,2 , Enterobacter cloacae, Pseudomonas aeruginosa and Staphyloccocus aureus 4,6 , Moraxella catarrhalis 3,7 , Enterobacter aerogenes and Escherichia coli 2,8 , Streptococcus pneumoniae and Mycoplasma pneumoniae 1,9 , Citrobacter koseri 0,9 . Assessment of sputum eligibility may use Bartlett 39 s criteria, since it more flexible criteria so that fewer sputum specimens will be rejected and the results obtained do not significantly differ"
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Verawati Sulaiman
"Latar Belakang: Community Acquired Pneumonia (CAP) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Bakteri atipikal (Chlamydia pneumoniae, Mycoplasma pneumaniae, Legionella pneumophila) sebagai penyebab penting CAP. Sejauh ini belum ada pemeriksaan mikrobiologi yang rutin dilakukan sehingga perlu pengembangan uji, salah satunya metode molekuler multiplex real time PCR. .
Tujuan: Melakukan optimasi uji multiplex real time PCR untuk mendeteksi secara simultan dan cepat C.pneumoniae, L.pneumophila dan M.pneumoniae pada sputum pasien CAP.
Metode: Penelitian ini merupakan uji eksperimental laboratorium yang terdiri atas 3 tahap. Tahap 1 meliputi optimasi suhu penempelan, primer, probe, volume elusi akhir dan cetakan DNA. Tahap 2 untuk menentukan batas ambang deteksi DNA dan reaksi silang. Tahap 3 adalah penerapan uji multiplex real time PCR pada spesimen sputum pasien CAP.
Hasil: Uji multiplex real time PCR telah berhasil dioptimasi dengan ambang batas minimal deteksi DNA untuk Chlamydia pneumoniae, Legionella pneumophila dan Mycoplasma pneumaniae adalah 1855, 3185 dan 130 kopi DNA. Uji ini tidak bereaksi silang dengan mikroorganisme yang berpotensi menimbulkan reaksi positif palsu. Sebanyak 134 sputum telah diuji dan ditemukan positif M.pneumoniae sebanyak 1 spesimen (0,74 %).
Kesimpulan: Uji multiplex real time PCR dapat mendeteksi C.pneumoniae, M.pneumoniae, dan L.pneumophila secara simultan pada sputum pasien CAP.

Background: Community Acquired Pneumonia (CAP) is one of the leading causes of morbidity and mortality in the world. Atypical bacteria (Chlamydia pneumoniae, Legionella pneumophila, Mycoplasma pneumaniae) are the important causes of CAP. In daily clinical practice, detection of atypical bacteria are sometimes neglected due to the limited standard test available. The real time multiplex PCR methode can be used as an alternative test for the detection of atypical bacteria.
Objective: Optimization of the multiplex real time PCR test to simultaneously detect C.pneumoniae, L.pneumophila and M.pneumoniae in CAP patients.
Methods: This study is experimental laboratory test that conducted in three phases. The first is optimization of annealing temperature, primers dan probe concentration, final elution of DNA extraction and volume of PCR templete. The second is determination of minimal detection of DNA and cross reaction of optimized real time PCR multiplex. The third is application of real time PCR multiplex in sputum clinical specimen patient with CAP.
Results: The multiplex real time PCR test was successfully optimized for annealing temperature, concentration of primer both forward and reverse, probes concentration and inhibitor. Limit detection of the DNA Chlamydia pneumoniae, Legionella pneumophila and Mycoplasma pneumaniae were 1855 copies, 3185 copies and 130 copies DNA. This test also showed no cross reaction to microorganisms that have potential to cause false positives. A total of 134 sputum clinical specimens have been tested with this method and only one sample (0,74%) was positive M.pneumoniae.
Conclusion: The multiplex real time PCR assay can detect C. pneumoniae, M. pneumoniae, and L. pneumophila simultanously in sputum of patients with Community Acquired Pneumonia (CAP)"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library