Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 36 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Pohan, Herdiman Theodorus
"Tetanus merupakan infeksi oleh C.tetani yang menjadi masalah kesehatan penting di negara-negara berkembang. Perjalanan penyakitnya biasanya lama, memerlukan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk perawatan hingga sembuh. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menentukan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap prognosis tetanus. Faktor tersebut adalah derajat spasme, usia, sedasi dan takikardia yang berpengaruh signifikan terhadap mortalitas pasien tetanus. Bila pasien tetanus dapat melewati fase akut penyakitnya, masalah lain timbul seperti disfungsi otonom dan pneumonia nosokomial (sering disebabkan oleh organisme multiresisten) sebagai penyebab tersering kematian. Laporan kasus berikut menampilkan 6 kasus tetanus, tiga di antaranya mengalami pneumonia nosokomial, dan dua di antara tiga pasien tersebut geriatri berusia 70 dan 72 tahun meninggal saat di rumah sakit. (Med J Indones 2004; 14: 117-21)

Tetanus, an infection by C.tetani continues to be a major health problem in the developing world. The course of the disease is typically prolonged, requiring weeks to months of supportive management to resolve. Several studies have been conducted to determine which factor/s really influenced the outcome of tetanus. Factors such as severity of spasms, age, sedation and tachycardia were found to significantly influence mortality. Patients now surviving the initial acute phase of their illness, but new problems have emerged autonomic dysfunction and hospital acquired pneumonia (often with multiresistant organisms) are now the commonest causes of death. This serial cases report presents six selected cases of tetanus, three patients acquired secondary pneumonia during treatment, among the three, two patients are elderly age 70 and 72 years old. Both of the presented patients died during treatment in the hospital. (Med J Indones 2004; 14: 117-21)"
Medical Journal of Indonesia, 2005
MJIN-14-2-AprJun2005-117
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Yuri Ekaningrum
"Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan suatu masalah multifaktor yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan otak anak sehingga menyebabkan penurunan kecerdasan. Selain itu, BBLR berdampak serius terhadap kejadian morbiditas dan mortalitas perinatal di Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi BBLR adalah komplikasi kehamilan yang mengganggu kesehatan ibu dan janinnya. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan pendekatan observasional analitik. Penelitian ini menggunakan data sekunder SDKI 2012 dengan teknik penarikan sampel cluster sampling tiga tahap. Sampel yang diambil berjumlah 13.143 responden dengan 1.611 responden memiliki BBLR dan 11.532 bayi BBLN.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu, status sosial ekonomi, jarak kelahiran, jenis kelamin bayi, tenaga pemeriksaan kehamilan, dan kualitas pelayanan antenatal dengan BBLR. Ibu yang mengalami komplikasi kehamilan 1,78 kali lebih tinggi berisiko untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami komplikasi kehamilan.

Low birth weight (LBW) is a multifactor problem affect brain growth and development in children so that cause intelligence degradation. Beside that, LBW affects seriously towards perinatal morbidity and mortality in Indonesia. One factor that affect LBW is pregnancy complication that disturb mother and fetus health. Research design that is used is cross sectional with analitical observational approach. This research uses secondary data IDHS 2012 with cluster sampling three stage technique. Sample total is 13.143 respondents that 1.611 respondents have LBW babies and 11.532 respondents have normal weight babies.
Research result shows that there are association between educational attainment, social economic status, birth interval, sex of babies, prenatal care worker, and quality of antenatal care with LBW. Mother who sustain pregnancy complication has risk 1,78 times higher than mother who does not sustain pregnancy complication.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
S54358
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sakti Oktaria Batubara
"CAPD merupakan suatu tehnik dialisis dengan menggunakan membran peritoneum sebagai membran dialisis yang memisahkan dialisat dalam rongga peritoneum dan plasma darah dalam pembuluh darah peritoneum. Berbagai komplikasi dapat timbul pada penanganan CAPD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko terjadinya komplikasi CAPD.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah 130 pasien CAPD di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang dipilih dengan cara purposive sampling.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap prosedur standar ( p = 0,019) dan higienitas saat penggantian cairan dialisat (p = 0,013) memiliki hubungan yang bermakna dengan komplikasi CAPD. Pasien dengan higienitas kurang baik saat mengganti cairan dialisat berisiko untuk mengalami komplikasi CAPD 3,82 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang higienitasnya baik setelah dikontrol oleh variabel kepatuhan terhadap prosedur standar CAPD.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu dilakukan evaluasi berkala terhadap kemampuan perawatan CAPD dirumah.

CAPD is a dialysis technique using peritoneal membran as a dialysis membrane that separate the dialysate in the peritoneal cavity and blood plasma in the blood peritonium vessels. This study aimed to identify the risk factors of complications on CAPD.
The study used a descriptive design with cross sectional analytic. The population in this study was 130 CAPD patients in hospitals RSUD Dr. Moewardi Surakarda and RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, selected by using purposive sampling.
The results of the study indicated that adherence to standard procedures (p = 0.019) and hygiene during the dialysate fluid replacement (p = 0.013) had a significant association with complications of CAPD. The patients with poor hygiene during dialysat replacement had a risk for experiencing complication of CAPD at about 3.82 times greater than patients who had good hygiene when controlled by variable of adherence to standard procedures CAPD.
The recommendation of this study was the necessity of conducting periodic evaluation of the patient?s ability of CAPD treatment at home.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ira Dhirayati Sudarmadji
"ABSTRAK
Tujuan utama suatu pembedahan katarak adalah untuk mengembalikan penglihatan penderita seoptimal mungkin. Dengan berkembangnya teknik bedah mikro katarak serta makin majunya cara-cara mengatasi komplikasi bedah katarak, maka komplikasi pembedahan sudah banyak berkurang, sehingga perhatian para ahli bedah katarak mulai beralih pada masalah kelainan refraksi yang ditimbulkan pasca bedah.

Kelainan refraksi yang seringkali terjadi pasca bedah katarak adalah timbulnya astigmatisme yang tinggi sehingga rehabilitasi penglihatan pada mata afakia dengan kaca mata atau lensa kontak tidak dapat secepatnya terpenuhi.

Jaffe (1984) telah menjabarkan patofisiologi dan faktor-faktor penyebab astigmatisme pasca bedah katarak. Namun tetap terdapat kesulitan untuk mengurangi astigmatisme pasca bedah karena kurangnya pengetahuan bagaimana kurvatura kornea berubah dengan berselangnya waktu. Rowan dan Thygeson (dikutip dari 2) mendapatkan rata-rata pengurangan astigmatisme sebesar 2.5 Dioptri pada 79 penderita 6 minggu pasca bedah katarak, namun hubungan antara astigmatisme anal pasca bedah dan astigmatisme akhir sulit dicari. Disebutkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kurvatura kornea pada bedah katarak, di antaranya: (a) letak, luas dan bentuk insisi katarak, (b) jenis benang penutup luka dan (e) teknik penjahitan luka katarak (1-9).

Reading (1964) menganalisa besar dan lama perubahan kurvatura kornea pada kasus EKIK dengan insisi katarak yang besar dan kecil, yang dijahit dengan jahitan terputus. Dikatakan bahwa perubahan klasik astigmatisme pasca bedah berupa memendeknya radius kurvatura horisontal dan memanjangnya radius kurvatura vertikal terjadi pada 6.5% segera pasca bedah dan 42.3% pada bulan pertama pasca bedah. Perubahan rata-rata radius kurvatura horisontal pada penderita dengan insisi katarak yang besar berbeda bermakna antara pra bedah dan pasca bedah terutama pada bulan pertama. Singh dan Kumar (1976) meneliti perubahan keratometrik pasca bedah katarak yang dijahit dengan jahitan preplaced dan postplaced. Dikatakan bahwa pada minggu ke enam, hampir seluruh kasus mengalami perubahan berupa pendataran kurvatura terpendek dan pencembungan kurvatura terpanjang, serta astigmatisme yang terjadi dalam waktu tersebut kebanyakan mengarah ke astigmatisme yang tidak lazim.

Faktor teknik penjahitan luka katarak mempunyai mempunyai peranan yang berarti terhadap terjadinya perubahan kurvatura kornea pasca bedah. Aposisi luka yang baik setelah penjahitan akan mempercepat proses penyembuhan sehingga diharapkan kurvatura kornea tidak banyak berubah lagi. Beberapa teknik penjahitan luka katarak telah diperkenalkan oleh para ahli bedah mata, di antaranya penjahitan secara terputus (interrupted) dan jelujur (continuous). Jahitan jelujur dapat satu arah atau bolak-balik (jahitan tali sepatu) (1). Masingmasing cara penjahitan ini mempunyai keunggulan dan kerugian.

Teknik penjahitan terputus merupakan cara penjahitan yang sering dipakai karena teknik ini cukup mudah, kemungkinan penyebaran infeksi ke sepanjang luka kecil serta bila satu simpul terputus atau longgar, tidak akan segera menyebabkan terbukanya seluruh luka (10). Namun usaha untuk mengurangi perubahan kurvatura kornea dengan penjahitan seperti ini lebih sulit dilakukan karena kekuatan masing-masing jahitan seringkali berbeda pada tiap meridian kornea (8).

"
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yorva Sayoeti
"ABSTRAK
Mastoiditis masih dipandang sebagai penyakit yang serius karena setiap saat dapat mengancam kehidupan penderita atau penyakit yang berpotensi menyebabkan kematian (Rosen dkk., 1986). Ancaman kehidupan tersebut disebabkan karena timbulnya komplikasi, terutama komplikasi intrakranial seperti meningitis, abses otak, abses subdural, trombosis sinus lateral dan lain-lain.
Dalam kepustakaan negara maju dikatakan kejadian mastoiditis disertai komplikasi sampai saat ini telah banyak menurun sejak dimulainya penggunaan antibiotika pada pengobatan otitis media sebagai penyakit awal mastoiditis (Zoller dkk., 1972; Ginsburg dkk., 1980; Hawkins dan Dru, 1983; Ogle dan Lauer, 1986). Di negara berkembang mastoiditis dengan komplikasi intrakranial masih merupakan masalah yang berkepanjangan seperti yang dilaporkan oleh Samuel dkk. (1986). Dari 334 penderita mastoiditis dengan komplikasi, 224 di antaranya dengan komplikasi intrakranial, terutama terjadi pada anak dan dewasa muda (74%), dengan angka kematian seluruhnya 14%. Selain itu mastoiditis juga menyebabkan kerugian karena dapat menyebabkan cacat pendengaran yang mengganggu masa depan pendidikan maupun pekerjaan penderita (Djaafar, 1980).
Mengingat bahaya dan kerugian yang ditimbulkan mastoiditis seperti di atas, maka untuk mengetahui bagaimana aspek mastoiditis pada anak, khususnya di RSCM/FKUI Jakarta, dilakukan penelitian ini. Hal ini penting karena merupakan tantangan dan tanggung jawab kita sebagai dokter dalam usaha penanggulangan dan pencegahan mastoiditis pada anak."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1989
T58517
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lies Luthariana
"Pyogenic liver abscess may have serious complications that need specific management. We reported a case of a young male patient aged 24 years old and complained of abdominal enlargement since 2 (two) weeks before. Abdominal ultrasound revealed multiple liver abscesses. Liver aspiration was performed and about 500 cc of yellowish purulent fluid was drained. During hospitalization the symptoms of fever and shortness of breath were getting worse although adequate antibiotic treatment had been given. Chest X-ray examination showed elevated right hemidiaphragm and right pleural effusion. Thoracocentesis and proof puncture showed purulent fluid. He was diagnosed with empyema as a complication of pyogenie liver abscess. Water Sealed Drainage (WSD) was performed to evacuate the fluid and he was given antibiotics. The patient's condition improved in several days."
2005
IJGH-6-1-April2005-22
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Umar Zein
"Traveler's Malaria is a new emerging health problem in the whole world due to (I) increasing inability of international travelers and (2) recurrence of diseases in areas that was once, partially or fully freed from the disease.
We report 2 cases of severe traveler's malaria found in a man from Greece and a man from the Philippines aged 54 tears. Both patients were ship captains. They have stayed in Kenya prior to the catching the disease. In the first case, we found acute kidney failure with anuria and lung edema, pneumonia, and a progressive decline in hemoglobin concentration. In the second cases we found reduced consciousness, disorder of liver function with jaundice, disorder of kidney function, bleeding from the upper digestive tract, pneumonia, severe anemia, and signs of DIC (Disseminated Intra-va.icttlar Coagulation). The second patient was admitted to the ICU( Intensive Care Unit). Peripheral blood smears found ring forms and growing Plasmodiumfalc.iparum trophozoits. Both cases were assumed to be resistant to Chloroquine and Fansidar. Both of them were treated with oral Quinine Sulphate {we could hardly find Quinine injection in Medan), With such treatment for seven days, we found significant clinical and laboratory improvements. Asexual parasites were no longer found in the peripheral blood smear. During the hospitalization, both patients required Packed Red Cell (blood) transfusion to overcome the progressive drop in hemoglobin level. With the disappearance of the parasites from the patients' blood, the disorders of the organs mentioned above, gradually became normal. The conditions of the patients also showed satisfactory improvement."
2002
AMIN-XXXIV-3-JuliSep2002-111
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Asti Melani Astari
"Tingginya angka kematian ibu masih menjadi masalah yang kompleks, dikarenakan adanya faktor yang melatarbelakangi kematian ibu yaitu terjadinya tiga keterlambatan. Dan salah satunya adalah keterlambatan di tingkat keluarga dalam mengenali tanda bahaya, dan membuat keputusan untuk segera mencari pertolongan. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran serta keluarga, terutama suami terhadap kesehatan maternal dan bagaimana pola pengambilan keputusan dalam keluarga terkait dengan komplikasi perinatal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Jumlah partisipan enam pasang suarni istri yang berada di Desa Bojongherang Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur dengan berbagai pengalaman yang terkait dengan komplikasi perinatal. Hasil wawancara pada enam pasang partisipan didapatkan informasi bahwa pengambil keputusan dalam keluarga umunnnya adalah suami, kecuali pada partisipan istri yang bekerja, istri mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan. Proses pengambilan keputusan pada keenam pasang partisipan umumnya secara musyawarah. Meski hanya pada keluarga dengan istri bekerja keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama. Sedangkan yang lainnya pengambilan keputusan dikembalikan pada pihak suami. Faktor yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan komplikasi perinatal, adalah faktor sosioekonomi dan kepemilikan askes serta pengetahuan keluarga akan komplikasi perinatal. Faktor lain yang berpengaruh namun tidak terlalu dominan, yaitu status perempuan, pendidikan, dan budaya. Pengambilan keputusan yang tepat dan cepat diperlukan bila terkait dengan komplikasi perinatal karena dampak dari keterlambatan yang terjadi dapat mengakibatkan kematian baik maternal maupun perinatal. Perawat maternitas, hendaknya mengantisipasi berbagai faktor yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dalam keluarga, yang terkait dengan komplikasi perinatal terutama dalam hal edukasi yang akan menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang tanda dan bahaya terjadinya komplikasi. Sehingga tercapainya tujuan utama seorang perawat maternitas terhadap kesehatan maternal, yaitu dapat menjaga kesehatan keluarga tetap optimal untuk meyakinkan siklus yang optimal pada fase childbearing dan childbearing.

The high number of maternal mortality rate caused by 3 complex problems. One of those problems was delay identification by the family on the risk factors of the maternal and makes decision in seeking help related to their problem. The goal of this study was to identify how the family involvement role, especially their husband, to the maternal health and how the decision making pattern in the family, related to the prenatal complication. This study is qualitative research using phenomenology approach. The number of participant iii this study were six couples husband and wife who live in Bojongherang, Cianjur, west lava. The findings were identified that most of the decision maker in the family were the husbands, except those wife who are the carrier woman. In general, the process of decision making start with discussion from both husband and wife before the decision making is made. Some other is decided by their husband instead. The most influenced factors to the decision making process were socio-economic, accessibility to the health insurance and the family knowledge on the prenatal complications. The other less influenced factors were gender, educational background and cultural background. The proper and the exact time of decision making are needed in order to prevent the risk to the pregnant mother and their fetus. Therefore, the maternity nurse should anticipate factors that may give influence to the decision making in the family, especially those related to the prenatal complication, by educating people on recognizing the sign & symptom of early prenatal complication. As a result, the main goal of maternity nursing in maintaining the optimum level of family health can be achieved includes in ensuring the optimum cycle in the stage of childbearing and childrearing."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2005
T18396
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Astri Kusumaningrum
"Skripsi ini membahas frekuensi distribusi komplikasi pasca ekstraksi edema dan dry socket pada pasien usia 17-76 tahun di RSGM-P FKG UI periode Januari 2003- Oktober 2008. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat retrospektif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa komplikasi pasca ekstraksi gigi berupa tidak ditemukan. Tetapi, komplikasi pasca kstraksi berupa dry socket paling banyak ditemukan pada pasien berjenis kelamin wanita yang menggunakan teknik kstraksi sederhana dan banyak ditemukan setelah dilakukan pencabutan gigi posterior.

The focus of this study is the distribution and frequency of implication post tooth extraction (swelling and dry socket) in patient with age 17-76 years old in RSGM-P FKG UI periode of januari 2003-oktober 2008. This research is a uantitative and retrospective research with descriptive design. The result prove that swelling after tooth extraction was not found. But dry socket post toth extraction were found in women by using the simple technique of tooth extraction, and mostly found after posterior tooth extraction."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>