Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
Juwita Anindya
"Hampir semua orang tahu Barbie, sebuah boneka yang menunjukkan nilai-nilai budaya dan konsep kecantikan wanita. Bagaimanapun, Barbie hanya merepresetasikan satu budaya yang spesifik, yakni budaya kebaratan. Berbeda dengan budaya kebaratan, budaya ketimuran juga membutuhkan sebuah boneka yang dapat merepresentasikan budayanya. Kemudian muncullah Fulla sebagai representasi kecantikan budaya ketimuran. Fulla menunjukkan nilai-nilai budaya ketimuran serta konsep kecantikan baru yang berbeda dengan Barbie. Kemunculan Fulla memang dapat mempertegas perbedaan yang ada antara budaya kebaratan dan ketimuran, namun ia dapat memberi pilihan lain untuk membentuk pola pikir masyarakat mengenai adanya kecantikan budaya ketimuran. Dengan menggunakan teori Orientalisme Said penulis berharap dapat terbantu untuk mendukung argumen-argumen mengenai budaya ketimuran yang dapat menjadi kompetitor yang sama kuat dengan budaya kebaratan di masa sekarang ini.
Most people know Barbie, a doll that conveys some values about culture and about the concept of women?s beauty. However, Barbie only represents one specific culture, which is Western culture. Different with Western culture, Eastern culture needs a doll who can represent their values. Then, Fulla appears as the representative of Eastern beauty. Fulla conveys some values about Eastern culture and about the new concept of women?s beauty which are different from Barbie. Fulla?s appearance here is thought can emphasize the cultural differences among the society, but it can give another choice to shape people?s new thought about the beauty of Eastern culture. Using Said?s orientalism will help the writer to support the arguments about Eastern culture that can be an equal competitor to Western culture nowadays."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Fahira Afifah Nabila
"Rasa tidak puas terhadap penampilan fisik (body dissatisfaction) terjadi saat para remaja perempuan menyadari bahwa penampilan fisik mereka tidak sesuai dengan konsepsi kecantikan ideal yang telah mereka miliki sejak awal. Konsepsi kecantikan ideal menjadi penyebab remaja perempuan terus menerus mengevaluasi serta membandingkan penampilan fisik mereka dengan penampilan orang lain yang mereka anggap sesuai dengan konsepsi mereka mengenai kecantikan ideal. Penelitian ini melibatkan remaja perempuan berusia 19 hingga 21 tahun yang berupaya mencari cara untuk mengatasi rasa tidak puas (body dissatisfaction) tersebut melalui penggunaan kosmetik. Dalam penelitian ini, kosmetik merupakan aksesoris (adornments) yang digunakan oleh remaja perempuan dalam rangka memperoleh penampilan fisik yang sesuai dengan konsepsi kecantikan ideal mereka. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa penggunaan kosmetik mampu mengubah rasa tidak puas terhadap penampilan fisik (body dissatisfaction) yang dialami remaja perempuan menjadi rasa puas (body satisfaction), serta menunjukkan bahwa rasa percaya diri (self-esteem) turut meningkat akibat perasaan dan pengalaman positif yang dihasilkan oleh rasa puas terhadap penampilan fisik (body satisfaction).
Body dissatisfaction occurs when adolescent girls start to become aware that their physical appearances are not in line with their concept of beauty ideals. The concept of beauty ideals is the reason why adolescent girls are constantly showing negative evaluations of their physical appearances and comparing themselves to others whose appearances are in line with their concept of beauty ideals. This study involves adolescent girls aged 19 to 21 years old who are trying to find ways to overcome their body dissatisfaction with the help of cosmetics. In this study, cosmetics are deemed to be an adornment used by adolescent girls to achieve their desired physical appearance. The result of this study shows that the use of cosmetics can help adolescent girls to overcome their body dissatisfaction and feel satisfied with their physical appearances. This study also shows that the self-esteem of adolescent girls simultaneously increases due to the positive feelings and experiences caused by their body satisfaction."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library