Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurian Satya Wardana
"ABSTRAK
Kebutuhan akan pendingin ruangan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, peningkatan penggunaan pendingin ruangan secara serentak berpotensi menyebabkan fluktuasi pada sistem tenaga listrik dan pada kejadian yang ekstrem dapat menyebabkan pemadaman listrik. Selain itu, tingginya pemakaian listrik dari pendingin ruangan meningkatkan potensi pemborosan listrik jika penggunaan pendingin ruangan tidak dikendalikan dengan baik. Dengan demikian kemampuan untuk dapat mengendalikan pendingin ruangan merupakan satu subyek yang signifikan baik bagi konsumen maupun bagi perusahaan utilitas tenaga listrik. Pada beberapa negara maju, hal ini direalisasikan dengan suatu program yang disebut demand-side management. Kemajuan teknologi informasi dan semakin terjangkaunya biaya fabrikasi alat elektronik telah melahirkan konsep baru dalam pelaksanaan program demand-side management, yaitu dengan metode direct load control. Direct load control merupakan suatu mekanisme yang memungkinkan program demand-side management untuk berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan dari konsumen. Hal ini dilakukan dengan secara langsung mengendalikan peralatan listrik milik konsumen melalui internet atau jaringan komunikasi nirkabel lainnya.

ABSTRACT
Demand for air conditioning is rising at an unprecedented level. Sudden increase in air conditioning usage has a potential of destabilizing the power grid and at extreme condition can cause power outages. High consumption of electricity from air conditioners increases the potential for waste electricity if the use of air conditioning is not controlled properly. Ability to control air conditioning is therefore a very significant subject for both the eletric power utility and electric power consumer. In some developed countries, this is realized by a program called demand-side management. The progress of information technology and the increasing affordability of the cost of fabricating electronic devices have given rise to new concepts in the implementation of demand-side management programs, namely the direct load control method. Direct load control is a mechanism that allows demand-side management programs to run automatically without interference from consumers. This is done by directly controlling consumer electricity equipment through the internet or other wireless communication networks.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ignatius Rendroyoko
"ABSTRACT
Suplai tenaga listrik pada sistem tenaga mikrogrid seringkali menghadapi keterbatasan Skapasitas pasokan listrik. Selain menambah kapasitas pembangkit listrik, usaha untuk menyediakan daya yang cukup dalam sistem tenaga listrik mikrogrid dapat dilakukan dengan cara mengendalikan beban listrik. Program pengelolaan sisi permintaan (DSM) dapat dilakukan untuk mengatur konsumsi energi dan membatasi beban puncak. Demand response (DR), sebagai salah satu program DSM, dapat diimplementasikan untuk mengatur beban listrik untuk menyeimbangkan suplai dan permintaan. Demand response khusus untuk pelanggan rumah tangga adalah program yang bertujuan untuk mengurangi beban puncak dengan menggeser permintaan tenaga listrik perumahan. Metode pengurangan beban ini telah digunakan untuk mengendalikan beban puncak agar dapat menyesuaikan dengan kondisi pembangkitan. Tulisan ini menampilkan studi literatur tentang implementasi demand response untuk pelanggan rumah tangga. Studi ini menggunakan asumsi bahwa mayoritas beban listrik pada sistem microgrid adalah pelanggan rumah tangga. Diharapkan keseimbangan antara suplai dan permintaan tenaga listrik di sistem mikrogrid dapat dicapai melalui aktivitas demand response pelanggan rumah tangga. Pada tulisan ini, tinjauan terhadap metode demand response yang efektif dilakukan untuk mengatur secara tepat dan akurat penggunaan listrik oleh pelanggan rumah tangga untuk membatasi beban puncak dan mengendalikan konsumsi energi listrik. Pada bagian akhir, tulisan ini juga membahas kemungkinan penerapan metode demand response bagi pelanggan rumah tangga pada sistem mikrogrid.
"
Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan PT. PLN, 2017
621 JEK 1:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"This book focuses on the integration of air conditioning and heating as a form of demand response into modern power system operation and planning. It presents an in-depth study on air conditioner aggregation, and examines various models of air conditioner aggregation and corresponding control methods in detail. Moreover, the book offers a comprehensive and systematic treatment of incorporating flexible heating demand into integrated energy systems, making it particularly well suited for readers who are interested in learning about methods and solutions for demand response in smart grids. It offers a valuable resource for researchers, engineers, and graduate students in the fields of electrical and electronic engineering, control engineering, and computer engineering."
Singapore: Springer Nature, 2019
e20509055
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Michael Octora
"Indonesia telah menetapkan target bauran Energi Barn dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Namun, hingga akhir tahun 2024, capaian aktual barn mencapai sekitar 14, 7%. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan dan perlunya percepatan dalam upaya transisi energi nasional, salah satunya melalui optimalisasi pemanfaatan energi surya. Sistem PL TS atap dan baterai rumah tangga memiliki potensi yang signifikan dalam mendukung pencapaian target tersebut. Akan tetapi, adopsinya masih terbatas akibat regulasi yang belum akomodatif serta belum tersedianya skema tarif ekspor energi yang memberikan insentif memadai bagi prosumer. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana teknologi baterai saat ini memungkinkan ekspor energi ke jaringan secara fleksibel, termasuk pada malam hari, serta menganalisis keekonomian sistem PL TS dan baterai rumah tangga. Selain itu, penelitian ini mengkaji peningkatan partisipasi masyarakat melalui penerapan skema layananjaringan berbasis permintaan seperti Demand Response (DR) dan Virtual Power Plant (VPP), yang dirancang agar tetap relevan dalam sistem kelistrikan yang terintegrasi secara vertikal. Metode yang digunakan terdiri atas dua tahap utama, yaitu pengukuran langsung sistem PLTS dan baterai menggunakan Eco Wall untuk memperoleh parameter teknis aktual, serta simulasi berbasis perangkat lunak HOMER Grid guna membandingkan beberapa skenario ekonomi, termasuk skema dasar, skema ekspor, skema ekspor + Waktu Behan Puncak (WBP), serta skema ekspor + WBP + VPP dengan memperhitungkan DR untuk semua skema. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skema ekspor + WBP + VPP memberikan performa terbaik, dengan LCOE sebesar Rpl.292/k:Wh (lebih rendah dari tarif dasar listrik saat ini di Rp.1444,7/k:Wh, CAPEX Rp75 juta, serta penghematan tagihan listrik mencapai Rp9,08 juta per tahun. Tambahan penghematan dari pengurangan be ban puncak mencapai Rp63 .460 per tahun, dan penghematan energi sebesar Rp9,02 juta per tahun. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa dengan skema tarif yang menarik dan melibatkan pro sumer berbasis rumah tangga merupakan solusi teknis dan ekonomis yang layak untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam mendukung sistem kelistrikan nasional. Desain insentif ekspor berbasis waktu dan kebutuhanjaringan menjadi elemen kunci keberhasilan implementasi skema ini.

Indonesia has set a national target to achieve a 23% renewable energy share (EBT) by 2025. However, by the end of 2024, the actual achievement had only reached approximately 14.7%. This gap highlights the urgent need to accelerate the energy transition, particularly through the optimization of solar energy utilization. Rooftop solar PV (PLTS) and residential battery systems have significant potential to contribute to this target. Nevertheless, adoption remains limited due to unaccommodating regulations and the absence of export tariff schemes that offer adequate incentives for prosumers. This study aims to evaluate the extent to which current battery technologies enable flexible electricity export to the grid, including during evening peak periods, and to analyze the techno-economic viability of rooftop PV and battery systems at the residential scale. Furthermore, the study investigates how public participation can be enhanced through the implementation of demand-side grid service programs such as Demand Response (DR) and Virtual Power Plants (VPP), tailored to remain relevant within a vertically integrated power system. The methodology consists of two main stages: direct measurement of a residential PV and battery system using EcoWall to obtain actual technical parameters, and simulation using HOMER Grid software to compare several economic scenarios. These include a baseline case, an export-only scheme, an export+ Time-of-Use (peakhour) scheme, and an export+ ToU + VPP scheme, all incorporating DR mechanisms. Simulation results indicate that the export + ToU + VPP scenario yields the best performance, with an LCOE of Rpl,292/k:Wh (lower than the current basic electricity tariff ofRpl,444.7/k:Wh), a CAPEX ofRp75 million, and annual electricity bill savings of Rp9.08 million. Additional savings from demand charge reductions reach Rp63,460 per year, while energy charge savings total Rp9.02 million per year. These findings indicate that a well-designed tariff scheme that includes household-based prosumers represents a viable technical and economic solution to enhance community participation in supporting the national electricity system. Time-based and grid-responsive incentive structures are key to the success of such implementations."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library