Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Teffy Aulia Merry Dame
"Latar belakang: GPK adalah gangguan neurodevelopmental yang dikarakteristikkan dengan gangguan performa motorik dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang tidak konsisten dengan usia dan intelegensi anak. Penyandang GPK juga memiliki gangguan keseimbangan selain gangguan motorik kasar dan halus yang memiliki ciri khas berupa kesulitan dalam proses pembelajaran motorik, sehingga akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam prosesnya. Akibat gangguan yang dimilikinya, anak dengan GPK cenderung melakukan isolasi dan restriksi dari beragam aktivitas fisik yang apabila tidak dikoreksi dapat memberikan defisit di bidang lainnya seperti akademis, perawatan diri bahkan mental yang akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hidup anak. Gangguan ini dapat menetap hingga dewasa namun apabila diberikan intervensi dapat memberikan keluaran yang lebih baik dalam performa motorik anak, sehingga sebuah intervensi penting untuk diberikan. Penyandang GPK memiliki defisit mulai dari gerakan yang diinisiasi diri, gangguan motorik prefungsional, Kemampuan kontrol motoric dan performa motorik serta keterampilan motorik yang akhirnya mempengaruhi fungsi motoric adaptifnya, dalam hal ini bermain. Sementara engklek sendiri berperan dalam fungsi motorik adaptif yaitu bermain bersama dalam komunitas, yang aktivitasnya meliputi lompat,lempar dan berbalik, yang dengan pelatihan dapat meningkatkan fungsi koordinasi serta keseimbangan dan tidak lupa peningkatan motivasi bergerak serta memenuhi unsur praktek berulang.
Metode: Penelitian ini merupakan studi intervensi dengan consecutive sampling pada 18 orang anak sekolah dasar berusia 6-12 tahun dengan GPK yang memiliki skor motorik pada zona merah berdasarkan penilaian dengan Movement Assessment Battery for Children-2. Intervensi yang diberikan berupa latihan engklek sebanyak 2x/minggu sebanyak 10 kali putaran selama 6 minggu.
Hasil: Dari hasil penilaian skor pada awal, minggu ketiga dan akhir penelitian didapatkan peningkatan fungsi keseimbangan, namun hasilnya tidak signifikan secara statistik. Tidak signifikannya perbaikan ini dapat didasari oleh dasar mekanisme pada GPK yaitu kesulitan dalam proses pembelajaran motorik itu sendiri. Dalam penelitian ini, tiap anak hanya mendapatkan 120x momen permainan engklek total yang setara dengan 520 kali pengulangan lompat dengan satu kaki. Sehingga,penyandang GPK perlu lebih banyak latihan untuk menyesuaikan dengan kondisinya
Kesimpulan: permainan tradisional engklek memberikan perbaikan skor keseimbangan pada anak dengan GPK yang tidak signifikan secara statistik.

DCD is a neurodevelopmental disorder characterized by motor performance problems in
daily activities that are inconsistent with the age and intelegency. Children with DCD also has a balance problem in addition to fine and gross motor problems with a characteristic of difficulty in the motor learning process, which can take a longer time in motor learning process. Due to his or her problems, child with DCD tends to make a self isolation and restriction to various physical activities. Uncorrected problems in DCD children leads to other areas deficits such as academic, self-care even mental problems that can eventually affect children quality of life. These disorders can remain to adulthood but when given the intervention can provide better output in children motor performance, so that an intervention is important to this condition. DCD children have a deficit ranging from self-initiated movements, prefunctional Motor disorders, motoric control capabilities and motor performance as well as motor skills that ultimately affect its adaptive motoric function like plays. While the Engklek itself plays a role in adaptive motor function like play together in the community, whose activities include jumping, throwing and turning, which with training can improve the function of coordination as well as balance and also increased motivation to moves and fulfill elements of repetitive practice.
Methods: This research is an intervention study with consecutive sampling in 18 elementary school children aged 6-12 years with DCD that has a motor score in the red zone based on the assessment with the Movement Assessment Battery for Children-2. The intervention given is 2x/week of Engklek training as much as 10 rounds for 6 weeks.
Results: Assessment was taken at baseline, third and final week of study which shows improved balance function, but the results were not statistically significant. This finding might because of the based on the basic mechanism of DCD i.e difficulty in the motor learning process itself. In this study, each child only gained 120x a total game moment
equivalent to 520 times the jump loop with one foot. Thus, DCD child needs more exercise to adjust to its condition.
Conclusion: Engklek traditional game usually provide balance function score improvement in children with DCD but not statistically significant.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dianty Azzhari Maulida
"Developmental Coordination Disorder (DCD) merupakan merupakan gangguan neurodevelopmental yang ditandai oleh kemampuan koordinasi motorik yang kurang baik dan kesulitan dalam mengembangkan kemampuan motorik. Kemampuan motorik mencakup gross motor dan juga fine motor. Kemampuan motorik merupakan performance skill yang sangat diperlukan dalam occupational performance setiap individu. Senam Irama merupakan salah satu pengaruh yang dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan kemampuan motorik. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode One Group Pretest-Posttest Design. Subjek diambil dari siswa/i TK berusia 5-6 tahun yang terindikasi atau suspek DCD berdasarkan hasil Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ). Semua subjek menjalani pemeriksaan Bruininks Oseretsky Test-2 (BOT-2). Intervensi ini dilakukan selama 12 kali sesi terapi dengan subjek penelitian berjumlah 20 orang. Peningkatan kemampuan motorik diukur menggunakan Bruininks Oseretsky Test-2 (BOT-2) dan terdapat perbedaan signifikan terhadap kemampuan motorik anak dengan DCD sebelum dan sesudah pelaksanaan intervensi senam irama dengan nilai p-value 0,003. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari intervensi yang dilakukan terhadap kemampuan motorik anak dengan DCD.

Developmental Coordination Disorder (DCD) is a neurodevelopmental disorder characterized by poor motor coordination and difficulties in developing motor skills. Motor skills include both gross motor and fine motor abilities. Motor skills are essential performance skills required for the occupational performance of every individual. Rhythmic gymnastics is one of the factors that can influence the development of motor abilities. This study is a quantitative study using the One Group Pretest-Posttest Design method. The subjects were kindergarten students aged 5-6 years who were identified or suspected of having DCD based on the results of the Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ). All subjects underwent an assessment using the Bruininks-Oseretsky Test-2 (BOT-2). The intervention was conducted over 12 therapy sessions with a total of 20 study participants. The improvement in motor skills was measured using the Bruininks-Oseretsky Test-2 (BOT-2), and a significant difference was found in the motor skills of children with DCD before and after rhythmic gymnastic intervention, with a p-value 0,003. Further research is needed to evaluate the long-term effectiveness of the intervention on motor skills of children with DCD."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amanda Soebadi
"Developmental coordination disorder DCD merupakan gangguan koordinasi motorik yang mengganggu prestasi akademik dan kegiatan olahraga. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai diagnostik neurological soft signs NSS dalam mendiagnosis DCD. Subjek terdiri atas 86 anak usia sekolah dasar suspek DCD dan 20 subjek kontrol. Semua subjek menjalani pemeriksaan fisis dan neurologis, anamnesis riwayat perkembangan, prestasi akademik, kesulitan menulis atau olahraga, screen time, dan aktivitas fisis, pemeriksaan antropometri, pemeriksaan NSS, serta pemeriksaan baku Bruininks-Oseretsky Test 2 Short Form BOT-2 SF . Subjek dengan skor BOT-2 SF below average dan well below average didiagnosis DCD. Median usia subjek 10,05 rentang 6,3 sampai 12,5 tahun; 67 adalah lelaki. DCD ditemukan pada 28,3 subjek. Sebanyak 67 subjek memiliki ge;1 NSS positif dan 41,5 memiliki ge;2 positif. NSS berhubungan bermakna dengan DCD apabila ge;2 positif p=0,047 . Nilai cut-off NSS optimal adalah ge;2 positif, dengan sensitivitas 57 dan spesifisitas 64 [area under the curve 0,639 IK95 0,512-0,767 ; p=0,026]. Dengan nilai cut-off ge;4, pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 16,7 dan spesifisitas 99 . Pada 20 subjek DCD didapatkan komorbiditas neurodevelopmental lainnya. Sebagai simpulan, pemeriksaan NSS pada DCD merupakan pemeriksaan yang spesifik namun kurang sensitif. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk karakterisasi NSS pada komorbiditas yang dapat menyertai DCD.

Developmental coordination disorder DCD is a disorder of motor coordination impairing academic and sports performance. We aimed to determine the value of neurological soft signs NSS in diagnosing DCD. Subjects were 86 DCD suspected elementary school children and 20 controls. All underwent physical and neurological examination, interview on developmental and academic history, difficulties in writing or sports, screen time, and physical activity, anthropometric measurement, NSS examination, and the standardized Bruininks Oseretsky Test 2 Short Form BOT 2 SF . Below average and well below average BOT 2 SF scores were classified as DCD. Subjects rsquo median age was 10.05 range 6.3 to 12.5 years 67 were male. DCD was found in 28.3 of subjects. Sixty seven percent and 41.5 of subjects had ge 1 and ge 2 positive NSS, respectively. More than 2 positive NSS was significantly associated with DCD p 0.047 . The optimal NSS cut off value was ge 2 sensitivity 57 specificity 64 area under the curve 0.639 95 CI 0.512 0.767 p 0.026 . Using a cut off value of ge 4, NSS had a sensitivity and specificity of 16.7 and 99 , respectively. Neurodevelopmental comorbidities were found in 20 of DCD subjects. In conclusion, NSS is a specific, but less sensitive, diagnostic test for DCD. Further studies are needed to characterize NSS in comorbid conditions.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library