Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ridho Masruri Irsal
"Jakarta sebagai kota metropolitan memiliki kompleksitas permasalahan perkotaan salah satunya adalah bentuk kota yang tersebar dan mengakibatkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Kawasan transit oriented development (TOD) merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan meningkatkan kepadatan dan aksesibilitas antar destinasi serta mengintegrasikan moda transportasi umum. Artikel ini bertujuan untuk memprediksi kepadatan hunian yang belum dioptimalkan oleh pembangunan vertikal untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang di kawasan TOD Dukuh Atas melalui analisis spasial. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif melalui metode Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menganalisis kesesuaian lahan melalui teknik overlay, menghitung daya dukung lingkungan pada kawasan pemukiman, menganalisis indeks kepadatan bangunan menggunakan metode Normalized Difference Built-up Index (NDBI), dan mengekstraksi area padat dengan melapiskan data Floor Area Ratio (FAR). Berdasarkan hasil analisis kesesuaian, ditemukan adanya kawasan yang tidak sesuai sekitar 16,33% dari total luas kawasan TOD Dukuh Atas, terutama di bagian barat. Hasil perhitungan daya dukung lingkungan menunjukkan bahwa kawasan TOD Dukuh Atas masih dapat menampung 2,05 kali lipat dari jumlah penduduk saat ini. Untuk mengoptimalkannya kembali, dibuat alokasi area kepadatan hunian sesuai dengan FAR dalam Rencana Detail Tata Ruang Jakarta sehingga jumlah lantai maksimum dapat dicapai. Hasil perhitungan tersebut dapat menghasilkan prediksi kebutuhan hunian yang lebih detail dan konsisten dengan kondisi kawasan TOD di Dukuh Atas.

Jakarta, as a metropolitan city, has a complexity of urban problems, one of which is the shape of the city, which is spread out and results in people’s dependence on motorized vehicles. Transit-oriented development (TOD) areas are one alternative to solving these problems by increasing density and accessibility between destinations and integrating modes of public transportation. This article aims to predict the occupancy density that has not been optimized by vertical development to optimize the use of space in the Dukuh Atas TOD area through spatial analysis. This study uses quantitative analysis through the Geographic Information System (GIS) method by analyzing land suitability through overlay techniques, calculating environmental carrying capacity in residential areas, analyzing building density index using the Normalized Difference Built-up Index (NDBI) method, and extracting dense areas by superimposing on Floor Area Ratio (FAR) data. Based on the results of the conformity analysis, it was found that there were areas that were not suitable for approximately 16.33% of the total area of the Dukuh Atas TOD area, especially in the western part. The calculation of environmental carrying capacity results shows that the TOD area of Dukuh Atas can still accommodate 2.05 times the current population. To re-optimize it, an allocation of residential density area is generated following the FAR in Jakarta’s Detailed Spatial Plan so that the maximum number of floors can be achieved. The results of these calculations can produce predictions of residential needs that are more detailed and consistent with the conditions of the TOD area in Dukuh Atas."
Jakarta: Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amanda Yohanna
"Penelitian ini bertitik tolak dari hasil survei komuter Jabodetabek 2019 yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik yaitu sebesar 80,6% komuter berkegiatan utama bekerja. Hasil analisis faktor yang memengaruhi penglaju untuk menggunakan angkutan umum terintegrasi berdasarkan prioritas pada tahun 2021 di Jabodetabek adalah kenyamanan, keselamatan, keamanan, keterjangkauan, keteraturan, dan kesetaraan. Jakarta sebagai daerah tujuan komuter, perlu menyediakan fasilitas sosial dan umum sebagai kinerja konektivitas yang memenuhi aspek prioritas pengguna angkutan umum. Kawasan Dukuh Atas dengan sebagian besar sub-zona perkantoran dan sebagai daerah percontohan pengembangan Transit Oriented Development (TOD) tidak terlepas dari aspek fasilitas transit transfer yang memudahkan akses konektivitas. Sesuai dengan judulnya penelitian ini memiliki tujuan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menilai kesesuaian eksisting fasilitas transit transfer di kawasan Dukuh Atas dengan standar yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif menggunakan instrumen kuesioner online mengenai tingkat kepentingan kepuasan pengguna layanan terhadap fasilitas transit transfer di kawasan Dukuh Atas yang memuat moda Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta, Kereta Api Bandara (Railink), dan Kereta Komuter (Commuterline). Kesimpulan dari penelitian ini adalah saran prioritas perbaikan fasilitas transit transfer berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) dan indeks kepuasan pengguna layanan dengan metode Customer Satisfaction Index (CSI). Diperoleh indeks kepuasan pengguna layanan MRT Dukuh Atas, BRT Tosari, Kereta Api Bandara BNI City dengan kriteria “Puas” dan indeks kepuasan pengguna layanan KRL Sudirman dengan kriteria “Cukup Puas”.

Based on the findings of the 2019 Jabodetabek commuter survey conducted by Badan Pusat Statistik, which is 80.6% of commuters whose main activity is working. The results of the analysis of factors that influence commuters to use integrated public transportation based on priorities in 2021 in Jabodetabek are comfort, safety, security, affordability, regularity, and equality. As a commuter destination, Jakarta must provide social and public facilities as a connectivity performance that meets the priority aspects of public transport users. The Dukuh Atas area with most of the office sub-zones and as a pilot area for the concept Transit Oriented Development (TOD) is inseparable from the aspect of transit transfer facilities that facilitate connectivity access. As the title suggests, this research aims to identify, evaluate, and assess the suitability of the existing transfer transfer facilities in the Dukuh Atas area with the standards applicable in Indonesia. This study uses a quantitative approach using an online questionnaire instrument regarding the level of importance and satisfaction service of transit transfer facilities in the Dukuh Atas area which includes the Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta, Airport Train (Railink), and Commuterline. The conclusion of this research is the suggestion of priority for improvement of transit transfer facilities based on the calculation results using the Importance Performance Analysis (IPA) method and the service user satisfaction index using Customer Satisfaction Index (CSI) method. The satisfaction index of Dukuh Atas MRT, Tosari BRT, BNI City Airport Train users was obtained with the “Satisfied” criteria and the Sudirman Coummuterline service user satisfaction index with the “Quite Satisfied” criteria."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Abyan Raflipasya
"Transportasi umum di DKI Jakarta berperan penting sebagai fasilitas untuk masyarakat berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain. Pengembangan konsep TOD di kawasan Dukuh Atas harus diiringi dengan tingkat pelayanan penumpang yang baik agar masyarakat beralih dari menggunakan transportasi pribadi menjadi menggunakan transportasi umum. Stasiun Dukuh Atas merupakan tempat transit para penumpang yang berasal dari Jabodetabek. Selain itu, kawasan Stasiun Dukuh Atas ini merupakan tempat yang dikembangkan konsep Transiet Oriented Development. Untuk memaksimalkan TOD tersebut, dibutuhkannya fasilitas pejalan kaki yang baik. Tujuan penelitian untuk menganalisis tingkat pelayanan pejalan kaki, karakteristik, dan informasi penumpang pada kawasan Stasiun Dukuh Atas. Jenis penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Variabel bebas penelitian ini adalah waktu pejalan kaki dan dimensi trotoar. Variabel terikat penelitian ini adalah kecepatan, arus, kepadatan, ruang pejalan kaki, dan tingkat pelayanan. Metode pengumpulan data dengan cara survei lapangan untuk mengukur dimensi trotoar dan merekam pergerakan pejalan kaki selama 1 jam pada pagi hari dan 1 jam pada sore hari pada 3 lokasi, lalu dilanjutkan dengan perhitungan kecepatan dan jumlah pejalan kaki berdasarkan rekaman yang sudah didapat. Selanjutnya, dilakukan identifikasi terhadap informasi penumpang yang tersedia pada lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menghitung kecepatan pejalan kaki, arus, kepadatan, ruang pejalan kaki. Hasil penelitian ini adalah tingkat pelayanan pejalan kaki pada kawasan Stasiun Dukuh Atas. LOS atau tingkat pelayanan pejalan kaki pada segmen penelitian yang berada di kawasan Stasiun Dukuh Atas berdasarkan Permen PU 03/PRT/M/2014 dan HCM 2000 adalah LOS A dalam arus dan ruang. LOS pejalan kaki untuk kecepatan rata-rata berdasarkan Permen PU 03/PRT/M/2014 dan HCM2000 adalah LOS B hingga LOS D.

Public transportation in DKI Jakarta plays an important role as a facility for people to move from one place to another. The development of the TOD concept in the Dukuh Atas area must be accompanied by a good level of passenger service so that people switch from using private transportation to using public transportation. Dukuh Atas Station is a transit point for passengers from Jabodetabek. In addition, the Dukuh Atas Station area is a place where the Transit Oriented Development concept was developed. To maximize the TOD, good pedestrian facilities are needed. The purpose of the study was to analyze the level of pedestrian service, characteristics, and passenger information in the Dukuh Atas Station area. This type of research was conducted with a quantitative approach. The independent variables of this study were pedestrian time and pavement dimensions. The dependent variables of this study are speed, flow, density, pedestrian space, and level of service. The method of collecting data is by means of a field survey to measure the dimensions of the sidewalk and record pedestrian movements for 1 hour in the morning and 1 hour in the afternoon at 3 locations, then proceed with the calculation of the speed and number of pedestrians based on the recordings that have been obtained. Furthermore, identification of the passenger information available at the research location is carried out. Data processing is done by calculating pedestrian speed, flow, density, pedestrian space. The results of this study are the level of pedestrian service in the Dukuh Atas Station area. LOS or pedestrian service level in the research segment located in the Dukuh Atas Station area based on the Minister of Public Works Regulation 03/PRT/M/2014 and HCM 2000 is LOS A in flow and space. The pedestrian LOS for the average speed based on Permen PU 03/PRT/M/2014 and HCM2000 is LOS B to LOS D."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ivan Adwitiya
"DKI Jakarta mengalami hambatan ekonomi yang salah satu penyebabnya ialah kemacetan, hal ini mendorong pemerintah membangun TOD pertama di DKI Jakarta. TOD Dukuh Atas merupakan titik pertama yang sedang dikembangkan oleh pemerintah dimana pada keadaan eksisting terdapat 4 moda tranasportasi dan dalam masa pembangunan terdapat 1 moda yaitu LRT. Stasiun LRT Dukuh Atas terletak pada sebuah kawasan yang tidak terintegrasi dengan kawasan TOD Dukuh Atas eksisting, sehingga nantinya akan dibangun pula akses integrasi berupa Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM). Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti melakukan penelitian untuk menganalisis tingkat pelayanan pejalan kaki yang berada pada JPM Dukuh Atas. Penelitian ini menggunakan bantuan software PTV Viswalk dan didapatkan hasil simulasi LOS pejalan kaki akses transit pada Kawasan TOD Dukuh Atas berupa JPM Dukuh Atas, berdasarkan skenario 1 dan skenario 2 yaitu jumlah penumpang rangkaian LRT yang keluar dan masuk memiliki perbandingan 1:3 untuk skenario 1 dan banyaknya pejalan kaki yang keluar dan masuk memiliki perbandingan 1:1 untuk skenario 2 mendapatkan tingkat pelayanan yang sangat buruk pada beberapa area yaitu kelas F, sehingga memerlukan usulan perbaikan guna memperbaiki tingkat pelayanannya. Usulan 2 yang dianggap terbaik dimana hal ini dibuktikan dengan tingkat pelayanan pejalan kaki-nya mendapatkan kelas yang paling buruk kelas C dari seluruh akses yang ada pada JPM Dukuh Atas. Analisa tingkat pelayanan pejalan kaki menggunakan standar berdasarkan HCM yang diadaptasi dari penelitian John J Fruin.

DKI Jakarta is experiencing economic obstacles, one of which is congestion, this has prompted the government to build the first TOD in DKI Jakarta. TOD Dukuh Atas is the first area that is being developed by the government where in the current state there are 4 modes of transportation has been integrated and also the one in during construction is Dukuh Atas LRT Station. Dukuh Atas LRT Station is located in an area that has not been integrated with the existing Dukuh Atas TOD area, so that later integration access in the form of a Skybride that has multipurpose will be built. Based on these conditions, the researchers conducted a study to analyze the pedestrian level of service in the existing and ultimate areas. This study uses the help of software PTV Viswalk and the results of the LOS simulation for pedestrians transit access in the Dukuh Atas TOD Area in the form of the Dukuh Atas JPM, based on scenario 1 and scenario 2, namely the number of passengers on the LRT series that leaves and enters have a ratio of 1:3 for scenario 1 and scenario 2 the number of pedestrians going in and out has a ratio of 1:1 for scenario 2 getting a very bad level of service in several areas, that is LOS F, so that it requires a proposed improvement to improve the level of service. Proposal 2 which is considered the best, where this is evidenced by the level of pedestrian service, gets the worst LOS is LOS C from all existing accesses at JPM Dukuh Atas. The pedestrian service level analysis uses a standard based on HCM which is adapted from the research of John J Fruin."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisaa Aprilia Puspitasari
"Suatu ruang sosial terbentuk karena adanya tindakan sosial secara individual maupun beramai-ramai. Tindakan sosial ini kemudian berkontribusi dalam pemberian makna pada suatu ruang spasial dengan konteks penghidupan dan pemberian warna pada ruang dengan aktivitasnya. Produksi ruang merupakan sebuah ruang sebagai produk sosial yang kompleks melalui persepsi lingkungan yang dibangun atas dasar jaringan dengan berbagai aktivitas sosial seperti hidup secara pribadi, pekerjaan, dan waktu yang luang (Lefebvre, 1991). Third place atau ruang ketiga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melepaskan stres, membuang rasa penat, atau mengalihkan pikiran-pikiran agar mental dan fisik terasa lebih segar dari sebelumnya. Dalam proses produksi ruang sosial sebagai ruang ketiga, terdapat pelaku dalam ruang yang mendominasi sebagai pembentuk ruang sehingga terdapat sebuah interaksi sosial di dalamnya. Kawasan Dukuh Atas sebagai tempat berlangsungnya fenomena ini merupakan kawasan perkantoran atau tempat melakukan transit transportasi umum yang dialihfungsikan oleh remaja-remaja pinggiran kota karena fasilitas penunjang yang mendukung aktivitas mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembentukan ruang baik secara spasial maupun sosial yang tercipta selama berlangsungnya Citayam Fashion Week dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi ruang yang terbentuk mengakibatkan pergeseran guna ruang akibat pemanfaatan ruang yang baru tidak seperti sebelumnya. Ruang publik pada tempat berlangsungnya fenomena Citayam Fashion Week memenuhi karakteristik dari ruang ketiga.

A social space is formed because of social action individually or in groups. This social action then contributes to giving meaning to a spatial space with the context of life and giving color to space with its activities. Production of space is a space as a complex social product through the perception of the environment which is built on the basis of networks with various social activities such as private life, work, and leisure (Lefebvre, 1991). Third place is used as a place to release stress, get rid of fatigue, or divert thoughts so that mentally and physically feel fresher than before. With the production process of social space as a third space, there are actors in space who dominate as shapers of space so that there is a social interaction in it. The Dukuh Atas area as the place where this phenomenon takes place is an office area or a place for public transportation transit which is converted by suburban youth because of the supporting facilities that support their activities. Therefore, this study aims to determine the spatial and social formation process created during Citayam Fashion Week using qualitative research methods and using descriptive analysis. The results of the study show that the production of space that is formed results in a shift in the use of space due to the new use of space that is not like before. The public space where the Citayam Fashion Week phenomenon takes place fulfills the characteristics of the third space."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ibadurrohman Musthofa
"Seiring dengan meningkatnya aktivitas dan kebutuhan orang di perkotaan. Masyarakat butuh ruang publik untuk bersosialisasi dan mengekspresikan diri diri dari cepatnya kesibukan di tengah kota Jakarta. Ruang ketiga dihadirkan sebagai ruang alternatif antara ruang pertama (rumah) dan ruang kedua (tempat kerja). keberadaan ruang ketiga menjadi faktor yang penting di tengah masyarakat kota. Selain dari segi arsitektur, ruang ketiga juga berdampak positif bagi sosiologis masyarakat dan psikologis seseorang. Dengan hadirnya ruang ketiga tersebut dapat menjadi ruang istirahat bagi masyarakat kota. Tentunya ruang ketiga ini bermanfaat dari segi kesehatan jiwa dan kesehatan raga. Kesehatan jiwa hadir melalui ruang hijau yang terbuka disertai dengan pencahayaan matahari yang cukup. Jakarta memiliki banyak area yang dapat dikategorikan sebagai ruang ketiga. Salah satunya adalah area Transit Oriented Development Dukuh Atas. Meskipun pada dasarnya area ini adalah tempat transit antar moda transportasi, tetapi pada fenomena di lapangan, area ini dapat menciptakan berbagai aktivitas dan komunikasi antar manusia sehingga layak dikategorikan menjadi ruang ketiga. Salah satu aspek yang meningkatkan kualitas ruang ketiga adalah aspek Placemaking. Dengan adanya aspek ini, suatu tempat tidak dinilai berdasarkan dari dimensi dan bentuk fisiknya saja, tetapi tentang bagaimana suatu ruang dapat menciptakan kualitas yang nyaman serta memberi kesan hidup dan interaktif bagi pengguna yang berada di dalamnya.

Along with the increasing activities and needs of people in urban areas. People need public space to socialize and express themselves away from the fast pace of activity in the middle of Jakarta. The third room is presented as an alternative space between the first room (home) and the second room (workplace). The existence of a third space is an important factor in urban society. Apart from the architectural aspect, the third room also has a positive impact on society's sociological and psychological aspects. With the presence of this third room, it can become a resting space for city residents. Of course, this third space is beneficial in terms of mental health and physical health. Mental health is present through open green spaces accompanied by sufficient sunlight. Jakarta has many areas that can be categorized as third space. One of them is the Dukuh Atas Transit Oriented Development area. Even though basically this area is a transit place between modes of transportation, in terms of phenomena on the ground, this area can create various activities and communication between people so that it deserves to be categorized as a third space. One aspect that improves the quality of the third space is the Placemaking aspect. With this aspect, a place is not judged based on its physical dimensions and shape alone, but on how a space can create a comfortable quality and give a lively and interactive impression to the users inside."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maulita Azizah Ismatiah
"Pertumbuhan pesat Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi menimbulkan tantangan serius dalam hal mobilitas, terutama akibat tingginya tingkat kemacetan dan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan konsep kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD), salah satunya terletak di Dukuh Atas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi sistem transportasi publik terintegrasi antarmoda di kawasan transit Dukuh Atas menggunakan teori Node-Place Activity Model. Metode kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, studi pustaka, serta triangulasi data. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun kawasan Dukuh Atas telah dilengkapi berbagai moda transportasi dan fasilitas publik yang mendukung aspek node dan place, namun masih ditemukan ketimpangan pada aspek activity yang mencerminkan rendahnya optimalisasi aktivitas pengguna di kawasan ini. Dengan demikian, implementasi integrasi antarmoda di Dukuh Atas belum sepenuhnya seimbang. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan strategi pada aspek aktivitas manusia guna mendorong terciptanya sistem transportasi yang lebih manusiawi, efisien, dan berkelanjutan.

The rapid growth of Jakarta as the center of government and economy has posed serious challenges in terms of mobility, particularly due to severe traffic congestion and the heavy reliance on private vehicles. To address these issues, the Provincial Government of DKI Jakarta has developed the concept of Transit-Oriented Development (TOD), with one such area located in Dukuh Atas. This study aims to analyze the implementation of an integrated intermodal public transportation system in the Dukuh Atas transit area using the Node-Place-Activity Model theory. A qualitative method was employed, utilizing data collection techniques such as in-depth interviews, literature review, and data triangulation. The analysis results indicate that although Dukuh Atas has been equipped with various modes of transportation and public facilities supporting the node and place aspects, there remains an imbalance in the activity aspect, reflecting the underutilization of user activities within the area. Thus, the implementation of intermodal integration in Dukuh Atas has not yet achieved full balance. This study recommends enhancing strategies related to human activities to promote the creation of a more human-centered, efficient, and sustainable transportation system."
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Egganaufar
"Kemacetan sudah menjadi hal yang lumrah bagi kalangan masyarakat di kota-kota besar, khususnya DKI Jakarta. Berbagai solusi dari pemerintah Jakarta untuk mengurangi jumlah kemacetan, mulai dari sistem Three in One hingga sistem ganjil-genap. Untuk itu, pemerintah Jakarta harus bergerak cepat untuk menemukan solusi dari kemacetan ini. Pemerintah daerah DKI Jakarta berencana membangun sistem transportasi massal yang saling terintegrasi. Rencana ini tertuang pada Pola Transportasi Makro PTM 2015 dan RTRW Jakarta 2030. Integrasi transportasi massal sendiri merupakan suatu interkoneksi antar moda transportasi massal yang terdiri dari MRT, Monorail, Busway , waterways dan KRL dengan total panjang jalur 275-300 km. Seluruh moda tersebut akan terintegrasi dengan baik satu dengan lainnya serta terintegrasi juga dengan moda transportasi konvensional yang telah ada sebelumnya seperti metro mini, mikrolet, ojek, bajaj dan taksi pada suatu titik lokasi tertentu berupa stasiun sentral di 4 titik yang salah satu lokasinya berada di Dukuh Atas.

Traffic congestion has become commonplace for people in big cities, especially DKI Jakarta. Various solutions from the Jakarta government to reduce the number of congestion, from ldquo Three in One rdquo system to ldquo ganjil genap rdquo system. Therefore, Jakarta government should move quickly to find solutions to this bottleneck. The local government of DKI Jakarta plans to build an integrated mass transportation system. This plan is embodied in Macro Transportation Pattern 2015 and RTRW Jakarta 2030. The integration of mass transportation itself is an interconnection between mass transportation modes consisting of MRT, Monorail, Busway, waterways and KRL with a total length of 275 300 km line. All modes will be integrated well with each other and also integrated with the existing conventional transportation modes such as mini metro, mikrolet, ojek, bajaj and taxi, which one of the locations are in Dukuh Atas areas."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S67476
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Segara Anjasmoro
"Perkembangan industri konstruksi di Indonesia berfokus pada pembangunan prasarana untuk memenuhi aktifitas masyarakat. Jembatan Penyeberangan Multiguna Dukuh Atas merupakan salah satu prasarana infrastruktur yang membantu aktifitas masyarakat khususnya pengguna moda transportasi umum Transjakarta, kereta Commuter Line, dan kereta LRT dalam berganti moda transportasi. Jembatan Penyeberangan Multiguna Dukuh Atas dibangun di atas jalan akses menuju pusat kota yng memiliki tingkat kepadatan lalu lintas tinggi khususnya pada waktu-waktu kerja. Faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus benar-benar diperhatikan agar dampak dari adanya proyek tersebut tidak membahayakan masyarakat sekitar. Evaluasi dilakukan agar mengetahui penerapan keselamatan dan kesehatan kerja yang dijalankan pada proyek tersebut, serta memberikan masukan mengenai kekurangan dari penerapan K3 yang perlu dilengkapi. Evaluasi dilakukan dengan survei dan pendataan langsung di lokasi proyek. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek tersebut sudah cukup baik, namun terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan terdiri dari aspek perangkat keselamatan berupa alat pelindung diri (APD), yaitu tali dagu, kacamata, pelindung telinga (bagi yang membutuhkan), masker, dan seragam kerja. Selain itu, untuk perangkat penahan jatuh yang menggunakan safety deck jenis jaring halus yang berpotensi rusak jika kejatuhan benda yang cukup berat. Safety deck tersebut perlu ditambahkan jaring berbahan kawat atau tambang agar jika terdapat benda berat yang jatuh dapat ditahan safety deck tersebut. Aspek kompetensi tenaga kerja dimana kompetensi secara resmi dibuktikan dengan memiliki sertifikat keahlian masih sangat terbatas, khususnya untuk pekerja harian. Perusahaan terkait perlu mengadakan pelatihan untuk tenaga kerja harian agar aktifitas pekerjaan yang dilakukan memiliki dasar dan perhatian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

Development of Indonesian construction industries focus on infrastructure projects to supply public activity. Multipurpose Pedestrian Bridge of Dukuh Atas is one of the infrastructure projects built for the public, especially to support the multimodal public transportation within Transjakarta, Commuter Line, and LRT Jabodetabek. Multipurpose Pedestrian Bridge of Dukuh Atas was built on the access road to Central Jakarta which has high traffic, especially during rush hour. Safety and health procedure is the important factor that should be prepared to avoid a negative impact on the public. Therefore, an evaluation was carried out to evaluate the implementation of safety and health procedure in the project, and to give recommendations that improves the implementation of safety and health procedure in the project. The result shows that the implementation is good, but there are some aspects that have to be improved and completed. There are some personal protective equipment that have to be completed, such as a chin-strap, safety goggles, ear protection (if needed), mask, and uniform. Furthermore, the safety retainer uses a safety deck with a small net that could be broken by fallen tools or parts. So, the net shall be added or combined with a wire net or rope net with a higher size to keep if there are fallen tools or parts. Then, about the skilled manpower aspect, only some of manpower have a certificate. Company should provide a course which collaborate with an independent institution so they could have the skill of safety and heath."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Angelique Imanuella Josephine
"Kehadiran Third Place menjadi salah satu aspek daya tarik yang dapat mengundang masyarakat untuk lebih memilih menaiki transportasi melalui kemudahan dan pengalaman yang ditawarkan di dalamnya. Tidak hanya menawarkan dari keberadaan fasilitas namun juga menawarkan keuntungan melalui sisi sosial melalui penyediaan ruang untuk berinteraksinya, sehingga dapat membuat kegiatan bertransit dapat lebih menyenangkan. Pembahasan dilakukan pada Taman Dukuh Atas yang terletak pada pusat Transit Oriented Design (TOD). Melihat bagaimana local spatial settings pada Taman Dukuh Atas berkorelasi dengan elemen transit dan aktivitas penikmat third place membangun bentuk interaksi yang terbangun. Dengan melihat lebih dalam bagaimana morfologis ruang sekitar dan juga pengaturan ruang mendetail dapat menentukan bentuk topik serta bagaimana diskusi itu dapat berlangsung.

The presence of Third Places becomes one of the aspects of attraction that can invite the community to prefer using transportation through the convenience and experience it offers. It not only provides facilities but also offers social benefits by providing space for interaction, making transit activities more enjoyable. The discussion focuses on Taman Dukuh Atas, which is located in the center of Transit Oriented Design (TOD). By examining how the local spatial settings at Taman Dukuh Atas correlate with transit elements and the activities of Third Place enthusiasts, the form of interaction that is built can be understood. By looking deeper into the morphological aspects of the surrounding space and the detailed spatial arrangements, the form of topics and how the social interaction can take place can be determined."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>