Search Result  ::  Save as CSV :: Back

Search Result

Found 9 Document(s) match with the query
cover
Iris Rengganis
"Pada pengobatan asma bronkial diperlukan penilaian derajat berat asma. Hal tersebut
biasanya dilakukan dengan mengukur hiperreakfrfitas bronkus. Tetapi oleh karena sarana tersebut di rumah sakit tipe C belum tersedia, maka salah satu cara yang digunakan adalah menghitung jumlah eosinofil total darah tepi. Hal ini dilakukan atas dasar adanya hubungan antara eosinofil dan hiperreaktifitas bronkus. Arus Puncak Ekspirasi berhubungan dengan derajat berat asma. Oleh karena itu diteliti apakah eosinofil total darah tepi berhubungan dengan Arus Puncak Ekspirasi. Sebagai langkah pendahuluan
dilakukan penelitian pada 60 penderita asma bronkial untuk melihat apakah eosinofil total darah tepi dapat menjadi tolok ukur derajat berat asma. Penelitian ini bersifat cross-sectional, dilakukan pada 30 penderita asma daiam serangan
yang datang ke Instalasi Gawat Darurat Bagian Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit dr.
Cipto Mangunkusumo dan 30 penderita asma yang tidak dalam serangan yang berobat
jalan ke Poliklinik Alergi-lmunologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo, untuk melihat hubungan antara eosinofil total darah tepi dan Arus
Puncak Ekspirasi. Pada kelompok penderita asma tidak dalam serangan dilakukan
pengamatan selama empat minggu dan pada kelompok penderita asma dalam serangan
hanya dilakukan satu kali pemeriksaan mengingat tingginya angka drop-out. Setiap
penderita diperiksa eosinofil total darah tepi dan Arus Puncak Ekspirasi. Jumlah eosinofil pada penderita asma dalam serangan berkisar antara 290-382/pl
(335,67+127,31) dan pada penderita asma tidak dalam serangan antara 162-182/pl
(172,65+27,79). Nilai Arus Puncak Ekspirasi pada penderita asma dalam serangan
berkisar antara 22-32% (27,35±13,18) dan pada penderita asma tidak dalam serangan
antara 68-71% (69,73±4,52). Terdapat hubungan terbalik antara eosinofil total darah tepi dengan Arus Puncak Ekspirasi, tetapi korelasinya lemah (r=-0,53 , R2=0,28 dan p<0,001). Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meyakinkan hubungan eosinofil total darah tepi dengan Arus Puncak Ekspirasi pada asma bronkial dengan sampel yang lebih besar dan diikuti secara longitudinal."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teguh Harjono Karjadi
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Herman Suryatama
"[ABSTRAK
Latar Belakang: Penelitian mengenai dampak kesehatan dari pajanan asap rokok lingkungan dengan menggunakan kotinin, yaitu suatu hasil metabolisme nikotin yang terdeteksi dalam urin, telah direkomendasikan sebagai pengukuran kuantitatif nikotin dalam tubuh dan biomarker pajanan asap rokok lingkungan. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan pajanan asap rokok di rumah pada perempuan dewasa bukan perokok, dengan mengukur kadar kotinin urin, CO ekspirasi dan melihat dampak kesehatannya.
Metode: Penelitian ini berjenis potong lintang terhadap 60 orang perempuan dewasa bukan perokok terpajan dan 58 orang tidak terpajan asap rokok di rumahnya dalam wilayah Pasar Rebo, Jakarta. Kadar kotinin urin diukur menggunakan metode pemeriksaan ELISA. Sebagai informasi tambahan, kami mengumpulkan data kadar CO ekspirasi, kuesioner kebiasaan merokok anggota keluarga di rumah dan dampak kesehatan respirasi subyek penelitian.
Hasil: Nilai median kadar kotinin urin yang didapat adalah 24,65 ng/ml pada kelompok terpajan dan 7,30 ng/ml pada kelompok tidak terpajan (p=0.000). Nilai median kadar CO ekspirasi adalah 5,00 ppm pada kelompok terpajan dan 3,00 ppm pada kelompok tidak terpajan (p=0.000). Durasi terpajan asap rokok (jumlah jam/hari) pada perempuan perokok pasif memiliki hubungan signifikan dengan tinggi rendahnya kadar kotinin urin(p=0.037). Gejala sesak napas yang muncul berhubungan signifikan dengan status pajanan asap rokok subjek (p=0.01). Faktor lama pajanan asap rokok terakhir memiliki hubungan signifikan dengan kadar CO ekspirasi (p=0,004). Nilai titik potong kotinin urin antara kelompok terpajan dan tidak terpajan asap rokok adalah 14,4 ng/ml (sensitifitas 75,0 %, spesifisitas 74,0 %, p=0.000). Nilai titik potong CO ekspirasi adalah 3,5 ppm (sensitifitas 75,0 %, spesifisitas 81,0 %, p=0.000).Terdapat korelasi yang cukup kuat dan signifikan antara kadar CO ekspirasi dan kotinin urin (r=0,641, p=0,000).
Kesimpulan: Kadar kotinin urin dan CO ekspirasi pada perempuan dewasa yang terpajan asap rokok lebih tinggi dibandingkan perempuan yang tidak terpajan asap rokok di rumah. Pengukuran kotinin urin adalah metode pengukuran pajanan asap rokok lingkungan dalam tubuh yang sensitif, non-invasif dan efektif.;Introduction :Studies of environmental tobacco smoke (ETS) health effects using cotinine, a nicotine metabolite detected in urine, has been recommended as a quantitative measurement of nicotine intake and as biomarker for ETS exposure in humans.

ABSTRACT
Objective: The aim of this study is to correlate dailyindoor ETS exposure in non-smokers (adult women) by measuring urinary cotinine levels, CO expiration and it`s health effects.
Method: We performed a cross-sectional study to 60 ETS-exposed and 58 non ETS exposed adult women in Pasar Rebo area, Jakarta. The urinary cotinine concentrations were measured and analyzed using ELISA method. In addition, CO expiration data and other information were collected through questionnaire regarding smoking habits of the subjects family members at home and respiratory health effects occured to subjects.
Results: Significant median urinary cotinine concentrations were found; 24,65 ng/ml in ETS-exposed group and 7,30 ng/ml in non-exposed to ETS group(p=0,000). Significant median CO expirationalso were found; 5,00 ppm in ETS exposed group and 3,00 ppm in non-exposed to ETS group (p=0.000). Total ammount of time (hours/day) women exposed to ETS in their house was significantly correlated to urinary cotinine concentrations result (p=0,037). The respiratory symptoms (dyspnea) occured to subjects showed significant relation with ETS exposure status (p=0,01). Time duration of last exposed to ETS had significant relation with CO expiration (p=0.004).The urinary cotinine concentrations cut-off point to differentiate ETS exposed and non-ETS exposed group in adult women was 14,4 ng/ml (sensitivity 75%,specificity 74%,p=0.000). The CO expiration cut-off point was 3,5 ppm (sensitivity 75%, specificity 81%, p=0.000). Strong and significant correlation was found between CO expiration and urinary cotinine value (r=0,641, p=0,000).
Conclusion: The urinary cotinine concentration and CO expiration are significantly higher in women exposed to tobacco smoke at home group than the non-exposed group. Urinary cotinine measurement is a sensitive, noninvasive and effective method to correlate with ETS exposure.;Introduction :Studies of environmental tobacco smoke (ETS) health effects using cotinine, a nicotine metabolite detected in urine, has been recommended as a quantitative measurement of nicotine intake and as biomarker for ETS exposure in humans.
Objective:The aim of this study is to correlate dailyindoor ETS exposure in non-smokers (adult women) by measuring urinary cotinine levels, CO expiration and it`s health effects.
Method :We performed a cross-sectional study to 60 ETS-exposed and 58 non ETS exposed adult women in Pasar Rebo area, Jakarta. The urinary cotinine concentrations were measured and analyzed using ELISA method. In addition, CO expiration data and other information were collected through questionnaire regarding smoking habits of the subjects family members at home and respiratory health effects occured to subjects.
Results :. Significant median urinary cotinine concentrations were found; 24,65 ng/ml in ETS-exposed group and 7,30 ng/ml in non-exposed to ETS group(p=0,000). Significant median CO expirationalso were found; 5,00 ppm in ETS exposed group and 3,00 ppm in non-exposed to ETS group (p=0.000). Total ammount of time (hours/day) women exposed to ETS in their house was significantly correlated to urinary cotinine concentrations result (p=0,037). The respiratory symptoms (dyspnea) occured to subjects showed significant relation with ETS exposure status (p=0,01). Time duration of last exposed to ETS had significant relation with CO expiration (p=0.004).The urinary cotinine concentrations cut-off point to differentiate ETS exposed and non-ETS exposed group in adult women was 14,4 ng/ml (sensitivity 75%,specificity 74%,p=0.000). The CO expiration cut-off point was 3,5 ppm (sensitivity 75%, specificity 81%, p=0.000). Strong and significant correlation was found between CO expiration and urinary cotinine value (r=0,641, p=0,000)
Conclusion :The urinary cotinine concentration and CO expiration are significantly higher in women exposed to tobacco smoke at home group than the non-exposed group. Urinary cotinine measurement is a sensitive, noninvasive and effective method to correlate with ETS exposure., Introduction :Studies of environmental tobacco smoke (ETS) health effects using cotinine, a nicotine metabolite detected in urine, has been recommended as a quantitative measurement of nicotine intake and as biomarker for ETS exposure in humans.
Objective:The aim of this study is to correlate dailyindoor ETS exposure in non-smokers (adult women) by measuring urinary cotinine levels, CO expiration and it`s health effects.
Method :We performed a cross-sectional study to 60 ETS-exposed and 58 non ETS exposed adult women in Pasar Rebo area, Jakarta. The urinary cotinine concentrations were measured and analyzed using ELISA method. In addition, CO expiration data and other information were collected through questionnaire regarding smoking habits of the subjects family members at home and respiratory health effects occured to subjects.
Results :. Significant median urinary cotinine concentrations were found; 24,65 ng/ml in ETS-exposed group and 7,30 ng/ml in non-exposed to ETS group(p=0,000). Significant median CO expirationalso were found; 5,00 ppm in ETS exposed group and 3,00 ppm in non-exposed to ETS group (p=0.000). Total ammount of time (hours/day) women exposed to ETS in their house was significantly correlated to urinary cotinine concentrations result (p=0,037). The respiratory symptoms (dyspnea) occured to subjects showed significant relation with ETS exposure status (p=0,01). Time duration of last exposed to ETS had significant relation with CO expiration (p=0.004).The urinary cotinine concentrations cut-off point to differentiate ETS exposed and non-ETS exposed group in adult women was 14,4 ng/ml (sensitivity 75%,specificity 74%,p=0.000). The CO expiration cut-off point was 3,5 ppm (sensitivity 75%, specificity 81%, p=0.000). Strong and significant correlation was found between CO expiration and urinary cotinine value (r=0,641, p=0,000)
Conclusion :The urinary cotinine concentration and CO expiration are significantly higher in women exposed to tobacco smoke at home group than the non-exposed group. Urinary cotinine measurement is a sensitive, noninvasive and effective method to correlate with ETS exposure.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
J. Handoko Koesnadi
"Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan membandingkan kelompok siswa penyelam (Selamal) sebanyak 43 laki-laki sehat sebagai kelompok perlakuan, dan kelompok siswa perawat (Sekesal) sebanyak 39 laki-laki sehat sebagai kelompok kontrol dan berumur antara 21-33 tahun; terhadap perubahan Volume Ekspirasi Paksa 1 detik (VEPI) per Kapasitas Vital Paksa (KVP) dan denyut nadi di Iingkungan normobarik (darat) dan submersi (air) path pralatihan dan pascalatihan. Intervensi hanya dikerjakan pada kelompok perlakuan berupa latihan fisik dasar dan latihan menyelam selama 12 minggu.
Pengukuran dilaksanakan saat pralatihan dan pascalatihan pada kondisi submersi dan normobarik dengan menggunakan Spirometer, Palpasi dan Sphygmomanometer. Hasil dari peneitian ini, setelah intervensi dilakukan tidak ada perbedaan yang bermakna pada nilai VEP1/KVP pada kedua kelompok di kondisi normobaiik, tetapi pada kondisi submersi ada perbedaan bermakna. Perbedaan bermakna juga ditunjukkan pada nilai nadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol baik pada kondisi normobarik maupun submersi.
Kenyataan ini menunjukkan ada pengaruh lingkungan hiperbarik terhadap fisiologi paru-paru dan kardiovaskuler, juga fenomena bradikardi yang telah dìbuktikan peneliti terdahulu. Kondisi hiperbaiik dapat menyebabkan menurunnya VEP1/KVP dan denyut nadi karena beberapa faktor dan sebagai akibat dari tekanan negatif dan kondisi pernafasan tanpa gravitasi.

This research used experimental design to compare military diver group student as a treated group, the samples are 43 healthy male and group of nurse student as a control group, to the samples are 39 healthy male, age between 21 ?33 years old to the change of FEV1/EVC and the pulse in the normobaric environment and submersion during preexercise and post-exercise. Intervension was done only by treated group in basic physical exercise and diving exercise for 2 hours/ day for 12 weeks.
Measurement was done during pre-exercise and post-exercise in the submersion and normobaric odition by using Sirometer, Palpation and Sphygtnotnanometer. The result of this research showed that after intervenSiofl was done there is no significant differences of the value FEV1/FVC on both group in normobaiic condition, but in submersion condition there is significant differences. Significant differences of the pulse value also showed among on the treated group and control group either normobaric condition or sUbmerSion condition.
This fact showed that there is an influence of hyperbaric environment to the physiology of lung and cardiovascular also the bradicairdy phenomene as its proved by the former researchers. Hyperbaric condition can cause decrease of FEV1/FVC and pulse because of some factors and the consequences are negative pressure and breathing condition without gravitation.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2000
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irsa Gagah Himantoko
"Pengantar: Senam Asma Indonesia (SAI) adalah olahraga termodifikasi yang ditujukan bagi penderita asma untuk memperbaiki pola nafas agar lebih terkontrol dan sehat. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan apakah SAI memicu asma karena latihan (AKL), apakah durasi mengikuti senam mempengaruhi nilai arus puncak ekspirasi (APE) pasca-olahraga, dan pengaruh usia, jenis kelamin, riwayat merokok, dan indeks massa tubuh (IMT) terhadap nilai APE pasca-olahraga.
Metode: Sebanyak 24 subjek yang telah melakukan SAI selama setidaknya 1 bulan, diukur nilai APE mereka sebelum dan sesudah melakukan SAI menggunakan peak flow meter. Informasi mengenai usia, jenis kelamin, dan riwayat merokok diperoleh dari wawancara. Sedangkan tinggi dan berat badan, untuk menentukan indeks massa tubuh (IMT), diperoleh melalui pemeriksaan langsung.
Hasil dan Diskusi: Semua subjek terhindar dari AKL mungkin karena mereka telah melakukan SAI selama setidaknya satu bulan. Namun, semakin lama melakukan SAI tidak membuat nilai APE pasca-olahraga menjadi lebih baik (p = 0,447) tetapi menjaga fungsi paru tetap optimal. Selanjutnya, usia dan jenis kelamin tidak berpengaruh pada nilai APE pasca-olahraga jika peran masing-masing dinilai secara individual (p = 0,698; 0,721; secara berurutan). Selain itu, mantan perokok yang sudah lama berhenti merokok, riwayat merokok mereka sebelumnya tidak lagi mempengaruhi nilai APE pasca-olahraga (p = 0,310). Terakhir, peningkatan BMI tidak terkait dengan penurunan nilai APE pasca-olahraga. (p = 0,707).
Kesimpulan: SAI tidak mencetuskan AKL pada penderita asma. Penambahan durasi mengikuti SAI tidak meningkatkan nilai APE pasca-olahraga. Usia dan jenis kelamin saling terkait dalam mempengaruhi APE pasca-olahraga. Riwayat merokok orang yang sudah lama berhenti merokok dan peningkatan BMI tidak mempengaruhi nilai APE pasca-olahraga.

Introduction: Indonesian Asthma Gymnastics (IAG) is a modified exercise that is intended for asthmatic people to improve their breath pattern to become more controlled and healthy. This study was conducted to determine whether IAG triggers exercise-induced asthma (EIA), whether the duration of following IAG affect the value of peak expiratory flow rate (PEFR) post-exercise, and the effect of age, gender, smoking history, and BMI on PEFR value post-exercise.
Method: A Total of 24 subjects who had performed IAG for at least 1 month, were measured their PEFR values before and after performing IAG using peak flow meter. Information regarding age, gender, and smoking history was obtained from the interview. While height and weight, to determine body mass index (BMI), were obtained through direct examination.Result and 
Discussion: All subjects were spared from EIA may be because they have performed the IAG for at least one month. However, a longer period of IAG does not make peak expiratory flow rate (PEFR) value post-exercise to be better (p = 0.447) but keeps lung function optimally. Furthermore, age and gender have no effect on PEFR value post-exercise if their respective roles are assessed individually (p = 0,698; 0,721; respectively). In addition, former smokers who have long quit smoking, their previous smoking history no longer affect the value of PEFR post- exercise (p = 0,310). Lastly, increased BMI is not associated with decreased PEFR value post-exercise (p = 0,707).
Conclusion: IAG does not triggers EIA in asthmatic patient. The addition of duration of joining IAG does not improve the value of PEFR post-exercise. Age and gender are interrelated in affecting PEFR post-exercise. Smoking history of people who have long quit smoking and increased BMI does not affect PEFR value post- exercise.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maryatul Qiptiah
"Tesis ini disusun untuk mengetahui korelasi antara derajat kebiasaan merokok dengan Arus Puncak Batuk, Arus Puncak Ekpirasi dan kekuatan otot kuadriceps pada laki-laki dewasa muda perokok aktif. Penelitian menggunakan desain uji potong lintang (crosssectional). Subjek penelitian merupakan pasien laki-laki keturunan asli Indonesia, perokok tembakau aktif minimal 6 bulan, usia 18-40 tahun, tidak obesitas dan memiliki kekuatan otot ekstremitas bawah dengan penilaian MRC 5 tanpa ada riwayat kelemahan sebelumnya. Semua subjek (n=41) dilakukan penilaian derajat kebiasaan merokok berdasarkan Indeks Brinkman, pengukuran Arus Puncak Batuk (APB) dan Arus Puncak Ekspirasi (APE) dengan Peak Flow Meter serta pengukuran kekuatan otot kuadriceps dengan Hand-held dynamometer sesuai dengan prosedur di Poliklinik Departemen Rehabilitasi Medik RSCM Jakarta. Selain itu, dilakukan pengukuran fungsi respirasi menggunakan Spirometri. Hasil keluaran penelitian ini berupa derajat kebiasaan merokok subjek, yaitu 27 perokok ringan dan 14 perokok sedang, serta didapatkan nilai APE, APB, dan kekuatan otot kuadriceps. Selain itu berdasarkan hasil spirometri didapatkan 3 subjek dengan gangguan obstruksi, 1 subjek gangguan restriktif dan sisanya dalam batas normal. Pada karakteristik pekerjaan, didapatkan terbanyak pada kategori manual (58,5%), diikuti non-manual (24,4%) dan bidang jasa (17,1%). Analisa statistik uji korelasi Spearman dilakukan untuk menilai korelasi antara derajat kebiasaan merokok dengan nilai APB, APE dan kekuatan otot kuadriceps. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa terdapat korelasi bermakna secara statistik antara Indeks Brinkman dengan nilai APE, tapi tidak demikian pada nilai APB dan kekuatan otot kuadriceps. Rerata nilai APE pada subjek dewasa muda perokok ringan dan perokok sedang sebesar 429,76±76,89 L/menit dengan nilai p = 0,026. Sedangkan rerata nilai APB dan kekuatan kuadriceps masing-masing sebesar 445,61±73,38 L/menit dan 19,36±4,28 kg pada kaki kanan, serta 18,92±4,03 kg pada kaki kiri, tanpa ada korelasi yang signifikan. Penelitian lebih lanjut mencakup subjek perokok berat dan faktor level aktivitas fisik serta marker biomolekuler diperlukan untuk menilai dampak merokok terhadap fungsi respirasi dan kekuatan otot.

This thesis was aimed to determine correlation between the degree of cigarrette smokers to peak cough flow, peak expiratory flow and quadriceps muscle strength in young adults male active smokers. The design was cross-sectional. The subjects were Indonesian male, actively cigarette smoking for at least 6 months, aged 18-40 years, not obesity and had lower limb muscle strength with MRC value 5 and no history of weakness. All subjects (n=41) were assessed the degree of smoking habits based on the Brinkman Index, measurements of Peak Cough Flow and Peak Expiratory Flow with Peak Flow Meters and measurements of quadriceps muscle strength with a Hand-held dynamometer according to procedures at Polyclinic of the Medical Rehabilitation Department at the RSCM Hospital Jakarta. In addition, the respiratory function measurements were taken using Spirometry. The study results include the degree of smoking habits, 27 subject mild smokers and 14 subject moderate smokers, the value of peak cough flow, peak expiratory flow, and quadriceps muscle strength on both legs. Based on spirometry examination, there are 3 subjects with obstructive, 1 subject restrictive and the others within normal limits. Based on working type, the highest on manual category (58,5%), followed by nonmanual (24,4%) and services (17,1%). Statistical analysis was performed to assess the correlation between Brinkman Index with the three variables. The study concludes that the higher Brinkman Index value, the lower peak expiratory flow value, but not on the peak cough flow and quadriceps muscle strength results. The average peak expiratory flow value in young adult subjects with mild and moderate smokers was 429.76 ± 76.89 L/min with significant difference was obtained with p value = 0.026. While the average peak cough flow and quadriceps muscle strength were 445.61 ± 73.38 L / min and 19.36 ± 4.28 kg in the right leg, and 18.92 ± 4.03 kg in the left leg, with no significant correlation. Further research including heavy smoker subjects, evaluation of physical activity level and biomolecular markers is needed to assess the impact of smoking on respiration function and muscle strength"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Inayati
"Pendahuluan: Rokok konvensional masih banyak digunakan di Indonesia, sedangkan prevalensi pengguna rokok elektronik juga terus meningkat. Rokok elektronik dianggap lebih aman dibandingkan dengan rokok konvensional. Tidak terdapat pembakaran dalam rokok elektronik, sehingga tidak ada CO yang dikeluarkan.
Metode: Metode penelitian yang digunakan ialah studi potong lintang komparatif pada responden berusia 18 – 24 tahun, berdomisili di Jakarta dan Depok pada bulan Februari hingga September 2019. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling yaitu 40 perokok konvensional dan 40 perokok elektronik. Kadar CO diukur dengan piCO+Smokerlyzer®. Uji analisis data yang digunakan ialah uji Mann Whitney untuk membandingkan kadar CO pada perokok konvensional dan elektronik.
Hasil: Mayoritas responden adalah laki-laki berusia 20 tahun. Seluruh responden perokok konvensional adalah mahasiswa Universitas Indonesia sedangkan mayoritas responden perokok elektronik berasal dari Jakarta Pusat (22,5%). Rerata kadar CO ekspirasi pada perokok konvensional adalah 17,34 (SB 10,22) ppm sedangkan pada perokok elektrik adalah 6,92 (SB 3,92) ppm. Kedua hasil tersebut menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p<0,001).
Diskusi: Kadar CO ekspirasi perokok elektronik lebih rendah secara signifikan dibandingkan perokok konvensional karena dalam rokok elektronik tidak terjadi pembakaran seperti dalam rokok konvensional sehingga tidak menghasilkan CO.

Introduction: Conventional cigarette is widely used in Indonesia. Meanwhile, the prevalence of electronic cigarette (e-Cigarette) users keeps increasing. E-Cigarette is considered safer than conventional cigarette by common people. Because there is no combustion process, e-Cigarette does not produce carbon monoxide (CO).
Method: This is a comparative study with cross-sectional design on subjects aged 18 to 24 years old resided in Jakarta and Depok on February until September 2019. Subjects are chosen using consecutive sampling method on 40 conventional cigarette smokers and 40 e-Cigarette smokers. Level of expired CO is measured using piCO+ Smokerlyzer®. We use Mann Whitney test to compare expired CO levels between conventional cigarette smokers and e-Cigarette smokers.
Results: The majority of subjects are male aged 20 years old. All of the conventional cigarette users are the undergraduate students of University of Indonesia, while the majority of e-Cigarette users are from Central Jakarta (22,5%). The average of expired CO level on conventional cigarette users is 17,34 (SD 10,22) ppm and on e-Cigarette users is 6,92 (SD 3,92) ppm. There is a significant difference between those two groups (p<0,001).
Discussion: Level of expired CO on e-Cigarette smokers is significantly lower than conventional smokers because unlike conventional cigarette, there is no combustion in e-Cigarette and therefore no CO is produced.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sakina asha Siva utami
"Pendahuluan: Latihan fisik merupakan salah satu cara untuk mencapai kebugaran fisik. Namun, 25,4% penduduk Jawa Barat termasuk dalam kategori kurang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran karakteristik latihan fisik dan tingkat kebugaran pegawai kebersihan luar gedung UI di Depok, serta mencari hubungan antara rutinitas dan tingkat latihan fisik terhadap tingkat kebugaran. Metode: Desain penelitian yang digunakan ialah potong lintang. Subjek dipilih menggunakan metode consecutive sampling (n=102). Data yang dikumpulkan ialah rutinitas dan tingkat latihan fisik, hasil uji arus puncak ekspirasi, serta tingkat kebugaran yang diketahui dari hasil uji jalan 6-menit. Data rutinitas dan tingkat latihan fisik dan tingkat kebugaran dianalisis korelasinya dengan uji Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis. Hasil: Dari 102 subjek, diketahui bahwa 90,2% memiliki rutinitas latihan fisik sesuai dengan rekomendasi American Heart Association (AHA), serta 66,7% memiliki tingkat latihan fisik yang sedang berdasarkan IPAQ Scoring Protocols. Akan tetapi, subjek yang bugar hanya sebanyak 2%. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan p = 0,503 untuk variabel rutinitas latihan fisik dan hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan p = 0,523 untuk variabel tingkat latihan fisik. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rutinitas maupun tingkat latihan fisik dengan tingkat kebugaran pegawai kebersihan luar gedung UI, Depok.

Introduction: Physical exercise is one way to achieve physical fitness. However, 25.4% of the population of West Java is in the less active category. This study aims to determine the distribution of physical exercise characteristics and fitness levels of janitors in UI Depok and to find the relationship the two. Methods: The research design used is cross-sectional. Subjects were selected using the consecutive sampling method (n = 102). Data collected in this study were physical exercise routine, physical exercise level, result of expiratory peak flow test, and fitness level measured using 6-minute walking test. Data were analyzed for correlation with the Mann-Whitney and Kruskal-Wallis test. Results: From 102 subjects, 90.2% have physical exercise routine correspond the recommendations of the American Heart Association (AHA), and 66.7% have a moderate level of physical exercise based on IPAQ Scoring Protocols. However, only 2% of subjects have adequate fitness level. The Mann-Whitney test result showed p = 0.503 for physical exercise routine variables, and the Kruskal-Wallis test result showed p = 0.523 for physical exercise level variables. Conclusion: There is no significant relationship between physical exercise level or routine with the fitness level of janitors in UI, Depok."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sakinasha Siva Utami
"Pendahuluan: Latihan fisik merupakan salah satu cara untuk mencapai kebugaran fisik. Namun, 25,4% penduduk Jawa Barat termasuk dalam kategori kurang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran karakteristik latihan fisik dan tingkat kebugaran pegawai kebersihan luar gedung UI di Depok, serta mencari hubungan antara rutinitas dan tingkat latihan fisik terhadap tingkat kebugaran. Metode: Desain penelitian yang digunakan ialah potong lintang. Subjek dipilih menggunakan metode consecutive sampling (n=102). Data yang dikumpulkan ialah rutinitas dan tingkat latihan fisik, hasil uji arus puncak ekspirasi, serta tingkat kebugaran yang diketahui dari hasil uji jalan 6-menit. Data rutinitas dan tingkat latihan fisik dan tingkat kebugaran dianalisis korelasinya dengan uji Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis. Hasil: Dari 102 subjek, diketahui bahwa 90,2% memiliki rutinitas latihan fisik sesuai dengan rekomendasi American Heart Association (AHA), serta 66,7% memiliki tingkat latihan fisik yang sedang berdasarkan IPAQ Scoring Protocols. Akan tetapi, subjek yang bugar hanya sebanyak 2%. Hasil uji korelasi Mann-Whitney menunjukkan p = 0,503 untuk variabel rutinitas latihan fisik dan hasil uji korelasi Kruskal-Wallis menunjukkan p = 0,523 untuk variabel tingkat latihan fisik. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rutinitas maupun tingkat latihan fisik dengan tingkat kebugaran pegawai kebersihan luar gedung UI, Depok.

Introduction: Physical exercise is one way to achieve physical fitness. However, 25.4% of the population of West Java is in the less active category. This study aims to determine the distribution of physical exercise characteristics and fitness levels of janitors in UI Depok and to find the relationship the two. Methods: The research design used is cross-sectional. Subjects were selected using the consecutive sampling method (n = 102). Data collected in this study were physical exercise routine, physical exercise level, result of expiratory peak flow test, and fitness level measured using 6-minute walking test. Data were analyzed for correlation with the Mann-Whitney and Kruskal-Wallis test. Results: From 102 subjects, 90.2% have physical exercise routine correspond the recommendations of the American Heart Association (AHA), and 66.7% have a moderate level of physical exercise based on IPAQ Scoring Protocols. However, only 2% of subjects have adequate fitness level. The Mann-Whitney test result showed p = 0.503 for physical exercise routine variables, and the Kruskal-Wallis test result showed p = 0.523 for physical exercise level variables. Conclusion: There is no significant relationship between physical exercise level or routine with the fitness level of janitors in UI, Depok."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library