Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Achmad Hindasyah
"Tesis ini membahas tentang perancangan dan pembuatan sistem instrumentasi untuk membaca data elektrokardiogram dan aktivitas gerak tanpa kabel. Perangkat keras sistem ini terdiri dari elektroda, sensor percepatan, pengkondisi sinyal, RTC, mikrokontroler ATmega8, radio modem RF dan personal komputer. Perangkat lunak yang digunakan terdiri dari dua yaitu bahasa basic dengan kompiler Bascom AVR yang ditanam pada flash mikrokontroler sedangkan perangkat lunak pada komputer menggunakan bahasa Borland Delphi 7. Data elektrokardiogram, data kecepatan, jam dan tanggal pengukuran dibaca oleh mikrokontroler melalui port ADC dan port TWI. Data-data ini dikirimkan ke komputer secara serial melalui transmiter radio modem. Receiver radio modem menerima data-data tersebut dan mengirimkannya ke komputer melalui port USB yang difungsikan sebagai virtual COM. Komputer akan menampilkan data-data tersebut dalam bentuk grafik dan numerik. Data pengukuran numerik disimpan dalam bentuk file teks. Dari hasil pengujian sistem diperoleh bahwa akifitas gerak tubuh berpengaruh terhadap interval parameter gelombang P-QRS-T.

The focus of this study is the design and development of electrocardiogram and motion activity wireless instrumentation system. The hardware of this system consist of electrode, accelero sensor, signal conditioning, RTC, microcontroller ATmega8, RF radio modem and personal computer. The software consist of basic language with Bascom AVR compiler that will be filled in the flash memory of microcontroller and on computer personal using Borland Delphi 7. The data of electrocardiogram, velocity, time and date of measurement are read by microcontroller trough ADC and TWI port. The data are transmitted as serial data to computer using radio modem. Receiver receives the data and transmits to computer trough USB port. Computer display the data as graphical and numerical. The numerical data are saved as text file. From the result of testing obtained that the body motion activity influences to parameters interval of P-QRS-T wave."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
T29114
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Andry Surandy
"Latar Belakang
Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang abnormal sering ditemukan pada pasien yang menderita strok (lebih dari 90%).Telah dilaporkan adanya perubahan ST-T pada strok, semua perubahan itu berhubungan dengan adanya gangguan pada pusat autonorn jantung di susunan saraf pusat. Dogan melakukan penelitian pada pasien strok mendapatkan persentase gambaran iskemia 79% pads EKG, 26% long QTc, dan 44% aritmia.
Tujuan
Mengetahui gambaran kelainan EKG pada strok akut dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelainan ST-T.
Metode
Studi potong lintang dengan besar sampel 90. Waktu penelitian Januari-Mei 2005. Sampel adalah pasien strok yang diambil dari bangsal perawatan departemen Neurologi RSCM.
Hasil
Dari penelitian ini didapatkan prevalensi kelainan EKG pads strok sebesar 91,1%. Kelainan yang terbanyak adalah kelainan ST-T 47,8%. Strok akut tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kelainan ST-T, hal ini dibuktikan dengan nilai p=0,375. Namun strok akut lebih berhubungan dengan kelainan irama jantung (p=03). Kelainan ST-T pada strok berhubungan dengan LVH (p=0,000) OR 7,55 (2,96-19,29).
Kesimpulan
Pada penelitian ini prevalensi kelainan EKG pada strok akut sangat tinggi (91,1%), dan sebagian besar adalah kelainan ST-T (47,8%). Kelainan ST-T pada strok berhubungan dengan LVH. Strok akut lebih berhubungan dengan kelainan irama pada EKG.

Background
Patients with cerebrovascular disease frequently have Abnormal electrocardiogram (ECG). Lesion on central nervous system could make changes on ECG repolarization, including abnormal T wave, long QT. Dogan had observed stroke patients, found ischemia-like ECG changes 79%, long QT 26%, and aritrnia 44%.
Aim
To determine the characteristic of ECG changes in acute stroke and factors that corelated with ST-T changes.
Methods
Crossectional study on 90 acute stroke patients. Starting on January and finished at May 2005. The sample are acute stroke patients from ward of neurology department RSCM.
Results
From this studies overall 90 acute stroke patients, 91.1% had ECG changes. The most was ST-T changes 47.8%. Acute stroke didn't have correlation with ST-T changes (p=_375). But acute stroke had correlation with heart rate (p.03). ST-T changes mostly correlated with LVH ( p=0.000) OR 7.55 (2.96-19.29).
Conclusions
Our study formed the proportion of ECG changes on acute stroke was high (91.1%), mostly was LVH. ECG changes mostly caused by cardiac disease on acute stroke.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58440
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Halomoan, Junartho
"High mortality in Indonesia, caused by acute coronary syndrome, has reached 26 %. In 10 years, National housing health survey or Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional ( SKRTN), under health departement of Republic of Indonesia, stated mortality which is caused by acute coronary syndrome has increased enourmously. It can be avoided by doing early acute coronary syndrome detection like ECG recording. Anyway, some those patients rarely do ECG recording because of expenses and time. By using Blutooth feature on PDA (Personal Digital Assistant) or a Bluetooth dongle on computer, a Telecardiology can be done anywhere and anytime so that coronary syndrome can be detected earlier by medics. Telecardiology research used a microcontroler, a computer and a PDA to record ECG signals. ECG recording is taken in real-time then stored in computer or PDA data base. To detec QRS waves in ECG signals, PanTompkins were used."
[Place of publication not identified]: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi, 2009
620 JURTEL 14:2 (2009)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Albertus Sewianto
"Latar Belakang : Elektrokardiogram tetap merupakan standar emas dalam mengidentifikasi adanya dan lokasi dari infark miokard akut. ST elevasi pada infark miokard akut dapat memprediksi ukuran infark, responnya terhadap terapi reperfusi, dan memperkirakan prognosis dari pasien. Distorsi terminal komplek QRS pada infark miokard akut inferior adalah jika J-point dibandingkan dengan tingginya gelombang R lebih atau sama dengan 0,5 pada dua atau lebih sadapan inferior (sadapan II, III, aVF). Birnbaum dkk. menyatakan bahwa adanya distorsi QRS awal berhubungan dengan tingginya angka kejadian high-degree AV block. Walaupun sebagian besar bersifat transien, high-degree AV block berhubungan dengan peningkatan angka kematian selama perawatan di rumah sakit, meskipun pasien mendapat terapi trombolitik.
Bahan dan Cara Kerja : Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional terhadap pasien infark miokard akut inferior yang mendapat terapi trombolitik periode Januari 2000 sampai dengan Desember 2004 yang dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, yang memenuhi kriteria inklusi dan a ksklusi. Pasien dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu dengan distorsi QRS dan tanpa distorsi QRS. Hubungan antara dua variabel dinilai dengan uji t dan chi-square, serta analisis multivarian dengan logistic regression.
Hasil Penelitian : Terdapat 186 subyek penelitian dengan rentang umur 37-72 tahun, lebih banyak pada laki-laki (89%), yang terdiri dari 93 pasien dengan distorsi QRS dan 93 pasien tanpa distorsi QRS. Tidak didapatkan perbedaan data dasar karakteristik Minis dari kedua kelornpok. Dui analisis univarian, kelompok dengan distorsi QRS memiliki jumlah deviasi segmen ST yang lebih tinggi (9,61±3,67 vs 7,76±3,53, p=0,001), dan mengalami kegagalan terapi trombolitik yang lebih besar (74,2% vs 60,2%, p=0,042). Pada analisis multivarian, didapatkan hubungan yang berrnakna antara distorsi QRS dengan high-degree AV block (OR 2,5; 95% CI 1,04-6,01; p=0,04) dan umumnya terjadi saat perawatan di rumah sakit.
Kesimpulan : Pasien dengan distorsi terminal komplek QRS pada infark miokard akut inferior yang mendapat terapi trombolitik mempunyai risiko high-degree AV block selama perawatan di rumah sakit yang lebih banyak dibandingkan dengan tanpa distorsi terminal komplek QRS.

Background : The ECG remains the gold standard for identifying the presence and location of acute myocardial infarction. ST elevation in acute myocardial infarction can predict the size of infarction, response to reperfusion therapy, and prognosis. Distortion of the terminal portion of the QRS in inferior wall acute myocardial infarction based on those with J point I R wave > 0,5 in > 2 leads of the inferior leads II, III, and aVF. Birnbaum et al showed that early QRS distortion is a reliable prediction of the development of advanced AV block among patients receiving thrombolytic therapy for inferior wall acute myocardial infarction. Although transient, development of heart block during inferior infarction is associated with a high in-hospital mortality rate, eventhough they received thrombolytic therapy.
Materials and Methods : This study is a cross-sectional study to the patients with inferior wall acute myocardial infarction treated by thrombolytic at NCCHK during January 2000 until December 2004, that fulfill inclusion and exclusion criteria. They were divided into two groups, there are with QRS distortion and without QRS distortion. Correlation between two groups were analyzed by t test, chi-square and multivariate regression analysis.
Results : There are 186 patients, ages between 37 until 72 years old, mostly men (89%) which are 93 patients with QRS distortion and 93 patients without QRS distortion. Two groups are comparable. With univariate analysis, the group with QRS distortion have higher ST segmen deviation (9,61±3,67 vs 7,76±3,53, p=0,001) and higher risk of failed thrombolytic (74,2% vs 60,2%, p=0,042). With multivariate regression analysis, there is a significant correlation between QRS distortion and high-degree AV block (OR 2,5; 95% CI 1,04-6,01; p=0,04) and mostly happenned during hospitalization.
Conclusion : Patients with distortion of the terminal portion of the QRS in inferior acute myocardial infarction and treated by thrombolytic have a higher risk of high-degree AV block during hospitalization, compared with patients without QRS distortion.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21233
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library