Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Bekti Subakir
"EPH Gestosis atau preeklampsia/eklampsia merupakan penyebab utama kematian ibu dan bayi. Patofisiologi dan etiologi penyakit ini belum jelas. Salah satu teori menyatakan gejala yang timbul pada preeklampsia disebabkan oleh karena kerusakan sel endotel akibat serangan radikal bebas. Kerusakan sel endotel akan menyebabkan gangguan fungsi sel endotel antara lain penurunan produksi prostasiklin dan peningkatan permeabilitas sel endotel. Pernurunan prostasiklin menyebabkan kemampuan vasodilatasi pembuluh darah berkurang sehingga terjadi peningkatan tekanan darah pada kehamilan. Peningkatan permeabilitas sel endotel yang merupakan barier antara komponen-komponen darah dengan jaringan ekstravaskuler akan menyebabkan terjadinya edema. Peningkatan permeabilitas pada kapiler glomerulus akan mengakibatkan proteinuria.
Pada wanita penderita preeklampsia, aktivitas simpatis meningkat. Perangsangan simpatis akan menyebabkan peningkatan pembuluh darah. Penurunan produksi prostasiklin dan peningkatan aktivitas simpatis mungkin dapat menjelaskan peningkatan tekanan darah pada penderita preeklampsia. Wanita yang mempunyai riwayat pernah menderita preeklampsia memberikan kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 20 mmHg dan diastolik > 15 mmHg pada Cold pressor test. Mungkin raja seseorang yang tonus pembuluh darahnya jenis hiperreaktor akan mempunyai kecenderungan menderita preeklampsia pada saat hamil.
Hasil sementara penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa serum penderita preeklampsia mempunyai efek toksik terhadap sel endotel dalam kultur namun kadar peroksida lipid tidak berbeda dengan kadar pada wanita hamil normal. Mungkin kerusakan sel endotel disebabkan antioksidan pada penderita preeklampsia lebih rendah dibandingkan dengan kehamilan normal. Kerusakan sel endotel dapat dicegah dengan antioksidan. Enzim superoksida dismutase (SOD) mendekomposisikan radikal oksigen sebelum radikal tersebut membentuk radikal yang lebih toksik. Sedangkan vitamin E dapat menghambat rantai reaksi peroksidasi sehingga menghambat pembentukan lipid radikal yang lebih toksik.
Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini ialah apakah wanita dengan riwayat preeklampsia mempunyai tipe pembuluh darah hiper reaktor ? Apakah enzim SOD penderita preeklampsia lebih rendah dari wanita dengan kehamilan normal ? Apakah pemberian vitamin E dapat mencegah kerusakan kultur sel endotel yang terpapar serum preeklampsia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mengembangkan suatu upaya pencegahan EPH Gestosis (preeklampsia).
Teknik dan keterampilan laboratorium dalam penelitian ini ialah:
- pemeriksaan 'Cold pressor test'
- kultur sel endotel
- pewarnaan sel endotel
- pemeriksaan kadar SOD dalam darah"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1996
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Handoko H.
"Latar Belakang : Decompression sickness (DCS) masih menjadi masalah, walaupun dekompresi telah dilakukan sesuai dengan prosedur[1,2,3] Insiden pada recreational diving 2-4 per 10.000 penyelaman[1]. Patofisiologi terjadinya DCS tidak hanya terjadi akibat mekanisme obstruksi dari gelembung gas[3,4], namun dikaitkan dengan gangguan terhadap fungsi fisiologis NO[2,3,4,5].
Metode : Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain cross over pada 16 orang penyelam laki-laki Dislambair Koarmatim TNI AL. Data diperoleh melalui kuesioner, pemeriksaan fisik dan laboratorium ekspresi eNOS menggunakan teknik kuantitatif ELISA sandwich, yang diberi perlakuan penyelaman tunggal dekompresi US Navy 280 kPa dalam RUBT.
Hasil : Terdapat penurunan ekspresi eNOS yang bermakna pada kelompok hiperbarik (p<0,001) dan perbedaan selisih ekspresi eNOS antara kelompok normobarik dan hiperbarik yang bermakna (p=0,01). Korelasi IMT dengan ekspresi eNOS sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok hiperbarik dan sebelum perlakuan pada kelompok normobarik berlawanan arah. Korelasi antara kebiasaan merokok dengan ekspresi eNOS sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok normobarik adalah sedang.
Kesimpulan dan Saran: Penurunan ekspresi eNOS pada kelompok hiperbarik (p<0,001) dan selisih rerata ekspresi eNOS antara kelompok normobarik dan hiperbarik (p=0,001). Memperhatikan faktor individu, yaitu IMT dan kebiasaan merokok pada prosedur penyelaman dan diperlukan kajian medik langkah preconditioning sebelum penyelaman.

Background : Decompression sickness (DCS) is still a problem, even though decompression has been performed in accordance with the procedures[1,2,3] recreational diving incident at 2-4 per 10,000 dives[1]. Path physiology of DCS not only occur due to obstruction mechanism of gas bubbles[3,4], but is associated with disruption of physiological functions NO[2,3,4,5].
Methods : This study is an experimental study with cross-over design in 16 male divers Dislambair Koarmatim Navy. Data obtained through questionnaires , physical examination and laboratory eNOS expression using quantitative techniques sandwich ELISA, which treated single dive decompression US Navy 280 kPa in hyperbaric chamber.
Results : Significant reduction in eNOS expression in the hyperbaric group(p<0.001) and the difference in eNOS expression differences between groups normobaric and hyperbaric(p=0.01). IMT correlation with the eNOS expression before and after treatment in the hyperbaric group and before treatment in group normobaric opposite direction. The correlation between smoking and eNOS expression before and after treatment in group normobaric is being.
Conclusions and Recommendations : A reduction in eNOS expression in the hyperbaric group(p< 0.001) and the mean difference between groups normobaric eNOS expression and hyperbaric(p = 0.001) . Attention to individual factors , namely BMI and smoking habits on the procedures required dives and medical studies preconditioning step prior to the dive.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iin Dewi Astuty
"Penyakit Dekompresi (DCS) merupakan keadaan patologis yang mempengaruhi penyelam, astronot, pilot dan pekerja udara terkompresi akibat dari gelembung yang timbul dalam tubuh selama atau setelah penurunan tekanan ambien. Divers Alert Network melaporkan kasus DCS pada penyelam rekreasi sebanyak 651kejadian (23%) dari 2,866. Chichi Wahab, dkk melaporkan sebanyak 62 orang (53%) dari 117 menderita Penyakit Dekompresi pada penyelam tradisional. Reaksi Inflamasi merupakan salah satu penyebab DCS. Di Indonesia belum ada penelitian tentang pengaruh penyelaman dekompresi terhadap perubahan fungsi endotel sebagai pemicu terjadinya DCS.
Penelitian ini menggunakan desain eksperimental rancangan pola silang. Data subjek adalah data primer yang di dapat melalui kuesioner, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Sampel dipilih dengan cara random sistematik, diambil 20 orang sebagai subjek penelitian dan dibagi menjadi dua kelompok secara random. Kelompok A diberi perlakuan dengan tekanan 280 kPa pada hari pertama dan pada hari kedua diberi perlakuan masuk RUBT tanpa tekanan. Kelompok B yang diberi perlakuan tanpa tekanan pada hari pertama dan diberi perlakuan dengan tekanan 280 kPa pada hari berikutnya. Tiap Subjek Penelitian dilakukan pemeriksaan Interleukin-1α dengan menggunakan ELISA sandwich teknik kuantitatif sebanyak 3x yaitu sebelum diberikan perlakuan, setelah diberikan perlakuan dengan tekanan 280 kPa dan setelah perlakuan tanpa tekanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ekspresi Interleukin-1α baik setelah mendapatkan perlakuan dengan tekanan, maupun perlakuan tanpa tekanan, namun kenaikan ekspresi Interleukin-1α lebih besar setelah mendapat perlakuan dengan tekanan. Rerata kenaikan ekspresi Interleukin-1α setelah diberikan perlakuan dengan tekanan sebesar 0.01±0.01 pg/ml.
Kesimpulan dan Saran: Dibuktikannya peningkatan ekspresi Interleukin-1α yang bermakna pada subjek penelitian setelah diberikan perlakuan dengan tekanan 280 kPa.

Decompression Illness (DCS) is a pathological condition that affects divers, astronauts, pilots and workers who work in compressed air, as a result of bubbles arising in the body during or after drop in ambient pressure. Divers Alert Network reported cases of DCS in recreational divers as many as 651 events (23%) of 2.8663. Chichi Wahab et al reported 62 people (53%) of 117 suffered from decompression illness in traditional divers. Inflammatory reaction is one of many causes of DCS. In Indonesia, there is no research on the effects of decompression dives to changes in endothelial function as a trigger of DCS.
This study used experimental study design with Cross Over. Primary data was collected through questionnaires, physical examination and laboratory. Samples were selected, systematic randomly 20 people as research subjects each for two groups. The subjects were randomly assigned to a group. Group A was treated with a pressure of 280 kPa on the first day and on the second day entered the RUBT without pressure. Group B were treated with no pressure on the first day and was treated with pressure of 280 kPa on the next day. Each study subject was examined Interleukin-1α using ELISA sandwich quantitative techniques 3 times: before the study, after being given treatment with a pressure of 280 kPa and after treatment without pressure.
The results showed that an increase expression of Interleukin-1α better after getting treatment with pressure, or treatment without pressure, but the increase expression of Interleukin-1α larger after being treated with pressure. The mean increase e expression of Interleukin-1α after being treated with pressure is 0:01 ± 0.01 pg/ml.
Conclusions and Recommendations : Good evidence increasing expression of Interleukin-1α meaningful research on the subject after being given treatment with pressure of 280 kPa.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Linda Meidy Kaseger
"Pendahuluan: Penggunaan nitrox bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit dekompresi pada penyelaman. Namun saat ini terdapat kontroversi mengenai efek nitrox-2 dengan komposisi oksigen 36 yang lebih besar daripada udara yang dapat menginduksi pembentukan reactive oxygen species ROS sehingga meningkatkan risiko terjadi stres oksidatif yang akan mempengaruhi pembentukan sitokin anti-inflamasi IL-10. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar IL-10 pada penyelaman tunggal dekompresi dengan media napas udara dan nitrox-2.
Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen pada penyelam laki-laki terlatih dengan desain tersamar acak tunggal yang menggunakan randomisasi dalam pengalokasian sampel sebanyak 17 orang pada kelompok udara dan 17 orang pada kelompok nitrox-2. Kedua kelompok melakukan penyelaman tunggal dekompresi 28 msw dengan bottom time 50 menit dalam RUBT. Kadar IL-10 diukur sebelum dan sesudah penyelaman dengan menggukan teknik ELISA.
Hasil: Terdapat peningkatan kadar IL-10 yang tidak bermakna pada kelompok udara p = 0,469 dan juga pada kelompok nitrox-2 p = 0,081 . Tidak terdapat perbedaan selisih rerata kadar IL-10 yang signifikan antara kedua kelompok p = 0,658.
Kesimpulan: Disimpulkan bahwa perbedaan penggunaan media napas tidak mempengaruhi perubahan kadar IL-10.

Background : The use of nitrox aims to reduce the risk of decompression sickness for divers. However, there are still controversies over the effects of nitrox 2 with a greater oxygen composition 36 than compressed air that can induce the formation of reactive oxygen species ROS , increasing the risk of oxidative stress affecting the formation of IL 10 as an anti inflammatory cytokine. Therefore, this study aims to determine the difference in IL 10 levels in single decompression dives with compressed air and nitrox 2.
Method : s This was an experiment study design on trained male divers with randomized allocation of 17 samples in the air group and 17 in the nitrox 2 group. Both groups performed a single 28 msw decompression dive with 50 minutes bottom time in hyperbaric chamber. IL 10 levels were measured before and after dive using ELISA technique.
Results : There is non significant changes of IL 10 level in both groups, air p 0.469 and nitrox 2 p 0.081. There is no difference in IL 10 levels changes between the two groups p 0.658.
Conclusion : It is conclud that there is no different in IL 10 levels changes between compressed air and nitrox 2 in single 28 msw decompression dive bottom time 50 minutes.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahayuningsih Dharma Setiabudy
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Bondan Harmani
"Dalam setiap tindakan operasi intra okuler segmen depan seperti operasi katarak, keratoplasti , perbaikan perforasi kornea serta operasi glaukoma , selalu diusahakan mempertahankan kedalaman bilik mata depan. Tujuannya adalah untuk menghindarkan pergeseran yang berlebihan dengan endotel kornea selama operasi, karena
hal ini akan menyebabkan kerusakan pada lapisan endotel tersebut.
Tujuan penelitian: Menilai daya perlindungan natrium hialuronat 1% dibandingkan dengan metilselulosa 2% pada lapisan endotel kornea terhadap trauma udara."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1987
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erwin Mulia
"Latar belakang. Perubahan fungsi endotel mendahului proses perubahan morfologi dan berkontribusi terhadap perkembangan lesi aterosklerosis dan progresinya. Evaluasi dengan menggunakan metode non invasif FMD (flow mediated dilation) brakial memberikan informasi inkonsisten mengenai ekstensi dan beratnya aterosklerosis koroner terkait disfungsi endotel. Penelitian ini akan melihat korelasi nilai FMD brakial dengan derajat beratnya stenosis arteri koroner.
Metode. Penelitian ini merupakan suatu penelitian potong lintang. Evaluasi dilakukan pada 85 pasien yang menjalani angiografi koroner elektif di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dan memenuhi kriteria inklusi sejak Januari hingga Oktober 2012. Korelasi nilai FMD brakial dengan beratnya stenosis penyakit arteri koroner (PAK) menggunakan Skor Gensini dinilai dengan analisis regresi linier.
Hasil. FMD brakial memiliki korelasi negatif dengan Skor Gensini (R= -0,227; P= 0,037). Hipertensi memiliki korelasi negatif dengan nilai FMD brakial (R= -0,235; P= 0,032). Jenis kelamin laki-laki memiliki korelasi positif dengan nilai FMD brakial (R= 0,220; P= 0,040).
Kesimpulan. Nilai FMD brakial memiliki korelasi negatif yang lemah dengan Skor Gensini.

Background. Endothelial dysfunction precedes the development of morphological changes and contributes to atherosclerotic lesion development and progression. Evaluation using non invasive method such as brachial FMD (flow mediated dilation) has given inconsistent information for extension and coronary atherosclerotic severity regarding endothelial dysfunction. This research will evaluate the correlation between brachial FMD and severity of coronary artery disease (CAD) stenosis.
Methods. It was a cross sectional study. Evaluations were performed in 85 patients who had followed elective coronary angiography and fulfilled inclusion criteria in National Cardiovascular Center Harapan Kita since January until October of 2012. Correlation between brachial FMD and severity of CAD stenosis (Gensini score) was evaluated using linear regression analysis.
Results. Brachial FMD had negative correlation with Gensini score (R= -0,227; P= 0,037). Hypertension had negative correlation with brachial FMD (R= -0,235; P= 0,032). Male gender had positive correlation with brachial FMD (R= 0,220; P=0,040).
Conclusion. There was weak negative correlation between brachial FMD and Gensini score.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mariani
"Latar Belakang: Meningkatnya jumlah sel progenitor endotel (CD31+) merupakan salah satu faktor penting dalam mempertahankan homeostasis vaskular. Latihan fisik secara efektif akan meningkatkan jumlah sel progenitor endotel (CD31+) di darah tepi, sehingga dapat mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi latihan fisik aerobik akut intensitas sedang terhadap persentase sel CD31+ di darah tepi subyek dewasa muda sehat tidak terlatih.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Sukarelawan sehat tidak terlatih (n=20) melakukan uji sepeda statis intensitas sedang (64-74% DNM) dengan durasi 10 menit atau 30 menit. Pengambilan darah dilakukan sebelum dan 10 menit setelah melakukan uji sepeda statis. Identifikasi sel progenitor endotel dilakukan dengan menggunakan penanda CD31. Persentase sel CD31+ di darah tepi dianalisis menggunakan flow cytometry.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada rerata persentase sel CD31+ sebelum dan setelah latihan pada kelompok durasi latihan 10 menit (66,89 ± 10,17 vs 65,67 ± 10,05 , uji t berpasangan p=0,094) dan 30 menit (59,81 ± 8,69 vs 60,88 ± 9,40, uji t berpasangan p=0,154). Terdapat pola perubahan pada persentase sel CD31+ di darah tepi setelah latihan durasi 10 menit dan 30 menit. Pada durasi latihan 10 menit, 50% subyek mengalami peningkatan dan 50 % subyek mengalami penurunan. Pada durasi latihan 30 menit, 80 % subyek mengalami peningkatan.
Kesimpulan: Latihan fisik aerobik akut intensitas sedang durasi 30 menit namun tidak untuk durasi 10 menit, memiliki kecenderungan untuk meningkatkan persentase sel CD31+ di darah tepi subyek dewasa muda sehat tidak terlatih. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada latihan fisik aerobik akut intensitas sedang durasi 10 menit, sel progenitor endotel (CD31+) justru terlibat dalam proses perbaikan endotelium vaskular, dimana akan terjadi inkorporasi sel CD31+ ke lapisan tunggal sel endotel yang mengalami kerusakan. Latihan fisik aerobik akut intensitas sedang durasi 30 menit tampaknya dapat mempertahankan homeostasis vaskular melalui peningkatan persentase sel progenitor endotel (CD31+) di darah tepi.

Background: The increasing number of circulating CD31+ endothelial progenitor cells is one of the important factors for maintaining vascular homeostasis. Exercise will effectively increase the number of circulating CD31+ endothelial progenitor cells, which can prevent cardiovascular disease. This study aims to determine the effect of moderate intensity acute aerobic exercise duration on the percentage of circulating CD31+ cells in untrained healthy young adult subjects.
Methods: This study was an experimental study. Untrained healthy volunteers (n=20) performed ergocycle at moderate intensity (64-74% maximal heart rate) for 10 minutes or 30 minutes. Immediately before and 10 minutes after exercise, venous blood samples was drawn. CD31 marker is used to identify endothelial progenitor cells. The percentage of CD31+ cells in peripheral blood were analyzed using flow cytometry.
Results: There were no significant differences in the mean percentage of circulating CD31+ cells before and after exercise for 10 minutes (66.89 ± 10.17 vs 65.67 ± 10.05, paired t-test p = 0.094) and 30 minutes (59.81 ± 8.69 vs. 60.88 ± 9.40, paired t-test p = 0.154). There is a change in the percentage of CD31+ cells in peripheral blood after exercise for 10 minutes and 30 minutes. 50% of subjects showed increase in percentage of CD31+ cells while 50% of subjects showed decrease in percentage of CD31+ cells after 10 minutes exercise. 80% of subjects showed increase in percentage of CD31+ cells after 30 minutes exercise.
Discussion and conclusions: The results of this study indicate that moderate intensity aerobic exercise for 30 minutes, but not for 10 minutes, has a tendency to increase the percentage of circulating CD31+ cells in untrained healthy young adult. The results showed that in moderate intensity acute aerobic exercise for 10 minutes, CD31+ cells actually involved in the repair process, where there is incorporation of CD31+ cells into a single layer of endothelial cells that were damaged. It appears that moderate intensity acute aerobic exercise for 30 minutes can maintain vascular homeostasis through an increase in percentage of circulating CD31+ endothelial progenitor cells.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rudy Hidayat
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian hidroksiklorokuin 400 mg selama 12 minggu terhadap kadar sVCAM-1 dan sE-Selectin sebagai petanda disfungsi endotel pada pasien artritis reumatoid. Penelitian ini juga melihat peran HOMA-IR, FFA dan ox-LDL terhadap perbaikan disfungsi endotel.Penelitian ini menggunakan dua disain yaitu uji klinis acak tersamar ganda dan kohort prospektif dilakukan pada pasien artritis reumatoid dengan terapi metotreksat di poliklinik Reumatologi RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada periode Februari 2016-Mei 2017. Pasien dengan terapi insulin, anti-hipertensi dan terapi lain yang mempengaruhi kadar sVCAM-1 dan sE-Selectin dieksklusi dari penelitian. Subjek yang eligibel dirandomisasi menjadi dua kelompok, kelompok yang mendapat hidroksiklorokuin HCQ 400 mg dan kelompok placebo, dan diikuti selama 12 minggu. Pemeriksaan sVCAM-1, sE-Selectin, HOMA-IR, FFA dan ox-LDL dilakukan pada awal penelitian dan pada minggu ke-12. Perbedaan persentase perubahan kadar sVCAM-1 dan sE-Selectin sebelum dan setelah perlakuan antara kedua kelompok dianalisis dengan uji-t dan uji Mann-Whitney. Persentase perubahan kadar sVCAM-1 dan sE-Selectin dikorelasikan dengan persentase perubahan HOMA-IR, FFA dan ox-LDL, dengan uji Spearman.Sebanyak 37 subjek diikutkan dalam penelitian, dan terdapat 3 subjek yang drop-out pada masing-masing kelompok, sehingga didapatkan 15 subjek pada kelompok HCQ dan 16 subjek pada kelompok placebo. Kadar sVCAM-1 serum minggu ke-12 pada kelompok HCQ menurun sebesar 17,1 median , sementara pada kelompok plasebo meningkat sebesar 9,7 , dan perbedaan tersebut bermakna secara statistik. Kadar E-Selectin pada kelompok terapi HCQ mengalami penurunan dalam persen yang lebih besar dibandingkan pada kelompok plasebo, tapi perbedaan tersebut tidak bermakna. Perubahan kadar sVCAM-1 dan sE-Selectin, juga dibuktikan tidak berkorelasi dengan perubahan HOMA-IR, FFA dan ox-LDL.Terapi hidroksiklorokuin pada pasien artritis reumatoid terbukti memperbaiki disfungsi endotel dengan menurunkan kadar sVCAM-1, namun tidak terbukti menurunkan sE-Selectin. Variable sVCAM-1 dan sE-Selectin tidak berkorelasi dengan HOMA-IR, FFA dan ox-LDL Kata kunci: artritis reumatoid, disfungsi endotel, hidroksiklorokuin, sE-Selectin, sVCAM-1.
ABSTRACT
This study aims to evaluate the effect of hydroxychloroquine on sVCAM 1 and sE Selectin levels decreasing as endothelial dysfunction marker in rheumatoid arthritis patients. This study also assessed the correlation between changes in sVCAM 1 and sE Selectin levels with other variables of changes in HOMA IR, FFA and ox LDL.Two kinds of methods i.e. double blind randomized controlled trial and prospective cohort, were conducted, on patients with rheumatoid arthritis with methotrexate treatment at Rheumatology Outpatient Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Jakarta, during February 2016 July 2017. Patients with insulin, anti hypertension and other treatment which could affect sVCAM 1 and sE Selectin level, were excluded. Eligible subjects were randomly assigned into two groups. Eighteen subjects were administered hydroxychloroquine 400 mg daily and 19 patients were given placebo for 12 weeks. sVCAM 1, sE Selectin, HOMA IR, FFA dan ox LDL were examined in the beginning and in the end week 12. Differences of serum sVCAM 1 and sE Selectin level in percentage, before and after experiment, were evaluated, by T test or alternatively by Mann Whitney test. Differences of serum sVCAM 1 and sE Selectin level in percentage, were correlated with difference of serum HOMA IR, FFA and ox LDL level, by Spearman test.There were 37 subjects enrolled in the study, and there were 3 drop out subjects in each group, finally there were 15 subjects in the HCQ group and 16 in the placebo group. Serum sVCAM 1 level decreased 17.1 median in HCQ treatment group, while in placebo group, it increased 9,7 median compared with pre treatment value. The difference in percentage rate change of sVCAM between two group was significant. On the other hand, the change of E Selectin serum level in HCQ group was found a higher percentage of decrease compared with placebo group, but the difference was not significant. Changes in sVCAM 1 and sE Selectin levels were also proven no correlation with HOMA IR, FFA and ox LDL changes.Treatment of HCQ in patients with rheumatoid arthritis appears beneficial to improve endothelial dysfunction by lowering serum sVCAM 1, but not proven to decrease sE Selectin. The sVCAM 1 and sE Selectin variables were not correlated with HOMA IR, FFA and ox LDL Keywords endothelial dysfunction, hydroxychloroquine, rheumatoid arthritis, sE Selectin, sVCAM 1."
2017
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harry Mahathir Akip
"Latar belakang: Polimorfisme Gly972Arg pada gen IRS1 dapat mengganggu
fungsi normal endotel dan menyebabkan disfungsi endotel. TIMI flow pasca
prosedur IKPP dan jumlah pembuluh darah yang terlibat pada pasien IMA-EST
merupakan prediktor mortalitas dan morbiditas selama perawatan. Mekanisme
yang menyebabkan adanya perbedaan profil angiografi ini salah satunya
dipengaruhi oleh difungsi endotel di tingkat mikrovaskular dan makrovaskular.
Penelitian mengenai hubungan antara polimorfisme Gly972Arg pada gen IRS1
dengan TIMI flow pasca prosedur dan jumlah keterlibatan pembuluh darah belum
pernah dilakukan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara polimorfisme
Gly972Arg pada IRS1 dengan TIMI flow pasca IKPP dan jumlah keterlibatan
pembuluh darah pada pasien IMA-EST.
Metode: Studi potong lintang pada 104 pasien IMA-EST RSJPDHK yang
menjalani IKPP yang masuk pada registri 2018. Pemeriksaan polimorfisme
Gly972Arg pada IRS1 dengan menggunakan metode Taqman.
Hasil: Terdapat 104 subjek yang diikutsertakan dalam penelitian ini. Subjek dibagi
dalam 3 kelompok, yakni grup wildtype/CC (42,3%), heterozigot/CT (49,0%), dan
homozigot mutan/TT (8,7%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
kelompok mutan (TT) dengan TIMI flow pasca IKPP (OR 0,8; p = 1,000) dan
jumlah keterlibatan pembuluh darah (OR 0,3; p = 0,163).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara polimorfisme Gly972Arg gen IRS1
dengan TIMI flow pasca IKPP dan jumlah keterlibatan pembuluh darah pasien IMA
EST.

Background: Gly972Arg polymorphism of IRS1 gene can interfere with normal
endothelial function and cause endothelial dysfunction. TIMI flow after the primary
percutaneous intervention procedure and the number of coronary vessels involved
in STEMI patients are predictors that determine mortality and morbidity during
treatment. The mechanism that causes this difference in angiographic profile is
influenced by endothelial dysfunction at the microvascular and macrovascular
levels. Research on the relationship between Gly972Arg polymorphisms of IRS1
gene with TIMI flow post procedure and the amount of blood vessel involvement
has not been carried out.
Objective: We sought to define whether Gly972Arg polymorphisms of IRS1 gene
may affect TIMI flow after primary percutaneous intervention and number of
coronary vessel involved.
Methods: Cross-sectional study design of 104 STEMI patients who underwent
primary PCI at National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital at year 2018.
Examination of Gly972Arg polymorphism on IRS1 is using the Taqman method
PCR.
Results: There were 104 of STEMI patients who underwent primary PCI and
recruited for the study. The subjects then divided into 3 categories, which are
wildtype/CC (42,3%), carrier/CT (49,0%) and mutant/TT (8,7%). There were no
significant relationship between the mutant group (TT) with TIMI flow after
primary PCI (OR 0.8; p = 1,000) and the number of coronary vessel involvement
(OR 0.3; p = 0.163).
Conclusion: There were no relationship between the Gly972Arg polymorphism of
IRS1 gene with TIMI flow after primary PCI and the number of coronary vessel
involvement of STEMI patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>